Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 25


__ADS_3

"Bapak, Abah minta bapak main kerumah" Leha meletakkan cangkir kopi. Ia melirik Isak yang sibuk dengan komputernya.


Lelaki itu jika serius terlihat sangat tampan. Rambut rapi tersisir ke belakang dan memperlihatkan keningnya sungguh menawan.


Apa Isak menggunakan ajian pengasih dan penyayang? Alaaah … Leha! Kuatkan dirimu! Batin Leha yang terus melirik Isak.


"Kapan?"


"Secepatnya pak!"


"Apanya?"


"Lamarannya!"


"Hah!"


"Hah!"


Mata Leha membulat. Leha menepuk-nepuk bibirnya yang suka bener ini. Setelah ia sadar kembali membuat ulah. Leha mengangkat tatapannya pada Isak takut-takut.


Mendapati mata elang itu menelisik juga mengancamnya, Leha mengeluarkan senjatanya. Tangan dengan jari V terangkat, tak ketinggalan juga cengiran tak jelas miliknya.


"Kopinya pak, silahkan, saya permisiii …"


Leha ingin segera keluar ruangan Isak. 


"Sabtu malam, Saya kesana" Isak kembali fokus pada benda persegi di depannya itu.


"Baik pak"


Leha melangkah cepat keluar ruangan. Ia menutup pintu dan bersandar. Rena melihat Leha dengan kedua alisnya bertemu. Leha mengatur detak jantung yang bertalu. Juga sudut bibir yang melebar dengan sendirinya.


"Permisi mbak Rena" pamit Leha. Dalam pikirannya hanya ada kata "Sabtu malam" Ia jalan tergesa. Masuk lift. Menunggu tertutup.


"NYAAAAK …  MALAM MINGGU LEHA DIAPELIN NYAAK … "


Leha merentangkan tangannya keatas dan sedikit melompat. Tak berani terlalu girang. Ia berada di lift. Nggak lucu kalo liftnya ambruk. Belon juga kawin oyy!


***


Ini namanya bukan ngapelin pacar, tapi ngapelin calon mertua. Leha menghela nafas kasar. Ia melihat Isak yang sibuk bersama sang Abah mengobrol di tempat Uwak Hasbih.


Disana juga ada Mpok Jana dan suaminya, Mang Kusdi yang juga mengelilingi Isak. Lelaki itu terlihat tampak kesusahan dan tak nyaman, pada awalnya, namun setelahnya, Isak bisa menyesuaikan diri.


Mereka berdiskusi masalah tanah yang dimiliki oleh Abah Hamid dan Uwak Hasbih yang akan dijadikan pesantren. Ia meminta saran dari Isak.


Isak yang bergelut pada dunia bisnis pun menjadi tertarik dan antusias. Obrolan semakin serius dan Leha bosan mendengarnya.


"Makasih ye Nak Isak. Abah sama Uwak mohon bantuannye ini. Nanti ada si Kusdi yang bakal mengawasi."

__ADS_1


"Iya Bah, jangan sungkan, kalau begitu Isak sama Leha pergi dulu,"


"Oh iye lupa Abah, lu nyamper si Leha malah Abah ajak ngomong bisnis, yaude sono gih, keburu malem, tapi balikin bontot abah"


Leha yang sedari tadi lesu, mendengar obrolan kedua lelaki itu. Mendadak sumringah, semangatnya berkobar.


Ia mendekat, senyum terang terpancar dari wajahnya, "Leha jalan dulu Bah" ia mengikuti Isak yang keluar rumah dan masuk kedalam mobilnya.


"Bapak kita mau kemana?" Ucap Leha dengan ceria.


"Pulang" 


"Pulang? Kok?"


Mobil Isak menjauhi rumah Leha. Tidak ada obrolan dari keduanya. Saat mereka sampai di apartemen Isak. Wajah Leha bertambah lesu. Jangan tanya seberapa panjang itu bibir mengerucut kesal.


