Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 45


__ADS_3

Seorang wanita dengan perut buncitnya berjalan dengan lelaki dan bocah gembul keluar dari bandara. Mereka memeluk seseorang yang menjemputnya.


"Akhirnya kamu pulang" ucap seseorang itu. Mereka masuk kedalam mobil dan meninggalkan bandara.


Bersebelahan satu sosok lelaki tinggi ia menatap suasana yang beberapa tahun ini telah ia tinggalkan. Hiruk pikuk yang membuatnya rindu.


Ia menghampiri taksi.


"Ke Senopati pak, Distrik 8 SCBD"


***


Leha kembali bekerja pada rutinitasnya. Membersihkan ruangan, Leha merasa risih sedari tadi banyak dari karyawan berbisik-bisik. Ini masih pagi. Dan Leha tidak peduli.


Ia mengaduk kopinya, "Lehaaaa" Sari berderap mendekat.


"Iya iya gue tahu ini kan yang lu cari" Leha menyerahkan bungkusan oleh-oleh yang Sari minta. Tidak ada yang tahu hubungan dekat Leha dengan pemilik perusahaan.


Leha melihat ada karyawan yang ingin membuat kopi tidak jadi masuk ke pantry karena melihat Leha.


"Sar lu tahu nggak kenapa gue ngerasa orang-orang dimari ngomongin gue?"


"Ah biasa iri mereka"


"Iri kenapa dah?" Leha mengerutkan dahinya.


"Leha lu kagak sadar, mereka iri sama lu yang pak bos bawa ke Qatar, ngegantiin mbak Rena. Apa lagi itu cewek-cewek penggemar pak bos dari divisi yang ngerasa lebih pinter dari elu beeeh udah ngereog ngeliat tik tok lu"


Otak Leha masih mencerna apa yang ia dengan dari Sari. "Lehaaa mana buat gue?" Enda dan Ujang ikut datang.


Disusul Dewi juga Nilam masuk dalam pantry mereka. "Leha kamu jadi terkenal lho, banyak yang nyirnyir juga sik kalau di perusahaan ini, tapi kamu viral di toktok joget bareng Neymar, Gimana aslinya?"


"Guanteng pol mbak sumpah, yaoloh Gusti Leha jadi inget lagi. Disana aje Leha terus nyebut."


Dewi mendengarkan Leha dengan antusias. "Aku sampe jumpalitan, Paksu sampe marah-marah waktu aku ngasi tahu kalo yang lagi viral itu temen aku, aku juga doa semoga anakku mirip Neymar itu."


"Lho nggak iso lho mbak Dewi iki aneh-aneh ae, ajabang bayimu yo mirip Mbak Dewi sama suami lah, moso ujug-ujug mirip Neymar" ucap Nilam. Wanita solo yang medok itu pendiam tapi sekalinya membuka mulut pasti nyelekit.


"Yowes-yowes enih punya mbak Dewi, ini punya lu Lam" Leha membagikan coklat onta oleh-oleh darinya.


Mereka telah kembali ke tempatnya masing-masing. Leha membersihkan meja Isak. Sari juga membersihkan ruangan yang akan dipakai rapat.


"Oh ini toh, si pec un yang dibaw bos sampe luar negeri" ucap salah satu ketua dari geng gong gosip di perusahaan. Karlita. Leha melihat Rahmi, Pipit, Ina dan satu banci, Juan. Gerombolan yang waktu itu melabrak Leha di warung soto mie.


Leha sedang membuang sampah di daerah pembuangan sampah belakang gedung kantor.

__ADS_1


Leha melengos, ia tidak ada waktu buat ngurusi segala tentang para pencemburu yang memiliki rasa iri hati seperti mereka.


"Ngelunjak lu"


"Ark!" Leha memegangi rambutnya yang Pipit jambak. Ia menatap wajah pipit dan gerombolannya itu tersenyum puas.


Leha memberontak dan dengan gesit berkelit dari pipit yang tubuhnya lebih bongsor dari yang lainnya.


"Gak kapok ya lu kekunci di londrian?"


"Elu yang kunciin gue!" Leha dengan berani mendekat pada Rahmi.


"Jangan fitnah lu!"


