Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 10


__ADS_3

Setelah telephonan dengan Hira, keusilan Lestiana muncul. Tapi hal ini dilakukan untuk kebaikan kakaknya. Lestiana tidak ingin kakaknya gagal cinta lagi. Lestiana ingin tetap melihat kakaknya yang seperti sekarang, sesibuk apapun masih tersenyum bahagia. Muncullah ide untuk memberikan kakaknya peringatan.


 


To: Kak Ferdian (14.00)


Kak, hati-hati! Jangan sampai kecolongan.


 


Ferdian yang sedang sibuk di kantor tak sempat melihat handphonenya. Ketika hari sudah sore, Ferdian hanya menggeser notif nya. Terlihat nama 'Adikku', tapi karena kebiasaan Letiana yang hanya minta uang. Ferdian tidak menghiraukan isi chat Letiana.


Ketika terdengar mobil Ferdian, Letiana yang sedang belajar langsung lompat stay di depan pintu kamar Ferdian.


“ Ada apa An??”


 


“Aku sudah berbaik hati ya, memperingatkan Kakak! Tanggung sendiri akibatnya!”


 


Spontan Ferdian langsung mengambil ponselnya dari saku celana. Letiana masih berdiri di depan kakaknya.


“ Apa maksudnya ini?”


 


“Menjelang siang tadi, aku call Kak Hira.”


 


“Trus?” sela Ferdian sebelum Letiana selesai ngomong.


 


“ Makanya, dengerin dulu Kak. Aku denger, teman Kak Hira yang namanya Co, bilang sama Kak Hira ‘Boss baru kita ganteng' gitu!“


 


“ Lha trus, Kakak juga ganteng, apa masalahnya?” sela Ferdian lagi.


 


“ Masalahnya, aku denger Kak Hira bilang kalo ‘ganteng gak penting‘. Masalahkan itu buat Kakak, gak ada yang Kakak andalin lagi! Jika pun ganteng berpengaruh untuk Kak Hira, hal itu malah masalah besar untuk Kakak, secara yang di sana bisa dipandang tiap hari. Sedangkan Kakak, kalian bertemu aja jarang, zaman sudah maju. Ada fasilitas vidio call juga gak bisa memanfaatkan karena gak ada waktunya."


 


“Perasaan, kami okey-okey aja Adikku cantik! Jangan khawatir, do’ain aja okey?” Ferdian mencenol pipi Letiana, meninggalkan Letiana segera masuk kamar.


 


“Kak..." rengek Letiana sambil menarik kemeja belakang Ferdian, ketika Ferdian berada di ambang pintu.


"Kakak, aku serius! Jangan sampai seperti yang dulu,” Letiana berbicara pelan karna takut membuka luka Kakaknya.


 


“Ngak akan sayang, Mbakmu itu baik banget, dia anak yang sholeha, sabar, dan sangat pengertian. Insyaallah apa yang kamu takutin gak akan terjadi.“ Ferdian berusaha membuat adiknya tenang. Padahal hatinya sendiri agak terusik,  jika difikir-fikir ada benarnya.


 


Calling... ( 19.00 )


Hira cantik


 


“Nomer yang anda tuju sedang sibuk, silahkan tinggalkan pesan”


 


 


Calling.....( 19.15 )


Hira Cantik


 


“Nomer yang anda tuju sedang sibuk, silahkan tinggalkan pesan”


 


Berulang kali Ferdian menghubungi Hira, tapi sambungan sibuk. Akhirnya Ferdian berinisiatif untuk kirim email saja.


 


To : @BahirCantika


 Cantik, Hpnya kok sibuk. Emangnya lagi ngapain?


 


Tiga menit kemudian dapat balasan.

__ADS_1


 


To : @Ferdian Putra A


Masih di kantor Mas, bentar lagi pulang.


 


“ Aku aja sudah pulang, dia masih di kantor. Emangnya lembur apaan? Lagi awal mulai duduk aja dah gitu, mau jadi apa entar selanjutnya? Bisa-bisa proyek doubel, karyawannya mau dibuat nginap di kantor!” gunam Ferdian marah-marah. Jatah telephonannya jadi hilang.


 


To : @BahirCantika


Hubungi Mas, jika sudah pulang. Jam berapa pun!


 


 


Karna hari dah malam, Hira pulang bersama Ryco. Karena Mbak Tari di antar jemput calon suaminya.


“ Co, awal yang me-nak-jub-kan.” gerutuku penuh dengan penekanan.


 


“Iya Ra, enakkan jauh dibawahi Pak Ryan. Kenapa sih Ra, kamu gak terima Pak Ryan saja! Kita semua 'kan jadi enak. Mungkin jika kamu jadi pacar Pak Ryan, mungkin saja tiap hari dapat jatah makan siang gratis, pulang lebih awal, bisa pacaran deh aku!” Protes Ryco penuh penyesalan.


 


“ Kemarin kamu sudah dengar Co, kalau aku sudah punya."


 


“ Pacaran aja aku gak pernah lihat, boro-boro lihat kamu pacaran Ra, dijemput aja aku gak pernah lihat."


 


“ Emang kami jarak jauh Co, dia di kota A. Kami dah lama menjalin kasih bahkan dari aku kelas dua semester 2 akhir kalo gak salah, kami meresmikan pacaran. Kenalnya dari salah nomer, itu...pas aku kelas 1 semesteran 2. Tapi kami baru ketemu dia kemarin pas DL sama Pak Ryan, itu pertemuan keduaku. Yang pertama sebulan sebelumnya”.


 


“Emangnya cintamu rasa apa Ra, lamanya hingga bertahun-tahun? Kelas 2, kelas 3, 1 tahun kerja, 2 tahun kuliah. Jadi 5 tahun kamu menjalin hubungan gak jelas gitu? Gak pengen gitu kamu merasakan bergandengan tangan? Saat berpisah berpelukan, dicium jidatmu?”


