
happy reading,
Pagi yang begitu cerah disambut oleh Ferdian yang kalang kabut dengan pekerjaan yang menumpuk dan kerisauan di dalam hati. Rencana Ferdian mau jemput Hira menemaninya ke puncak gagal, pekerjaan yang dilembur beberapa hari ini belum selesai juga.
“Bagaimana Boss?” tanya Dika.
“Siapkan mobilku saja, isi full bahan bakar. Aku tak ingin antri di tengah perjalananku. Siapkan pakaian santai untuk 3 hari, bawa tas ransel saja. Selesai meeting nanti aku langsung pergi. Handle kantor, soal Rinna terserah kamu nanti mau bilang apa.”
Thrut...
Chat masuk di handphone Ferdian, tanpa nama. Terlihat muka Ferdian yang serius dan terlihat sangat emosi.
“Ada apa Fer, mukamu serius sekali?” Ferdian memperlihatkan layar handphonenya pada Dika.
“Orang usil, melempar api di kumpulan daun kering.” Kata Dika, melihat foto Hira yang sebagian tertutup oleh tubuh laki-laki yang menghadap dekat dengan Hira. Menatap Hira dari jarak yang cukup dekat.
“Memangnya siapa yang sengaja mengirim ini Fer?”
“Tak tahu, tidak mungkin Ryco. Ryco sudah punya Erna, dia tak akan ada waktu sibuk melakukan sesuatu yang tidak jelas seperti ini. Aku tahu hubungan Ryco baik-baik saja dengan pacarnya. Sekagum apapun dia dengan Hira, dia tak akan melakukan ini. Jika Febrian, kemarin aku sudah menasihati dia, agar tidak mengharapkan kekasih orang lain. Aku rasa tanpa aku peringatipun dia orang yang cukup berfikiran bijaksana.”
“Apa kamu tahu siapa laki-laki yang bersama kekasihmu?”
“Fostur tubuhnya sangat familiar, tapi bukan Febrian. Ajukan meetingnya. Segera hubungi semua manager, untuk yang cabang line saja lewat zoom. Minta bantuan hubungi semua manager cabang untuk siap zoom.”
“Waduh-waduh, bencana!” Dika menepuk jidatnya.
.
.
Meeting di Perusahaan Mandala Group berjalan lancar, walaupun jajaran manager keteteran dengan waktu yang diubah mendadak. Ada yang masih dalam perjalanan karena dari luar kota.
To : Febrian
Feb, search tempatmu muncak. Cepet ya!
From : Febrian
Lokasi
“Aku tidak balik ruangan, jaga keamanan. Aku percaya padamu.” Ferdian langsung meninggalkan perusahaan menuju tempat parkir, setelah menerima lokasi dari Febrian. Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
.
.
Tiba-tiba suara kunci pintu kamarku berbunyi seakan ada yang membuka dari luar, membuat jantungku berdetak kencang. Handlenya bergerak aku menutup mataku menyelimuti tubuhku.
“Siapakah yang berani membuka pintu tanpa permisi pada penghuninya? Ya Allah lindungilah hambamu ini,” gunamku pelan menyelimuti seluruh tubuhku.
Terdengar suara langkah kaki semakin mendekat menghampiriku, aku semakin mengeratkan mataku di balik selimut. Seseorang duduk di bed tempatku membaringkan tubuhku. Terasa sentuhan tangan membuka selimutku perlahan, aku mencoba menenangkan hatiku. Masih tertutup mataku, berdetak kencang jantungku. Tubuhnya mendekat, terasa pergerakannya semakin mendekat. “Aku mengenal bau parfum ini,” batinku.
“Sayang,” bisiknya di telingaku. Aku membuka mataku perlahan memastikan suara yang aku dengar. Lampu tidur yang menyala tak begitu terang, tapi masih nampak jelas aku bisa melihat Mas Ferdian di hadapanku. Aku terduduk dan memeluknya.
“ Kenapa Mas membuatku takut? Kenapa tidak mengetuk pintu atau menelphoneku dulu? Aku takut Mas, Mas hampir membuatku jantungan.” Aku mencubit perutnya yang masih dalam pelukanku.
__ADS_1
“Maaf, maaf.” Mas Ferdian mengelus kepalaku yang tertutup kerudung tipis.
“Mas kok bisa kesini?” tanyaku masih tak bisa bekerja akal sehatku.
“Hemm,” jawab Mas Ferdian sambil membuka jas yang masih melekat ditubuhnya.
“Kok hanya hemm, jawaban apa ini?” batinku.
“ Ada selimut doubel?” aku melonggo mendengar pertanyaannya.
“Mas tanya, kok tidak dijawab?”
“Aku tidak tahu Mas. Mas mau tidur di sini?”
“Kalau tidak, Mas harus tidur di mana?” aku terdiam mendengar pertanyaan balik darinya.
“Aku takut Mas,”
“InsyaAllah aman, Mas mau salat dulu. Mas tadi belum salat isya’. Siapkan sajadah!” aku menganggukkan kepalaku, Mas Ferdian menuju kamar mandi dan aku menghidupkan lampu utama.
Aku menunggunya dari belakang Mas Ferdian salat. Aku memperhatikan kekhusu’annya memanjatkan do’a.
“Masih adakah do’a yang kamu panjatkan dengan kesempurnaan yang Allah berikan padamu Mas?” batinku.
“Selain kesehatan aku hanya meminta Allah selalu memberikan kebahagiaan dalam hubungan kita, Dek.” Katanya seolah dia mendengar pertanyaan yang ada dalam hatiku.
“ Amien.” Jawabku mendengar perkataannya.
