Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 81


__ADS_3

Nalendra bukan tidak ada kerjaan, jika hilang diam-diam saat ia berada di lombok. Ia menyiapkan pernikahan abang sulungnya.


Dengan dibantu dengan Sari dan Sabrina yang memang tinggal di bungalow luar tempat tinggal keluarga Harlan.


Dan bantuan Jenara. Juga kedatangan kakak kembar Dash. Daniel dan Darren. Mereka lebih memilih tinggal di bungalow, mereka tidak ingin ketahuan Rain yang mulutnya ember.


Mereka menyiapkan semuanya secara rahasia pun berhasil. Teramat berhasil malah, Leha sama sekali tidak menduga ternyata resepsinya bukan batalkan melainkan diundur.


Pernikahan Leha dan Isak berjalan lancar, dekorasi yang cantik, makanan yangbmelimpah dan enak, mereka tahu apa yang Leha suka. Sangat indah. Leha bisa menemukan Udin yang bergabung dengan Rena dan Raka.


"Siapa yang mengkonsep ini?"


"Aku masih nggak nyangka kamu memboyongnya kesini," Lanjut Leha, Bahkan makeup artisnya sama dengan saat akad. 


"Itu aku dan mereka bertiga dan di bantu para brondong-brondong keponakan kita" bisik Isak.


"Kamu senang?" Isak mengelus pipi Leha.


"Aku bahagia, sangat, terima kasih suami,  love you" Leha memeluk Isak lalu mencuri kecupan suaminya.


"Argh!" Isak mengerang.


"Ini kapan selesainya, aku ingin segera membawamu kabur ke kamar" bisiknya.


"Sabaaarrr … Suami makasih ya, aku benar-bener bahagia," Leha memeluk Isak.


"Istri, aku yang terima kasih, kamu masih mau menungguku, memaafkanku, mencintaiku sebesar ini, selalu ada buatku, janji, jangan pernah meninggalkanaku lagi, itu rasanya menyakitkan disini, sesak, aku nggak mau merasakannya lagi, janji jangan pergi lagi"


"Hmn …"


"Maafin aku yang banyak menyakitimu"


"Hmmn … "


"Maafin aku dengan perkataanku"


"Hmmnn … "


"Maafin aku  yang menyakitimu dengan perlakuanku,"


"Memang sudah lebaran? Dari tadi maafin maafin terus" goda Leha. Ia meraih wajah Isak dengan kedua tangannya dan menangkupnya.


"Tapi kita sudah baikkan kan?"


"Iyaaa … terus Bita? Onaldo bagaimana?"


"Nanti ya sayang, aku mau kita seneng-seneng berdua dulu"


"Bunda, Ayah dan Abah, Om Harlan dan Grisel, lihat sayang mereka tertawa bahagia, tahu gitu aku nikahin kamu cepet-cepet"


"Halah kamu mah masih aja ragu kemaren, mungkin kalau dari dulu nikah, kita udah brojol dua anak" ucap Leha sembrono.


"Bener, brojol dua, di perut dua, Bunda request 6 sayang" Isak menambahi.


"Hih emang aku kucing apa!" Leha cemberut.


"Iya mama kucing, aku papa kucing" 


"Apa sih jayus! Tapi kok cinta banget sih aku, kayaknya aku kena ajian pengasih dan penyayang mu deh, Yank"


"Apa itu ajian pengasih dan penyayang?"


"Kayak gini"


Leha mengecup lama bibir suaminya itu. Mereka tidak lagi ijab, hanya resepsi saja. Isak masuk kecuruk leher Leha. Menciumi leher Leha.


"Pengantin, mohon pengertiannya untuk tidak bermesraan dulu, kasihan para jomblo" ucap si Udin. Membuat penonton tergelak. Yang sudah siap akan menyubangkan satu lagu andalannya. Talak Tilu.


"Sayangnya aku" ucap Isak dengan memutar tubuh Leha dan mendekapnya erat.

__ADS_1


Pernikahan, Isak hanya mengundang beberapa orang saja. Dibuat lebih pribadi. Keluarga dan teman terdekat.


Leha bisa melihat saudaranya yang membaur di meja-meja didepannya. Sari selalu disamping Haikal. Mengajak pemuda itu berbicara yang hanya ditanggapi biasa saja.


Haikal berpamitan akan ketoilet. Sari mengangguk. Namun terlihat ada kekecewaan di raut wajah wanita itu.


