Taipan Qatar Si Pencuri Hati

Taipan Qatar Si Pencuri Hati
Bab 46


__ADS_3

"Kapan Leha berkelahi?"


"Kemarin Pak dan ini hari pertama Leha di rumahkan."


Brak!


"Ah maaf pak" 


Sari menerobos masuk karena ia tak melihat Rena yang berada di ruangan Isak.


"Kamu! Kamu siapa kemarin yang membereskan ruangan saya?"


"Biasanya Leha pak"


"Masalahnya besar yang ia buat! Dia beraninya membereskan meja Saya! Berkas penting juga menghilang!"


"Catatan pekerjaan Qatar kemarin juga ikut lenyap!"


"Suruh Leha datang! Ini perintah!" Ucap Isak. Entah mengapa dirinya terlihat murka.


"Tapi ponselnya tidak bisa dihubungi pak!"


"Tidak mungkin Leha menyentuh berkas-berkas bapak, nggak mungkin pak!"


"Buktinya berkas saya hilang"


"Sari kamu tahu rumah Leha bawa dia kemari"


"Baik mbak Rena, teeus ruangan Pak Isak—"


"Tidak usah dibersihkan, bawa saja Leha kemari"


Isak kembali duduk di kursinya ia memijat kepalanya yang pusing.


***


Sari berlarian ia melihat Ujang yang baru datang, Sari meminta Ujang mengantarkan dirinya kerumah Leha. Ujang yang bingung hanya mengikuti perintah Sari.


"Ini perintah Pak Bos, ayo cepet-cepet"


Seseorang memperhatikan Sari. Ia mengambil ponselnya dan tersambung di sebrang.


"Semua akan sesuai rencana"


***


Leha sedang nongkrong di warung milik Jana. "Mpok Gimana, ada pelanggan komplain?"


"Kagak ada Ha, semua puas, malah banyak yang mau ikut slot bulan depan, ya gue bilangin kalau slot penuh sampai tiga bulan kedepan." Leha selalu memeriksa perkembangan katering ibu hamil miliknya.


Ia belum mengembangkan resep baru. Akhir-akhir ini hidupnya jungkir balik. Tak sempat harus mengulik resep baru.


Perjalanannya akan memakan waktu yang tidak sebentar. Banyak penelitian yang harus Leha lakukan sebelum resep itu jadi dan layak untuk dikonsumsi pelanggannya.


"Ape kita tambah aje Ha?"


"Mpok Jana sanggup kagak kalo nambah?"


"Yaaa … ngambil orang lagi aje kite, sekalian dijadiin gede gitu Ha"


"Leha masih belum sanggup Mpok" jawab Leha.


"Yaude, segini aje dulu, gue juga kagak sanggup kalo nalangi ndirian"


"Bener segitu aje dulu, ya Mpok Leha tersayang, nanti suatu saat nanti ye Mpok" ucap Leha.


"Gue balik dah, Abah sama Uwak kapan balik Mpok?"


"Lusa paling"


"Yaudah dah ya, pamit Mpok!" Leha bsrjalan kembali kerumahnya.


"Leha!"


"Leha!"


"Jang ntu Leha Jang! Pepetin!"


Ujang memepet Leha, membuat Leha terkejut.


"Bujug!" Pekik Leha.

__ADS_1


"Leha! Busyet kuping apa cantolan panci!"


Sari turun dan menyerahkan Helmnya pada Ujang.


"Lha Sari ngapa lu dimari dah?"


Leha terheran melihat Sari datang daerah kerumahnya. Tidak biasanya.


"Hape lu kemana Ha, pak bos nyariin lu Ha!"


"Hape gue ya dirumah lah"


Leha sudah dari kemarin tidak memegang ponselnya.


"Kenapa?"


"Lu maren beresin meja Pak Bos?"


Leha menggeleng,


"Beneran! Katanya ada berkas yang ilang gitu"


"Lha lu tahu Sar, kita mana berani dah nyenggol itu meja" 


"Gue juga mikir gitu Ha, tapi Pak Bos nyuruh elu dateng"


"Gue kan di skors?"


Sari hanya mengangkat bahunya. Sari menyuruh Leha berganti baju, Leha menurut, akhirnya mereka TuTi, Tumpuk Tiga.


Ujang dengan ahlinya mencari jalan tikus, keluar masuk perkampungan. Melewati jembatan yang sempit.


Ajaibnya mereka sampai dengan selamat. Bodohnya Leha mengapa ia tidak menggunakan motor miliknya. Ini karena Sari yang panik dan mengajak dirinya ikut panik.


Benar-benar kebodohan hakiki.


***


"Mbak Rena?"


Leha melihat wajah lelah Rena merasa kasian, berbeda dengan Rena yang melihat Leha bak penyelamat.


"Ada mbak, ini" Leha mengeluarkan flashdisk. Rena masih saja tegang.


Telepon meja Rena berdering.


"Ya Pak?"


