
Emma tertidur menunggu balasan Rinna yang telah lama ditunggunya karena hari hampir menyambut sang penyinar semesta muncul, matanya tak tahan untuk melihat layar pipih lagi tanpa disadari ia pulas terhanyut oleh mimpi.
“Mas, aku ingin kita bersama lagi. Kamu tahu sendirikan jika Wanita yang kamu puja itu tidak setia denganmu? Aku mohon kembalilah padaku.”
“Tak akan pernah. Semenyedihkan apapun kamu memohon padaku aku tak akan mengurai rasa sakit yang telah kamu tinggalkan padaku. Cukup kamu ingat saja sendiri, aku tidak akan pernah tertipu lagi.” Emma memeluk Ferdian dari belakang mencoba menahan kepergian Ferdian dari hadapannya.
“Lepaskan aku Em, kita sudah tak ada hubungan apapun lagi. Jangan membuat kisruh dalam hubuganku dengan Hira. Aku sudah merasa bahagia bersamanya.” Ferdian menghela nafasnya seakan terdengar dia lelah dan telah jenuh berkata-kata.
“Lepaskan, kenapa kamu mempermalukan dirimu seperti ini. Kamu bisa mendapatkan orang yang lebih dari aku. Mencoba ikhlaskanlah aku. Aku telah mengikhlaskan rasa sakit di hatiku padamu. Akan aku do’akan kamu bahagia.”
“Tidak, ( Emma menggeleng kepalanya berulang kali sampai Ferdian merasakan dengan jelas pergerakan Emma ) aku tak akan melepaskanmu Mas, rasa sayangku padamu masih utuh seperti dulu.” Emma membahu bau parfum yang masih sama seperti dulu membuatnya semakin terperosot di masa lalu.
“Jika kita membahas masa lalu, bukankah terdengar aneh Em? Kamu sudah bersama orang lain dan aku juga sudah memiliki Hira dalam kehidupanku. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Selama ini pintu rumahku masih terbuka untukmu, tapi tidak dengan hatiku Em. Hormatilah orang yang sekarang ada di sisiku, dengan cara jangan mengungkit masa lalu. Itupun jika kamu ingin menjaga tali silaturohim yang selalu kamu katakan selama ini. Dan lepaskan pelukanmu.” Emma masih mengeratkan pelukannnya. Menggelengkan kepalanya di punggung Ferdian, Ferdian mencoba melepaskan tangan Emma yang melingkar di perutnya dengan kasar tapi masih belum bisa terlepas juga.
“Em, harus dengan bagaimankah aku harus bersikap padamu? Aku Lelah menghadapimu.” Air mata Emma lolos meluncur deras, Emma sudah tidak kuat menahan lagi. Dia merasakan diriinya yang sudah hina memohon seperti tidak ada laki-laki lain yang akan menyentuhnya.
“Aku juga tidak tahu Mas, aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Aku tidak bisa menyimpan rasa ini. Semakin aku mencoba menyimpannya terasa semakin sakit. Apalagi jika kamu bersama orang lain.” Ferdian menghembuskan nafas kasar dengan senyuman yang mengejek mengingat masa lalu yang berakhir bukan karena kesalahannya.
“Sudah Em jangan dibahas lagi, Aku lelah! Aku harus pergi. Jika bisa jangan sampai muncul di hadapanku jika kamu tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri.” Ferdian menghempaskan tangan Emma dengan kasar ketika pelukan Emma mulai mengendor.
Dret…dret…
Getaran handphone Emma yang terletak di dekat telinganya yang tadinya terlepas dari genggaman tangan yang telah digunakan sebagai bantalan tidur. Membangunkannya dari mimpi yang terasa nyata, Emma terbangun dan mengelap pipinya yang berjejak basah akibat aliran air matanya.
“Ya Tuhan Mas, terasa sakit kata-katamu di alam mimpi hingga membuatku yang sudah tak punya hati setelah tak bersamamu sampai meneteskan air mata. Seandainya aku mengungkapkan hal ini di dalam dunia yang nyata apakah kamu juga akan semenyakitkan ini padaku?” rintih Emma mengusap air matanya mengingat mimpinya yang menyedihkan.
“Rin…Rin… Sesabar itukah kamu menutupi segala sesuatunya? Sehebat ini kah kamu menahan rasa sakit di hatimu? Aku yakin karna aku juga wanita yang mengharapkannya, kamu pasti kebingungan dan ketakutan ketika kamu tidak melihatnya di kantor apalagi tidak ada jadwal Dinas Luar. Terserahlah Rin, seberapa jauh kamu akan membohongi dirimu sendiri. Yang pasti aku akan menghilangkan satu per satu batu yang menghalangi jalanku sampai aku bisa berjalan dengan nyaman tanpa rasa risau ataupun waspada dalam fikiranku.” Emma membaca pesan dari Rinna yang tertera terkirim jam empat pagi.
