
"Sholeha Badrun"
"Ya" jawab Leha refleks mendengar nama panjangnya disebut, kenapa kagak sekalian aje sebinti-bintinya. Ia memutar tubuhnya dan mendapati sosok di depannya matanya membulat.
"Ya Tuan Handaru, ada yang bisa Saya bantu?"
"Ah saya boleh minta kopi?"
"Boleh tunggu sebentar."
Tak lama ponsel Leha berdering. Lagu Winning Dance Neymar memekik kencang, di saku celananya, membuatnya kelabakan.
"Anjir lupa gua silent!"
Wanita itu meminta izin untuk mengangkat ponselnya.
"Ya Bun?"
"Belom selesai, kata Bang Isak langsung nyusul dari kantor, bisaaa, iyaaa, bentar-bentar Leha ambil catatan dulu."
"Iya ternyata temen lama, Bang Isak, ya lama ngobrol masa lalu, sampe Leha ngantuk. Bosen juga, Leha tinggalin aja nonton bola."
"Gak ketauan soalnya Bang Isak gak ngomel kayak biasa, hehe"
Leha mencari benda panjang yang ia letakkan disela bukunya. Tapi tak ada.
Leha mendapatkan kertas, dan mencari pulpen, ia tak nemenukannya.
"Bentar Bun, Leha cari pulpen dulu."
Daru yang ikut dengar pembicaraan Leha mencoba menolong Leha dengan menyodorkan pulpen pada Wanita itu.
Leha tersenyum. Meraih pulpen Daru.
"Iya Bun,italian herbs, sosis, Cola,limun, garam, tambahan snack ringan, udah? Oke, love you Bun, see you soon"
"Terima kasih, ah Sorry, Thank you Mr Handaru"
"Tak apa, Kamu bisa panggil aku Daru, Indonesian?"
"Yaaa … Astaga! Kamu bisa bahasa? Pantes aje kamu pinjemin aku pulpen, kamu ngerti aku ngomongin tadi,"
"Sorry nggak maksud nguping"
"Oh kagak … eh nggak apa"
Suasana menjadi sunyi.
"Kamu suka bola?"
"Iyak, suka Neymar lebih tepatnya," Leha menyengir lebar.
"Aku tuh fans karbitan, bukan suka pertandingannye tapi suka pemainnye yang caem-caem"
"Kita pernah ketemu. Waktu nonton di private room,"
__ADS_1
"Hah? Beneran?"
Leha menarik empat cangkir dan menuangkan kopi yang sudah mendidih.
"Berapa gula?"
"Satu gula dua krim"
"Kalau buat Pak Izil?"
"Dia kopi hitam, pekat"
"Lha sama sama pak bos, udah macem dukun aje yak mereka, kopi dukun dan udud,"
Daru terbahak. Sudah lama ia tak mendenagr istilah kopi dukun dan ngudud. Saat ia kuliah teman-temannya selalu mengatakan istilah itu. Artinya kopi dan merokok. Alias nonkrong.
Leha memasukkan susu pada kopinya lalu ditambah krim yang juga banyak. Daru memperhatikan semua nya. Mengaduk dan mencicipi. Senyum mengembang di bibir Daru.
Mereka meneruskan percakapan mereka mengenai awal Daru melihat kehebohan Leha yang disorot kamera dan masuk dalam layar lebar stadion.
Malu itu yang Leha rasakan. Tak mengira orang yang melihat kelakuannya saat itu akan bertemu dengannya,
Daru tidak pernah berpikir akan bisa bertemu lagi dengan wanita yang menurutnya menarik ini.
Mereka pun kembali ke dalam ruang meeting.
"Silahkan" Leha memberi cangkir pada Izil, lalu pada Isak. Mereka berdua masih berdiskusi dengan serius. Leha melipir meletakkan cangkir miliknya.
Sedangkan Daru ia membawa sendiri cangkir miliknya. Ia ingin membantu Leha tapi wanita itu menolaknya.
"Sepertinya tangan kananku menyukai asistenmu" bisik Izil yang menatap apa yang Isak perhatikan.
Saat Ia tak mendapatkan respon dari Isak.
"Aku kemarin bertemu dengan Zain, ia berkata baru dua bulan lalu kembali, apa dia menghubungimu?" Izil mendapat perhatian Isak.
