Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 30


__ADS_3

happy reading.......


Ferdian melepaskan pelukannya dari Hira berjalan menuju pintu, pesanan makanan datang. Hira mengambil kaset film yang dibeli oleh Ferdian, dia mencoba memutarnya. Gambar pertama yang keluar dari layar membuat Hira terperanjat kaget.


“ Kenapa beli film seperti ini sih Mas,” aku menaikkan kakiku di sofa. Mas Ferdian hanya senyum kecil menanggapi tingkahku. Dia membuka makanan yang ia letakkan di atas meja dengan santainya.


“Emangnya kenapa sih, sayang. Sini maem, entar keburu dingin lho.”


“Kita gak usah nonton saja ya? Filmnya tidak bersahabat deh!”


“Dinikmati saja, jika kita gak nonton terus mau ngapain?” aku melihat tatapan Mas Ferdian yang sedikit nakal. Membuatku mengumpulkan keberanian.


“Apanya yang dinikmati? Tapi dari pada aku yang dinikmati, ya sudahlah.” batinku membaca tatapannya.


“Ok, kita tonton sampai selesai.” kataku penuh dengan percaya diri. Aku teringat tentang pengumuman yang baru aku dapat tadi pagi. Tak mungkin jika Mas Ferdian mengetahui acara ini.


“Mas, “ Mas Ferdian masih menikmati makanannya. Membuatku tambah ragu dan takut untuk bilang padanya.


“ Mas,”


“ Ada apa sayang? Kamu ngak suka dengan menunya? Bukankah ini kesukaanmu?”


“Aku pengen ngomong sama Mas, serius.” mendengar kata serius Mas Ferdian meletakkan makanan yang ada di tangannya.


“ Bicaralah, akan aku dengarkan.”


“ Hari Jum’at nanti aku akan ikut muncak, acara kantor.” Aku tak berani berucap minta izin,


“Maaf aku gak meminta izinmu, jika aku minta izin pasti kamu tidak akan mengizinkanku Mas,” Aku menahannya di dalam hati. Aku mengamati tatapannya, tidak bisa aku duga.


“Khusus kantor? Atau boleh ada keluarga?”


“ Boleh ajak pasangan, tadi pemberitahuannya seperti itu.” Mas Ferdian lama sekali tak berbicara apapun.


" Atau...Mas mau ikut?"


" Sepertinya Mas tidak bisa menemani, seminggu ini sepertinya Mas sibuk." jawabanya membuatku kecewa.


 " Ya...bersenang-senanglah,” imbuhnya terasa ada beban di hatinya. Tapi aku tak mungkin tak ikut, tidak enak dengan yang lain.


“ Terima kasih,” aku menatapnya dengan senyuman, walaupun di hatiku aku tahu jika Mas Ferdian sebenarnya sulit mengizinkanku.


 


Waktu berlalu dengan begitu cepatnya, “Bisakah lebih lama lagi? Tolong hentikan waktu seperti saat ini saja. Aku masih ingin bersamanya.” Rintihan di hatiku, memeluknya dari belakang. Dia masih sibuk mengaitkan kancing kemejanya.


“ Haruskah Mas, tidak pergi?”


“ Bisakah kerajaanmu di sana tidak merindukanmu?” kataku.


“ Mereka tidak mampu tak merindukanku malam nanti Mas lembur,  sampai sana Mas langsung ke kantor. Pagi sekali ada meeting. Atau kamu yang ikut Mas saja.” Aku hanya menggeleng dari balik punggungnya. Mas Ferdian membalikkan tubuhnya sehingga membuat pelukanku terlepas.


“Calon istriku, do’akan aku untuk selalu sehat. Agar Mas bisa bolak balik tanpa lelah.” Aku hanya menganggukkan kepalaku, tanpa mengucap sepatah katapun.  Aku takut air mataku terjatuh.


“ Mas akan antar kamu pulang."


“ Aku naik taksi saja Mas, kasihan Mas muter-muter. “


“ Emangnya tidak apa? Iya tidak apa-apa kok,”


“ Permisi ya....” hanya instruksi permisi bibirnya menyapa bibirku, terasa hangat, dalam dan semakin erat dia memelukku.


