Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 72


__ADS_3

Leha menatap ponselnya, ia murung, Sari memperhatikan Leha. "Lu ngapa dah? Gimana tadi? Bajunya bentuk nya gimana?" Sari duduk di samping ranjang Leha.


"Bagus, putih gading, montenya sekilas bisa berubah warna hijau dan kuning,"


"Buseng, Neymar banget lu, kenapa, muke lu begitu, lu nggak suka sama bajunya?" Sari menatap dalam wajah Leha.


"Kenapa lu bisa ngomong gue nggak suka sama bajunya?" Tanya Leha, ia menatap Sari pembahasan yang tidak membuatnya semangat. Padahal tadi waktu berangkat di dirinya sangat bersemangat.


"Muke lu itu pulang-pulang lu tekuk, gairahnya ilang gitu, padahal pan tadi berangkat lu seneng bener"


Sari mengambil permen kayu putih yang ada di kantongnya ia memakannya. Mulutnya pahit setelah minum jamu pengantin, ramuan Mpok Jana, katanya untuk membuat keset dan wangi.


"Cuma kangen aje sama suami, kagak telepon ini" Ucap Leha yang tidak menceritakan bahwa dia kecewa Isak tidak datang untuk fitting, bahkan semua keluarga Ibrahim susah ia hubungi.


"Heleh! Ngomong-ngonomg lu jadi buat 300 sampel selendang mayang?"


"Ya jadi, tinggal beli santan sama susu evaporasi" ucapnya.


"Kapan lusa pan yak?"


"Hmmn" 


Leha kembali menekuni ponselnya, bukan untuk menunggu Isak menghubunginya melainkan untuk bekerja. Mengecek hari ini ada yang komplain apa nggak, masalah komplain, ada beberapa hari ini, hanya rasa keasinan atau kurang asin. Untuk masalah yang lainnya Leha bisa percaya diri.


***


Bita telah dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Keluarga Ibrahim lengkap ada disana namun Bita belum juga sadar. Juga nomor Zain tidak bisa dihubungi.


Nalen datang dengan ponsel Isak di tangannya. Ada banyak pesan juga telepon dari istri kakaknya itu.


"Bang hari ini ada jadwal yang penting?" Saat Nalen memberikan ponsel Isak pada yang punya.


"Apa?" Tak menunggu lama, Isak terlonjak. "Bunda Abang lupa fitting sama Leha." Nami ikut merogoh tasnya. Seharian ini mereka fokus pada Bita. Hingga lupa pada acara pernikahan Isak dan Leha.


"Bunda juga nggak buka handphone bunda seharian." Ucap Nami yang melihat banyak panggilan masuk dari Leha.


"Sayang, maaf ya, iya nggak apa tadi handphone abang habis batre, lupa di charge, iya maaf ya, besok, apa? Oh iya cicip-cicip, Iya siap Nyonya Isak, kamu istirahat ya," Isak melipir menjauh, sepertinya istrinya ini ingin mengobrol lebih lama.


"Nalen apa ada kabar dari Zain? Itu suami kok ya nggak khawatir sama istrinya yang sudah hamil besar."


"Kalau aku tebak, apa Zain hang membuat Bita begitu" ucap Nalen.


"Kamu jangan asal nuduh."


"Bun, Bunda sama Ayah pulang aja, Biar aku dan Nalen yang nunggu Bita. Ini juga sudah malam" Isak yang telah selesai menelpon Leha.


"Yaudah, nanti kalau dia siuman langsung telepon Bunda." Nalen dan Isak mengangguk.


***


Di menjelang subuh, Isak mendengar suara rintihan. Ia mengecek keadaan Bita. "Bita kamu sudah sadar?"


"Haus" lirih.


"Aahg!" Pekiknya tercekat. Ia merasakan perih di bagian perutnya. Kesadaran menghantam Bita kencang. Ia meraba perutnya yang tidak segembul terakhir kali ia mengelusnya.


"Anakku?" Suara seraknya, "Mana anakku?" Suara mencicit yang serak.

__ADS_1


"Bita tenang, minum dulu, tadi katanya haus?" Ucap Isak.


