
Leha menemani Isak menunggu kedatangan keluarga Isak. Ambulan sudah bersiap tak jauh dari pintu keluar jalur khusus.
Daru pun ada disana, Rena juga Raka ikut menunggu dengan wajah muram dan cemas.
"Mereka sudah mendarat."
Raka memberitahukan, Nalen yang mengabarinya. Mereka ikut masuk dan melihat pesawat pribadi keluarga Isak. Dengan seseorang berdiri dekat kursi roda yang diduduki lelaki yang kepalanya dibalut perban.
Isak dan Rena berlari ke arah mereka, Rena memeluk Ibrahim, Isak memeluk Nalen dan Sara menghambur di pelukkan Leha. Tangis dan isakaan pecah.
Suara gemuruh roda berjalan cepat. Disana sosok ceria yang selalu Leha sayangi, terlelap dengan banyaknya selang-selang, melingkupi tubuhnya.
Leha menangkup mulutnya, ia menahan tangisnya. Rena histeris. Suaminya menenangkannya, Ia melihat Isak yang mengikuti brankar yang membawa tubuh Nami. Dengan tatapan kosong.
Raka mendorong kursi roda Ibrahim. Ambulan berjalan lebih dulu, diikuti mobil Isak, Rena dan suami dan Daru. Leha ikut mobil Daru.
Daru menyerahkan tisu pada Leha.
"Kau ingin air. Itu ada di kantong belakang." Leha meraih botol dan membuka nya. Tangisannya menyisakan isakkan.
Mereka sampai di rumah sakit swasta. Isak tidak mau pulang ia ingin menunggui Nami. Ibrahim dan Nalen menyewa satu kamar.
Leha ikut menunggui Isak. Melihat dari pintu. Isak yang terus menggenggam tangan Nami erat. Daru telah kembali, Rena dan Raka mengantarkan Sara dengan tunangannya.
Leha kembali duduk menunggu. Lelah pasti. Tak lama Leha ketiduran. Ia merasa melayang dan sesuatu mendekapnya hangat.
Leha merasakan kehangatannya menjauh. Ia mendekatinya. Wangi lembut bercampur wangi antiseptik. Antiseptik?
Mata Leha terbuka. Ia menatap wajah tampan dengan rambut hitamnya. Ia perlahan mengulurkan tangannya. Mengelus rambut halus. Mengelus mata yang menangis semalam. Mengelus pipinya.
Leha mendekatkan dirinya merengkuh lelaki itu dalam dekapannya. Meletakkan dagunya diatas kepala lelaki itu.
Isak mendongak. Ia mengecupi leher juga dagu Leha. Lalu menenggelamkan kepalanya. Pada dada Leha. Mengeratkan dirinya pada Leha.
"Jam berapa sekarang?"
Tangan Leha mencari keberadaan ponselnya. Benda pipih itu kemana perginya. Leha kesusahan dekapan Isak terlalu kuat. Tapi ia melihat keberadaan ponselnya di nakas kursinya.
Menjulurkan tangan. Leha mendapatkan benda pipih itu.
"Jam 6, Leha mau bangun bang, sebentar lagi kunjungan Dokter"
"Sebentar lagi" Isak lebih mengeratkan pelukannya.
Suara peralatan terdengar menggema. Melirik pada wajah pucat Nami. Menghela nafas Isak menuju kamar mandi. Ia membersihkan wajahnya. Leha menyusul dan berdiri disebelahnya. Mereka menggosok gigi bersama. Mencuci muka.
Isak sudah banyak menangis. Tentu saja wajahnya membengkak. Mengganti pakaian. Isak selalu memiliki cadangan pakaian di mobilnya.
Kunjungan dokter telah selesai. Bertepatan dengan kedatangan Sara dan Rena.
"Aku akan ke tempat Ayah dan Nalen."
"Kamu mau ikut?" Leha mengangguk.
Mereka sampai di depan pintu kamar inap Nalen dan Ayahnya.
"Kejadiannya cepat"
Krek!
Disana ada Ayahnya dan Raka juga Tunangan Sara.
"Ayah bagaimana keadaanmu?"
