Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 64


__ADS_3

“Kamu akan tetap jadi prioritasku sayang, jadilah istriku.” Aku hanya mengelengkan kepalaku, dia membalikkan tubuhku, mendekapku dengan erat.


“Aku sayang padamu Dek, aku tidak ingin melepaskanmu, aku tidak ingin kehilanganmu.”


“Mas masih memiliki kenangan kita begitupun aku, dan akan segera menjadi masa lalu. Bijaksanalah Mas, mana kekasihku yang dulu selalu bersikap tegas, berwibawa, bertanggung jawab dengan seluruh apa yang telah menjadi keputusannya?”


“Dia hilang karena kamu berkeinginan untuk tidak ada di sampingnya lagi. Hatinya yang rapuh kini kembali lagi.”


“Jangan membuatku menjadi orang yang jahat dalam cerita kita Mas, dalam kisah kita biarkanlah aku tetap menjadi wanita yang tegar dan mandiri seperti diriku sebelum aku mengenalmu. Tetap menjadi wanita yang bijaksana dan baik hati, tidak menyakiti hati siapapun. Dan kita akhiri hubungan kita dengan kata ‘mungkin kita tidak berjodoh’ mungkin Allah telah merencanakan suatu yang lebih indah dari semua yang telah kita lewati.”


“Aku tidak ingin melewatkan jodoh sebaik dirimu sayang,”


“Mungkin kita memang tidak berjodoh dalam hubungan suami istri, mungkin jodoh kita hanya sebagai sahabat saja. Kakak-adik mungkin itu sebutan yang tepat untuk kita. Jadi jika Mas masih ingin menjaga silaturokhim denganku kita akan mengubah hubungan ini menjadi kakak-adik tidak lebih dari itu.” Aku melepaskan pelukannya yang sudah mulai merenggang.


“Kenapa jadi seperti ini, adegan kali ini sungguh menguras hati. Hinga banjir di setiap sudut.” Aku mengusap air matanya yang menetes tanpa suara.


Aku mengecup bibirnya, Mas Ferdian menambah memperdalam ciumanku sesaat membuatku mulai terbuai kembali.


“Ini ciuman terakhirku sebagai seorang kekasih.”


“Emuach.” Aku mencium pipinya singkat.


“Itu sebagai ucapan selamat datang untuk seorang kakak. Maafkan aku selama ini telah merepotkanmu Mas, membuat kantongmu terkuras banyak hanya untuk mengisi saldoku.” Jarinya menutup bibirku menghentikan ucapanku.


“Aku tahu kamu tidak banyak menggunakannya, Dika memberikan laporan setiap enam bulan sekali. Dan kamu sama sekali tidak meminta apapun darimu, bahkan aku merasa aku tidak bermanfaat sama sekali. Hingga aku merasa aku hanya menyita waktumu untuk meladeniku saja.” aku mengelengkan kepalaku, menggenggam tangannya menepuk punggung tangannya, kami masih betah berdiri.


“Jangan mengatakan hal seperti itu. Kamu memberikan hari-hari yang berharga penuh dengan warna dalam hidupku yang hitam putih Mas. Dan ini adalah salah satu kenyataan yang harus kita jalani kedepannya harus penuh dengan senyuman. Aku akan mengenang hal-hal yang indah diantara kita, pendewasaan yang kamu ajarkan padaku akan aku kenang. Aku berharap, Mas juga akan mengenang kata-kata manisku saja, dan melupakan hal buruk yang pernah aku katakan.” Aku menghembuskan nafasku.


“Aku balik, selamat istirahat. Jaga kesehatanmu baik-baik Mas, jalani pernikahanmu seperti layaknya pernikahan lainnya. Lakukan kewajibanmu dengan baik, berikan hak yang sudah sepantasnya Mbak Rin dapatkan. Salam untuk Mbak Rin dan sampaikan maafku.”


“Janji jangan pernah menghindariku jika aku ingin bertemu denganmu ( mungkin ekspresiku terlihat aku enggan untuk menjawabnya ) aku janji sebagai kakak!” wajah Mas Ferdian terlihat memohon penuh dengan tatapan manja. Aku merasa hatinya sudah mulai meluluh dengan tekadnya tadi yang begitu kuat untuk menikahiku.


