
Leha membuka kaca jendela mobilnya, ia mencoba menikmati semilir angin kota Doha,
"Woooooo … "
Zzzrrrtttt …
"Hoo … "
Zzrrtttt …
Leha berteriak semangat keluar jendela, namun Isak menyuruh supir untuk menutup jendelanya, Leha berteriak di sela sela jendela dengan mendongakkan kepala berusaha mengikut jendela yang akan menutup.
"Bapak! Ngapa ditutup sik!"
"Berisik! Saya takut orang menyangka kamu korban human trafficking yang minta tolong."
"Bapak tega memupuskan kesenangan Leha!"
"Sana ngaca kamu! Lihat matamu itu, hitam, kayak mata panda"
"Panda? Leha imut dong Pak!"
"Nggak! kamu amit-amit, kamu berisik sekali, Saya mau istirahat, di pesawat kamu ngorok keras sekali, saya tidak bisa tidur!"
"Bohong!" Pekik Leha.
"Ehem … Baik Bapak," mendapatkan lirikan tajam, Leha mencicit mencoba berusaha menjadi asisten yang kompeten.
"Bapak kita disini berapa lama? Mbak Rena kagak kasih tau Leha"
"Dua mingguan"
Lelaki itu terpejam, menjawab Leha dengan malas. Tak lama Leha mendengar dengkuran halus dari sebelahnya. Leha melihat kepala Isak yang terkulai. Untuk menuju tempat tinggal keluarga Ibrahim yang berada di Plam Tree Island.
Mereka berangkat saat weekend, sengaja Isak mengambil penerbangan malam hari, jarak tempuh yang hampir 10 jam itu setidaknya bisa ia buat untuk beristirahat.
Semuanya berantakan, niat istirahatnya terganggu dengan bunyi dengkuran keras Leha. Bukan hanya mendengkur tapi wanita itu tidur tidak bisa diam. Mungkin mencari posisi yang nyaman agak susah walaupun mereka duduk di bisnis class.
Sekarang kebalikannya. Isak dengan kepala yang tidak bisa diam. Leha yang merasa kasihan akhirnya merelakan bahunya untuk Isak senderi.
"EHK!" Pekik Leha.
Isak bukannya menyender dibahu Leha, lelaki itu mencari tempat ternyamannya sendiri. Ia mendorong kepalanya, menyurukkan ke dada wanita itu. Empuk, hangat dan wangi. Bantal yang nyaman.
"Ba-bapak, jangan gini"
Leha mencicit ia tak enak dengan pak supir. ia mencoba mendorong Isak, yang ada malah Isak menjulurkan tangannya pada pinggang Leha dan dengan erat memeluk wanita itu.
Untung aje gua pake kaos ketutup, yang kemaren aja si ungu lama banget ilanganya.
Debaran kencang membuat Leha susah bernafas. Gelenyar itu datang lagi, ketika Isak berdekatan dengan dua bukit kembarnya.
__ADS_1
Kaos tertutup tak menghentikan Isak untuk tidak menikmati gunung kembar milik Leha walau dalam tidur lelapnya. Isak mengedusel bongkahan miliknya, Wanita itu hanya menahan nafasnya yang putus-putus.
Hawa panas menjalari tubuhnya. Geli dan entahlah, Leha si perawan tidak mengerti. Pipinya bersemu merah. Leha mencaoba menghindar, tapi cengraman tangan Isak pada pinggang Leha mengetat.
Semakin Leha menjauh semakin Isak mendusel pada gundukan kenyal miliknya.
"Aahk … "
Leha mende sah dengan permainan bibir Isak dari permukaan kaosnya. Wanita itu mendekap mulutnya. Merasa aneh dengan suara yang ia keluarkan.
DUGH!
"Auh!"
Saat Isak kembali akan mendusel pada dirinya. Entah kekuatan darimana Leha bisa mendorong tubuh berat Isak dan lepas dari kungkungan lelaki itu, tak menghindarkan Isak dari terantun pintu mobil. ia meringis dengan menatap nyalang Leha.
"Kamu!"
Leha menghembuskan nafas kasar yang tersengal. Wanita itu menunjuk Isak dengan wajah merah padam menahan malu yang luar biasa. Matanya membulat lebar, bergetar, sungguh menggemaskan.
Karena mereka tidak hanya berdua saja, ada pak sopir yang juga ikut berdehem membersihkan tenggorokannya.
"Bapak bikin malu!" pekiknya kesal.
Wanita itu melempar dirinya ke pojok menjauhi Isak, beringsut di kursi dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Lalu meringkuk, ia tak mau melihat Isak maupun si sopir.
