
"Nak Isak pegimane menurut Nak Isak?" Hamid bertemu dengan isak. Bersama Hasbih dan Kusdi. Mereka membahas tentang pembangunan pesantren milik Hamid dan Hasbih.
Hamid memperlihatkan berkas berisi banyak kertas didalamnya.
Mereka berada di rumah Hasbih, Leha sedang membantu Yana memasak makan siang.
"Lokasinya bagus Bah, juga perincian biaya juga rapi,"
"Itu mah cuma corat-coret Nak Isak. Prediksi aje yang harus Abah dan Uwakmu ini keluarin ntarannya"
"Iyak enih juga buat pesantren gratis, tanah warisan engkongnya Leha sama Jana, daripade dijual pan mending dibuat pesantren aje biar berkah gitu"
"Untuk bentuk bangunannya bagaimana Bah?"
Isak tak menemukan gambaran bentuk bangunan dalam berkas itu. Namun sudahbada perincian biaya.
"Nah ntu dia, Abah sama Uwak Hasbih bingung Nak Isak? Belum keliatan gitu bentukkan nya gimana."
"Bisa nggak dibantu Nak Isak?"
Hamid terkekeh. Ia merasa benar jika meminta bantuan pada Isak yang setidaknya memiliki pengalaman dalam hal pembangunan. kalau pun tidak, Isak bisa memperkenalkan tenaga profesional padanya.
"Bisa Bah nanti Saya kirim teman Saya ke Abah, untuk membantu Abah dan Uwak"
"Terima kasih bantuannya Nak Isak."
Ponsel Isak berbunyi, lelaki itu meminta izin untuk mengangkatnya. Tak lama Isak kembali.
"Abah, Uwak, Saya permisi, mau pamit, ini ada pekerjaan mendadak yang harus Saya kerjakan"
"Makan dulu dimari, bentar, Abah panggilin Leha. Haaa … Lehaa … "
"Kenapa Bah?" Leha berderap menghampiri Abahnya.
"Ini ajak dulu laki lu makan"
"Ayo Pak, makan dulu"
Leha menatap Isak dengan alis terangkat. Mata Isak berkedip-kedip. Mengkode Leha. Agar mendekat pada lelaki itu. Wanita itu mengerti lalu mendekati Isak.
"Kenapa Pak?" Bisik Leha.
"Saya ada keperluan, tolong bilang Abah, Saya harus pergi cepat"
"Oh oke, bentar"
"Bah Pak Isak ada pekerjaan penting, Nggak bisa ditinggalin Bah, Pak Isak mau pamit sama Abah,"
"Maaf Abah, Uwak, Saya tidak bisa ikut makan siang"
"Kagak ngapa tong, udah Mid, kerjaan die penting itu" Uwak Hasbih ikut membantu Isak.
"Iyak Nak Isak, Kagak ngapa dah, kapan-kapan aja yak makan siangnya,"
"Iya Bah, Saya pamit, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Leha mengantar Isak kerumah wanita itu, karena mobil Isak diparkirkan di halaman rumah Leha. Isak terlihat tergesa dan terus menatap ponselnya.
"Kamu jangan lupa, malam minggu datang kerumah Saya,"
"Iya Bapak,"
"Kamu kerumah Saya sendiri nggak apa kan? Atau mau di jemput Nalen?"
"Enggak usah, Pak, sendiri aja,"
Tolak Leha dengan cepat. Ia tak mau berduaan dengan Nalen yang selalu merusuh dengannya. Tangan Isak mengulur menepuk kepala Leha.
"Kalau gitu saya pamit"
"Hati-hati Pak"
__ADS_1
Leha mengangguk. Kebiasaan Isak akhir-akhir ini yang Leha sukai. Leha melambai pada mobil Isak yang menjauh. Ponsel Leha berdering.
Udin.
"Apaan?"
Leha menjawab dengan ketus.
"Jutek amat Mpok!"
"Ngapa lu telpon-telpon! Mau ngasi setoran?"
"Kagak, eh iya sekalian, kesini lu, Ratu buat roti, lu mau kagak!"
"Ya mau lah, yaudeh gue kesana, itu Rame amat, ada duo gembul disitu yak?"
"Iyak, makanya cepet kemari!"
"Oke cuslah gue"
Leha mendekati beat kesayangannya. Ia mengenakan helm ojol miliknya. Dan mengaktifkan aplikasi ojol tersebut. Siapa tahu kan ada pelanggan. Lumayan cuan.
Leha dan obsesinya dengan uangnya sudah mengakat selama empat tahun ini dan susah lepas. Sebelumnya ia akan mampir ke rumah Uwaknya. Berpamitan dengan si Abah.
***
"Adudududuh ... ponakan onti Leha enih, duo ginuk-ginuk, kayak ulet keket beginii ..."
Leha gemas dengan anak kembar Saipul. Dua bocah berusia 6 bulan dengan badan bulat itu sedang berusaha merangkak, pan tat gembul dengan popok itu berusaha diangkatnya susah payah, sangat menggemaskan.
"Yak bagus, gitu, terus iyak teruus , dikit lagi yak ... "
"Aaakaakakaks"
"GOOD JOB!!!!" Pekik Leha yang menonton bayi Aldo berusaha menunging dan berhasil.
"You did it well honey, Sini sama Onti"
Leha menguyel gemas pipi keduannya yang montok juga merah. Dua bayi putih mirip ulat sagu itu membuat Leha ingin mengigit pipi, tangan dan kakinya yang macam roti sobek.
"Lu tuh Ha! Anak orang lu siksa gitu, nangis ntar!"
"Mana ada?"
"Hyyayayayaaaa"
"Hiya ya, nak baik, nak pintar, kagak bakal nangis ya sama onti cantik pan yak"
"Eh gimana Pak bos? Udah nggak ada lagi orderan penggagal Kencan buta?"
