Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 77


__ADS_3

"Hai kakak Ipar?" Leha menatap Nalen, sepagi ini buyar sarapan pagi damainya jika begini.


"Sarapan Nalen" ucap Leha. Nalen mengerutkan keningnya. Biasanya wanita itu akan membalasnya dengan ketus.


Namun ini, Leha bersikap biasa saja, bahkan ramah. "Boleh bergabung kalau begitu." Nalen menarik kursi didepan Leha.


"Silahkan"


"Gimana persiapan menuju resepsi?" Pertanyaan Nalen membuat Leha berhenti mengunyah makanannya. Rasa makanannya pun tidak seenak tadi. Hambar.


Untung saja mata bengkaknya bisa ia tutupi dengan makeup.


"Sayang kamu kenapa nggak bangunin aku" sebuah suara manja menghampiri meja Leha.


Nalen mencoba menginstruksi dengan mata, mengkode lebih tepatnya. Namun wanita itu tidak mengerti.


"Binol?"


"Lehot?!" Pekik Sabrina. Leha menatap bestienya itu menyelidik. Bagaimana bisa ia bertemu Sabrina disini.


"Ngapain lu dimari?"


"Hmmn … itu …" ia melirik Nalen yang menggeleng, dan itu membuat bibir Sabrina mengerucut kesal.


"Udahlah Yank, kasih tahu aja." Ucap Sabrina menatap Nalen yang menyuruhnya untuk tidak mengatakan hubungan keduannya.


Nalen menghembus nafasnya kesal. "Kami balikan" 


"Hah! Serius lo Nol! Terus ntu, katanya lu mau ngejar Daru? Apa kabar Hmnnn … hmmamn…?"


Sekarang Sabrina yang dibuat panik, Ia membekap mulut Leha. Leha mereog. "Mati gue!" Guman Sabrina. Ia menengok pada Nelen yang menatapnya tajam


"Siapa Daru?"


"Lu buat gue masuk kandang macan" bisiknya pada Leha, Leha seakan paham dengan masalah sang sahabat. Meminta maaf melalui sorot matanya.


"Daru siapa Yank, itu cuma iseng aja sebelum aku ketemu kamu" ucap Sabrina sepenuhnya jujur.


Sabrina saat itu terlalu iri dengan Leha dan Isak yang terlihat bucin dan lalu Sari yang mengejar Haikal membuatnya ingin memiliki pasangan.


Ia meminta Leha mencarikan lelaki untuknya dan Daru adalah calonnya. Itu sebelum ia kembali bertemu dengan Nalen. Dan kembali penjajakan.


Nalen menyipitkan mata. Dengan cepat Sabrina meraup wajah Nalen.


"Apa sih liatnya gitu banget, kamu nggak percaya, yaudah, kita sampai sini aja, lagian aku juga belum percaya sama perjuanganmu"


Ya Sabrina masih trauma dengan kejadian dulu. Seberapapun Sabrina berusaha, jika hati yang sedang ia usahakan sudah menjadi milik yang lain dan tidak mau terbuka maka usahanya akan sia-sia.


Umurnya tidak lagi muda. Bukan lagi saatnya main-main menghabiskan waktu hanya untuk berpacaran. Ia mau yang serius dengan tujuan ke arah pernikahan.


"Lha kok jadi kamu yang marah?" Nalen menjadi was-was. Ia tidak bisa melepas Sabrina. Ia muak dengan kencan buta yang Nami atur untuknya.


"Lagian," kesal Sabrina.


"Iya, aku salah, maaf ya" lebih baik Nalen mengaku salah saja agar tidak melebar dan panjang.


"Hilih ternyata bibit SSTI" ejek Leha. Ia senang akhirnya ia bisa mengejek mantan adik iparnya itu. Ngomong-ngomong mengenai batalnya resepsi, sepertinya belum sampai ke telingan Nalen dan Sabrina.

__ADS_1


"SSTI?"


"SUAMI-SUAMI TAKUT ISTRI!"


Leha dan Sabrina mengucapkannya berbarengan lalu mereka tergelak bersama. Sedangkan si kunyuk hanya merengut tidak suka.


"Memang sudah nasib si playboy, tobatalah wahai kau pleboi!," ejeknya lagi.


"Ramai ya?" Harlan dan Yasir melangkah ke meja Leha.


"Om apa kabar?" Ucap Leha ia mengulurkan tangan dan menyalami lelaki paruh baya itu. Tersenyum lebar. Memperlihatkan bahwa tidak terjadi apapun belakangan ini.


"Baik, kamu kabarnya bagaimana?"


Dari sorot mata Harlan, Leha tahu jika lelaki itu sudah tahu mengenai batalnya resepsinya. Dengan menangkup tangan Leha dna menepuknya seperti memberikan kekuatan disana.


"Its okay, take your time Leha" ucapnya lembut, Fix lelaki itu tahu. Perlahan senyuman lebar Leha menyurut. Namun ia mengangguk. Untungnya Nalen dan Sabrina tidak paham maksud ucapan keduannya.


"Makasih Om" ucapan lirih Leha. Memberikan anggikan pada Yasir. Dan dibalas dengan anggukan juga.


"Oh ya, selendang mayang itu, mengagumkan Leha, saya approve"


"Iya Ha, itu oke banget, makasih ya sudah percaya sama gue, sering-sering gue mau jadi pemakan tester" ucap Sabrina.


"Oh selendang mayang yang kemarin aku ajuin itu Om, resep si pendek?" Nalen tidka menyangka.


