Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 16


__ADS_3

Ferdian keluar dari ruangan Febrian dengan raut muka yang tidak bisa dideskripsikan betapa suramnya penuh dengan penjelasan di dalam fikirannya. Febrian mengikuti langkah Ferdian yang tiba-tiba berdiri dan keluar dari ruangannya tanpa pamit. Langkah Febrian terhenti ketika menyaksikan kemana langkah Ferdian tertuju, Ferdian yang berjalan menuju meja Hira membuat Febrian berputar-putar memikirkan bagaimana kemarin raut wajah Hira ketika melihat Foto itu, nama yang salah dalam berkas. Febrian menemukan jawaban dari pertanyaan yang tak terlintas kemarin. "Semua itu bukan suatu kebetulan" gunam Febrian pelan.


 


Ferdian sampai di meja Hira, langsung mengambil tas Hira dan menggandeng paksa Hira keluar dari ruangan tanpa berkata- kata. Tanpa izin telah membawa pergi karyawan orang, Ferdian menarik Hira keluar melewati tempat Febrian berdiri. Ryco dan Tari hanya melihat tanpa berkata-kata, karna suasana begitu menegangkan.


Ryco dan Tari hanya saling berbisik tanpa menegur Hira karna begitu saja meninggalkan komputernya yang masih menyala.


“Co, save file Hira lalu matikan saja" kata Tari yang berbisik sambil melonggo.


“ Ternyata orang penting ya Ri, dan tampannya gak kalah ama bule."


“ Mulutmu! Orangnya bisa denger."


 


“Fer....tung....” kata Febrian yang tak selesai ketika Ferdian lewat depan Febrian berdiri. Ferdian tak menghiraukan, sepatah kata pun tak keluar.


 


“ Maaf Pak aku izin,” kata Hira dengan volume tinggi karna jarak yang semakin menjauh karna berjalan tergesa-gesa di belakang Ferdian, langkah Ferdian begitu panjang.


 


Sampai di depan mobil, Ferdian pun masih memegang tangan Hira dengan begitu kencangnya.


 


“Mas, lepasin malu tahu. Dari tadi Mas menarik paksa aku seperti istri yang ketahuan selingkuh di tempat orang lain saja." Kataku jengkel karna pergelangan tanganku  dan tumitku merasa sakit karna jalan cepat ditarik olehnya. Mas Ferdian masih terdiam tak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia membukakan pintu mobil dan mempersilahkan aku masuk, membuka sepatuku yang berhak tinggi.


 


“ Biarkan saja Mas, ( dia mengelus-elus luka lecet di tumitku, dan agak memijat pelan. Mungkin dia menyadari jika dia telah menyiksaku dalam mengikuti langkahnya ) Lepaskan! Nanti juga baikkan sendiri." kataku sambil berusaha menarik kakiku dari peganggan tangannya.


Masih belum terdengar suaranya yang biasanya bermanis-manis padaku. “Perasaan aku yang lagi mode marah, kenapa dia yang bersikap melebihiku. Apakah ada sesuatu yang lebih banyak lagi yang tak aku ketahui?” pertanyaanku penuh penekanan dalam hati, karna risau.


 


Dia melajukan mobilnya sangat kencang tanpa berbicara padaku, tiba-tiba mobil berbelok  pada hotel. Dia membukakanku pintu mobil, masih dalam keadaan diam. Aku berjalan di sampingnya dalam genggaman tangannya. Dia chek in hotel yang telah terpesan semalam, terdengar dari resepsionis hotel yang bertanya pada Mas Ferdian. Aku berfikir "Ternyata sudah dari semalam dia berencana ke sini dan chatnya adalah kode untukku, tapi aku mengacuhkannya."


"Aduh Hira kenapa kamu tidak peka." gunamku pelan.


Dia menggandengku seolah aku akan kabur saja. Dia mengajakku memasuki kamar hotelnya. Tapi tak terlintas di fikiranku kalau dia akan berbuat macam-macam padaku. Entah apa yang akan di fikirkan orang lain jika melihatku masuk dalam kamar hotel bersama laki- laki. Dia mendudukkanku di sofa dekat tempat tidurnya, mengambilkan kompresan air hangat. Menarik kakiku di pangkuannya dan menaikkan sedikit celana panjangku,  mengompresnya tumitku, masih dalam mode diam. " Jika seperti ini dia seperti orang yang kejam, hilang sudah stempel ramah tamahnya" batinku melihat dia memperlakukanku.


 


“ Tak ada kata permisi kah, untuk bertindak seperti ini? “ kataku membuka suara memecahkan hawa dingin di antara kami.


 


“ Yang aku sentuh hanya menurut saja dari tadi." jawabnya tak ada rasa manis godaan. Aku berusaha menarik kaki ku, baru kali ini aku berfikir "Mungkinkan dia menganggapku wanita gampangan? Hanya karna aku perempuan miskin jika dibanding dengan dirinya“ aku teringat penggalan lirik  sebuah lagu yang akhir- akhir ini di play Mbak Tari.