“Tidurlah, Mas. Mas pasti lelah.”
“ Mas berbaring saja di tempat tidur, aku akan tidur di sofa.”
“ Lebih pantas seperti itu dari pada kita dalam satu ranjang.”
“ Biar Mas saja yang tidur di sofa.”
“ Kali ini aku yang pegang kendali, tidak boleh membantah.” Kataku dengan tegas agar tidak dibantah lagi.
“ Galak sekali,” kata Mas Ferdian.
“ Apakah tadi sudah ada kegiatan?”
“Belum ada sesuatu apapun, hanya makan malam.” Mas Ferdian mendekat dan mendaratkan bibirnya di keningku.
“Good night sayang,” aku menganggukkan kepalaku, menyelami tatapannya.
“Aku bahagia Mas, kita bertemu lagi. Kamu ada disaat aku benar- benar membutuhkanmu” aku terlelap hanyut dalam mimpiku terbuai usapan tangannya di ujung kepalaku.
“ Sayang, bangun. Sudah subuh, ayo kita jama’ah!”
“ He’em,” aku mengeliatkan tubuhku. Kami salat bersama. Dia menyimakku saat mengaji.
.
.
“MasyaAllah, inilah impianku. Seiman, sejalan, dan penuh dengan kasih sayang. Aku tak akan pernah melepaskanmu Mas, apapun yang terjadi aku akan berusaha bertahan. Kamu terlalu sempurna untuk masuk dalam kehidupanku. Mungkin tidak ada lagi yang sepertimu.” Batinku mendengarkan lantunan ayat suci melanjutkan ayat berikutnya.
__ADS_1
Pak Febrian
Calling,
“Selamat pagi, Pak.” Jawabku segera mengangkat telephone yang sudah 3 kali bergetar.
“Jam enam pagi ini, kita langsung jalan ke kebun teh. Kita sarapan di ujung jalan dekat kebun, ada warung makan di sana. Katanya sudah dibooking Pak Ryan. Anak-anak kasih tahu ya!”
“Iya, Pak.” Sambungan telephone tertutup begitu saja.
Aku mengirim chat pada groupku ( Mbak Tari dan Bang Ryco ), makan gratis, warung makan dekat kebun teh, jam 6 kumpul di sana.
“Ada apa, Dek? Pagi-pagi kok sudah sibuk sendiri.”
“Pak Febrian memberitahu untuk kumpul di kebun teh, sudah dibookingkan warung makan.”
“Em,”
“Kenapa mukanya kok ada sesuatu yang disembunyikan?” tanyaku pada Mas Ferdian, terlihat jelas dia menahan sesuatu seperti ada yang mau disampaikan.
“Nanti saja, kamu mandi duluan. Nanti baru Mas, pakai air anget pasti capekkan tidur di sofa?” aku hanya menyengir. Aku lihat Mas Ferdian mengambil tasnya dan mulai mengeluarkan pakaian. Aku melangkah ke pintu kamar mandi.
“Mas nanti malam tidur di sini lagi?” pertanyaanku setelah keluar dari kamar mandi.
“Jika tidak, Mas akan pindah kemana? Jangan konyol deh! Semalam Mas sudah tanya pada pengurus villa di sini ya, semuanya sudah penuh. Kamu tidak akan menyuruh Mas pulang ‘kan?” Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung memfikirkan jawaban apa yang akan aku berikan ketika ada pertanyaan dari yang lain.
“Sekalian kasih pengumuman jika sudah ada pemiliknya.” gunaman Mas Ferdian masih terdengar di telingaku. Aku pura-pura tak mendengarnya.
“Cepetan ganti Mas yang mandi. Entar ketinggalan, tidak enak sama yang lain, aku yang kasih tahu masak aku yang terlambat.”
“ Kebetulan dong, malah sudah komplit ngumpul semua. Tidak usah banyak kata hanya melihat sudah tahu bagaimana kondisinya.” Sambung Mas Ferdian yang sudah aku pahami arah pembicaraannya. Dia masuk kamar mandi, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Waduh, ternyata ini. Sama-sama merasakan seperti kami, Ra?" kata Ryco ketika aku dan Mas Ferdian keluar dari pintu kamar. Bang Ryco, Erna, Mbak Tari dan pacarnya sudah berjalan menuju kamarku, menghampiriku. Kulihat Mbak Tari menepuk jidatnya ketika melihatku dan Mas Ferdian yang masih memegang handle pintu. Dan Ryco menjulurkan lidahnya pada Mbak Tari.
" Mas Fer, baru tiba larut malam." aku berbisik memberi penjelasan tanpa ditanya pada Mbak Tari yang sepertinya resah ketika melihat Mas Ferdian.
"Tidak apa, Ra. Itu privasi kalian. Aku hanya kalah taruhan, hehehe"
"Maksudnya?"
"Aku taruhan dengan Ryco Ferdian datang atau tidak. Ternyata feeling seorang laki-laki lebih kuat Ra,"
"Aku juga tidak menyangka, Mbak. Dia akan datang, dia tidak pernah nilang padaku. Terakhir dia hanya bilang dia akan sibuk."
"Ra, ada yang tidak bahagia selain aku yang kalah taruhan."
"Maksudnya?"
"Dari tadi kamu tidak connect melulu. Emangnya semalam diapain Ferdian?"
"Fer, kamu apain adekku yang satu ini, dari tadi diajak ngomong gak connect!" protes Mbak Tari pada Mas Fer, yang ada di samping kiriku.
bersambung,
__ADS_1
mohon dukungannya 😘
terimakasih, 🙏🙏🙏