Disudut ruangan, ada sepasang mata tajam manatap Sari tidak putus. Ia mengikuti Sari yang beranjak keluar ballroom, Sari perlu udara segar.


"Bang Haikal, lu beneran nggak ada rasa sama Mpok Sari?"


"Apa sih anak kecil" Haikal mengacak rambut Perdi.


Sari yang merasa namanya di sebut, juga nama Haikal, menghentikan langkahnya dan menguping.


"Kita semua tahu bang, Mpok Sari suka sama elu, bang" Persi duduk disebelah Haikal.


"Kenapa nggak lu tolak aja, bang?"


"Kenapa? lu suka sama dia? Dia ketuaan buat lu" 


Perdi tidak suka dengan Haikal yang tidak langsung menolak. Tapi malah mengantungkan wanita itu seakan memberi harapan. Perdi tahu sebaik apa Sari. Yang Haikal tidak tahu, Sari juga memiliki perasaan minder. Minder karena pernah menjadi wanita malam.


"Bukan, biar gue jodohi sama bang Guntur, mpok Sari itu baek bang, kalo gue udah gede aja, gue mau sama Mpok Sari"


"Gue … "


"Jangan bilang lu ngegantungin Mpok Sari gegara kerjaannya dulu bang?"


"Ya gimana ya Per, senakal-nakalnya bocah laki, ya pengennya dapet cewek baek" 


"Ya ... gue pengen yang baek juga Per" Sari itu terlalu agresif untuknya, Haikal merasa risih.


"Yah bang, gue kira lu mikirnya kagak secetek itu, tahunya ... begitu, emang lu kira cewek kayak Mpok Sari nggak pengen cowok yang baek?" Haikal terdiam, ia merasa tertegun dengan omongan Perdi.


Mereka tidak tahu jika Sari mendengar dan itu meluluk lantahkan hati dan kepercayaandirinya.


Sari pikir saat semalam ia dan Haikal melakukan agak jauh. Lelaki itu sudah menerimanya. Ternyata Sari terlalu berharap.


Duk!


"Maaf saya nggak lihat!"


Sari menahan tangisannya. Sari melangkah kekiri. Namun orang didepannya, yang entah siapa itu, ikut melangkah kekiri. Ia melangkah kekanan, lelaki itu pun ikut kekanan.


Sari terdiam, sosok itupun terdiam. Dengan wajah yang mewek, Sari mengangkat wajahnya. Ia melebarkan matanya. Didepannya ada salah satu kakak kembar Dash. "Darren?"


Sosok itu mengangkat sudut bibirnya. Menarik tangan Sari ke sebuah pintu. Lalu ia meraih dan memeluk erat Sari. Sari membatu di tempatnya. Elusan hangat dipunggung juga tepukan dikepala pelan, Sari terima. Tangis Sari semakin tergugu. Rasa sakit semua keluar, tanpa ditahan.


"Tante, masih menerima brondong?"


***


"Dash ada yang mau Rain omongin"


Rain memainkan jemari Dash. Lelaki itu sedari tadi menatap Jenara yang sedih. Yang Dash tahu, Jenara menyukai Daniel, Dash dan Darren menyukai Jenara. Darren menyukai Jenara dalam diam, namun selalu ada untuk Jenara.


Dash sebenarnya hanya penasaran. Ia salah menganggap itu cinta. Jika Dash selalu maju dan terlihat sekali mendekati Jenara. Tidak dengan Darren, yang diam, tapi setiap Jenara kesulitan, lelaki itu datang paling awal.


Namun saat ini tatapan Jenara seakan mencari seseorang dan itu jelas bukan Daniel. Daniel ada disamping wanita itu, Apa Jenara sekarang menyukai Darren? mengapa bukan dirinya? Ia juga selalu ada? Marah. Dash tersulut amarah dengan spekulasinya sendiri.


Lelaki 17 tahun itu beranjak dan meninggalkan mejanya.


"Dash kemana? Rain ikut!" Rain mengikuti langkah Dash.


Dash meraih segelas alkohol. "Dash nggak boleh minum itu" Dash menandaskan hingga habis cairan berwarna goldrose itu. Ia meraih gelas keduanya.


"Dash!" Tangannya diraih Rain.


"Argh! Sana kamu" Dash menyentak tangan Rain. Lalu kembali menghabiskan gelas keduanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengganguku Rain, lebih baik, kamu ... kamu hilang saja! Jangan ... merecoki aku dengan suara ... cempreng mengganggumu itu!" Sesak, Rain mengehembuskan kasar nafasnya.


