
"Bapak Buka! Mana kuncinya! Leha mau keluar! Duh jaket Leha ketinggalan dipantai lagi! Bapak buka, pintunya! Dion sudah nungguin Leha! Biar Leha minta nomernya Dion dulu,bapak, nanti kalau luang Leha bisa hub—"
Bruk!
Leha mendapat dorongan di dinding, dengan cepat, Bibir Leha dikunci dengan sesuatu yang lembab, hangat dan basah. Mata wanita itu bergetar. Tubuhnya kaku. Tangan Isak meraih pinggang Leha. Menariknya lebih mendekat dan lekat pada tubuh Leha.
"Hanya Saya yang boleh lihat!" Desis suara serak Isak dikuping Leha.
Leha mereguk udara sebelum bibirnya dibukam lagi dengan bibir Isak. Ciumannya semakin dalam dan dalam. Isak seakan ingin melahap habis Leha.
Leha meremas kaos Isak. Tangan Isak mengusap pinggang wanita itu yang telan jang, meremasnya sensual. Kulit bersentuhan dengan kulit. Rasanya menjadi panas. Udara di sekitar mereka seakan menghangat.
"Ba-bapak" bibir Isak berpindah dan bermain di leher Leha. Ia mengecup lama pada tulang selangka wanita itu.
"Hmnn …" lenguh Leha merasakan sengatan geli pada kulitnya. Senyuman bangga mengembang pada wajah Isak. Ciuman Isak menjalar pada garis rahang Leha. Kecupan demi kecupannya menjelajah hingga cuping telinga Leha.
Tangan Isak mengelusi pinggang lalu pada perut datar milik Leha, kulit Leha bersih dan putih susu sangat kontras dengan baju renang yang ia pakai. Lalu tangan lelaki itu merangkum gundukan Leha.
Gunung kembar yang Isak sukai itu, dan ia tak rela jika harus membaginya dengan lelaki lain. Isak kembali menyerang bibir Leha. Me lumatnya habis.
Lalu melarikan kecupannya menuju tengkuk leher Leha. Bibir Isak mengigit tali yang mengikat pada leher Leha. Menariknya perlahan.
"Eh, bap—"
Kembali Isak membungkam bibir Leha tidak membiarkan wanita itu untuk mengeluarkan suara.
"Jangan berani mengenakan pakaian ini lagi diluar!"
"Ahk!" Saat Isak meremas pelan gundukan kenyal milik Leha.
Dok! Dok! Dok!
"ISAAC LEWI IBRAHIM II"
DOK! DOK! DOK!
Gedoran pada pintu kamar Isak mengguncang keras. Suara Nami menggelegar terdengar.
Isak menghentikan bibir yang sedang menandai Leha. Juga menghentikan remasan yang membuat tubuh Leha menggelinjang dan panas.
DOK! DOK! DOK!
"BUKA, ABANG! ATAU BUNDA DOBRAK INI PINTUMU!"
DOK! DOK! DOK!
Isak menjauhkan dirinya dari Leha. Lelaki itu berdiri didepan lemarinya, mencari celana panjang miliknya dan meraih kaosnya.
"Pake dulu, abang nggak mau kamu diliat sama yang lain"
Leha menurut, Isak membantu Leha mengenakan pakaiannya, ia merapikan rambut Leha yang ia buat berantakan tadi.
Walau Isak tidak bisa menyembunyikan bibir mereka berdua yang membengkak. Leha terus melipat bibirnya yang terasa kebas dan membengkak.
Isak juga tidak bisa menyembunyikan satu hal yang akan membuat dia diomeli oleh bunda nya.
DOK! DOK! DOK!
"BUNDA EMANG MINTA CUCU BANG! TAPI JALUR SAH, BUKAN JALUR DP!"
"BUKA PINTUNYA ABANG!"
"ABANG DENGER BUNDA NGGAK SIH!"
"CAPEK LHO INI BUNDA TERIAK-TERIAK DARI LUAR GINI!"
"KAMU MAU BUNDA KUTUK JADI BATU! ABANG BUKA!"
__ADS_1
Klek!
"ABANG! KAMU BUAT BUNDA JANTUNGAN!"
"LEHA KAMU NDAK APA-APAKAN?"
"Bun nggak usah teriak, ini si abang udah keluar"
Ibrahim menenangkan istrinya yang tidak terkendali. Mengetahui dari Nalen kalau si abang sedang berkembang biak dengan Leha. Nami dengan kilat masuk kembali ke dalam bungalow dan menggedor kamar Isak.
Nami memeriksa seluruh tubuh Leha. Dari atas hingga bawah. Nami mendongakkan kepala Leha. Dan menemukan beberapa bercak keunguan.
"ABANG! INI APA ABANG?!"
"ASTAGA ANAK BUNDA KAMU UDAH NGGAK TAHAN YA?"
Wajah keduanya memerah. Nalen dan Sara yang menonton hanya menyengir mendengar teriakkan Bunda mereka yang terlalu berlebihan.
"Siapa yang tahan kalau Leha seseksi itu kan ya bang!"
Sara menaik-naikkan alisnya. Ia tak menyangka akan reaksi si jomlo tua itu. Sara hanya ingin mengetes abangnya itu. Belok atau lurus, ternyata ganas.
"Gimana kakak ipar? Ganas nggak?"
"Hush kamu itu! Abang, kita pulang dari sini, kita langsung aja kerumah Leha, kita lamar."