Tatapanku penuh dengan selidik hingga membuat wajahnya terkesan bertambah manja menunggu jawabanku. Membuatku menerbitkan senyuman.

__ADS_1


“Hemm.” Aku mengangguk dengan sedikit ragu, dia sama sekali tidak mempertanyakan kenapa aku memberinya nasehat untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang suami padahal Mbak Rin menemuiku dengan diam-diam. Aku mulai berfikir mungkin saja, Mbak Rin sudah ketahuan sebelum Mas Ferdian datang ke sini.


“Suami istri ini sepertinya akan menambah ujian kesabaranku untuk menahan diri.” batinku setelah mengiyakan permintaan Mas Ferdian.


“Semoga saja mereka tidak akan vulgar mengumbar urusan kebutuhan batinnya padaku. Ya Allah kuatkanlah hamba jika ini ujian kesabaran dariMu.” Aku masih menatapnya, Mas Ferdian masih memegang kedua tanganku.


“Aku pamit Mas, hari benar-benar sudah malam. Aku tidak ingin ibu khawatir, karena akhir-akhir ini aku tidak pernah pulang larut.”


“Tunggu, Mas antar kamu.”


“Tidak perlu Mas, aku tidak akan membebani hatimu dengan rasa ewuh pada orang tuaku.”


“Mereka juga orang tuaku, Dek.” Aku hanya tersenyum simpul.


“Aku naik taksi, Mas istirahat saja. urusan di sini sudah selesai kan? Segera kembalilah, Mbak Rin pasti sudah merindukanmu. Jangan menambah dosamu hanya karena sesuatu yang tidak penting.”


“Kamu tetap akan jadi bagian penting dalam hidupku Dek!” kata-katanya penuh dengan penekanan.


“Terima kasih Mas,” aku menyalami dan mencium punggung tangannya.


“Pernahkah kamu berfikir akan menghadiri pernikahan kami? Resepsinya belum digelar, mungkin sebentar lagi. Papa mertua yang menginginkan hal itu. Sebelum itu terjadi makanya Mas memohon padamu kita bisa menikah terlebih dahulu, ini alasan Mas menemuimu.” Lelah membahas hal ini, aku menarik Mas Ferdian dari depan pintu dan aku keluar begitu saja. Aku tak mendengar langkah yang mengikutiku, aku mengelap air mataku yang mengalir tiada henti.


Sampai di lobi tidak sengaja aku melihat paras seperti Pak Febrian duduk di sofa seolah menunggu seseorang. Aku melewatinya tanpa menyapa, aku menyembunyikan wajahku agar tak terlihat olehnya. Aku tidak bisa berfikir lagi apa yang akan aku katakan ketika dia bertanya ada urusan apa aku di sini. Aku bernafas lega ketika samapi di pintu keluar, tidak ada yang memanggilku. Aku duduk ditaman depan hotel. Aku mengambil nafas dalam dan menghembuskannya, mencoba menenangkan hatiku.


“Ra, tenang okey!” aku berkata pada diriku sendiri.


Setelah hatiku sedikit tenang, aku berdiri baru aku sadari jika bayangan tubuhku telah menutupi bayangan seseorang membuatku segera membalikkan tubuhku.


“Pak Febrian,”


“Haruskah aku bertanya Ra?” aku hanya diam tidak merespons. Dia mengulurkan tangannya padaku, aku menatapnya tidak tahu apa yang akan aku katakana ataupuon bagaimana aku harus ersikap padanya.


“Kenapa? ( tanya Pak Febrian yang masih melihatku hanya menatapnya ) akan aku antar pulang.” Aku menyambut tangannya yang masih menungguku. Ku tidak bisa memikirkan apa yang akan difikirkan Pak Febrian ketika aku mau menyambut uluran tangannya.

__ADS_1


Aku memasuki mobilnya, Pak Febrian mempersilahkanku membukakan pintu mobilnya. Memasangkan sabuk pengaman untukku, aku hanya diam tidak bergerak ataupun tidak menolak. Entah apa yang ada di fikiranku. Masih kutatap laki-laki yang berputar kedepan memasuki mobilnya, duduk di sampingku menyalakan mesin mobil.