Isak memperhatikan tingkah Leha, sudut bibir Isak sedikit terangkat. Lagi, ia melakukan sesuatu yang intim yang ia sukai.
***
Ia terduduk di pinggir ranjangnya. Mengamati sekitarnya. Kamar yang indah. Berhias lampu temaram. Lemari, meja kerja, juga banyak perabotan dan hiasan.
Ia mulai bergerak. Menyusuri ruangan dan mencari tahu apa yang ada dibalik pintu-pintu dengan uliran indah berwarna putih.
Kamar ini berbeda, dengan kamar yang Leha tempati saat pertama kali datang ke mansion keluarga Ibrahim.
Leha menemukan kamar mandi. Pantulan dirinya membuat Leha terpana. Mengapa ia mengenakan kemeja kebesaran begini.
Menarik kemejanya ia bisa mencium aroma maskulin milik Isak. Matanya terfokus pada noda di lehernya. Wanita itu mengusapnya.
Helaan nafasnya kasar, Dengan tak sabar ia membuka tiga kancing paling atas kemejanya.
"ISAK IBRAHIIIIIMMM!!!"
***
"Bang kayaknya Leha sudah bangun itu, kamu jemput dulu, ajak kesini"
Isak menyeka bibirnya, menyeret kursinya kebelakang. Dan beranjak menaiki tangga putih melengkung menuju kamarnya.
Pintu terbuka.
__ADS_1
Bugh!
Bantal menghantam Isak.
"Bapak itu maunya apa? Leha emang orang kampung pak! Tapi Leha punya harga diri."
"Mungkin Bapak ngelakuin ini iseng tapi apa bapak tahu kalau ini masuk ke pelecehan?"
Mata Leha memancar tidak terima, juga rasa getir. Apa dia sedang masuk tanggalnya PMS? Ia merasa sedih dan sendu.
Leha tidak mengerti dirinya sedang sensitif atau apa, tapi melihat banyak bercak keunguan di leher dan sekitar gunung kembarnya ia merasa dirinya murahan.
"Apa bapak anggap Leha murahan? Bisa disentuh sesuka hati tanpa adanya ikatan apapun?"
Leha meluapkan semua rasa yang ia miliki. Rasanya menyedihkan. Ia tahu jika hubungan mereka hanya pura-pura lalu juga tidak mungkin Isak yang sempurna itu akan menjadikannya pasangan.
Leha mendengar percakapan Nalen dengan Nabila. Kebetulan ia sedang mencari Nami untuk berpamitan. Ia melihat Nami berdiri memandangi Nalen dan Nabila yang sedang berdebat. Leha ikut mencuri dengar.
Ini bukan tentang Nabila yang menyukai Isak. Tapi tentang Isak yang hatinya telah tertambat dan dimiliki oleh orang lain.
Cinta pertamanya.
Leha tak bisa menggantungkan angan pada sesuatu yang tidak terlihat dan tergapai. Mungkin tindakan Nalen selama ini yang memusuhinya, sangat tepat. Nalen adalah pengingatnya. Untuk terus menginjak bumi.
Jangan terlalu menghayal untuk bisa bersanding dengan Isak yang tidak sebanding dengan dirinya.
Leha dengan rasa mindernya saat Nabila muncul dengan semua kesempurnaan wanita itu. Leha menjadi dibuat tidak tenang dengan ucapan Nalen tentang cinta pertama Isak.
Bagaimana rupa wanita yang mengisi dan merajai hati Isak.
Isak mendekat.
"Ayo, Bunda udah nunggu di bawah, makan malam"
Lelaki itu tidak menjawab keresahan Leha. Ia menarik lembut tangan Leha. Menuju lemari dan memberi Leha sweatpants ukuran wanita itu.
Isak mengancingkan kemejanya yang terbuka hingga atas lalu mengelus kepala Leha.
"Kita makan dulu, Bisa kita bahas masalah kita setelah makan?" Ucap Isak dengan tatapan mata dan senyuman lembutnya. Hanya seperti itu saja sudah menghipnotis Leha untuk mengangguk.
Layaknya kerbau yang dicucuk hidungnya, nurut-nurut saja.
Ia mengikuti Isak yang menggandeng tangannya.
Leha menghela kasar nafasnya,
Selain murah lu jugak gampangan, Sableng emang!
Disenyumin dikit aje lu luluh lantak gimane kalo lebih, beleweran lu pasti, Dasar lemah!
Lu kesirep ajian pengasih dan penyayang punya lu sendiri Ha! bujug dah ah! Aneh bat gua! Eh, kok mules enih? PMS bandit!
__ADS_1
Tbc.