Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 38


__ADS_3

“Tidak aku sangka kamu ya Nad, terang-terangan kamu membela Hira sampai seperti itu! Apakah aku kurang baik padamu selama ini? Kata-katamu menunjukkan kamu sudah benar-benar membelanya hingga kamu tak berfikir apakah kamu menyakitiku atau tidak. Iya, aku tahu dia memang teman satu perusahaan tapi kalian tidak akrab sama sekali bahkan mungkin Hira sama sekali tidak mengenalmu.” Gerutu Emma setelah mengakhiri chat dengan Nadia.


“Ternyata aku tak bisa meremehkannya begitu saja. Dia bukan hanya dalam kalangan pasaran kelas teri, tapi dia juga dilirik oleh orang yang berkelas juga. Aku harus benar-benar memikirkan strategi yang jitu!”


“Jika aku tak bisa memilikinya kamu juga tak akan bisa memilikinya.” Emma menatap dengan tajam foto seorang wanita yang di pandang mesra oleh seorang lelaki yang perfect dari sisi manapun, yang masuk dalam galeri dari pengiriman chat Nadia.


Sampai larut malam Emma gulang-guling di atas tempat tidurnya, memikirkan cara bagaimana mendapatkan kembali cinta yang dulu pernah ada. Mendapatkan kembali kepercayaan yang ada di hati Ferdian. Emma flashback pada masa lalunya dengan Ferdian “Seandainya aku dulu lebih banyak berfikir dalam melangkah pasti tak seperti ini. Mungkin kami sudah menikah dan menjalani rumah tangga yang Bahagia. Sudah menimang seorang putra.” Gunamnya menggingat masa-masa indah yang mereka lalui di masa lalu. Air mata Emma lolos meratapi kebodohan dan keserakahan di masa lalu.


To : Rina Si Malang


Santai sekali perusahanmu ya? Sampai-sampai seorang Direktur bisa tidak ada di tempat!


Tiba-tiba tangan Emma mengetikkan pesan di chatnya yang dikirimkannya pada Rina. Di tengah malam yang merasa sunyi tidak ada sepasang matapun yang terbuka, jarum jam menunjukkan pukul dua malam.


“Aku rasa sebentar lagi kalian akan terpisah oleh jarak Kembali.” Gunaman Emma melihat jam yang tertera dalam layar pipihnya yang masih bertahan dalam genggamannya semenjak chatan dengan Nadia, senyuman sadis terlintas di wajahnya.


.


.


.


Ketika di tengah malam Rinna merasa haus setelah melalui mimpi buruknya, dia berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air minum.


“Ya Tuhanku mimpi apa yang Kau berikan padaku? Apakah itu suatu pertanda atau hanyalah sebuah mimpi yang akan berlalu begitu saja?” Rinna mencoba mengingat-ingat apa yang ada di dalam mimpinya tadi sampai membuatnya merasa haus dan terbangun.


“Pah, aku mohon biarkanlah aku bersama Mas Ferdian. Kenapa Papa tiba-tiba berubah fikiran? Papa sudah terlanjur memberikan harapan padaku, Papa yang dari awal membuat hatiku bergerak untuk membuka hati pada Mas Ferdian. Memasangkanku dengan Mas Ferdian kemanapun Mas ferdian pergi hingga membuatku terbiasa padanya bahkan membuatku bergantung padanya.”

__ADS_1


“Papa senang Rin kamu menikah dengannya, tapi papa tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi ini semuanya. Papa memang dari awal beharap kamu bersanading dengannya, itu tujuan Papa. Papa tidak tahu umur Papa sampai kapan, dan memang Papa mengharapkan Ferdian bisa menjadi pendampingmu mewarisi perusahaan ini. Papa akan lebih tenang meninggalkan dunia ini.”


“Aku tidak bermaksud membahas hal warisan Pa, aku hanya ingin membahas kenapa Papa tiba-tiba berubah fikiran?” Pak Agum belum menjawab pertanyaan Rinna tiba-tiba Rinna mendengar suara handphone pertanda pesan masuk terdengar di telinganya.


.


.


“Rin!” suara Pak Agum mengagetkan Rinna yang sedang mengembara dalam kilas mimpi yang telah membuatnya terbangun.


“Iya Pa, Kok tengah malam begini Papa bangun?” Pak Agum ikut bergabung duduk di depan Rinna, di kursi meja makan yang telah di dudukinya sampai nyaman dalam lamunan.


“Papa hanya ingin minum air hangat, Rin. Tenggorokan Papa rasanya tidak enak. Papa perhatikan, kenapa kamu malah bengong melamun di sini?” Rinna hanya menjawab dengan gelengan kepala, membuat Pak Agum semakin curiga.