"Pe cun, kayak lu masih berani aja!" Pipit kembali menjambak rambut Leha. Tapi kali ini Leha dengan cepat berkelit.


"Beraninya lu!"


"Mana takut dese nek, orang bekingannya aja si bos."


"Nah lu tahu, itu temen lu pinter!" Leha melihat para wanita itu menatap.


"Sebelum lu ngadu gue matiin lu dulu"


"Lu siape? Lu kira gue takut."


"Serang Pit, Serang!"


Pipit mulai menyerang Leha karena kompor dari teman-temannya. Leha menaikkan sudut bibirnya. Sudah lama tubuhnya tidak berolahraga.


Dengan gerakan gemulai dan ringan Leha membalas serangan Pipit. Memutar lengan wanita itu ke belakang.


"Aduh! Aduuh!"


"Mau udahan ato sampe patah?" Wajah pipit pias.


"Ada apa ini!" Suara menggema terdengar dari pintu keluar, disana ada Mbak Wanda juga Ibu Narti. Lalu di belakangnya ada Karlita yang tersenyum mengejek.


Leha melepaskan Pipit yang tersungkur. "Leha Bu, dia memanggil saya dan tiba-tiba datang menyerang" Ina. Wanita itu menaikkan kacamatanya. Menatap tajam pada Leha. 


Biar mampus. Enak aja lu ngegoda pak Isak.


"Iya Bu benar kami saksinya. Kami mau memisahkan tapi kami takut Bu" adu Rahmi.


Pipit mulai menangis, tersendu. Akting yang kurang natural. Karena tidak ada air mata yang keluar dari kedua mata wanita itu.

__ADS_1


"Apa itu benar Leha?" Mbak Wanda. 


"Bu, Mbak, itu cctv masih nyala?" Leha menunjuk ke arah cctv yang tersembunyi. Wajah gerombolan penggosip itu pucat pasi.


"Masih,"


"Ibu buktikan apa yang Ibu dengar dengan melihat langsung apa yang terjadi,"


"Dan semua pertanyaan Ibu akan terjawab."


"Kalian ayo kita lihat cctv"


Mereka membatu, tidak lagi bisa membela diri. Mereka mengikuti Narti juga Wanda.


Apa yang mereka lakukan terekam dalam cctv. Leha memang tidak bersalah namun ia juga berkelahi jadi dirumahkan selama dua hari.


Sedangkan Pipit dikeluarkan karena berkelahi dan memercik keributan, juga fitnah dan yang lain mendapat surat peringatan. Untuk masalah berkelahi hingga seperti itu. Bukan lagi surat peringatan. Harusnya langsung dikeluarkan tapi mengingat Leha membela diri, ia hanya dirumahkan.


***


Seseorang memasuki ruangan Isak, ia menyamar menjadi Leha, membersihkan dan membereskan berkas penting milik Isak.


Dengan cepat  ia keluar ruangan Isak. Ia berjalan ke kamar mandi, melepas semua atribut OB dan kembali mengenakan pakaian kerjanya. 


Lalu mengeluarkan ponselnya, "Semua beres" lalu memasukan pakaian OB itu pad atas yang ia bawa. Melenggang keluar dengan senyuman licik tersungging.


***


Ruangan Isak berantakan! Siapa yang membersihkan ruangannya. Nyatanya Sari belum datang, harusnya itu kerjaan Leha. Sari dan gerombolan OB lantai H terkejut dengan berita perkelahian Leha.


Mereka tidak bisa menghubungi Leha. Ponselnya mati. Begitupun dengan Isak. Tidak bisa menghubungi Leha. Isak pikir Leha sedang sibuk. Kebiasaan tunangannya itu.


Lamaran yang Isak janjikan harus ditunda karena Nami dan Ibrahim masih sibuk dengan masalah Ibrahim Crop.


"Rena panggil Leha sekarang juga!"


"Baik Pak"


Tak lama Rena kembali masuk dengan tergesa. Isak menatap heran.


"Pak, Leha di rumahkan!!"


"Dirumahkan, masalah apa?" Mata Isak membola. Kok dia tak tahu. Isak mendial nomor Leha tapi tidak aktif.


"Masalah perkelahian"

__ADS_1


"PERKELAHIAN!" Pekik Isak.


Tbc.


__ADS_2