 


“Ngomongin kebiasaanmu sendiri ya Co? “ aku tak menghiraukan Ryco yang berhitung dengan seriusnya.


“ Normalnya ya seperti itu orang pacaran Ra. Kamu sih, halu doang! Aku normal Ra, aku melakukan semua yang aku katakan. Cowokmu normal gak sih?”


“ Ya normal lah!” sahutku, tak terima pernyataan Ryco.


 


Aku hanya diam mendengarkan Ryco, yang sebagian dari kata-katanya mewakili isi hatiku. Hanya ku jawab “do'akan saja,” aku sudah tak bisa berkata-kata. Gak mungkin jika aku bilang pada Ryco kalau Mas Ferdian serius bahkan kantong rekeningku penuh dengan nol-nol berjajar.


 


Ryco tak lagi bertanya lebih untuk menuntut jawabanku, karena mobilnya sudah terparkir di depan rumahku.


“Terima kasih ya Co, sorry merepotkan. Sampai rumah tidurlah lebih awal, mungkin besok kita kerja rodi lagi."


 


“Sama-sama, kamu kali Ra yang tidur awal. Kamu yang halu kan! Kalau aku sih, jika kangen tinggal mampir minta cium!"


 


“ Dasar kamu ya! Cepat pulang, bye.”


 


Sampai di kamar, aku segera mandi pakai air hangat, sholat, dan menelephone Mas Ferdian.


“ Assallamuallaikum, Mas."


 


“ Waalaikumsalam sayang, kamu baru pulang ya? Ya Allah sayang, kamu pasti capek ya? Dah maem belum?”


 


“Sudah Mas, tadi sempat mampir di warung depan kantor sama Ryco”


 


“Pulangnya sama Ryco juga?“


 


“Ya iya, kan sudah malam gak mungkinkan aku naik bus."


 


“Kan bisa taksi!" kalau sudah kayak gini sudah tahu aku selain khawatir apa yang ada di fikirannya.

__ADS_1


 


“Kalau dikit-dikit cemburu, kenapa gak sekalian kurung aku aja di rumah, dijadikan tuan putri. Dan hanya melayanimu saja Mas." gunamku pelan karna Mas Ferdian nunggu penjelasanku, dia terdiam.


 


“ Jika mau, itu ide yang bagus.” jawab Mas Ferdian karena mendengarkan gunamanku.


 


“ Mas dengar?”


 


“Masih normal dek, telinga Mas ini!"


 


“Habisnya, sudah malam gini Mas ngajak debat. Capek aku sayang,"


 


“ Jika Bossmu yang baru itu, cara kerjanya ngajak orang rematikan di usia muda. Buat Adek pulang kerja sama Si Ryco terus!”


 


“Lha trus gimana? Yang satu divisi sama aku memang Ryco sama Mbak Tari, sedangkan Mbak Tari dijemput calonnya. Apa Mas mau Jemput aku?”


 


Agak lama Mas Ferdian tidak membuka suaranya lagi, entah apa yang difikirkannya. Padahal dari tadi dia yang selaku protes.


 


“Aku akan suruh Dika besok ke situ, pas jam makan siang kamu keluar."


“ Terus ngapain?” 


“ Jangan merepotkan Mas Dika terus Mas, gak enak aku sama dia. Aku sudah malu dengan Mas Dika karena Mas mencukupiku."


 


“Jangan begitu sayang. Dika sama sekali gak berfikiran aneh-aneh seperti yang selalu kau takutkan dari dulu. Besok biar Dika ajak kamu ke showroom mobil. Pilihlah sesuai yang kamu suka."


 


“Ngak Mas, Mas jangan berlebihan ya! Apa kata teman-teman lainnya. Mungkin Mbak Tari dan Ryco tidak kaget. Tapi yang lain? Mereka pasti mengira aku simpanan boss-boss. Jika dilogika aku anak orang miskin, sedang dalam masa kuliah, gaji segitu aja. Masak mau naik mobil? Tak salah seandainya orang bilang aku simpanan boss-boss. Mas gak kasihan sama aku?”


 


“Trus gimana dong sayang atau kamu resain aja, Mas masukin kamu ke kantor Mas. Atau ke Perusahaan milik keluarga Mas?”


 


“ Matur nuwun sanget Mas, aku akan naik taksi saja ya? Sudah, jangan diributin lagi. Okey?" Aku mengambil nafas panjang.


 


“Tadi kalau gak salah ingat, Mas kok tahu kalau Bossku baru? Aku kan belum cerita. Baru hari ini, masuknya juga baru siang tadi.”


 


“Emm...dari Letiana, tak sengaja dengar waktu kamu berbincang dengan temanmu”


“ Mumpung kamu bahas itu, sekalian Mas tanya. Katanya Bossmu ganteng ya?”


 


“ Laki- laki kan emang ganteng! Lagian yang bilang ganteng kan bukan aku Mas, yang ngomong tadi itu Ryco”


“ Trus, katanya juga...” belum selesai Mas Ferdian ngomong aku sudah menyelanya.


 


“Jangan fikirin apa yang dikatakan Letiana padamu soal apa yang di dengarnya tadi siang. Aku sayang Mas. Cepet bobok, aku dah ngantuk Mas, tolong besok pagi bangunin aku ya? Mungkin aja aku gak kuat bangun, badanku capek banget."


 


“Iya sayang pasti, met bobok ya...moga mimpi indah." tanpa salam aku dah tertidur, tapi masih mendengar kata-kata terakhir Mas Ferdian.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah serunya...


Mohon dukungannya....😘

__ADS_1


Terimakasih....🙏🙏


 


__ADS_2