"Anakku kemana Lewi? Anakku?" Tangis tak lagi dapat dicegah. Tangisan kesaktiannya. Menyayat. "Dia baik-baik aja kan? Pasti sedang di ruang bayi, baik-baik aja pasti" Rancunya. Dalam hati ada keyakinan jika anaknya selamat. Dan Bita menyakini itu.


"Antar aku melihat anakku" Bita meraih Lengan Isak. Ia tak mengindahkan jahitannya yang masih basah.


"Jangan banyak bergerak, nanti jahitannya akan terbuka." Ucap Isak memperingatkan.


"Anakku Lewi, aku mau lihat, kalau aku tidka bisa kesana, bisa kau bawa kesini?"


"Nanti ya, tunggu dirimu pulih dulu" ucap Nalen yang ikut terbangun karena raungan Bita.


"Nalen, bagaimana wajahnya? Pasti cantikkan?" Tanya Bita dengan bulir air mata yang terus saja menetes.


"Sangat cantik, kulitnya putih, hidungnya mirip denganmu"


"Aku ingin melihatnya" Nalen melirik Isak. Mendengar Bita yang terus memaksanya.


"Bita, ini masih pagi tunggu dokter visite kita tanya apa boleh kamu bergerak ke tempat bayimu" Nalen terus membujuk dengan kebohongan.


"Sekarang kau istirahat dulu, pasti pagi nanti aku bangunkan" Nalen meletakkan cangkir dengan sedotan yang telah Bita minum isinya.


***


Bita masih merengek meminta bertemu sang anak namun kerjasama Isak dengan para dokter, akhirnya Bita tidak lagi merengek,


"Kamu rapi mau kemana?" Tanya Bita.


"Aku ada keperluan sebentar lagi" ucap Isak. Bita semakin manja pada Isak. Padahal di tempat itu ada Nalen juga. Bita tidak mau ditinggal sebentar oleh Isak.


"Sebentar aja, ini urusan kantor penting" Ucap Isak. Isak belum memberitahu Leha tentang Bita, Nemi melarangnya memberitahu Leha, takut Leha ikut murung.


"Sebentar saja ya" Bita menarik tangan Isak. Isak melepas cengkraman Bita. "Hmn" lalu Isak menjauh. 


"Itu ada Nalen kalau kamu mau apa-apa minta sama dia" Ucapan Isak yang hanya diangguki Bita enggan.


Isak telah sampai ke gedung yang akan mereka gunakan untuk resepsi. Ia bisa melihat sang istri yang duduk diundakan tangga sambil mencabut rumput tamannya.


Dari mobilnya ia bisa melihat seorang satpam berwajah garang mendekati istrinya itu. Satpam itu berbicara dengan istrinya entah apa, lalu  Istrinya mengangguk dan seperti meminta maaf. Lalu melipir menjauhi si satpam yang masih menatap garang istrinya itu.


Melihat kelakuan Leha membuat Isak tertawa renyah. Tawa yang sering Leha bawa untuknya. Sifat konyol Leha yang Isak rindukan beberapa hari ini.


Mereka sibuk dengan pernikahan juga ditambah kasus Bita membuat kesibukan mereka juga bertambah. Belum lagi Zain yang ikut menghilang.


Saat ini ia sedang berusaha menghubungi Daru, sepupu Zain. Tapi sayang sang sepupu juga tidak tahu keberadaan Zain. Rumit.


"Nona jangan mencabut rumput! Kau tidak melihat ada tanda larangannya" ucap Isak tepat dibelakang snag istri.


"Aku nggak … ish Bang kok tiba-tiba udah disini aja,"


"Kamu itu kebanyakan melamun. Kamu liat mobil siapa disana?" Isak menunjuk ke arah mobilnya.


Seluruh dengan mata Leha. Mobil Isak terparkir. "Eh iya" Tawa renyah sang istri membuat Isak gemas.


"Kangen sayang" Manja Isak. Ia merengkuh Leha dalam pelukannya. "Jangan disini, malu kita lagi diluar" Leha mencubit perut keras Isak. 


"Tuh kan ngegodain, buka kamar aja ya yang, disini, tes dulu sebelum buat malam pertama setelah resepsi" Isak mengerling nakal.