__ADS_1
Dret…dret…
Terlihat pesan dari Nadia, Emma membukanya.
From : Nadia
Siang, hari minggu gini sudah bangun belum? hai, pemalas! Aku sudah pulang.
Emma melihat jam yang ada di pojokan layar handphonenya, dia merasakan sakit di perutnya yang sudah merasakan lapar yang terasa sampai melilit.
“Ya Tuhan, jam setengah tiga sore! Gila! Aku tadi tidur sampai jam segini? Gara-gara ngimpi yang tidak ada bahagia-bahagianya, pantas saja perutku sampai sesakit ini.”
“Mas… Mas… harusnya kamu masuk dalam mimpiku memberiku kebahagiaan, mengajakku makan romantis biar aku bangun dengan tersenyum dan tidak kelaparan seperti ini.” Gerutu Emma beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dan segera membuat badannya segar.
.
.
.
“ Hah aku harus dalam satu atap lagi. Bagaimana ini?” Aku bertanya pada diriku sendiri, menyusuri jalan menuju kamarku di villa yang diikuti langkah Mas Ferdian. Aku kebingungan bagaimana harus bersikap, siang tadi sudah bertanya tukar kamar pada Bang Ryco tapi tidak ada hasil, yang ada malah dapat muka cemberut Mas Ferdian.
“Harus bagaimanakah aku, Ya Allah berikanlah aku situasi yang bisa menghindarkanku pada apa yang aku takutkan. Harus bagaimanakah aku bersikap, seandainya dia sedikit lalai dan melewati batasan? Seandainya aku berusaha menghindari keadaan seolah aku orang yang munafik dan seolah aku tidak percaya dengan keseriusannya padahal dia sudah resmi melamarku di depan Bapak dan Ibu.”
“Ya Allah kenapa Engkau menguji imanku seperti ini Ya Allah, Engkau tahu ini sulit bagiku.” Rintihku di dalam hati tanpa tahu bagaimana solusinya untuk menghadapi situasi ini.
“Sayang, Mas rasa-rasakan dari tadi kamu diam saja, kenapa?” tanya Mas Ferdian saat aku membuka kunci kamar.
__ADS_1
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Apakah kamu kefikiran soal kata-kata Mas yang ‘pertanda kita arungi malam ini….‘ iya, itu?” aku masih terdiam mendengar pertanyaan Mas Ferdian.
Kami akhirnya memasuki kamar kami, jantungku jeder-jeder seperti mau perang saja. Bibirku masih terdiam tidak tahu harus bicara apa. Suasana jadi kaku, padahal ini bukan yang pertama kami bertemu.
“Kenapa suasananya jadi seperti ini? Ya Allah bantulah aku mencairkan suasana agar aku tidak salah lagi dalam menghadapi situasi saat ini.” Batinku.
“Sayang, yuk jama’ah. Kita tadi belum salat isya lho!” Aku menyibukkan diriku membersihkan tempat tidur menata selimut dan mengganti sarung bantal yang baru, tersedia di dalam almari. Kata pembuka Mas Ferdian membuatku sedikit lega, akhirnya suasana sedikit mencair.
“Iya Mas, akan aku siapkan sajadahnya. Mas mandi dulu pakai air hangat biar nyenyak nanti tidurnya besok Mas akan pulang nyetir kan?” mengingat besok akan melewati peerjalanan jauh, fikiranku jadi terusik.
“Betapa besar pengorbanannya. Meluangkan waktu, meninggalkan pekerjaannya, menempuh perjalanan jauh dari sana ke sini. Pantaskah aku mendapatkan semua ini tanpa aku sedikit memberikan pengorbanan mendahulukan egoku?”
“Hai, ( Mas Ferdian menepukkan kedua telapak tangannya di depan mukaku. Membuyarkan semua lamunanku yang terlalu banyak fikiran ) Apa yang kamu fikirkan? Jangan banyak memikirkan sesuatu yang tidak penting. Mas mandi dulu, kamu juga bersiap nanti gantian kamu yang mandi! Bahu minyak di tubuhmu sudah berubah.” Mas Ferdian mendekatkan hidungnya di depan dadaku membuatku sedikit memundurkan tubuhku. Aku mencium-cium bau di ketiakku dengan hirupan sedikit kasar, membuat Mas Ferdian sedikit tersenyum mengejek.
“Ih… apaan sih Mas, masih wangi!” aku menepuk lengannya, dia masih berdiri di depanku. Segera melangkah ke kamar mandi.
.
.
bersambung,
ikuti kisah serunya, di episode berikutnya..😘
terima kasih atas kunjungannya, mohon dukungannya.
__ADS_1
semoga selalu diberi kesehatan...