"Lumayan" Nalen keluar dari kamar mandi. Wajahnya tidak sepucat kemarin.
"Nalen, gimana kronologinya ?"
Leha juga menunggu apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya aku nggak begitu jelas. Karena cepat sekali kan Yah"
"Kami akan makan siang, lalu ada tiga buah mobil dari dalam keluar orang-orang dengan pakaian serba hitam yang tiba-tiba berhenti di depan lobby, lalu menembaki lobby."
"Ayah mau nyelamatin aku dan Bunda. Tapi didorong kuat sama orang baju hitam itu. Menabrak pot bunga, dan pingsan. Aku langsung merangsek, memukul lelaki berbaju hitam itu" Ada amarah dari getaran suara Nalen.
"Saat Ayah akan ditembak Bunda menghalangi dan jadi ya kalian tahu Bunda tertembak. Aku marah dan mengambil senjata salah satu dari mereka dan menembaki, lalu suara sirene polisi dan aku ambruk. Bangun-bangun ternyata lengan dan kakiku tertembak"
"Bang, apa ini ulah Gusto?"
"Mendengar ceritamu, ini macam serangan mafia, jika memang ini ulah Gusto, kita tidak bisa tinggal diam."
"Jangan Nak" tolak Ibrahim
"Tidak ingin membalas Yah, hanya membentengi sampai kasus Gusto selesai."
Wajah Ibramin masih tidak setuju dengan keputusan yang akan anaknya ambil. Resikonya terlalu berbahaya. Ia tidak ingin anaknya terjerumus dalam dunia gelap.
"Kau ingin bertemu Om Harlan?" Nalen menatap kakaknya.
"Ajak aku!"
"Tidak bisa kau sedang—"
"Ayolah aku hanya tertembak!"
"Auh!"
"Aaaauuhhh … apa—"
Isak menjitak, kepala adiknya itu. Leha pun ikut kesal ia mendekati Nalen dan menekan luka di bahu Nalen.
"Lemah! Katanya hanya! Kenapa kau berteriak saat aku hanya menyentuhmu!" Ucap Leha. Mata Nalen melebar berani benar si kerdil ini membulinya.
"Oke cukup! Sekarang pertanyaannya dimana Om Harlanmu itu!" Ibrahim semakin pusing dengan tingkah anak-anaknya yang kekanakan.
"Harlan Prokoso bukan?" Raka berucap.
"Kau kenal dengannya?" Raka mengangguk.
"Dan dia Om mu?" Isak mengangguk.
__ADS_1
"Aku baru rapat dengannya, pantas saja kemarin saat bertemu aku merasa familiar pada wajahnya"
"Aku rasa dia masih di Indonesia, mungkin akan menemuimu, karena ia juga bertanya tentangmu padaku"
Raka beranjak dari duduknya. Ia akan kekamar Nami, menemui sang istri, Rena.
"Aku akan ke kamar Bunda"
"Kita kesana" mereka kembali berkumpul di kamar Nami yang juga belum siuman.
***
Setelah di paksa akhirnya Leha dan Isak pulang dan tidur dirumah masing-masing. Giliran Rena yang menjaga Nami.
"Bontot, makan yok, udah mateng enih masakan!" Teriak Hamid memanggil Leha. Ia mengetuk pintu kamarnya. Leha membuka dengan kantuk yang mendera dirinya.
"Sibuk ya?"
"Nggak Bah, cuma sedikit sibuk"
Leha tidak bisa menceritakan tentang keluarga Isak yang mengalami peristiwa mengerikan.
"Mpok Jana masak opor ayam kampung, keuskaan bontot Abah" di kecupnya kening Leha.
Leha menguap lebar layaknya kudanil. Melihat Leha yang sangat mengantuk.
"Makan dulu dikit kagak ngapa terus lu tidur dah, seenggaknya keisi itu perut"
Leha mengangguk. Ia menyuapkan opor pada mulutnya. Rasa gurih sedikit manis memenuhi mulutnya. Matanya melebar merasakan kenikmatan rasa opor ayam ini.