“Kenapa Ra, bukan pertama kalinya kan kamu melihatku. Atau mungkin kamu sudah terpesona padaku?” tanyanya dengan senyuman. Mencoba mencairkan suasana.


“Terlihat seperti itukah, mukaku saat ini?” jawabku kubalas dengan pertanyaan, keluar begitu saja dari bibirku, dengan senyuman dan masih menatapnya.


“Sepertinya sih tidak,” jawabnya kecewa, tapi menampilkan senyuman di wajahnya.


“Aku tidak akan bertanya apapun padamu Ra, aku anggap aku tidak melihatmu dari mana kamu keluar. Dan apa yang kamu lakukan saat aku menemukanmu.”


“Terima kasih. Cukup turunkan aku di jalan raya, dekat dengan lorong rumahku.” Kataku tanpa ekspresi.


“Haruskah seperti itu?”


“Mungkin akan lebih baik seperti itu.” Jawabku lagi.


“Aku akan tetap mengantarkanmu sampai rumah, setidaknya kamu tidak akan banyak berbohong pada orang tuamu ketika mereka bertanya, dan mereka tidak banyak mengkhawatirkanmu.”


“Tapi aku bisa menghadapinya sendiri, aku masih bisa berfikir realistis.”


“Jika kamu tidak memberikanku jawaban yang menyenangkan dengan yang lalu, setidaknya kamu mengikuti saranku saat ini. Seperti halnya dirimu sekarang, walaupun kamu sedih kamu akan tetap menunjukkan wajah yang tenang dan tersenyum penuh dengan kedamaian. Begitu juga orang tuamu, walaupun nantinya mereka tidak bertanya jlan apa yang kamu ambil tapi mereka tetap khawatir di belakangmu. Ingin mempertanyakan dan memberikanmu sebuah solusi tapi mereka tetap akan berdiam diri menahan karena menghormatimu yang sudah dewasa, membiarkanmu memilih jalanmu untuk tidak kamu sesali dikemudian hari.” Aku hanya diam, tidak berkata apapun.


Pada akhirnya aku hanya mengikuti Pak Febrian seperti kerbau yang dicocok hidungnya saja. aku tidak memaksakan lagi keinginanku untuk turun di gang dekat rumah. Herannya lagi, air mataku mengalir saat aku masih berada di sampingnya. Membuatku kebingungan untuk mengelapnya.


“Jangan menangis lagi, semuanya sudah terjadi seperti ini. Tidak ada gunanya kamu membuang-buang air matamu. Hanya ada dua hal yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi situasimu, yang pertama kamu bisa menjadi istri kedua Ferdian, sesuai izin Rinna yang dia katakan. Atau kedua, lanjutkan hidupmu menikah denganku walaupun suatu saat ada kemungkinan kalian bertemu tapi akan aku pastikan kalian bertemu ketika perasaanmu telah sepenuhnya menjadi milikku. Seandainya kamu pilih pada pilihan yang pertama, kamu tetap akan tersakiti walaupun ada kebahagiaan di dalamnya. Fikirkanlah baik-baik, semua orang pasti berharap hanya akan menikah satu kali saja.”


“Terima kasih, maaf.” Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan. Mobil Pak Febrian berhenti tepat di depan rumahku.


Rumah terasa sepi, tidak tahu juga tetangga sekitar juga telah sepi. Tidak ada satupun pintu rumah yang terbuka.


“Untuk menghindari ketidak nyamanan lebih baik tidak perlu mampir, maaf telah bersikap tidak sopan. Dan terima kasih sudah mengantarkanku pulang.” Aku berkata padanya, ketika dia memegang handle pintu mau ikut turun ketika aku sudah bersiap turun.


“Fikirkan baik-baik, aku hanya ingin melihatmu bahagia Ra,” aku mengedipkan mata saat menatapnya, ku lihat ketulusan di dalam tatapannya.

__ADS_1


Lanjut episode berikutnya,


__ADS_2