
Mas Ferdian selalu bisa membuatku melayang dengan perilakunya padaku. Aku sering terbuai dengan sikapnya yang manis. Kenyamanan yang dia berikan membuatku ingin menutup telingaku, apa yang terjadi di luar kejujuran Mas Ferdian. Aku masih belum membuka chat Mbak Emma yang telah masuk, terlihat dari notifku. Seolah aku tak ingin mendengar ataupun mengetahui apapun. Aku tak ingin merusak suasana indah yang aku jalani saat bersamanya.
Mas Ferdian menggenggam tanganku dan mengajakku berpindah melihat burung yang dipajang di setiap ruko. Ketika dia berhenti terpesona dengan kecantikan dan kelengkingan suaranya saat berkicau. Tiba-tiba Mas Ferdian masuk dalam ruko, aku mengikutinya dari belakang masih memegang ujung kemeja belakangnya.
“ Pak, yang di depan itu sudah ikut lomba berapa kali? “
“ Wah sudah dapat piagam gantangan burung berkicau itu mah, tak terhitung Mas, jika ada lomba pasti di ikut sertakan”
“Pantas saja Pak, dijual bera.... " belum selesai Mas Fer bicara, aku sudah mencubit siku tangannya.
“ Maaf Pak, besok disambung lagi. Ada urusan mendadak, ( aku memegang handphoneku, dan berpura-pura memasang muka risau, permisi. Ayo Mas!" aku menarik Mas Ferdian keluar.
“ Iya Neng tidak apa-apa.” jawab penjual burung.
“Ada apa sayang, apa terjadi sesuatu? Ada kabar apa?” Mas Ferdian panik melihat mukaku yang terlihat risau. Padahal mukaku risau karna takut ada uang yang terpakai tak bermanfaat.
“Gak apa-apa." aku tersenyum nyengir.
" Aku kan sudah bilang jangan beli-beli!” Mas Ferdian menarik hidungku sampai memerah.
“ Aduh, sakit! Mas gak sayang sama aku ya? “
“ Maaf... maaf, habisnya kamu buat Mas panik! Ya sayang lah, mana-mana hidungnya" Mas Ferdian mencium hidungku yang sudah memerah, dikecup-kecupnya bertubi-tubi.
“ Malu Mas, banyak orang! Mas gak malu apa?” Mas Ferdian baru menghentikan kecupannya.
“ Ngak, aku gak malu! Aku cium pacar aku sendiri kok. Dek, hanya satu aja, beli 1 aja ya...masak Mas bener-bener gak boleh bawa oleh-oleh nih?” bujuk Mas Ferdian yang ingin membeli burung, memelas. Seolah aku telah menyita dompetnya saja.
“ Maaf ya sayang...( Mas Ferdian mengelus dadanya mendengar aku memangilnya sayang ) ngak boleh, kurang bermanfaat. Mungkin Mas mudah mencari uang. Nominal berapapun bisa tinggal ketik untuk Mas kirim ke tujuan. Tapi di luaran sana, banyak sekali orang yang kurang beruntung. Aku sendiri merasakan bagaimana rasanya mencari uang bahkan untuk biaya sekolah dan.... "
“Sutt...iya Mas tahu, jangan dikenang. Kedepannya kamu hanya Perlu jalani hidupmu dengan bahagia, nikmati apa yang telah kamu capai. Okey?” aku menjawab hanya dengan anggukan saja, Mas Ferdian mengecup pucuk kepalaku lama.
Kami berjalan lagi berkeliling, kami belok ke sebuah rumah makan. Baru kami menempelkan pantat ke kursi, ada seorang gadis berdiri dari tempat duduk sudut ruangan yang tak sengaja aku perhatikan dari tadi, aku melihat punggung cowok di depannya yang terlihat familiar.
“ Hallo Kak Ferdian, bagaimana kabarmu?” Sapa wanita yang menghampiri kami.
“ Baik, mau gabung. Duduklah.. ( Mas Ferdian menyambut wanita itu ramah )” membuatku bertanya siapakah wanita ini.
“ Tidak Kak, aku hanya ingin menyapamu saja. Aku kesini sama pacarku.”
“ Trus mana? ( wanita itu menunjuk ke arah tempatnya berdiri ) Atau gabung aja sekalian." Mas Fer menawari wanita yang ada di depanku, dan aku masih menatap punggung cowok yang duduk di kursinya.
“ Tidak Kak, terima kasih. Aku sudah pesan makanan kok. Lagian gak enak entar ganggu mbaknya lagi!” jawab wanita itu, sambil melihatku.
“ Dek, kenalin ini Erna. Hai..." Mas Ferdian menjahil daguku untuk menghadapnya, karna aku terlalu fokus memperhatikan cowok yang membelakangi arah pandangku.
“Er...ini pacar Kakak," kata Mas Ferdian memperkenalkan aku pada wanita tadi.