"Beneran pulang! Nggak usah ngajak-ngajak kalo gitu!" Gerutunya dengan bibir yang maju, cemberut.


"Emang kamu mau kemana?"


"Nonton midnight. Kenapa pak? Bapak mau ngajak Leha nonton?"


Mendengar ucapan Isak Leha mendapatkan secerca harapan, Kembali Isak bisa melihat binar penuh harap di mata wanita itu.


"Nggak, capek! pulang!"


"Nggak usah nanya-nanya kalo gitu!" 


Leha berjalan malas-malasan. Ia mengikuti Isak dengan pikiran merana. Saat ia akan berbelok meniju unit milik lelaki itu. Isak malah berjalan lurus menuju pintu sambung antar gedung apartemennya dengan pusat perbelanjaan yang ada di lantai bawah.


Bola mata Leha masih mengikuti gerakan Isak yang masuk ke dalam lift seberang pintu sambung. Ia masih terbengong, mengapa Isak berada disana?


Melihat Leha yang malah diam ditempatnya, lelaki itu berdecak. Ia berdiri di antara pintu lift yang akan menutup.


"Katanya mau midnight? Cepet!" Seruan Isak dari seberang. Leha melebarkan matanya, binaran terlihat di sana.


Ia berlari menyongsong Isak.


"Maauuuuu …"


" … uughk … "


Leha menerjang tubuh Isak masuk dalam rengkuhan lelaki itu. Isak tak antisipasi ia terdorong ke belakang dan terbentur gagang besi yang ada dalam lift.


"Ssss … "


Ringis Isak.


"Makasih … makasih … makasih, Abang Isak yang tampan rupawan baik hati tidak sombong dan kesayangan Bunda Nami"

__ADS_1


"Dasar kamu itu" Isak tidak melepaskan rengkuhan Leha. Ia membiarkannya.


Ting!


Lift terbuka aroma mentega menyeruak dalam hidung Leha. Leha menarik tangan Isak. Menuju loket.


"Ayo avatar 2 aja ya, popcorn campur"


"Hmm … "


Isak membeli dua tiket lalu mengantri membeli popcorn. Film yang mereka pilih akan segera diputar. Mereka bergegas masuk ke dalam teater.


***


"Sayang bukannya itu Bang Isak? Sama Leha bukan sih? Mereka balikan?"


Sara menunjuk dua orang yang baru saja berjalan melewatinya. Ia melihat Leha mengandeng Isak menuju teater.


"Mana?" 


"Ituu ... disanaa … ituuu "


Tunangan Sara melihat ke arah yang Sara tunjuk. Ada seseorang lagi yang ikut melihat apa yang Sara tunjuk.


"Ada apaan sih?"


"Bang Isak sama Leha?"


"Mana?" Tanya suara yang meninggi itu.


"Udah masuk"


"Udahlah, sayang, kita balik ke apart aja" Ajak tunangan Sara.


"Gimana kalau kita ke apart Bang Isak kalau nggak ada ditempat orangnya berarti yang aku liat beneran dia sama Leha!" Sara kekeuh.


"Gimana? Kita buktikan ayok yank!"


"Waaah Bunda pasti seneng banget kalo mereka balikan, lagian kenapa pula mereka pake acara putus segala sih, Waktu di Jepang mereka manis, kompak."


"Akur, terus keliatan banget cintanya itu si Leha, Pasti gara-gara ituuu ... dasar emang Bang Isak aja tuh kayaknya yang bebel banget gak bisa move on!"


"Udah yank,"


"Ih nggak bisa gitu! Ini demi pelangkah tau yank!"


"Udah ayok kita kesana"


Sara semangat menarik tangan tunangannya. Tanpa menjawab, kedua lelaki itu mengikuti Sara menuju unit kakak sulungnya itu.

__ADS_1


 


Tbc.


__ADS_2