
Leha mengajak Isak ke rumah Saipul disana Leha mengontak Tim pembubar kencan buta yang Leha ketuai. Ada Mpok Mirna yang datang dengan cepat ke kontrakan Saipul. Lalu Udin dan Ratu juga ada disana.
Bukan apa-apa, abahnya dan Uwak Hasbi sedang meninjau pesantren yang baru mereka bangun dan mereka akan menginap. Jadi Leha ditinggal sendiri.
Dan tempat saat menelpon Saipul, ia mendengar suara Mpok Marni yang sedang bermain dengan ginuk-ginuknya.
"Yuuuk kita melantai!" Ucap Udin tak sabar menyantap apa yang ada di kantong kresek yang dibawa Leha dan Isak.
"Bang nggak apa pan yak duduk dibawah?" Saipul merasa tidak enak. Melihat Isak agak kesusahan dengan celana bahan yang terlihat tidak dibuat duduk di lantai.
Isak menatap pada celana yang ia gunakan, celana yang ia pakai ini tidak bisa sembarang duduknya. Bahkan sakunya saja tidak bisa digunakan.
Tapi Isak yakin celana ini mampu mengikuti kefleksibelan dari tubuhnya.
Isak terlihat berusaha berjongkok, dan memang agak susah berjongkok dengan celana bahan slim fit begini.
"Nggak apa, emh … saya bis—"
GKREK!
Sunyi. Semua membatu.
Semua mata tertuju pada Isak yang juga terdiam di tempatnya. Dengan posisi pan tatnya sedikit lagi menyentuh lantai.
Isak memandangi wajah-wajah terkejut didepannya. Udin yang masih mangap akan menyuapkan nasi ke dalam mulut.
Saipul yang sedang membuka bungkusan padangnya, masih tercetak wajah bengongnya.
Marni yang melebarkan matanya. Ia sedang bermain dengan kembar.
Leha yang melirik tapi dengan cepat tanggap ia meraih sarung Saipul dan membantu Isak menutupi celananya yang robek.
"Bapak ini kok kocak!" Tawa Leha menyembur.
"Kalau nggak bisa harusnya jangan dipaksain" ucap Leha masih dengan terkekeh. Isak merengut ia akhirnya menggunakan sarung milik Saipul.
"Kyaaayayauauaaa"
"Ayayaaaayya"
Semua tertawa melihat semburat merah dipipi Isak. Isak pun ikut tertawa begitu pun si kembar ginuk-ginuk. Mereka berpesta nasi padang.
***
Leha dan Isak menjalankan mobilnya ke rumah Leha. Makan-makan telah usai. Leha segera turun dari kursi penumpang.
Ia menunduk hormat dari luar pintu.
"Terima kasih pak—"
Blam!
__ADS_1
Leha mendongak ia mandapati Isak ikut turun dan berjalan masuk ke rumah Leha. "Ayo masuk ini sudah malam" ucapnya
"Pak! Bapak! Mau mampir?" Tanya Leha dengan langkah cepat menyamai langkah Isak. Ia menatap lelaki di sampingnya itu.
"Nggak mau menginap, ini sudah malam, dan Saya tidak bisa menyetir malam-malam" ucapnya berkelit, ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Leha setelah lama wanita itu mengabaikannya. Atau yang Wanita itu bilang putus. Wajah Isak menjadi kesal sendiri, dengan seenak jidat wanitanya itu membuat keputusan sendiri.
"Pak! Leha bisa anterin bapak, Leha punya sim dan bisa mengemudi!" Ucap Leha was-was, bagaimana bisa lelaki ini ingin menginap dirumahnya.
"Mengemudi? Saya tidak percaya!"
"Berani sumpah, Leha bisa nyopir bapak!"
Leha bersihkeras. Ia tidak ingin berduaan di rumahnya yang sepi, takutnya, Leha di arak warga kampung ini.
"Mengemudi apa kamu?"
"Angkot!"
"Apa itu angkot?" Dahi Isak mengernyit dalam. Ia menatap dengan menantang Leha.
"Itu pak angkutan umum, orang kebanyakan nyebutnya angkot dari kata angkutan kota" jelas Leha.
"Kamu samakan mobil saya dengan angkutan umum?" Isak terpekik. Mobil BMW miliknya disamakan dengan angkutan umum.
Leha menghela nafas lelahnya.
"Iya sama aja pak, manualkan?" Isak mengangguk.
"Nggak saya tidak percaya! Kamu mau tanggung jawab jika Saya kenapa-kenapa?" Isak masih bersikukuh. Leha menatap Isak lama.
