
Alhamdulillah, aku diterima di Perusahaan A di kota tempatku tinggal. Walaupun lulusan SMA, Allah bener-bener memberiku begitu banyak keberuntungan. Dan aku selalu mensyukuri kemudahan yang selalu diberikan Allah.
Sudah setahun aku bekerja. Dan aku masih menjalin cinta yang masih semu dengan Mas Ferdian. Dia masih belum muncul di hadapanku, tapi dia masih rajin memenuhi saldo di rekeningku. Kami seperti sudah pernah bertemu.
Mas Ferdian
Calling...
“Assallamuallaikum sayang,”
“ Waallaikumsalam”
“Sibuk gak, dah pulang kerja belum? Kemarin katanya mau daftar kuliah. Sudah jadi? Atau Mas yang daftarin aja?”
“Makasih Mas, tapi kemarin dah online. Besok aku mau ngurus adminnya."
“Uangnya ada ngak? Nanti Mas trasnsfer lagi.
“ Tidak perlu Mas, masih ada uang yang Mas kirim selama ini. Masih banyak banget. Matur suwun.”
Mas Ferdian yang begitu memanjakanku, dengan nol-nol berjajar di saldo rekeningku. Tapi aku tak pernah menggunakannya untuk membeli hal yang berlebihan. Aku takut jika suatu saat aku akan bergantung padanya.
Aku melewati hariku dengan kuliah dan bekerja, masih sama seperti yang dulu. Tapi bedanya dulu aku kerja kasaran dan sekarang aku di kantoran. Tapi aku juga masih memberi les private pada anak-anak tapi jamnya yang berbeda, karena sore aku ambil untuk kuliah. Mungkin karena waktuku yang begitu banyak sibuknya inilah yang membuat Mas Ferdian memberiku bulanan.
Dia hanya ingin aku memperhatikannya dan ingin aku tidak kelelahan. Sesibuk apapun aku, aku masih tetap membuat daftar Vip untuknya. Rasa ini tak pernah luntur sedikitpun, malah semakin hari semakin bertambah. Aku selalu memberikan nasehat pada diriku, “Hira, bertahanlah, berjuanglah. Ayo buatlah dirimu pantas di hadapannya!" Hal ini yang membuat Dwi, sahabatku mengeleng tidak percaya dengan kekonyolan kisah cintaku. Dia sanksi hidup yang mengetahui dari awal kisahku.
Walaupun berbeda universitas, aku juga masih berhubungan baik dengan Dwi, sahabatku satu- satunya. Terakhir kami bertemu sebelum dia berangkat ke Luar Negri. Dia anak orang kaya, hidupnya penuh dengan kemewahan, semua barang yang dipakainya serba bermerek. Beruntung aku mempunyai sahabat seperti dia, tidak sombong dan baik hati. Alhamdulillah aku selalu dikelilingi orang-orang yang baik. Di kantorpun juga seperti itu, penuh dengan orang-orang yang welas asih denganku. “Apakah paras wajahku memelaskan?" itulah yang aku fikirkan ketika orang bersikap baik padaku.
Selama dua tahun aku kuliah, Mas Ferdian sering sekali membantuku belajar. Masih betah, kami bersama dalam bayangan. Kadang aku memiliki fikiran “Akan bertahan berapa lama lagi hubungan ini? Akankah hubungan ini sampai dalam pernikahan, seperti yang selalu kami bayangkan? Kalaupun tidak bertahan, harus bagaimanakah aku? Sudah banyak sekali dia mengucurkan rupiah untukku. Tak mungkin dia tidak serius." fikiranku penuh dengan pertantaan-pertanyaan yang tidak mungkin aku tanyakan jawabannya. Ketika melihat teman- teman kuliahku yang bisa bergandengan tangan, bertatapan mata dengan mesra bersama pasangannya. Hatiku merasa iri, ingin sekali aku juga memiliki hubungan yang normal seperti itu.
Disaat fikiranku penuh dengan angan-angan yang gak jelas karna entah akan jadi kenyataan atau tidak. Di sebrang kota sana, ada yang lagi sibuk.
"Besok kamu ambil alih semua kerajaanku, berikan ini pada Pak Agum besok. Aku akan ke Cabang Kota C. Aku mau berangkat habis magrib. Kamu segera bookingkan aku kamar hotel dekat rumah Hira. Aku mau beri dia kejutan."
