Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 83. ep2


__ADS_3

Sari membuka matanya. Ia mencium aroma masakan. Menguap sangat lebar. Mengintip matanya perlahan memindai kamar yang sedang ia tempati.


Sari melihat pergerakan dari sekat kayu di samping kanannya. Menyibak selimut tebal, ia mulai melangkah melongok ke arah pergerakan.


Sosok punggung telanjang dengan apron. Mata Sari mengintip ke bawah, ah memakai celana panjang. "Sudah bangun?" Mengulir matanya dan menatap mata keabuan, yang menawan.


"Ayo sarapan, coffee or milk? Biar tinggi?" Kekehan renyah oleh godaannya pada Sari. Mengerutkan bibir Sari.


"Coffee latte please, dan banyak krimnya" ia telah berlatih dengan Rain. Tetangga lelaki di depannya ini.


"Oke, susu kopi, siap untuk madam mungil" Mengedip, lalu meletakkan susu kopi pada cangkir dan mendorongnya pada Sari. Darren melepas apronnya. Terpampang jelas roti sobek kecoklatan dengan garis v pada pinggul lelaki itu. Sungguh seksi ya gusti ciptaanmu itu.


Bisa jadi bintang iklan kolor nih orang! Kagak! Enak aje gua kagak mau bagi-bagi, eh … bukan hak milik lu, Sari! Sadar! Mimpi lu ketinggian, Haikal aje maunya sama nyang bae, lha elu bekasan banyak orang!


"Ish! Kenape dah bawa-bawa tinggi badan, pasti kalahlah gue!" Ia menyesap susunya. Sari suka minum susu bukannya tinggi tapi tubuhnya membengkak di tempat-tempat tertentu.


Kata Sabrina body Sari itu masuk ke gitar spanyol, dan bengkak ditempat yang tepat. Walau mungil.


"Sarapan, scramble egg or egg bened1 ck?" Sari menatap memicing. Pikirannya hanya menangkap di ck? Di ck! Bukannya itu anu, Dan Sari mengerti mengarah kemana obrolannya.


"Dasar me sum!" Mata lelaki itu melebar, tawa renyahnya keras. "Kamu tahu?"

__ADS_1


"Yaa pan udah belajar"


"Hah?! Belajar sama siapa?" Kejutan untuk Darren.


"Yaa … sama situlah siapa lagi!" Kembali Darren tergelak, hingga air matanya keluar. Lelaki itu menyusut air matanya.


"Anak pintar, anak pintar" tangan besarnya mengelus kepala Sari. Sejak ingin mendekati si kembar setengah bule ini, Sari rajin belajar bahasa inggris dengan Rain.


Sari berada di bungalow sekitaran pulau milik Harlan. Bagaimana ia sampai ditempat ini, Darren yang memeluknya dan Sari menangis kencang, terhenti karena ucapan Darren, mereka yang kabur sebelum acara pernikahan Isak dan Leha selesai.


Darren membawa Sari ke bungalow tempatnya menyendiri ini, Sari melanjutkan tangisannya, Meminum berkaleng-kaleng bir, bernyanyi kencang-kencang, berteriak pada langit malam di tengah pantai. Yang paling kurang ajarnya membuat Sari menikmati pagutan Darren dan malam panas yang mereka lalui.


Berujung sarapan bersama. Sangat random, namun Sari bersyukur ia tidak melewati malam dengan kesendirian juga rasa sakit hati.


"Uhugh … Ap-Uhugh hugh …" Sari tersedak scramble egg, Darren melungsurkan segelas air putih.


Dengan cepat Sari menengak airnya. Masih ia rasakan pedih pada tenggorokan juga hidungnya. Sari mengatur nafasnya. Matanya menatap Darren yang terlihat tenang. Mengusap punggung Sari yang hanya mengenakan kemeja Darren tanpa dalaman.


"Jangan becanda bocah! Udeh ya, nanti setelah kita keluar dari itu pintu, anggep aja kita kagak kenal"


Sari menegaskan di depan Darren. Ia tidak mau berharap lebih pada sesuatu yang tidak bisa digapainya. Walau restu sudah ditangan, apa iya ibu lelaki itu akan menerima jika tahu pekerjaannya dulu.

__ADS_1


Mikir lu kejauhan Sar! Siapa juga nyang ngajak lu kawin, eh nikah maksudnye, kawin mah udeh yak! Die cuman ngaja lu pacaran, ape FWBan, cam nak kota sekarang ntu, udeh terima aje, batin Iblis jahanam dalam hatinya memang kompor mleduk emang.


Kagak bisa! Lu mau mainin bocah, ntar emaknya malah marah, Sar, batin malaikatnya.


Mbetul mbak malaikat gua ngikut elu! Batin Sari.


"Hubungan nyang gini, lebih bae buat lu sama gue, setelah kita keluar dari sana, lupain kejadian dimari" lanjutnya.


Darren mengangguk-angguk kepalanya, lelaki itu beranjak dan duduk disebelah Sari. Sari ikut mengangguk dan tersenyum manis. Baguslah jika Darren pun sepakat dengannya.


"Jadi, sebelum kita keluar dari pintu itu, kita bisa ngapain aja kan, Tante?" Seringaian misterius tercetak jelas diwajah Darren yang tak berjarak dengan wajah Sari.


"Eh, buka—" Darren menarik pinggang Sari. Menempelkan pada roti sobeknya. Membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya. Sari terbelalak. Ia mendorong tubuh Darren yang lebih besar darinya susah payah. Dan gagal.


Gildak! Gimane bisa begini ceritanye, Gustiii kuatkan hambah!


Rayuan Darren sungguh mematikan, Sari tidak lagi meronta, yang ada ia mengalungkan lengannya dan menikmati sentuhan yang diberikan oleh berondong caramelnya itu.


"Sar—"


"Aku mau sarapan ini dulu" suara serak rendah, bibir tebal lelaki itu kembali membungkam bibir Leha.

__ADS_1


Dan bisa kalian tebak, mereka bergumul kembali, meninggalkan begitu saja sarapan paginya.


***


__ADS_2