“Apa ada masalah Rin? Apa ada urusan kantor yang membuatmu tertekan?”


“Hemm” jawaban singkat Pak Agum.


“Jika seperti itu, maka istirahatlah. Jaga Kesehatan Papa! Ketika Rinna memerlukan bantuan suatu saat nanti maka Papa akan segera dengan cepat bisa membantu Rinna. Okey?”


“Baiklah putri Papa yang cantik,” Pak Agum memandang Rinna dengan tatapan yang sayub.


“Okey, Pah. Sekarang cepatlah kembali istirahat. Rinna akan segera naik.”


“Iya Papa akan segera kembali istirahat, naiklah terlebih dahulu Papa akan segera menyusul.”


Setelah berpamitaan dengan Papanya Rinna segera naik Kembali ke lantai atas menuju kamarnya. Rinna Kembali berfikir-fikir, “ Sepertinya tak ada pertanda apapun dari Papa. Papa bersikap baik-baik saja, tidak ada aura rasa tertekan atau apapun. Mungkin tadi benar-benar hanya sekedar mimpiku saja. Ataukah mungkin Mas Ferdian telah mengatakan sebenarnya pada Papa tanpa sepengetahuanku ya? Mungkin saja kan?”

__ADS_1


Rinna memasuki kamarnya, segera membuka handphone yang tadi secara jalas telah membangunkanya dari mimpi yang belum tahu kelanjutannya membuatnya bangun dalam banyak pertanyaan.


“Apa ini?” pertanyaan yang muncul di bibir Rinna setelah melihat tertera nama Emma di layar handphonenya.


“Selalu seperti ini, apa sih sebenarnya mau dia? Apakah dia benar-benar seorang teman yang benar-benar berniat sebagai teman? Atau selama ini dia hanya membuatku kepanasan? Jika dia berniat seperti itu maka dia tahu jika aku memiliki rasa dengan Mas Ferdian dong!”


“Aduh, bagaimana ini? Lalu kenapa info yang selalu diberikannya hanya memanasi hatiku? Aku tahu dengan jelas dulu memang Mbak Emma yang membuat Mas Ferdian untuk meresmikan mengesahkan perpisahan mereka. Tapi Mbak Emma kan telah memiliki pasangan yang tadjir, tampan, dan terkenal.” Fikiran Rinna terlalu lama bergelut kalut.


Tak tahu arah jalan pemikirannya. Rinna sama sekali tidak mengetahui info terbaru mengenai Emma setelah Emma putus dengan Ferdian, yang Rinna tahu Emma telah menjalin kasih dengan seorang pengusaha sukses tanpa tahu siapa itu, padahal cowok baru Emma dulu itu adalah relasi kantornya, dan dulu Rinna pernah bertemu dengan cowok itu. Karena selama ini yang banyak menangani urusan kantor adalah Ferdian. Tapi tak pernah terlintas sedikitpun di fikiran Rinna untuk mencari tahu atau pun menyimpan perihal tentang mereka di dalam memorinya. Yang terlintas di fikiran Rinna hanyalah bagaimana caranya membuat Ferdian terkesan padanya dari sisi penampilan, ketrampilan dalam bekerja, berlatih bijaksana dalam menghadapi apapun karena seperti itu juga yang selalu ditekankan Ferdian dalam membimbing Rinna selama ini.


"Tidak mungkin dia ingin mendapatkan Mas Ferdian lagi. Hah!" keluh Rinna melepaskan nafasnya dengan kasar.


"Aku sudah lama menunggunya move on darimu, kenapa kamu mengusikku keetika aku berjuang. Bahkan diwaktu Papaku sudah mempertanyakan kesanggupan Mas Ferdian hidup denganku. Disaat aku menunggu kesanggupan mas Ferdian yang akakkkn di keluarkan dari bibirnya sendiri setelah dia mencoba selalu menolakku.


To : Mbak Emma


Perusahaan kami menghargai privasi karyawan bahkan seorang direktur sekalipun yang memiliki segudang tanggung jawab. Apalagi selama seorang karyawan bisa mempertanggung jawabkan pekerjaanya maka tak ada batasan ataupun halangan bagi seorang karyawan atas urusan pribadinya.


Rina mengirimkan balasan dengan hati yang sungguh greget karna merasa terusik.


.


.


bersambung....


selalu ikuti terus kisahnya, 😘

__ADS_1


terima kasih atas kunjungannya, semoga selalu di beri perlindungan dan sehat selalu....


__ADS_2