“Ok. Beres boss. Siap laksanakan. Akhirnya cerah juga hatimu, seorang anak gadis kau ikat tanpa kejelasan. Kau beri dia rantai besar dengan nol-nol di rekening tanpa kau tampakkan wajahmu. Kau menyiksanya dengan pengalaman cinta pertama yang semu baginya." Dengan semangatnya Dika berceloteh karena bertahun-tahun dia memendam pendapatnya.
“ Berisik kau, Jomblo! Kau hanya iri karena semupun kau tak punya”
“Semu saja kau banggakan, dasar orang langka. Apa kau tak ingin apa menggandeng tangannya, mencium keningnya?"
“Berisik! Bentar lagi akan aku lakuin. Jangan iri kau! Bye. Aku pergi dulu!"
__ADS_1
“Eleh, sampai sana juga dah kemalaman banget. Seempuk apapun jok mobilmu, paling juga sampai sana dah pengen tempar saja.” Dika mencibirnya habis-habisan.
“Sudah, jangan ngerocos terus! Bye.”
Dalam dinginnya malam, padatnya jalanan. Ferdian menembus perjalanan yang berjam- jam. “Ternyata benar kata Si Kunyuk, punggungku capek! Tahu gini aku bawa sopir." gerutu Ferdian yang mulai kelelahan karena tadi siang dia banyak pekerjaan. Mungkin itu juga yang menambah lelahnya.
Tiba di Kota C tanpa menghubungi Hira, Ferdian langsung tempar di kamar hotel sampai alarm subuh berbunyi.
.
.
.
Mas Ferdian ( 06.00 )
Calling....
“Assallamuallaikum Mas, pagi-pagi kok call??”
“Waalaikumsalam sayang, Mas kangen aja. Semalam mau call gak sempat soalnya. Adek entar kerja??”
“ Iya, ini hari Rabu ' kan? Tiap hari aku kerja. Emang kenapa?”
“Ada jadwal kuliah juga?? “
“ Iya-iya maaf. Mas takut etar dijawab basi. Ya sudah Mas mau siap-siap dulu ya, ada meeting pagi soalnya. Bye Dek, good luck ya. Entar hati-hati dijalan, jangan lirak- lirik!”
“Gak kebalik tuh, Mas yang jangan lirak-lirik, masih ada aku!" protesku.
"Jika masih dianggap!"gerutuku pelan menunggu Mas Ferdian berbicara.
“Ya masih dianggap-lah sayang, kok pagi-pagi dah sewot gitu sih.”
“ O...jadi masih terdengar ya? Ups, maaf. Good luck too, jangan lupa sarapan.”
Telephone terputus begitu saja. Mungkin Mas Ferdian begitu tergesa-gesa. Pada jam makan siang tiba-tiba chat masuk.
From : Mas Ferdian
Temui Mas di Cafe ABC dekat kantormu, Mas tunggu.
Tanpa aku balas, aku ulangi aku buka lagi, isinya masih sama. Aku tepuk-tepuk pipiku “Hira, apakah ini nyata?” gunamku tak percaya. Aku berlari keluar kantor tanpa menghiraukan temanku yang menegurku heran, tak kusadari aku berlari sambil bercucuran air mata. Betapa bahagianya hatiku, orang yang bertahun-tahun aku dambakan kehadirannya.
__ADS_1
Aku memasuki cafe, yang ramai pengunjung karena saat ini jam makan siang. Keramaian membuat mataku mengabsen setiap meja yang ada di sana mencari sosok yang telah aku bayangkan selama ini.
Aku mencari kontak namanya yang aku tandai di barisan paling atas.
Mas Ferdian
Calling...
“Assallamuallaikum sayang.”
Aku melihat seseorang yang dari tadi memandangku ketika aku memasuki pintu yang dari tadi juga aku memandangnya karna hanya dia yang duduk sendirian dari semua pengunjung cafe, di sudut cafe tempat yang di block private. Ketika dia mengangkat telephone saat tepat sambungan telephoneku masuk, kulihat gerakan bibirnya berucap sesuai yang aku dengar di telingaku. Aku langsung melangkah menghampirinya yang sudah mulai berdiri menyambutku.