__ADS_1


"Udah ah, ayo cicip-cicip dulu, setelahnya terserah Abang aja" 


Mendapat lampu hijau membuat Isak ingin bersorak. Ia sudah sangat ingin menyatu dengan sang istri. Masalah kantor, pernikahan, pingit memingit juga Bita membuat otaknya butuh penyegaran.


"Gimana?"


"Ini enak, tapi enak kamu"


"Manis tapi lebih manis bibirmu"


"Empuk manisnya cukup, tapi lebih empuk dan kenyal yang ini"


"Astaga Abang! Me sumnya itu dikontrol dulu" bisik Leha yang ikut gerah. Iska malah membawanya ke sudut ruangan, yang ber gorden menjuntai tebal. Mereka bersembunyi sambil memakan bibir pasangannya dengan lahap.


"Abaang, jangan disitu, nanti terlihat." Menjauh kepala Isak dari lehernya ia tahu Isak sangat gemas.


"Berarti disini boleh" Isak menyingkap kaos Leha. Menyurukkan kepalanya pada bongkahan yang masih anteng pada tempatnya.


Namun dengan sekali telunjuk Isak menyentuh punggung di tempat pengaitnya. Tumpahlah bongkahan menggiurkan, dan Isak tanpa sungkan meraih, memainkan dan melahapnya.


"Bang, udah ya nanti lagi, ini masih di ruang testing loh"


"Bang udah, udah" dengan gerakan gesit Leha menurunkan kaosnya. Merapikan rambutnya dan menyeka bibirnya.


Tak lupa ia juga membersihkan wajah Isak. Dari bekas saliva dan lipstiknya. "Cepet aja sayang, abang nggak tahan."


Leha akhirnya yang memilih makanan mana saja yang dipilih. Dan selesai Isak benar menarik Leha masuk ke dalam salah satu kamar.


"Quiqie sayang, Abang nggak tahan," melahap bibir Leha. Isak telah menghujam milik Leha. Lenguhan dan geraman menggema dalam kamar mereka. Panas tubuh mereka membuat peluh mengalir di pelipis. Dan mereka merasakan keawang-awang.


Ponsel Isak terus bergetar. Namun Isak tak mengindahkannya. Itu pasti panggilan dari Bita. Biarkan saja. Lagipula Bita tak sendiri ada Nalen yang menjaganya.


Iska dan Leha menghabiskan hari dikamar hotel. Leha terlelap dalam dekapan sang suami. Getaran ponsel membangunkan Isak.


Telepon dari Bundanya.


"Isak kemari, Bita histeris, Nalen dan Bunda tidak bisa menghentikannya. Ia manggil kamu Bang" Isak mengangkat tangannya. Meletakkan kepala Leha ke bantal. Lalu membuka pintu balkon.


Dari seberang bisa Isak dengar jeritan Bita yang menyerukan namanya. Menghembus nafas kasar. "Iya Abang kesana" ponselnya telah mati. Layarnya telah mengelap. Ia harus cepat menemukan Zain. Suami keparat! Tidak bertanggung jawab! Maki Isak.


"Abang" Leha tanpa busana memeluk tubuh Isak. Suaminya itu bisa merasakan bongkahan kenyal yang menggoda punggungnya.


"Berani ya goda-goda." Isak membalik dan mengangkat tubuh Leha. Menyatukan bibir, kembali mereka melewatkan kegiatan panas yang membakar kalori.


***


Isak berjalan cepat  di lorong rumah sakit. Ia meninggalkan istrinya sendirian di hotel. Panggilan Nami membuatnya terburu meninggalkan Leha yang kelelahan.  Ia berada di depan sebuah pintu.


Tangis panjang penuh kerapuhan terdengar dalam ruangan Bita. Setelah wanita itu dianggap kuat untuk menerima berita. Isak dan Nelen membeberkan kebenarannya ia tidak ingin membohongi Bita.


Namun Bita menjadi sering histeris. Jika tidak menemukan dirinya disekitar. Dan itu membuatnya susah.


"Bita aku disini, tenang!" Isak merengkuh tubuh Bita dalam dekapannya. Tak lama Bita menjadi tenang. Nami menatap tajam, tanpa bisa berbuat banyak. Ia keluar kamar tidak ingin melihat anaknya begitu.


Semoga Leha tidak salah paham. Hanya itu doa Nami. 


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2