Besok ia akan membawanya untuk mereka. Makanan kateringnya. Kebetulan opor ini untuk kateringnya. Ia sudah memesan 10 kotak tambahan.
"Bah Leha masuk kamar yeee … " Leha telah menyelesaikan makannya.
"Iyak sana" Hamit makan dengan mata fokus pada televisi yang menampilkan sketsa-sketsa lucu para artis ibukota.
Leha melempar dirinya ke ranjang. Melihat ada notifikasi dari Isak. "Udah tidur? Heleh!" Baru dua menit lalu.
Leha mendial nomor Isak.
"Halo"
"Abang udah tidur?"
"Belom ini lagi telponan" terdengar suara lirih yang agak serak.
Udah tidur nih lakik keknya.
"Abang vcall aja yok" ajak Leha.
"..."
"Oke"
"..."
"Matiin dulu!"
Dan seketika telpon mereka terputus. Leha menunggu. Tapi Isak tidak menelpon juga.
"Gimane dah enih!"
Saat Leha akan menelpon, Nama Isak muncul. Dengan cepat Leha terima. Dan mulai mengomel.
"Kok sibuk! Telponan sama siapa?"
"Ya sama kamu" terlihat wajah lelah Isak. Mata lelaki itu tertutup dengan rambut berantakan.
Gantengnya pacarku ini. Hih! Gemes!
"Ish gemes! Gigit jugak nih!" Ucap Leha.
"Sini makanya, tasi suruh nginep nggak mau!"
"Ya nggak lha! Abang tahu yang paling serem itu orang mabok, tapi orang sadar yang galau."
"Kebablasannya bukan khilaf lagi, tapi sengaja." Lanjut Leha.
"Leha"
"Ywa awbwang ~" jawab leha dibuat mendayu layaknya biduan dangdut.
Isak terkekeh, "Apa tadi Yaw abwang" kembali Isak terbahak. Ia menutupi wajahnya dengan tangan.
"Kamu cerita dong"
"Eh cerita apa? Cerita kancil mencuri timun?"
"Terserah, aku mau tidur tapi takut" jeda lama.
"Okey, Sayang dengerin Leha ya"
"Hmm … "
"Suatu hari, di negri Paman Gober cuan bertebaran, ternyata brankas si Paman meledak sangking banyaknya koin, jadi tidak tertampung."
Isak melirik dengan cerita absurd Leha.
"Disana Tuan Crap sangat bergembira. Ia berenang di dalam koin-koin itu."
"Tak lama, Sweeper datang dengan tas besar, Paman Gober yang sedang menyekop koin-koinnya, kelabakan, ia tidak rela jika uangnya di curi"
"Disaat yang sama Mojojo sudah menggali tanah untuk menimbun koin Paman Gober untuk biaya oprasi penyakit tumor otaknya stadium 1000"
Leha melirik Isak yang terlelap, terdengar dengkuran halusnya. Leha menatap pada layar mengamati wajah Isak.
"Tidur kesayangan Leha."
***
Keesok harinya,
__ADS_1
Leha datang dengan makan siang, namun terlambat. Mereka telah makan dan disana ada Bita dengan wajah sembabnya disamping Isak.
"Wah bawa apa kamu Ha?" Sara menghampiri Leha. Dan melihat kotak makan siang yang Leha siapkan.
"Hmm wangi, kamu beli?" Leha menggeleng.
"Kamu masak sendiri" Leha mengangguk.
"Opor bukan sih ini?"
"Sar kalau semua udah makan, ini aku bagiin ini keperawat sama satpam aja"
"Lho jangan aku mau, opor ini enak kayaknya, aku belum makan"
"Opor juga bersantan kali!" Ejek Nalen. Karena sedari tadi mereka berdebat masalah nasi padang yang di bawa Bita. Dengan alasan jika Ibrahim dan Nalen baru sampai Indonesia pasti kangen.
Tentu saja Sara mendengus, Orang lagi prihatin malah di bawain nasi padang, harusnya buah, atau apa kek, malah dibawakan sumber kolesterol. Sebenarnya tidak ada salahnya hanya saja Leha sudah empet, enek sama Bita.
