
"Lehaaa mana sisaan gordennya?"
Sari berjalan tergesa menujunya. Wanita itu sudah menunggu Leha lama di depan ruangan tempat mereka janjian, namun Leha tak juga memunculkan batang hidungnya.
Leha yang telah menyalurkan hasratnya, lega, menatap Sari sumringah.
"Gue titipin Pak Isak."
"Kok bisa?"
Sari menatap Leha horor, bagaimana bisa wanita di depannya ini menitipkan gorden pada petinggi perusahaan.
Walau Sari mendengar rumor yang beredar tentang Leha yang merayu sang bos. Tapi Sari tak percaya. Namun sekarang ia mulai goyah.
"Ya bisa"
"Lu beneran nitip ke pak bos?"
Leha mengangguk.
"Lu ada apa sama bos?"
"Kagak ada apa-apa, cuma pak bos pernah jadi penumpang gue"
Sari mengangguk-angguk. Sudah lah apapun hubungan mereka, Sari tak peduli. Ia tidak akan memaksa Leha untuk bercerita jika Leha tak ingin bercerita.
"Terus mana sekarang si gorden?"
"Di ruang cuci terakhir gue tinggal"
"Bentar,"
Leha menempelkan ponselnya di telinga. Menunggu jawaban dari sambungan seberang.
"Bapak mana gordennya?"
"Ada di ruangan Saya, kesini cepat!"
"Baik pak Leha kesana"
"Udah ada ruangan pak Isak."
Lapornya pada Sari, Sari kembali menatap Leha horor. Apa tadi yang ia lihat dan dengar. Leha dan bosnya saling menghubungi layaknya teman akrab.
"Lu punya nomor pak Isak?"
"Punya, udah yok cepet ntar pak bos ngamuk"
Ia menyeret Sari keruangan Isak. Ia tak akan memberi penjelasan apapun tentang hubungan dirinya dan Isak. Yang absurd.
***
"Mana penjepitnya Bang!" Tangan Nami menggapai-gapai tepat didepan wajah Isak.
"Mana Bang?"
"Ini lho Bun, Bunda biar abang aja, Bunda turun dulu"
Isak sedang memegang tangga yang Nami naiki. Terlihat Nami tak mau menuruti si sulung. Ia memegang kain tebal yang ia sampirkan dipundaknya dan mengaitkan satu per satu pada kaitannya
"Bunda bisa bang! Jangan Abang ngeremehin Bunda ya?!" Omel kesal.
Kalian benar! Ibu tiga anak itu sedang asik memasang gorden di ruangan Isak.
"Buuunn … " Rengek Isak.
"Haduh Bang, tinggal dikit lagi ini, kamu berisik banget sih!" Ia memelototi si anak.
"Mana siniin penjepitnya."
__ADS_1
Kembali Isak hanya bisa mende sah lelah. Melihat kuatir pada sang Bunda. Umur tak muda lagi. Ia takut Bundanya itu jatuh.
"Makanya pegangin kuat-kuat tangganya" balasan Nami pada Isak. Saat lelaki itu mengkuatirkannya. Benar saja Isak memegang kaki sang bunda erat.
"Bukan kaki Bunda Bang! Tapi tangganya, tangganya" omel wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, glowing, simmering, splendid.
Ketukan pintu terdengar.
"Ya Ren masuk aja" teriak Isak.
Rena masuk dengan dua OB dibelakangnya. Leha dan Sari. Mereka tampak terkejut dengan penampakan Isak memegangi tangga yang dinaiki oleh Nami.
"Bunda?"
Leha tak menyangka akan bertemu dengan Nami disini. Yang Leha tahu, Nami berada di Qatar. Easa haru menyeruak keduannya.
"Leha, oh anak Bunda. Pengangin Bunda Bang!" Nami turun dari tangga. Leha bergegas menghampiri Nami. Ia memeluk hangat Nami yang juga memeluknya tak kalah erat.
"Bunda, Leha kangen banget"
Sudut mata Leha mulai berair. Ia tak menyangka jika ia akan rindu pada Nami yang memberikan perhatian seorang ibu padanya.
Setiap hari mereka bertukar pesan. Dan sering kali Nami mengajaknya bertemu. Namun tidak serta merta Leha meng-iya kan ajakan Nami.
Karena saat ini Nami menetap di Qatar dan Leha tidak ingin menyusahkan Nami dengan datang ke Indonesia.
"Ish anak bandel ini, yang nggak kasih tau Bunda kamu kerja disini"
Nami memukul Isak, sebagai pelampiasan kesalnya.
"Lupa Bun,"
Alasan Leha yang bisa dimengerti Nami.
"Udahlah, ayo makan siang sama Bunda."
"Tapi Bun, Leha selesain kerjaan Leha dulu ya"
"Ayok, oh iya bun, kenalkan ini Sari teman Leha"
Sari menatap Nami takut-takut. Siapa yang tidak takut jika dihadapkan dengan orang tua si bos. Dan sekali lagi ia melihat Leha akrab dan memanggil ibu dari Isak dengan sebutan Bunda.
Ada apa gerangan.
"Halo, saya ibunya Leha"
"Sa-saya Sari bu teman OB Leha" pekiknya.
