
"Mpoook … Mpok Lehaa … " Kedua orang yang saling berdekatan itu menatap pintu utama.
Siapa yang datang ke rumahnya malam-malam begini dengan panik Leha mengayunkan kakinya cepat.
"Iya, bentar!"
"Mpok!"
"Kagak sabara—"
Pintu terdorong keras, Leha ikut terbawa untung tubuh Isak menopangnya dibelakang wanita mungil itu.
"Perdik? Haikal? SARI?" Pekik Leha melihat temannya itu digotong oleh dua lelaki tetangganya.
"Sari kenapa Per? Lu ketemu dia dimana?" Ia melihat Sari yang setengah sadar banyak lebam pada tubuh juga wajahnya.
"Bentar Mpok, mending siapin teh anget dulu" Perdik menuju dapur dengan sigap bocah remaja itu mengeluarkan panci dan gelas. Perdik adalah anak Mpok Marni. Iyak, si pemilik kosan Udin dan kontrakan Saipul.
Dan remaja itu sering membantu sang Abah Leha mengangon kambing juga bebek jika Leha sangat sibuk. Sekalian mencari tambahan uang jajan. Jadi sudah biasa ia dengan rumah Leha.
Haikal pemuda seumuran dibawah Leha setahun, Anak bontot Uwak Hasbih, adik Mpok Jana juga sepupu Leha. Ia melepaskan jaket jeansnya dan menutupi tubuh Sari yang mengenakan atasan terlalu terbuka.
Leha mengambil selampek atau handuk kecil, dan baskom. Ia ingin membersihkan wajah Sari.
"Lu kenapa dah Sar?" Ucap lirih Leha, ia telah mengusap wajah Sari yang babak belur, membersihkan dari noda darah yang telah mengering. Juga debu pasir.
Rambutnya berantakan. Bajunya robek dimana-mana. Benar-benar siapapun yang melakukan ini begitu kejam.
"Ini mpok teh angetnya" Perdik meletakkan gelas berisi teh di sebelah Leha.
"Sari, Sar, bangun dulu Ini minum tehnya dulu" Leha membangunkan Sari yang terlelap. Entah tidur atau pingsan itu.
Leha mulai cemas. "Sar? Lu sadarkan?" Leha menepuk pelan pipi Sari.
"Ini kagak pingsan kan?"
"Lebih baik kita bawa kerumah sakit saja, Bopong ke mobil Saya" ucap Isak yang telah mengantongi kunci mobilnya. Akhirnya kembali Perdik dan Haikal menggotong tubuh Sari masuk di kursi tengah, tentu kedua lelaki itu ikut. Leha duduk didepan.
"Kalian ketemu dimana?"
"Pengkolan kebon Engkong Darsik! bapak-bapak tua mabok ya Bang, mukulin Empok, temen Mpok Leha" Perdik meminta persetujuan dari Haikal.
"Yaudah langsung aja Bang Haikal bunyiin sirine polisi, abis itu bapak-bapak gila ntu kabur"
__ADS_1
"Kenape kagak lu tangkep dah ah! Kesel gue dengernya. Lu anak-anak pencak silat, harusnya lu bogem satu dua kali"
"Kagak boleh main hakim sendiri mpok, kita udah disumpah kagak inget lu!"
"Bodo amatan! Lha niat mau bantuin bukan bikin perkara" sungut Leha, terlihat tanduk wanita itu mulai keluar.
***
"Jangan! Jangan! … lepas! … " tidurnya gelisah, peluh pada dahinya meluncur deras. Kepalanya bergerak kekanan kiri. Alisnya menaut.
Walau matanya terpejam namun raut wajahnya tidak bisa berbohong. Kejadian yang ia alami sebelumnya membuat wanita malang itu trauma. Tangannya meremas sprei.
"JANGAN!"
Wanita itu terduduk di atas brankar. Nafasnya memburu, ia menunduk untuk beberapa saat, waktu penciumannya mendapati aroma khas rumah sakit, ia mendongak, Matanya menangkap keremangan. Ruangan dingin berdinding putih.
Mengapa dirinya ada di rumah sakit? Kembali kejadian sebelumnya terulang dalam otaknya. Apa dia sudah mati?