"Kamu sudah cobakan?" Tanya Harlan. Nalen mengangguk. "Sebenarnya semua resep di BoNus ini pembuatnya." Lanjut Harlan. 


"Yank, kamu nggak tahu, Leha owner Katering Sehat yang sering kamu puji-puji itu"


"Uhugh … uhugh … makasih yank" Nalen tersedak, ia tak percaya dengan kenyataan yang baru saja didengarnya. Sabrina memberi air putih pada kekasihnya.


"Setelah kamu disini kamu mau kemana Leha?" Harlan bertanya, dengan sedikit enggan ia ingin berjalan-jalan untuk mencari inspirasi menu di BoNus atau untuk Katering Sehat.


"Leha mau keliling dulu Om sehari lagi" ucapnya jujur.


"Kamu mau ikut Om ke Lombok? Disana ada keluarga Om yang berlibur juga." Ucap Harlan.


"Lombok?"


"Kamu sudah pernah kesana?"


"Boleh Om apa Leha nggak ganggu?"


"Tentu aja nggak, ayo pesawat Om sebentar lagi take Off,"


Leha tidak jadi memperpanjang harinya di Singapura. Ia akan kembali ke indonesia, tepatnya ke Lombok.


Perjalanan hanya memerlukan waktu 2 jam saja. Saat di bandara Harlan disambut oleh seorang bule postur tubuh sangat tinggi dan sangat mirip dengan Harlan.


"Hi dad," ucapnya dengan memeluk sambil menepuk punggung Harlan.


"Hi dude! Lorraine menelpon ku, kau mengganggunya lagi!"


"Siapa.yang mengganggu siapa? Dad aku ini anak kandungmu atau Lorraine sih?" Ucapnya dengan suara berat namun dengan nada merajuk.


Leha ikut meringis.

__ADS_1


"Dia siapa Dad, jangan bilang kau, anak Daddy dari istrinya yang lain? Aku akan bilang Mom soal ini!"


Lelaki itu menatap memicing Leha.


"Leha kenalkan ini Dash, dia anakku yang nomor tiga, baru lulus Senior high school kemaren, jangan salah kira memang ia bertampang tua" Ucap Harlan mendapat sikutan dari Dash.


"Hei Pak tua, lihat sendiri tampang kita sama, 


 Aku mendapatkan gen tua darimu! Yasir apa kabar?"


"Baik Tuan Muda."


"Like always ya, Dash saja Yasir!" Kesal bocah itu. Leha tidak menyangka jika lelaki di depannya ini baru menginjak umur 17 tahun bulan depan.


Koper Leha sudah dimasukan dalam mobil yang siap meluncur ke rumah Harlan. Mobil membela hutan jalannya beraspal bagus. Menuju ke gerbang dengan penjaga ketat dengan seragam hitam. Layaknya intel.


Masuk lagi. Lebih dalam, taman tertata apik di kanan kirinya, sampai mobil berhenti didepan pintu kayu tinggi dan kokoh. Harlan keluar mobil.


"Honey aku pulang" teriak Harlan dari pintu, "Dasar kekanak-kanakan" gerutu Dash yang mendorong koper bapaknya itu. Leha hanya tersenyum.


"Mom daddy bawa anak dari istrinya yang lain" teriak Dash dengan menaikkan alisnya pada Leha.


"Apa, what the freaaaakkk! Harlan!" Pekik kencang terdengar dari ujung ruangan. Seorang wanita paruh baya dengan rambut coklat burgundy datang dengan celemek dan rolling pin di tangannya.


Tanpa sadar Leha beringsut di belakang tubuh Yasir. Ia bersembunyi menatap ngeri pasa wanita cantik paruh baya itu.


"Dash!" Geram Harlan.


"No Honey, aku sudah ceritakan padamu, dia Leha, istri Isak. Bisa kau turunkan itu rolling pin? Lihat dia ketakutan" ucap Harlan lembut. Ia meraih pinggang sang istri.


"Oh, sayang maaf ya, kemarilah. Astaga Harlan ia sangat imut? Apa kau bilang ia Istri Isak? Bukan ia sepantaran dengan Lorraine?"


"Leha kemari, kenalkan ini soulmate Om, Grisella, Grisel ini Leha, istri Isak"


"Leha tante"


"Panggil Grisel aja, Sayang, sembunyilah disini sepuasmu, aku mendengarnya dari Nami, memang keturunan Ibrahim harus merasakan kehilangan, biar tahu seberapa berarti kita dihidupnya."


"Sayang jangan ajari yang aneh-aneh, aku nanti yang akan dihajar keponakanku" ucap Harlan lucu.


Membuat Gelak tawa hangat. Dedangkan Yasir telah meletakkan koper-koper pada kamar masing-masing.


"Kamu pasti lelah, istirahatlah dulu, Yasiiirr …"


"Ya Tuan,"


"Bawa Leha ke kamarnya."


"Baik Tuan"


"Istirahatlah sayang" ucap Grisel, setelah memeluk Leha. Leha mengikuti Yasir. Kamar tamu yang mengarah ke pemandangan hutan.


Leha terkesima dengan pemandangan hutan buatan atau bukan, sangat rapi dan layaknya hutan di negeri dongeng.


Pepohonannya tertata rapi. Sudah lama ia duduk di pinggir jendela, yang diberi busa empuk dan bantal-bantal.yang membuat Leha merasa ngantuk.


Ia merebahkan diri di ranjang empuk dengan selimut putih terlihat seperti gundukan kapas empuk. Tak perlu waktu lama hingga kegelapan dan kenyamanan membawanya ke alam mimpi.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2