Seolah ini pertemuan yang lama tak akan berjumpa lagi. Membuat hatiku takut. Ingin sekali aku menyerahkan apa yang aku miliki, agar dia tak akan meninggalkanku. Walaupun pergi jauh dia tetap kembali padaku. Tapi rasa takutku pada penciptaku selalu menjadi alarm di akal sehatku.


“ Sayang, sudah semua kan barang Mas?” katanya lembut, setelah puas menyapa bibirku.


“ Sudah kok, tinggal bawa.”


“ Jangan pernah lelah menungguku. Mas pastikan kita 'kan selalu bersama.” Mas Ferdian memelukku kembali, mengecup pucuk kepalaku lembut. Hangat dan penuh dengan rasa kasih sayang, itulah yang membuatku nyaman.


.


.


Setelah kepergian Mas Ferdian kemarin aku ngantor seperti biasa, tiga hari ini pulang kantor aku ke kampus. Malam hari baru ada waktu untuk telephonan dengan Mas Ferdian, sepertinya Mas Ferdian benar-benar sibuk. Tak ada sambutan chat di pagi hari ataupun peringatan makan siang, seperti dulu.

__ADS_1


“Ra, kamu sudah berangkat belum?”


“Belum, Bang.”


“Tunggu, akan aku jemput.” sambungan telephone Bang Ryco langsung tertutup.


“ Untung saja belum pesan taksi. Kenapa ngak bilang dari semalam saja.” Gerutuku mengambil tas gendong yang berisi barang-barang yang akan aku bawa.


Tak lama Bang Ryco sudah berisik di luar rumah membunyikan klaksonnya. Aku segera keluar. Aku melihat kursi disampingnya kosong.


“Bang, emangnya kamu tidak ngajak Erna? Kan cocok banget kondisinya buat orang pacaran.”


“Dia nyusul besok. Hari ini ada acara penting di kantornya.”


Kami melaju ke perusahaan, sudah ada satu bus besar terparkir di depan perusahaan. Pertanda tak semua karyawan ikut,  yang aku tahu hanya divisi selantai dengan divisiku yang ikut.


“Bang, artinya tidak keseluruhan dari lantai kita kan?” tanyaku sambil mengamati wajah siapa saja yang terlihat.


“Cuma berapa saja kok Ra, yang pilih juga Pak Ryan. Yang mendanaikan dia. Mungkin saja ini penebusan salam perpisahannya dulu untuk kita. Hehehe”


“Jangan bilang gitu! Bang entar aku sebangku denganmu saja ya?”


“ Boleh, aku parkir dulu. Kasihan ini mobilku akan aku carikan tempat yang hangat agar tak kedinginan beberapa hari di sini.”


“Ok.” tiba-tiba Pak Ryan menghampiriku mengajakku naik ke bus terlebih dahulu.


 


“Aku nunggu Bang Ryco, Pak.”


“Biar aku telephone dia, ayo kita naik dulu.” Aku asal ngikut saja, tak bisa banyak berkilah. Aku mengikuti Pak Ryan dari belakang yang sedang menelephone Ryco.


Pak Ryan mempersilahkanku duduk di barisan kursi nomer empat dari deretan belakang sopir. Aku menaiki bus tanpa menoleh-noleh. Siapa yang menduduki kursi yang telah aku lewatipun aku tidak mengetahui.


“ Kamu dekat jendela saja,” aku mengangguk,


“ Haduh, dengan dia ini aku duduk?” batinku. Aku melepaskan tas gendongku yang tak begitu berat, Pak Ryan membantuku meletakkan di tengah-tengah tempat duduk kami. Tanpa bertanya persetujuanku dia asal menentukan kami duduk berdampingan.


“Tak masalah kan Ra kita duduk berdampingan?” aku hanya tersenyum, bingung harus menjawab apa.


“Untung saja tadi tak jadi duduk sama dia, bisa jadi janda kembang aku.” batinku sambil memanyunkan bibirku ketika Bang Ryco melewati kursi tempatku duduk. Dia mendapat tempat duduk di barisan kedua dari belakang.


Aku hanya diam dalam perjalanan, Pak Ryan memberikan 1 headset  bluetooth. Dia memandangku dalam jarak yang dekat, mengedipkan mata agar aku segera memakainya.