"Kamu mabok, ayo aku antar kamu ke kamarmu, sebelum Om Harlan melihatmu! mana kuncimu"


"Lepaskan aku! Aku bisa sendiri" Dash melepas tangan Rain, ia jalan terhuyun. Dengan cekatan Rain menangkap lengan Dash dan menariknya.


Rain memapahnya hingga didepan pintu kamar Dash. "Mana kuncimu?"


"Rain kamu mau menggodaku ya?" Rain meraba tubuh Dash, mencari keberadaan kunci Dash.


"Selalu saja kamu menempeliku! kamu tahu ... Rain, aku muak denganmu! jijik, dan ingin kamu jauh, sana, shooh … shoooh …"


Rain terhuyun, kakinya seakan tidak kuat menopang tubuhnya. Mendengarkan rancuan Dash, Rasa sakit hatinya begitu melukainya.


Nafasnya memburu, sesak, rasanya baru saja Rain di siram air es. Ia mati rasa.


"Dash" suara lirih dan bergetar. Ia membersihkan tenggorokannya. Kembali berdiri.


"Dash ayo bangun!" Rain menarik lengan Dash ia mengalungkan tangan lelaki itu ke lehernya.


"Ayo Dash, kamu berat" 


"Rain, ini kamu?" Dash membuka matanya, ia menatap Rain dengan sayu.


"Rain ... aku suka Nara, kenapa kamu tidak melihat itu, bisa, kamu … bisa … kamu menjauh … dariku?" Rain menyeret masuk Dash kedalam kamarnya. Ia melemparkan Dash dan tidak sengaja dirinya pun ikut terlempar karena Dash menarik pakaiannya.


Bruk!


"Dia salah … salah … paham, hilang, menghilanglah Rain, aku mohon!"


Dash meniban tubuh Rain. Susah payah Rain menggeser tubuhnya. Ia tinggal menyingkirkan kaki dan tangan Dash.


Nafas Rain memburu. Matanya mengembun, sakit rasanya mendengar ucapan Dash. Ucapan yang ia tafsirkan sebagai ucapan jujur lelaki itu.


"Apa ... jika aku menghilang kamu akan bahagia?" Rain mulai terisak.


"Hmmn ..."


"Jika aku nggak ada, usahakan bahagia ya Dash" ucapnya dengan bergetar.


"Ya" Dash mengguman.


Dash membuka mata, menatap Rain dari samping. Ia melihat air mata Rain meluncur dengan deras.


"Rain, jangan menangis, siapa yang jahat?" Dash dengan mata sayu mengusap air matanya. Rain bukannya berhenti menangis, tangisannya malah semakin kencang.


"Oh sayang, siapa? Siapa yang nakalin Rain? Ayo berhadapan dengan Dash siniiii …"


Tangis Rain bercampur tawa. Dash terbangun diatas tubuh Rain, duduk menggunakan dua kakinya. Bersimpuh diatas ranjang. Dengan menunjuk asal apapun.


"Ini Dashnya Rain, Dashnya Rain, aku kangen kamu" Rain mengusap pipi Dash yang berada diatasnya.


"Jangan nangis hmmn … " Dash mencium pipi Rain. Ciuman yang tadinya hanya kecupan menjadi lebih intens.


"Dash ini nggak boleh" Rain mendorong tubuh Dash yang merangsek pada dirinya.


"Dash, jangan Daaash … " Erangan terdengar dari kamar bocah 17 tahun itu.


***


Pernikahan Leha, menimbulkan banyak perasaan baru, ada yang bahagia, menyorot pada Leha dan Isak, Nalen juga Sabrina, 


Ada yang baru menyadari siapa yang ia mau tapi terlambat, Menyorot pada Jenara dan Haikal yang binggung mencari Sari, 


Ada perasaan yang akan mereka sesali dan tidak percaya ia mengalaminya, sorotan berpindah pada Sari dan Darre juga Rain dan Dash. 


Namun siapa yang akan mengecap akhir bahagia? tidak ada yang tahu. Karena tadir mereka masih berjalan dan mereka masih bisa merubahnya sesuai keinginan mereka.  Jadi sampai jumpa dikisah lainnya.


End.

__ADS_1


Ps. Masih ada ekstra part ya …. 


__ADS_2