Jadi yah bawaannya kesel saja apapun yang wanita itu lakukan. Bahkan tangisannya super mendayu layaknya biduan dangdut.
"Jilat ludah sendiri dek?" Sarkas Nalen.
"Leha kamu beli di katering sehat? Eh tadi kamu bilang bikin sendiri?" Leha menggeleng alalu mengangguk.
"Jadii … "
"Iya, Katering sehat punya ku, sama sodara,"
"Makanan seenak dan kelihatan berminyak ini dari katering sehat?"
"Serius?"
Sara dan Rena membuka kotaknya. Dan memperlihatkan pada pasangan masing-masing.
Sara mencobanya dan terlihat binaran di matanya. Ia tak menyangka makanan sehat bisa seenak ini.
Krek!
Kepala muncul dari pintu.
"Halo apa saya menganggu?"
"Pak Daru"
"Silahkah masuk Pak Daru"
Lelaki itu membawa keranjang buah. Dan memberikannya pada Leha.
"Saya ingin menjenguk"
Raka beranjak dari kursinya memberikan pada Daru,
"Yah ini Daru perwakilan dari Mount High"
"Oh kamu juga yang ikut menjemput kami"
"Iya pak"
"Jangan panggil Pak, Panggil Om saja"
"Oh i-iya, Daru sedikit canggung."
"Pak Daru, sudah makan siang?"
Leha bertanya, ia kan membaginya untuk Daru, karena lelaki ini pernah memaksanya untuk menyisahka 1 kotak untuknya. Tapi Leha tidak pernah memberikannya.
"Kebetulan belum"
"Ayo makan bersama kami Daru" ucap Bita yang membuat mata yang ada di sekitarnya menatapnya.
"Kamu kenal dengan Daru?"
"Kenal, dia sepupu Zain" ucap Bita agak sendu tapi dengan cepat wanita itu tutupi.
"Iya Kami sepupu" Daru tersenyum semakin canggung.
"Tapi aku cuma beli nasi padang pas-pasan" Bita bersalah.
"Makan ini aja," Leha memberi kotak pada Daru.
"Katering Sehat, ini kateringmu itu kan Leha?" Daru antusias, ia sudah lama ingin mencobanya. Tapi harus menunggu 3 bulan, mana dia bisa tahan.
"Iya"
"Akhirnyaaaa, nggak perlu inden 3 bulan"
"Inden 3 bulan, kayak motor" ucap Nalen, tertawa meremehkan. Bita di tempatnya meremas jarinya. Ia tahu benar jika apa yang dikatakan Sara dan Rena benar. Ia akui Katering sehat memang enak rasanya.
"Saya makan ya, makan semua nya"
Suapan pertama, senyuman Daru mengembang lebar merasai nikmatnya potongan lembut ayam yang dipadu dengan kuah santan putih.
"Saya tahu ini pasti nikmat" kembali Daru menyuapkan makanan dengan lahap.
"Ayah juga mau dong, Leha buat orang yang dirawat juga boleh kah?"
"Tentu Yah, katering sehat setiap makanan yang dibuat sudah dihitung gizinya, benar kan Ha?"
"Betul Sar, semua sudah dihitung dan diteliti,"
Mau tak mau Leha menjelaskan rinci mengapa ia membuat katering sehat.
Ibrahim membuka kotak dan melihat isinya sangat menggugah seleranya. Namu tetap ia tak ingin menyuapkan makanannya itu. Sebenarnya ia malas makan, dirinya yang tertekan juga ada trauma, membuatnya selalu kenyang.
Ibrahim menyuapkan dan mengunyah nasi dan perkedel yang tercelup kuah opor. Rasa opor pada mulutnya membuat Ibrahim mencongkel daging ayam yang kenyal dan bumbunya meresap. Sangat nikmat.
Ibrahim sangat lahap. Melihat itu Sara memeluk Leha. Wanita itu berbisik "Terima Kasih" dengan mata berkaca.
Leha dengar jika Ibrahim tidak mau makan. Isak dan Sara mencoba segala cara. Dan yang berhasil adalah Leha.
__ADS_1
Ibrahim menyelesaikan sepertiganya. Dan itu sangat bagus.
Tbc