“Hallo Mbak, salam kenal aku Erna” dia memperkenalkan dirinya dengan ramah tamah, aku menjabat tangannya. Aku masih melirik pada cowok yang duduk di depan Erna tadi, dia sama sekali tidak menoleh. Tidak mencari tahu keberadaan ceweknya.
“ Namaku Hira, Mbak boleh gabung kok. Tidak keberatan sama sekali” Erna segera menoleh ke arah pacarnya yang berjarak 3 kursi dari tempat duduk kami.
__ADS_1
“ Jangan panggil Mbak, Erna saja Mbak, seperti Kak Fer memanggilku. Dan tanpa melihat usia, aku akan memanggil Mbak karna Mbak pacar Kak Fer"
“Yank, kita pindah meja aku tunggu, balikkan badanmu“ Erna melambaikan tangannya. Tatapan matanya sama sekali tidak terkaget melihatku. Seperti sudah menunggu waktu yang tepat.
Pacar Erna ternyata Ryco, membuat mataku membelalak tak percaya, aku dan Mas Ferdian saling tatap. Dari tatapan Mas Ferdian, dia juga baru kali ini tahu jika pacar Erna adalah Ryco.
“ Bang Ryco, ternyata kamu! ( aku menunjuk jariku kemukanya sambil nyengir )" kataku agak kesal ketika Bang Ryco sampai di meja kami.
“ Dunia sempit ya,” gerutu Mas Ferdian sambil meninju pelan lengan Ryco.
“ Kejutan," Bang Ryco memandangi kami semua sambil menaik turunkan alisnya, jawabannya membuat Erna melongo.
“ Kamu kenal mereka Ryc? Kok gak bilang!” tanya Erna
“ Hmm." saut Bang Ryco cuek, tanpa embel-embel memperkenalkan aku teman kantornya. Dan aku teringat kalau Bang Ryco pernah keceplosan menyentilku kalau ada embel-embel pujian padanya bisa menjadikan dia jomblo alias pacarnya posesif.
“Dari tadi kamu anteng aja, gak noleh-noleh memang nunggu konfirmasi dulu? Jahat kamu ya Bang, tak mau menyapa!" aku memukul lengannya yang duduk di sampingku. Mas Ferdian memandangiku dan memandangi Bang Ryco bergantian. Aku dan Bang Ryco melongo melihatnya, karna sikap aku dan Bang Ryco di kantor biasa seperti ini.
“ Maksudnya apa ini? Ekspresi wajah kalian gak jelas. Dan untuk Kak Fer, kenapa masam gitu?”
“ Ryc kenapa kemarin tak ajak omong panjang lebar aja gak ngasih tahu kalau kenal Kak Ferdian dan Mbak Hira! Seperti orang bodoh aja kan aku kemarin.”
“ Ayo pindah- pindah Co, bahaya kamu ini!” sela Mas Ferdian yang langsung berdiri mengusir Bang Ryco yang duduk di sampingku. Mas Ferdian duduk dan memberikan kecupan di ujung kepalaku.
“ Gak apa-apa santai aja Er, dasar mantan iparmu tu posesif! Gak usah di hiraukan tingkah mereka. Lagian kemarin juga kita dah puas lihatnya.” kata Bang Ryco tak menyadari, aku langsung menoleh ke Mas Ferdian dengan tatapan bertanya. Dan Erna yang tiba-tiba menginjak kaki Bang Ryco yang mengaduh membuatku tak tahan untuk bertanya.
“ Tunggu-tunggu, maksudnya kemarin dah puas lihat. Lihat apa itu?" aku melonggo mengingat telah melihat mobil Ryco di parkiran. Bang Ryco hanya diam tak memberi jawaban atas rasa penasaranku.
“Waduh...waduh...gerakan anda dalam sistem sensor! Ternoda semua Ra wajahmu!" Bang Ryco menepukkan tangannya mengagetkan kami yang masih saling tatap-tatapan mata.
“Hmm." deheman Mas Ferdian tanpa rasa malu. Ingin rasanya mukaku, aku sembunyikan.
“ Gimana jika besok Bang Ryco ngosip sama Mbak Tari, pasti Mbak Tari mengira aku sudah tidak perawan lagi! Apalagi Mbak Tari tahu, kalau Mas Ferdian royal banget sama aku. Sepercayanya orang pasti tetap ada titik kecurigaan apalagi kalau masuk akal.” Batinku bergulat sendiri.
“ Kenapa sayang hemm, ( tangan Mas Ferdian terletak di pahaku memegang tanganku ) fikirin apa?" Mas Ferdian menatap hingga dalam manik mataku.
“Nanti aku beri pencerahan untuk hatimu” bisiknya sedikit menggoda dan terdengar tegas. Membuat aku sedikit merinding.
“ Jadi iri aku, mesranya.” Erna menyahut, tanpa memperhatikan kami dan fokus pada makanannya.
“ Nanti akan aku perlakukan kamu lebih dari itu, sayang.” Erna menatap tajam pada Bang Ryco.