"Udah kagak! Dia ngaku punya pacar, udah dikenalin sama keluarganye, jadi udah kelar"
"Serius siape pacarnya? Lu kenal Ha?"
"Kenal, cantik banget, manis, baek, anggun, putih, idungnye bangir, rambutnya badai, mukenye kecil, kulitnye glowing, pokonya mah T.O.P B.G.T. lah"
Leha memuji dirinya sendiri dengan percaya dirinya.
"Pentes! gua pernah ngeliat Pak Bos makan di kape-kape gedong sama cewek cantik banget, itu toh pacarnya, iyak kan yank?"
Udin menengok ke tempat Ratu.
"Tuh bener aku bilang Pak bos sama pacarnya, yank"
"Masa sih? Aku kira pacar Pak Bos itu Mbak Leha" ucap Ratu yang sibuk mengemasi pesanan kue.
"Mana mungkin lah, pan tipenya Pak Bos pasti tinggi kayak yang kita liat si kape itu yank"
"Kapan?" Leha menatap nanar yang ia samarkan.
"Waktu ntu, kapan yank?"
"Itu lho pesanan yang di daerah tebet, Bang, semingguan yang lalu"
__ADS_1
"Assalamualaikuuuuuummm"
"Mana Leha? Lu mau jadi sapa hari enih, Ha? Gue dapet baju mantep-mantep, murah dari si Sumiati, Ntu orang baru balik dari Hongkong, " Mpok Marni datang dengan koper ajaibnya.
"Ngapa lu bawa koper mpok?"
"Lha bukannya mau aksi kita hari enih?" Mpok Marni menatap semua nya dengan kerutan didahinya.
"Kagak" Udin menjawab bingung.
"Lah gue liat itu si bos ganteng lagi ketemu cewek noh di kape gedong daerah kota, makanya gue nyamper kemari, si Udin juga nyuruh gue kesini, bener, kagak aksi nih kita? Terus cewek ntu siape? Pacarnye? Cantik sik"
"Idungnye bangir ya Mpok?"
"Ho'oh" Mpok Marni mengangguk. Udin memastikan tipe Isak yang Leha jabarkan tadi.
"Kulitnye putih, rambutnye bagus, iri guah, pokoknya mah caem lah" lanjut Mpok Marni.
"Bener! ntu Pacarnya Pak Bos, Mpok, ya pan Ha?" Saipul membenarkan seperti jabaran Leha mengenai pacar Isak.
Leha sibuk dengan ponselnya, ia mengirim pesan pada Isak. Bertanya keberadaan lelaki itu.
Ditempat lain,
Pesan Leha masuk ke ponsel Isak. Namun Lelaki itu sibuk mendengarkan cerita wanita didepannya. Lalu mereka berdua tertawa pada lelucon yang tak lucu milik wanita itu.
***
Centung!
Suara ponselnya menandakan pesan masuk. Ternyata pelanggan gojek. Ia melihat dan menerima orderannya.
"Gue kerja dulu yak"
Leha butuh udara segar, tiba-tiba ia merasa kosan Udin menjadi pengap dan panas. Rasanya nafasnya tercekat. Ia kudu keluar sekarang.
"Lha, libur aje, mumpung kite pada ngumpul inih" Saipul menganggui ucapan Udin.
"Iyaaak, ntar gue balik lagi" Leha mengecup pipi gembul kedua anak Saipul dan menyambar helm ojol ya.
Ini upaya Leha kabur dari pertanyaan teman-temannya mengenai Isak. Ia tak menyangka penjabaran pacar Isak yang adalah dirinya disalah artikan oleh teman-temannya.
Leha tercubit hatinya dengan kebohongan Isak yang mengatakan ada pekerjaan yang tak bisa ditunda. Ternyata lelaki tetaplah lelaki.
Leha menjalankan beat kesayangannya dengan gundah gulana. Pikirannya berputar seputar peringatan Nalen juga ketidak jujuran Isak.
Ia juga lupa dengan rencananya yang ingin kembali mendiskusikan tentang hubungan mereka, karena Isak yang malah mengakui dirinya sebagai pacar, di hadapan Keluarga lelaki itu, juga Isak yang masih mau datang ke rumahnya.
"Atas nama Mbak Rista?"
"Iya"
"Ini helmnya … ke kota?"
Kembali Penumpang Leha mengangguk. Leha melajukan motornya. Ia menyusuri jalanan ibukota yang padat merayap. Walau tak sepenuh saat jam-jam krusial. Jam berangkat dan pulang kantor.
"Terima kasih Mbak"
Leha menerima helm dari si pelanggan. Ia mengangguk hormat. Ia kembali membuka aplikasi ojol miliknya, siapa tahu ada pelanggan baru.
Centung!
Pesan muncul di layar ponsel Leha. Dari Isak, Lelaki itu memberitahu lokasinya. Lokasi yang familiar. Lokasi dimana Leha berada.
Leha menjelajahkan netranya mencari keberadaan Isak. Ia menemukan salah satu restoran tempat Isak berada, di arah depannya persis. Dan Leha melihat Isak yang keluar dari restoran itu. Bersama seorang wanita.
Sikapnya sangat gentleman. Lembut dan sangat menjaga sang wanita. Memperlakukannya bak ratu.
Isak yang meletakkan tangannya di punggung sang wanita, membantu membukakan pintu restoran, membukakan pintu mobil.
Dan yang paling membuat hati Leha semakin tercubit adalah senyuman bahagia milik Isak saat bersama wanita itu.
Kecewa, sakit tapi Leha tak mengerti mengapa sesakit ini melihat Isak memperlakukan wanita itu dengan sangat lembut dan perhatian.
__ADS_1
Tbc.