 

__ADS_1


 


Juga mustahil bagiku


Menggapai bintang di langit


Siapalah diriku


Hanya insan biasa


Semua itu sungguh aku tiada mampu


Salah aku juga


Karna jatuh cinta


Insan sepertimu seanggun bidadari


Seharusnya aku cerminkan diriku


Sebelum tirai hati aku buka untuk mencintaimu


 


Tiba-tiba air mataku menetes, mengingat lirik lagu yang beberapa hari ini selalu terdengar di telingaku. Tanpa berkata Mas Ferdian mendekat dan mengecup dahiku begitu lama. Terasa hangatnya bibirnya menempel di dahiku menyentuh relung hatiku merasakan dalamnya kasih sayangnya padaku.


 


“ Maafkan aku, maaf...maaf...” perkataan maafnya bagaikan dia tidak bisa menebus rasa sakitku.


 


“ Sayang..." Mas Ferdian menatap, menangkup wajahku, tanpa berkata lagi dia mendekapku erat, ‘lupa bukan muhrimnya’ menyandarkan dagunya di pundakku dan berulang kali mengucapkan maaf dengan penuh arti.


 


“ Kata maafmu tidak bisa menjelaskan banyak pertanyaan yang bermunculan di hatiku Mas, juga tidak melunturkan prasangka yang ada di fikiranku Mas” kataku sambil melepaskan tubuhku dari dekapannya.


 


“ Sayang...dengerin Mas baik-baik. Kita klarifikasi dari awal,


Pertama : Mas minta maaf, kamu menghubungi Mas tapi gak Mas angkat. Mas saat itu ada di luar kota bersama putri boss Mas 'Dia masih menutupi, tidak menyebutkan namanya' batinku terasa nyesek. Dan  2. Hp Mas, Mas tinggal di kamar hotel. Malamnya Mas sudah hubungi Adik, tapi gak kamu angkat."


" Biasanya tak pernah bisa kamu tinggal handphonemu Mas“ batinku memprotes perkataannya.


 


Aku masih terdiam, karna dia masih tak melanjutkan penjelasannya. Semakin fikiranku terbawa lirik awal lagu tadi, yang selalu mengusik fikiranku. Menempatkanku di dalamnya.


 


Dinginnya angin malam hari ini

__ADS_1


Menyapa tubuhku


Namun tidak dapat dinginkan


panasnya hatiku ini


 


“Dek, sayang..." Mas Ferdian menempelkan jari telunjuknya ke daguku dan membuatku mendongak menatap wajahnya.


 


“Pantaskah diriku untukmu Mas, hm?" kataku lirih penuh dengan rasa merendah, tak berartinya diriku.


Tak ada jawaban hanya tatapan mata yang teduh memandang benik mataku, tiba-tiba dia mengecup bibirku yang bergetar karna pertanyaanku, kecupan di bibir untuk yang pertama kalinya. Dalam tapi singkat karna batasan iman yang masih mengingatkan kami.


 


“Jika kamu masih membahas hal seperti itu lagi. Sepertinya Mas akan kehilangan iman Mas, yang selama ini Mas pertahankan. Kamu tahu kan? Mas tidak suka kamu membahas hal seperti itu!”


 


“Tapi masalahnya di sini berkaitan erat dengan itu Mas!”


 


“ Masalah mana yang mengarah ada kaitannya dengan hal itu? “


 


“ Mbak Rina dan aku berbeda, dia lebih...." Mas Ferdian mengecup singkat lagi bibirku dan aku terdiam tak berkata lagi.


Aku melihat dia kaget mendengar nama Rina aku sebut, tapi tak ada penjelasan yang lebih lanjut tentang nama yang telah aku sebut. Aku berdiri dan mengambil tasku yang di taruh Mas Ferdian di atas tempat tidurnya. Aku melangkah menuju pintu, dia berulang kali memanggilku untuk tidak meninggalkannya, tapi aku tak hiraukan. Dia mengikutiku dari belakang dan memelukku.


“ Demi Allah Dek, jangan seperti ini. Aku sangat menyayangimu, kamu tahu betul, perasaan Mas muncul sebelum kita ketemu, perasaan Mas nyata adanya sebelum dan sesudah tahu latar belakangmu. Aku menyayangi hatimu Dek, bukan yang lainnya. Aku harap kamu tidak pernah lagi merendahkan dirimu, membandingkan dirimu dengan orang lain." Aku memegang tangannya erat yang melingkar di perutku.


“ Apakah suatu saat akan masih sama seperti ini Mas? Perasaanmu  tak akan berubah dengan alasan apapun?” aku membalikkan tubuhku dan memandang kedalam matanya.


“ Jika pun terjadi sesuatu kamu tetap akan di hidup Mas, di hati Mas. Mas tak kuat tanpamu Dek, sedetikpun Mas tidak sanggup. Hatimu, tutur katamu, yang ada pada dirimu adalah tempat ternyaman untuk Mas singgah. Sekarang Mas akan antarkan kamu pulang, Mas tidak mau melewati batasan. Kamu maafin Mas kan sayang?" perkataannya penuh permohonan.


Aku hanya menganggukkan kepalaku. Sungguh aku tak sanggup melepaskannya, aku tak sanggup tanpa dirinya. walaupun masih ada ganjalan di hatiku karna dia tak pernah membahas nama yang telah aku sebut.


 


 


Ikuti lebih serunya di episode berikutnya👉👉


Mohon dukungannya...😘


Terimakasih..🙏🙏🙏


 

__ADS_1


 


__ADS_2