“ Waalaikumsalam Mas," berkaca-kaca mataku siap hujan mengguyur pipiku, tanpa aku sadari sudah menempel wajahku di dadanya dan tanganku yang melingkar memeluk pinggangnya dalam waktu yang cukup lama. Kami lupa kalau kami berada di tempat umum. Tanpa permisi Mas Ferdian menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang masih memegang handphone di tangan kirinya dan mengecup keningku.
“Bidadariku, Pemilik Hatiku...cantiknya. Sudah makan siang belum? Bareng Mas maem yuk, laper.”
Aku menengok jam di tangan kiriku, “Sudah jam segini waktunya balik, gimana dong?” cemasku, yang terdengar oleh Mas Ferdian.
“Izin saja sayang, Mas udah di sini masak mau kamu tinggal? Kamu tega apa?” protesnya tanpa basa-basi.
“Iya..Mas, aku telpon Pak Divisi dulu ya? Bentar,”
“Met siang Pak, maaf saya mau izin tidak balik kantor. Ada keperluan mendadak soalnya.” Mas Ferdian memegang erat tangan kiriku yang aku letakkan di atas meja. Sambil dimainkannya, hingga terasa agak geli. Tanganku terasa dingin, karena betapa paniknya dan baru pertama ini aku bersama lelaki yang berstatus kekasihku.
Selesai menelepon Pak Divisi aku masih sibuk mengetik chat pada Mbak Tari, untuk membawakan tasku yang ku tinggal begitu saja. Dan akan aku ambil setelah selesai pertemuanku dengan Mas Ferdian.
Karena kedua tanganku yang sibuk memegang hp, Mas Ferdian memainkan ujung kerudungku karna tanpa aku sadari dia sudah pindah duduk di sampingku.
“ Sayang, udah belum sih? Sibuk amat, orang yang perlu diperhatikan ada di sini."
“Bentar lagi Mas, chat Mbak Tari nih. Tas aku masih di kantor, karna panik aku langsung lari tadi! Mas maem dulu, kalau nunggu aku entar keburu dingin."
“Siapa juga yang suruh Adek lari? Emang Mas tadi bilang cepat, Mas buru- buru. Gitu?” Mas Ferdian tiba-tiba menyuapiku, perasaanku tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, sesekali aku memandanginya, mengabsen setiap centi wajahnya, betapa tampannya, perawakannya yang tinggi atletis. "Inilah bukti nyata yang pernah aku dengar jika dia selalu menyempatkan waktu untuk olahraga disela-sela kesibukannya" dan matanya yang teduh membuatku nyaman.
Mas Ferdian yang ada di depanku, tak jauh beda dengan yang aku bayangkan. Dan tingkahnya sama persis dengan yang aku kenal selama ini, tak kurang sedikit pun. Kuhentikan chatan ku dengan Mbak Tari, ganti ku ambil sendok dan menyuapinya. Keakraban kami mengalir begitu saja, seperti ini bukanlah pertemuan kami yang pertama.
“Tadi yang bilang lapar siapa? Kok malah dari tadi, aku yang disuapi terus." protesku sambil mengantrikan sendok di depan bibirnya.
Kami melangkah pergi jalan-jalan tanpa aku membawa tasku yang tertinggal.
“Mas nyampai sini jam berapa?”
“Jam 12an lebih dikit. Agak macet. Maaf Mas gak bilang-bilang sebelumnya”
“Pantas saja, dari kemarin sore Mas gak ada kabarnya."
Tanpa aba-aba bibirnya dah nempel di kepalaku yang tertutup kerudung. Membuatku mendongak kesamping atas melihat wajahnya sambil memanyunkan bibirku.
“Kenapa? Perlukah kita pagi buta nanti antri ke KUA!!" gertaknya sambil nyengir menggodaku.
Malam ini berakhir setelah aku mengambil tas di rumah Mbak Tari dan Mas Ferdian mengantarkanku pulang tanpa menyapa orang tuaku karena hari sudah malam. Mas Ferdian tergesa-gesa karena tadi siang tiba-tiba Mas Dika chat jika besok ada rapat mendadak. Padahal Mas Ferdian sudah booking hotel 3 hari untuk tinggal di sini. Sepertinya keadaan tak bersahabat dengan kami.
__ADS_1
❤❤
terimakasih...sudah baca sampai akhir, kepoin episode berikutnya..😘