"Oke! Tapi bapak tidur di ruang televisi ya?" Leha menyerah. Biarkan saja melihat wajah Isak dengan dua alis tebalnya yang menyatu. Ia tahu lelaki itu tidak akan mau mengalah.
"Oke" Leha melihat binaran pada mata Isak. Kelakuan yang kekanakan dan membuatnya sangat imut! Isak melenggang masuk ke kamar mandi.
"Anggap rumah sendiri ya Pak!" Celetuk Leha. Dan mendapatkan kerlingan dari Isak.
Leha kuatkan dirimu! Masalahnya kalau diarak itu pasti, karena Leha yang menyerang Isak. Itu yang Leha takutkan. Sikap bi nal juga ja blaynya itu.
"Kau harus jaga dirimu jangan sampe tanganmu itu menggerayanginya!!" Monolognya pada dirinya sendiri.
"Lehaaaa mana baju ganti buat Saya?" Teriak Isak dari kamar mandi.
"Ya Pak tunggu!"
Leha berjalan ke kamar kakaknya, mengambil salah satu pakaian pada tumpukan baju di lemari. Ia juga mengambil celana, juga selimut.
Kamar kakaknya yang kosong, hanya ada lemari, tidak kasur. Hanya ada kerangka kayunya saja. Kasur kapuk yang biasa dipakai sudah Leha buang karena rusak.
"Ini Pak!"
"Mana? Mana?" Tangan basah Isak mengenai kulit Leha. Memberikan baju ganti juga handuk bersih miliknya. "Bapak mandi? Nggak dingin?"
__ADS_1
"Dingiiiinn, tapi segar, buatkan Saya teh hangat manis" perintahnya setelah menutup kembali kamar mandi.
Perintah yang membuat Leha melebatkan matanya. "Bener-bener nyusahin!"
"Leha saya dengar!"
"Iiish!"
Leha mengambil panco kecil dan besar lalu memasak air. Ia mengambil handuk juga baju ganti. Tubuhnya lengket ia pun ingin mandi.
Trek!
Pintu kamar mandi terbuka. Leha melihat Isak yang segar. Dengan baju yang cingkrang alias celana panjang kain yang menggantung di atas kaki.
Leha kembali menyemburkan tawa. Isak menurun-turunkan kaosnya yang menggantung. Jika tangannya terangkat maka kaosnya akan memperlihatkan roti sobeknya yang seksi.
Alamat! Kalau begindang eike yang harus lebih sabar. Leha membekap mulutnya menatap perut Isak.
Leha tak menyadari apa yang ia lihat semakin mendekat entah mengapa Leha menggerakkan kepalan tangannya dan ingin sekali terulur dan mengelus kotak-kotak kecoklatan itu.
Tangannya benar terulur. Ingin menggapainya.
"Suka?" Bisik menggoda. Leha mengangguk. Tak lama ia menggeleng keras dan memukul tangannya yang mulai nakal itu.
"Ah dikit lagi padahal." Gumamnya yang ia suarakan.
Lelaki tinggi itu menarik sudut bibirnya. Kembali ia ingin mengerjai wanitanya yang menggemaskan ini.
Ia menarik dengan sengaja kaosnya dan tampaklah dengan jelas dihadapan Leha roti sobek jumbo rasa coklat.
"Sentuhlah!" Bisik lirih Isak. Nafas Leha teecekat, jantungnya mulai berlompatan dengan liar, rasanya dadanya seakan digedor kencang.
"Beneran Pak?" Leha melotot lebar. Hampir saja nafasnya terenggut. Matanya tak bisa ia alihkan pada kotak seksi itu.
"Coba aja, tapi besok langsung ke KUA" ucap lembut Isak.
Leha mundur. Ia membekap tak percaya apa yang ia dengar. Apa Isak melamarnya lagi? Jangan dulu luluh Ha! Lu tahukan siapa yang Isak suka dan menepati hatinya.
Isak memeluk tubuh mungil didepannya itu senyumannya semakin melebar.
Seketika Leha menunduk.
"Jangan bawa Leha terbang tinggi lalu Bapak jatuhin, rasanya sakit Pak"
Leha mundur dan menyandarkan dirinya di kursi meja makan yang memang dekat dapur juga kamar mandi. Tangan Isak yang ingin mendekap Leha menggantung diudara.
"Le—" Isak maju selangkah namin terhenti dengan suara seseorang memanggil Leha.
"Mpoook … Mpok Lehaa … " Keduanya menatap pintu utama.
Siapa yang datang kerumahnya malam-malam begini.
__ADS_1
Tbc.