Klek!
Lampu menyala. Ia melihat Leha, teman yang pernah ia jebak, juga menemukan sepasang mata tajam milik CEO perusahaannya dulu.
Leha mendekatinya.
"Haus" ucap lirihnya.
Dengan gesit Leha menyodorkan botol air mineral, membuka dan memasukkan sedotannya.
Sari minum beberapa teguk. "Sudah?" Tanya Leha yang melihat Sari menjauhkan kepalanya dari sedotan.
Sari mengangguk pelan. "Kok lo disini?" Tanya Sari. Leha menatap wajah Sari yang membengkak. Efek keunguan mulai terlihat jelas. Pasti rasanya sangat nyeri.
"Lu ditemuin sama tetangga gue, lu dipukuli sama bapak-bapak mabok!"
Leha menatap dua lelaki yang tidur berjejer di lantai yang dialasi tikar. Sari mengikuti pandangan Leha. Mereka yang telah menolongnya.
Sari diam. Wanita itu menunduk. Ia menunggu Leha menertawakan kebodohannya.
Sari mengulir netranya pasa Leha yang sedang menghela nafas kasar.
"Sekarang mending lu tidur lagi, ini juga masih tengah malem, kalau lu butuh apa-apa gua disana" Leha mengedikkan kepalanya pada tempat Isak berada.
Klek!
__ADS_1
Leha menekan tombol lampu agar kembali remang. Sari kembali masuk dalam selimut. Tidur miring, pengaruh obat membuatnya mengantuk.
***
Sari butuh waktu 2 hari saja untuk pulih. Ia tidak ingin terlalu banyak menyusahkan Leha. Semua biaya rumah sakit ditanggung Isak. Ia ingin kembali tapi Leha malah menyeretnya kembali kerumah wanita itu. Ia disambut hangat oleh Hamid.
Hingga terdengar suara ribut di depan rumah Leha. Ini hari ke 3 ia menginap di rumah Leha.
"Sari! Sari keluar lu! Pulang!" Teriakkan kencang terdengar dari luar.
"Siape tuh pagi-pagi udah teriak didepan rumah orang! Minta di habek!" Hamot menggulung sarungnya. Melangkah ke pintu utama.
Leha yang sudah rapi ikut keluar menanyakan pada Sari. Sari hanya mengangkat bahu. Namun segera ikut keluar karena namanya yang dipanggil.
Mata Sari membola. Mengapa orang itu tahu ia berasa disini. Sari maju namun Leha mencekal tangannya. Leha menggeleng.
"Lu disini aja,nurut!" Ucap tegas Leha sebelum ia menyusul Abahnya.
Namanya Sari ia ikut menyusul. Ia tidak akan membiarkan orang itu berbuat keributan disini.
"Lu siapa beraninya tereak dirumah gua!" Abah Hamid tidak lagi mengginakan sopan santunnya. Wanita denagn badan besar dan dandanan menor ini melihatnya ketus dan judes.
"Balikin anak gue!"
"Ngelindur lu! Anak lu siape?"
"Alaaah udah jangan lu ndekep anak gue tanpa bayar! Dasar bangkotan kere!" Hina wanita dengan rambut di sanggul tinggi itu. Tangannya yang besar mengenakan gelang-gelang yang terlihat kekecilan.
"Nah nongol juga lu! Ayo pulang!" Wanita itu merangsek Hamid. Namu Lehe menghadangnya.
"Siapa lu?" Tatapan mencemooh wanita itu perlihatkan pada Leha setelah memandangnya dari atas hingga bawah.
"Minggir!" Wanita itu mendorong kasar bahu Leha. Dengan cekatan Leha yang mantan anggota pencak silat. Dengan gerakan ringan menangkap tangan wanita subur itu lalu memelintirnya ke punggung.
"AARGH!"
"NYONYA!" tiga orang pengawalnya mendekat. Namun teriakan wanita subur itu membuat para pengawalnya mundur.
"Mundur atau patah!" Bisik Leha pada wanita subur dalam kungkunganya itu.
"HAAAARGH!"
"MUNDUR! MUNDUURR!"
__ADS_1
Tbc.