"Menghubungi tapi aku sibuk di Indonesia. Jadi belum sempat bertemu" Izil hanya mengangguk. Isak pikirannya menerawang.
Ia lupa tentang Tabita Dania, si sepupu yang hidup jauh di negeri seberang, mengikuti sang suami. Namun saat ini mereka berada satu negara. Isak bernafas kasar, ia harus kembali fokus pada rapat.
***
Leha disebelah Isak sibuk dengan ponselnya. Suara cekikikan nya sangat mengganggu konsentrasi Isak.
"Kau ingat apa saja pesanan Bunda"
"Tenang Bapak Leha udah catat beres."
Isak menghela nafasnya Leha sama sekali tidak memandangnya saat ia berbicara dengannya. Membuat Isak sedikit gondok.
"Kau sedang berkirim pesan dengan siapa? Tawamu sangat mengganggu konsentrasi menyetir Saya" ucap Isak tak senang.
"Bapak, bapak tahu itu si Handaru Brahma, Daru, tangan kanan pak Izil, ternyata dia orang campuran Indonesia sama Spanyol,"
"Hm …"
__ADS_1
"Tadi di pantry Leha syok kok abang bule ngomong sama Leha pake bahasa, Terus kan Leha cerita kangen makan pecel, eh katanya dia punya bumbu pecel terus mau kasik ke Leha"
"Kamu mau"
Leha yang sudah duduk miring, antusias bercerita itu mengangguk.
"Maulah pak kapan lagi dibikinin pecel sama orang ganteng. Astagaaa Pak Daru manisnya mirip my husband"
"My Husband? Kamu sudah nikah?"
Leha menggeleng.
"Bukan didunia nyata tapi di grup chat dunia tipu-tipu Leha ini istrinya Neymar, pak"
"Grup chat dunia tipu-tipu?"
"Iya bapak,Grup chat yang isinya kumpulan manusia yang punya imajinasi luber, alias suka ngehalu, bapak"
"Kamu gabung sama grup aneh gitu"
"Ish si bapak mah! Leha itu gabung untuk menyalurkan khayalan Leha disana, kita bisa berbagi dengan sesama penghalu. Ah bapak mah kagak akan mudeng"
"Iya saya memang nggak ngerti"
"Lebih baik, tetap seperti itu, tidak usah dimengerti, mendingan kita turun kan Bapak,"
"Eehh ... Sudah sampai supermarket, bapak nggak bilang-bilang"
Plak!
Leha menabok lengan Isak. Leha mengalihkan pembicaraan, karena kalau diteruskan percakapan mengenai grup chat dunia tipu-tipu ini, akan semakin memanjang dan melebar. Lelaki itu menatap Leha dengan tampang datarnya.
Wanita itu sudah turun. Menunggu Isak keluar mobil, ia telah memasukkan ponselnya. Dan mengikuti Isak yang melangkah mendahuluinya.
"Italian Herbs, cek, Limun dan cola, cek, garam, ceklis, ah, Sosis, Pak, sosis belum" Leha membongkar semua, berisi snack ringan yang Leha borong, Leha pun mengambil sekotak besar sereal Honey star.
Leha sangat suka Honey star rasanya manis apalagi dipadu dengan susu, Leha sangat menyukainya. Jika sakit Leha hanya mau makan Honey star ini. Memang aneh.
Isak mendorong troli nya menuju makanna beku, Leha sedang mengamati deretan berbagai macam jenis sosis.
"Bapak mau yang mana? Leha bingung dan nggak ngerti bacanya, Leha serahkan tugas ini pada Bapak"
Leha bergerak ke samping pintu pendingin dan membuka pintu ala-ala pelayan lobby pintu hotel bintang lima untuk para tamunya.
"Silahkan Tuan Muda" Cengiran Leha mengembang. Isak hanya berdecak dengan kelakuan aneh Leha.
"Lewi?"
Leha menatap Isak yang membeku ditempatnya. Lelaki itu menoleh pada sumber suara perlahan. Netra Isak membola. Ia seperti melihat sosok hantu yang mengerikan.
Penasaran. Leha menaikkan salah satu alisnya. Ia ikut melongok pada sumber suara yang merdu itu.
"Nabila?"
Tbc.
__ADS_1