Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 62


__ADS_3

"Bang ada yang mau ketemu, Harlan Prakoso"


"Suruh masuk, siapkan minum Ren," Isak Sudah berdiri di mejanya, melihat pamannya yang perlente, kemeja sifon yang dibuka tiga kancingnya, rambut klimis, kumis hitam, kacamata hitam kalung emas yang menghiasi lehernya, benar bak mafia-mafia di film.


"Om Harlan, apa kabar?" ucap Isak yang membuka tangannya untuk si om.


"Ponakan Om, lumayan juga kantormu ini, Jadi pengen investasi disini," Senyum Isak merekah, pujian Omnya itu membuatnya melambung. Banyak keponakan  yang ingin mendekat tapi banyak pula yang tak diperbolehkan terlalu dekat dengan Omnya yang satu ini.


Dan tentu saja ada sebabnya. Pekerjaannya yang misterius itu yang membuat pada ponakan ingin mendekat dan para ipar dan saudara menjauh. Berkecimpung dalam bisnis gelap.


Menantu anggota mafia yang paling terpandang. Data pribadi yang sangat terjaga. Tidak ada yang mengira keluarga Ibrahim cukup dekat dengan gembong besar Silver Sneak Sea.


"Baik, dasar mana si bandit?"


"Ada, dia pasti sudah dijalan tahu Om akan kesini, ayo duduk Om" tawa menggelegar memenuhi ruangan Isak.


Tak lama ketika  terdengar. Rena masuk dengan nampan di tangannya. Dua gelas bir bening jumbo berisi cairan kecoklatan keruh dengan bulir panjang yang berwarna hijau.


Sorakan terdengar kencang.


"Dawet Ayu it's that you?"


"Alamak tahu aja kamu kesukaan Om, ada tapenya nggak ini?"


"Komplit, cobain Om"


Meraih satu gelas dan menikmatinya. Hening. Isak hanya bisa melebarkan senyumannya teringat saat kecil Omnya ini selalu membawanya ke daerah pasar, untuk nongkrong bersama para pedagang dawet.


"Kenapa? Kamu nggak nyangka ya Ommu ini masih suka makanan ndeso?"


"Nggak, cuma ingaet aja Om selalu ngajak kita ke tempat pedagang dawet dulu"

__ADS_1


"Itu bukan sembarang nongkrong tapi berbagi informasi" sudut bibir Harlan terangkat menunjukan jika ada makna ganda dalam kenangan Isak.


"Seriusly? melibatkan kami, para bocah?"


"Yah mencari aman"


"Pantas saja dulu Nalen sering sekali meminta walkie talkie yang katanya sama kayak abang dawet,"


"Bener dan nggak ada yang percaya sama aku, waktu aku ngasi tahu Ayah sama Bunda kalau si abang dawet pake walkie talkie, mereka bilang aku halu"


"Si bandit?"


"Om sehat? udah ngedawet aja ini"


"Amunisi, itu luka mu dari siapa?" Ucap Harlan. Ia mulai serius. Matanya tajam menatap tangan Nalen yang tergantung dengan perban.


"Ini alasan Om mencari kami kan? Bunda udah sadar Om, kemarin sempat koma beberapa hari. Semua karena satu manyan karyawan Ibrahim, Gusto ini memiliki pekerjaan sampingan entah bandar atau apa kami bahkan tidak tahu. Dan kami te tu tidak terlibat namun dengan ganas mereka menyerang kami di kantor, benar-benar bren gsek!"


"Iya Om akan menjenguk Bundamu," wajahnya keruh. Berani sekali mereka melibatkan keluarganya.


***


Sabrina mengiklankan produk katering sehat milik Leha. Dan slot pelanggan Leha perbanyak dengan bantuan Isak, Leha merekrut Sari untuk ikut dalam manajemennya, juga pengadaan bahan.


Berdua mereka  mencari pengepul bahan-bahan yang sekiranya bisa mereka jadikan langganan. Dimana sayur yang mereka pakai tidak harus organik tapi unggulan.


Mereka juga merekrut Saipul, Haikal juga Perdi mereka, menemaninya berbelanja, membungkus dan membuat video untuk menunjukan pesanan yang sedang mereka kerjakan di media sosial.


Apalagi setelah Sabrina ikut mengiklankan. Banyak sekali orang yang ingin berlangganan, banyak juga yang hanya meminta satu hari. Maka meluncurlah produk paket 3 hari dan seminggu.


Banyak yang tertarik dengan paket seminggu lalu berlanjut ke sebulan. Mereka hanya bisa untuk wilayah sekitar jabodetabek.

__ADS_1


Dan Leha sedang mengembangkan bagaimana caranya mereka bisa mengirim keluar kota bahkan luar negeri, untuk makanan mereka. Ini pr yang harus Leha selesaikan.


"Ha, lu dicari Mpok Marni, katanya kontrakan yang lu cari udah siap."


"Masuk Mpok" Leha berteriak, ia sendang memasukkan kotak untuk makan malam dan akan segera mengirimkan pada pelanggan.


"Ayok Ha, katanya lu mau liat kontrakan gue, cocok lah buat katering lu sekarang. Luas dan gede, sama gua kasih murah dah"


"Ayok, bentar Mpok," Leha melepas apronnya, ia mengambil kunci motor.


"Pake motor gua ajelah, ribet bawa dua motor, ntar lu balik ke sini pan, ane anter dah"


"Okelah, ngorit bensi juga"


"Ah elaaah pake segaka ngirit, udah jadi bos lu Ha, harunya poya poya lu, beli baju yang modis, itu sama kayak pacar pak bos, tapi Ha, maren gua liat Pak Bos jalan sama cewek, tapi blendung perutnya." Marni memacu motornya.


"Kapan?"


"Kemaren pas, terus pa Bos benerankan masih jomlo? Gua kira udah bunting aje bininya, tapi kok malah dijodohin, aneh orang kaya mah, kagak mudeng gua"


"Jam brapa mpok lu liatnya?"


"Jam brapa yak, siang pokoknya,"


Isak kemarin memang meminta izin untuk pergi ditengah ia sedang membantu Leha. Kerjaan adalah alasannya.


Hati Leha serasa mendung. Mengapa Isak harus membohonginya jika ia harus bertemu dengan Bita.


Hilang sudah perasaan senang yang tadi bercungkul akan melihat kontrakan yang akan dijadikan markas baru Katering Sehat.


Ia kesal. Lihat saja ia akan mendiamkan Isak.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2