"Sudah lama kerja disini?"
"Sudah setahun Bu"
"Semoga kamu betah ya"
"Pasti Bu"
***
Makan siang mereka berlangsung seru, keluarga Ibrahim berkumpul bersama dengan Leha.
"Jadi kalian kembali bersama" tanya Pak Ibrahim, membuat Leha menatap Isak. Ia menunggu jawaban Isak.
"Ya begitulah,"
Jawaban Isak membuat Leha tak lega. Wanita itu tahu jika Isak memiliki calon lain yang sedang dekat dengan lelaki itu saat ini. Wanita yang lebih pantas menjadi pendamping seorang besar macam Isak.
Karena selama beberapa waktu terakhir ini, Leha sering melihat wanita yang terakhir kencan buta dengan Isak itu datang kekantor.
Dan Leha mendapatkan gosip dari kumpulan para penggosip jika wanita itu yang digadang-gadang akan menjadi Nyonya Isaac Lewi Ibrahim II.
__ADS_1
Tak jarang Isak harus membatalkan janji dengan Leha, atau bahkan di tengah janjian mereka Isak akan pergi begitu saja dengan alasan adanya pekerjaan mendadak.
Dan itu semua bohong. Karena yang Leha dapati adalah Isak jalan dengan Wanita itu.
Leha seakan disadarkan, jika memang wanita seperti wanita itu yang pantas dengan Isak.
"Jadi aduan yang Bunda dengar itu Leha bang?" Nami mengiris daging ikannya.
"Aduan apa Bun?"
"Itu wanita yang ikut kencan buta denganmu, mengatakan jika kau sudah punya pacar, punya istri yang hamil, istri yang nggak kamu akui, tunangan yang akan kau nikahi, anggota sindikat lah, anggota mafia, apa lagi ya banyak lah aduan-aduan yang bunda dengar"
Wajah Leha pias. Tak mengira para wanita-wanita itu mengadu pada Nami. Leha menunduk ia merasa bersalah menggagalkan perjodohan yang Nami buat.
"Mereka ngadu ke Bunda?"
"Ya sebagian besar ada pula yang marah-marah ke Bunda"
Nami berkata santai tapi tidak dengan Leha yang masih merasa bersalah.
"Bun it—"
"Bunda bisa tenang, sama please stop, semua kencan butanya"
Isak memotong ucapan Leha yang ingin membongkar rahasia dibalik gagalnya kencan buta Isak. Lelaki itu mengarahkan tatapan tajamnya pada Leha agar wanita itu tak membongkarnya.
"Tenang kalian bener kembali bersama?"
"Iya Bunda Leha pacaran sama Bang Isak"
Leha mengatakannya dengan lantang. Dan Rena suka dengan itu. Senyuman Nami semakin melebar.
"Bagus! Bang jaga Leha ya, kamu itu yang manis makanya, biar Leha nggak kecantol sama cowok lain"
"Putus nyambung biasa kali Bun waktu pacaran"
Isak membela dirinya sendiri. Leha merasa ini tak benar tapi ia tak bisa bila menolak didepan semua keluarga Ibrahim begitu saja, jika mereka tidak berpacaran.
Mereka harus membicarakan lagi bagaimana kelanjutan dari hubungan pura-puranya.
***
Leha termenung di taman belakang rumah keluarga Ibrahim. Nami memaksanya untuk ikut dan bahkan menginap. Leha tak bisa menolak. Ia terlalu lemah untuk membuat wanita yang dianggapnya ibu itu bersedih.
"Wah calon kakak ipar, galau ya?" Nalen mendekat, wajahnya begitu menyebalkan seperti biasanya.
Leha beranjak dan akan meninggalkan tempatnya. Saat ini ia malas berdebat.
"Mau kemana calon kakak ipar, jangan kabur dong" Nalen menangkap lengan Leha sebelum wanita itu masuk kedalam.
"Aku malas bicara denganmu, lepas!"
Leha menarik kasar tangannya tapi Nalen tidak melepaskan begitu saja. Lelaki itu ingin mengingatkan Leha jika disini bukan tempat wanita itu.
"Kau pasti tahukan jika kakakku itu saat ini sedang dekat dengan seorang wanita hasil kencan buta yang diatur Bunda"
"Tak mungkin kau tak tahu bahkan kabarnya santer di perusahaan."
"Lalu, kenapa?" Ketus Leha ia menatap garang pada Nalen, sedari tadi ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Nalen.
"Aku harap kau tak mengganggu pendekatan mereka. Wanita itu jauh dari levelmu, Dan aku harap lagi kau sadar diri!"
Nalen menarik kasar Leha dan lelaki itu berbisik memperingatkan Leha. Leha tak takut dengan Nalen dan tanpa Nalen peringatkan Leha sadar diri. Siapa dirinya.
"Kau tak perlu memperingatkan aku! Kalau masalah diantara kami selesai. Selesai pula semuanya, jadi jangan kuatir 'calon adik ipar' "
Leha menepuk pundak Nalen. Matanya bertemu dengan Nalen. Disana tidak ada rasa takut dan sakit hati.
Leha kembali ke dalam saat mendengar panggilan Nami. Netra Nalen tak lepas dari Leha.
__ADS_1
Tbc.