“ Kakak masih hobi koleksi burung? Kok masih muncul disini ?” alih Erna dari Bang Ryco. Kata-kata Erna wajar-wajar saja tapi membuat hatiku terasa sakit.
“ Gak ada hubungan darah tapi sedekat itu kah?” fikirku dalam diam.
“ Masih, tapi sudah ter-rem macet, jadinya cuma lihat-lihat. ( Mas Ferdian melirikku, seolah memberitahukan bahwa remnya aku ) Sebenarnya kurang afdol jika sudah sampai di kota ini gak mampir ke sini.” Mas Ferdian tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangannya isyarat menyuruhku segera berdiri.
“ Masih mau di sini kamu Er, Kakak mau melanjutkan perjalanan soalnya.”
__ADS_1
“ Aku masih di sini aja Kak,”
“ Aku akan bayar sekalian, aku duluan Er,” pamit Mas Ferdian sambil meninju lengan Bang Ryco.
“ Makasih Boss” salam pisahan Ryco pada Mas Ferdian bersamaan ucapan maksihnya Erna. Dan aku ikut meninju pelan lengan Bang Ryco.
“ Dasar! Cewek cowok sama aja, gak ada bedanya. Kompak mau buat lenganku memar apa!” gerutu Bang Ryco sambil mengelus lengannya, yang masih terdengar olehku.
Kami melanjutkan perjalanan setelah makan siang. Tak lupa menjadikan dia imam salatku, dalam tengah perjalanan tadi. Dalam perjalanan, Mas Ferdian memutar musik siaran live lagi untuk menemani perjalanan kami. Terdengar lirik lagu, seolah Mas Ferdian sengaja memutarnya hanya untuk mewakili perasaannya.
Haruskah kuulangi lagi
Kata cintaku padamu?
Yakinkan dirimu
Masihkah terlintas di dada
Keraguanmu itu
Susahkan hatimu
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbesit olehmu?
Aku pun takut kehilangan dirimu
Ingatkah satu bait kenangan
Cerita cinta kita?
Tak mungkin terlupa
Buang semua angan mulukmu itu
Percaya takdir kita
Aku cinta padamu
Mas Ferdian meraih tangan kananku dengan tangan kirinya meletakkan tanganku di dadanya, tangan kanannya memegang stir mobil.
“ Dek, apapun yang kamu fikirkan tadi saat kita makan. Mas hanya bisa berkata mungkin ini sedikit menjawab pertanyaan di dalam hatimu. Erna adalah adik kandung Emma, ingatkan Mas pernah cerita. Dia tinggal di kota ini, tapi kakaknya tinggal di kota D. Si Emma punya saudara di kota Mas, dekat dengan rumah Mas. Makanya dia masih sering mampir ke rumah Mas. Dan Mas gak tahu kalau pacar Erna itu Si Ryco.” Penjelasan singkat Mas Ferdian padaku. Aku hanya mengedipkan mataku, tanda mempercayai dan aku tak banyak berbicara. Karna aku takut aku akan melukai hatiku sendiri.
“ Mas kapan balik ke kota A?”
“ Besok mungkin, “
“ Kok mungkin, emangnya gak kerja?”
“ Ya kerja ( Ferdian memikirkan schedulenya besok, rapat direksi di Perusahaan Hira, dia sebagai pemegang saham sendiri di sana. Rapat di cabang Perusahaan Mandala group di Kota C, sebagai Direktur ) ada urusan di cabang sini Dek,”
“Kirain, “
“Apa?”
“Khusus ambil cuti untuk ngobatin rindu.” mukaku penuh dengan kekecewaan. Mas Ferdian melirik tapi tetap cuek.
“ Mas, seandainya Mas sudah nikah. Pasti tak akan ketahuan ya, jika Mas punya selingkuhan di mana-mana. Cabang perusahaannya banyak, di mana-mana ada, terus sekali berangkat lama. Pas kan bisa ada teman tidur di mana-mana.” nadaku agak pedas. Tiba-tiba kata itu keluar begitu saja.
“Suatu peringatan keras, atau izin poligami nih?” jawab Mas Ferdian dengan enaknya, dan melirik mukaku yang masam.
“Lagian ini mulut kalau ngomong ngelantur ya! “ Mas Ferdian menepuk pelan bibirku dengan jari telunjuknya.
“ Apa daya diriku Mas jika memang iya, berarti memang beginilah nasibku” gerutuku dengan muka memelas. Tiba-tiba Mas Ferdian menepikan mobilnya membuka sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya.
“ Sayang, ( dia mengalihkan pandanganku untuk menatap wajahnya yang dari tadi aku memandang keluar kaca, karna mataku sudah tergenang air mata, dia menangkup wajahku ) kenapa ngomongnya nglantur terus dari tadi?” Mas Ferdian mengusap air mataku yang sudah menetes.
Apa kata Hira selanjutnya setelah perlakuan manis Ferdian
Kita ikuti pada episode berikutnya,👇👇
Nantikan episodenya,
Jangan lupa dukungannya ya...😘
Terimakasih...🙏🙏🙏
__ADS_1