"Baik Pak" Rena meletakkan teleponnya. Dengan gerakan mata, Leha bertanya apa? lalu Rena menghentakkan dagunya ke ruangan Isak. Dan Leha sadar. Ia mengetuk pintu Isak


"Permisi pak"


Tak ada jawaban. Mata Isak menghunus tajam. Leha tidak pernah melihat Isak semurka ini.


"Kamu menyentuh meja saya?"


Leha mengingat, benar Leha menyentuh meja Isak. Ia meletakkan kopi Isak jadi Leha menyentuh mejanya. Leha mengangguk.


"Saya tahu kamu itu bar-bar. Ceroboh. Dan tidak tahu malu, tapi kamu masih menggunakan otakmu kan. Sudah ada aturannya jika jangan menyentuh meja dan berkas-berkas milik Saya"


"Tapi dengan sengaja kamu melanggarnya!" Suara Isak meninggi melihat Leha yang menggangguk-angguk. Entah mengapa memar pada pipi Leha tidak membuat Isak simpati.


"Tolong kamu bekerja di perusahaan besar! Tolong jangan bawa sikap kampungan juga udik mu kesini!"


"Bapak sebenarnya—"


"Tunggu saya ngomong dulu, kamu tahu kan aturannya kan!"


Leha terdiam. Mendengarkan.


"Dengan melanggar aturan Saya bisa rugi milyaran dollar. Apa kamu sanggup menggantinya?"


"Tidakkan! Bahkan harta orang tuamu tidak bisa mengganti kerugian Saya!"


Rahang Leha mengeras. Kenapa orang tuanya dibawa-bawa. Leha tergelak kencang.


Isak terdiam mengamati Leha. Namun dirinya masih marah dengan kelakuan Leha yang terlalu bebas tanpa aturan itu.


"Bapak Isak, dengan hormat, saya bertanya apa sebenarnya duduk masalahnya? Saya tidak mengerti, bisa tolong jelaskan pada orang Udik dan kampungan ini"


Isak merasa dirinya keterlaluan saat ini.

__ADS_1


"Jadi apa kamu menyentuh mejaku?"


"Iya Saya sentuh"


"Apa kau menyentuh berkas yang ada diatas meja?"


"Tidak, Saya tidak menyentuh berkas-berkas Anda Pak Isak"


"Bagaimana kamu bisa membuktikannya?"


Perlahan Leha melarikan bola matanya pada ruangan Isak. Lama.


"Saya tidak mempunyai saksi jadi saya menyerahkannya pada cctv yang ada diluar kantor Anda"


"Mungkin hanya cctv yang bisa membuktikan Saya tidak bersalah."


Mereka datang ke ruang keamanan. Dan melihat cctv pada hari dimana Leha dirundung.


Disana Leha melihat jam ia keluar. Dan tak lama ia melihat dirinya masuk keruang Isak. Tentu saja Leha tidak ingat jika dia kembali lagi keruangan Isak.


"Itu bukan Saya!" Saat melihat orang dalam video membawa berkas Isak.


"Saya berani sumpah itu bukan Saya pak!" Teguh Leha.


Ia tidak kembali keruangan Isak. "Kau tidak bisa berkelit! Kau terbukti!"


"Tambah masa dirumahkannya!"


Isak meninggalkan Leha yang mengikutinya. Hingga ruang rapat. Leha menunggu Isal selesai rapat.


Rapat Isak berjalan lama. Jam 5 Isak keluar ruang rapat. Ia melihat wajah Leha yang tertidur.


"Dasar!" Isak meninggalkan Leha tanpa membangunkannya. Lelaki itu jengkel bukannya menunggu tapi Leha malah tidur.


"Mbak Leha!"


"Mbak!"


"Mbak Leha!"


Leha menguap lebar, rasanya tubuhnya segar kembali. Ia melihat Pak Min didepannya.


"Pak Min, kenapa?"


"Mbak Leha nggak pulang?"


"Pulang?"


"Pak Bos kan masih rapat, pak"


"Masa sih, Saya lihat jam 5 tadi Pak Bos sudah pulang kok" ucap Pak Min menyadarkan Leha.


"Sekarang jam berapa Pak?"


"Jam 7 Mbak"


Leha menyadar lemas pada sofa. Isak sama sekali tidak mau mendengarkannya. Leha beranjak.


"Makasih udah bangunin Saya"


"Sama-sama" Mereka turun ke lobby. Leha masuk ke ruang loker. Ia bertemu dengan Enda.


"Lha bukannya lu dirumahkan?"


"Iyak, Bang, gue nebeng lu" Ucap Leha malas.


"Ya ayok"


Leha naik di boncengan Enda. Lelaki itu memberi helm cadangannya. Mereka melaju membelah kemacetan ibukota.


"Laper gue, makan dulu yuk"


"Boleh, gue juga laper dari sore belon makan"


"Pecel ayam aja ya? Gue lagi pengen pedes"


"Iyak sama"


Mereka tidak menyadari ada mobil yang mengikuti mereka hingga rumah Leha.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2