"Bunda kok ngeri ya kalau kelamaan. Kamu jomlo udah lama sampai bangkotan, sekarang, setelah nemu sarang yang tepat, malah pengen menyeruduk terus."
"Bun!" Wajah keduanya semerah udang rebus. Leha menunduk. Ia sangat malu.
"Udah sekarang kalian kembali ke kamar dulu ganti baju kalian, kita makan siang bersama." Ibrahim menenangkan Istrinya.
"Ingat kamar masing-masing! Ingat!"
Nami melotot pada Isak, memperingati anak sulungnya.
"LHO, BANG!"
Ibrahim menahan istrinya yang ingin menggedor kembali kamar Isak.
"Bun mereka udah gede, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri."
"Tapi Yah, Bunda nggak mau mereka khilaf"
"Percaya sama mereka Bun, sudah ayo kita ke ruang makan aja" Ibrahim menggandeng tangan Istrinya. Menjauhi kamar Isak.
Di dalam kamar. Leha dikungkung Isak dengan tatapan tajam lelaki itu. "Pak Ibrahim nyuruh kita buat ganti baju"
Isak dengan gesit melucuti pakaian yang Leha kenakan.
"Jangan lagi pakai kayak gini diluar!"
"Tapikan pak, Leha pake ini ditempat yang tepat, dipantai" protes Leha.
"Nggak boleh!"
"Saya nggak mau berbagi"
"Lha siapa yang mau bagi-bagi?"
"Kamu"
"Kamu itu punya Saya! Jadi cuma saya yang boleh lihat!"
Ada percikkan rasa marah saat mengingat banyak mata yang memperhatikan tubuh tunangannya.
"Duileeh si bapak posesip amat"
__ADS_1
Leha mendekat ia menoel dagu Isak yang melengos. Ia masih kesal.
"Bapak marah sama Leha?"
Isak membuang wajahnya. Raut datar dan bibir merengut, membuat Leha tersenyum.
Kok bisa si Bapak atu enih gemesin bangat begini, pengen kecup.
"Padahal Leha mau liatin Bapak ini, Bapak mau lihat nggak?"
Leha mengulurkan tangannya ke bahu Isak, dan tangan satunya memainkan tali tipis yang menyanggah kain yang menutupi bagian atas tubuhnya.
Isak melirik tapi masih jual mahal.
"Bener Bapak nggak mau?"
Masih mempertahankan jual mahalnya. Namun raut marahnya tidak lagi terlihat. Berganti raut penasaran. Leha semakin memainkan tali tipis itu. Sedikit kendor.
"Ah yaudah lah, Bapak nggak mau kan"
Leha beringsut menjauh. Dan menali dengan benar pakaian renangnya. Sentakan Leha rasakan. Tangannya ditahan oleh Isak.
"Mana? Sini kasih lihat!" Ucapnya dengan wajah yang menggelap.
"Udah nggak marah sama Leha?"
Matanya menatap lurus pada Leha. Raut : yang tak pernah Leha lihta sebelumnya dari Isak. Lembut dan menggoda.
"Sebentar, Leha mau nanya dulu nih, sebelum ngasi Bapak, dp lihat, eh tapi bunda tadi bilang bunda nggak bolehin kita dp tapi harus sah dulu kan pak?"
"Jadi kamu mau kasih lihat saya apa nggak?"
"Bapak maunya apa?" Tanya balik Leha. Alisnya ia naik-naikkan, melipat bibirnya agar tidak terbahak, mendapati wajah keruh Isak.
"Mau liat" Isak berbisik lalu mengatupkan bibirnya.
"Apa? Leha nggak denger?" Leha mendekatkan kupingnya pada Isak yang meliriknya kesal. Leha menahan tawanya.
"Kamu mau ngerjain Saya ya?" Tawa Leha meledak. Ia dengan gesit menghindar dari terkaman Isak.
"Bapak menggemaskan! Leha jadi nggak kuat buat ngerjain, Ahahaha … "
"Kamu!!!!" Iska mengejar Leha. Isak tidak akan melepaskan wanita yang mengerjainnya. Leha harus mendapatkan hukuman.
Kekuatan lelaki itu lebih besar dari Leha. Tangan Isak menggapai pinggang Leha. Leha merasa dirinya melayang.
Dan terhempas dan duduk pada pangkuan Isak. Lelaki itu mengunci tubuh Leha. Mereka terdiam, mata mereka saling menatap. Tangan Leha melingkar pada pundak Isak.
Gelenyar aneh menjalari tubuh Leha. Ia meremas kaos Isak. Meneguk salivanya bibirnya terbuka memanggil Isak untuk me lumatnya.
Dan kembali mereka saling bergumul panas. Mempertemukan bibir basah mereka. Dengan instingnya Leha menggerakkan tangannya masuk dalam rambut Isak. Meremasnya.
Mata Isak terbuka menatap aksi Leha yang sangat menggairahkan. Ia tak pernah merasakan ini. Perasaan yang awam dan menyenangkan. Bahkan dengan Bita.
"Bapaak … "
"Panggil aku abang, Leha"
Deru nafas keduanya memburu. Isak sudah melepaskan tali pada punggung Leha. Tentu bercak keunguan bertambah banyak.
"Baaang … "
Leha merasakan sesuatu yang keras menyentuh bawahnya. "Ba—"
DOK! DOK! DOK!
"ISAAC LEWI IBRAHIM II!!!!!"
__ADS_1
Tbc.