Aku mengerti


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau t'lah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia

__ADS_1


 


Lirik lagu yang diputar membuat fikiranku traveling, “Harus bagaimankah aku? Ini hanyalah lagu atau ada sesuatu dibalik lagu?” aku berusaha menikmati tanpa terlihat terusik oleh lirik. Entah karna terlalu enak mendengarkan musik yang slow mellow atau lelah karena memikirkan bagaimana aku harus bersikap, aku terlelap dalam mimpi.


Aku terbangun karna ramainya isi bus yang berdesakan keluar mengambili barang-barang bawaan mereka. Ada jaket yang menyelimuti bagian atas tubuhku. Ku buka mataku melihat sebelahku, Pak Ryan memandangku seolah menunggu mataku terbuka.


“Maaf Pak, aku tertidur.” Aku melipat jaketnya dan mengembalikannya.


“Bukan lagi tertidur, tapi nyenyak dalam mimpimu yang panjang Ra.” aku hanya tersenyum malu mendengarkan jawabannya.


“ Terima kasih, jaketnya.” Aku mengambil tas gendongku dan dia mulai berdiri mengantri dari orang-orang yang tersisa.


“ Hati-hati kamu ya!” aku membaca gerakan bibir Bang Ryco yang masih mengantri di barisan belakang dari kursiku. Aku hanya memegang dahiku, memberi jawaban dari gerakan bibirnya yang aku tangkap.


Pak Ryan mempersilahkanku dan melindungiku dari belakang ketika kami menuruni bus. Febrian memperhatikan sikap Ryan saja, tak banyak berkeluh kesah di dalam hati. Febrian hanya berfikir, rasa sayang pada mantan anak buahnya.


“ Banyak pelindung ya Co.” Kata Tari masih antri di belakang Ryco.


“ Memang enak banyak pelindung, tapi bisa berabe urusan belakangnya.” Jawab Ryco pelan.


“Kak Fer orangnya cemburuan lho, kalau tahu.... waduh!" sahut Erna yang ada di depan Ryco.


“Gimana taruhan kita, Co?” tanya Tari.


“Pasti aku yang menang! Kamu tidak mendengar apa yang dikatakan Erna?”


“Dengar sih, tapi aku yakin dia tak akan datang. Aku dengar dia sibuk, dia itu petinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Tidak mungkin dia ke sini lagi. Kemarin lama lho, dia nginap di kota kita.”


“Tapi aku yakin, dia pasti akan datang.”


“ Yakin sekali. Atau jangan-jangan kamu sudah dapat bocoran?”


“Ya ngak lah, kontaknya saja aku tak tahu. Memang sempat kami makan bareng, tapi tidak sampai bertukar nomer.”


“ Ayo yank.... " ajakan Erna menghentikan obrolan Tari dan Ryco, calon Tari hanya diam menyimak.


Kami semua telah berkumpul dan mendengarkan instruksi dari pemandu, kami akan melewati jalan yang terjal untuk sampai lokasi.


.


.


Menjelang malam, kami baru tiba di lokasi. Kamar villa Hira dekat kamar Tari dan Ryco. Tari satu kamar dengan pacarnya begitu juga dengan Ryco. Ada dua bed dalam satu kamar. Hira hanya sendirian, seolah memang menunggu penghuninya. Ryan satu deretan dengan Febrian. Malam ini tak ada kegiatan apapun hanya makan malam bersama. Mungkin hanya dikhususkan untuk istirahat seusai menempuh perjalanan kaki yang sangat jauh.


.


.


Sunyinya malam ini, membuatku memutar lagu dan menyanyikan lirik dengan lirih,


Tolonglah aku dari kehampaan ini


Selamatkan cintaku dari hancurnya hatiku


Hempaskan kesendirian yang tak pernah berakhir


Bebaskan aku dari keadaan ini


Sempurnakan hidupku dari rapuhnya jiwaku


Adakah seseorang yang melepaskanku


Dari kesepian ini?


.


.


.


Pintu kamarku tiba-tiba kuncinya berbunyi ada yang memutarnya dari balik pintu. Membuat jantungku berdetak kencang, handlenya bergerak aku menutup mataku menyelimuti tubuhku.


"Siapakah yang berani membuka tanpa permisi pada penghuninya? Ya Allah, lindungilah hamba."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2