
happy reading...
Setelah merasakan malam yang telah larut tanpa kami sadari, setelah Mas Ferdian menerima pesan dari Letiana yang hanya dibaca tanpa di balas. Aku meminta Mas Ferdian untuk segera istirahat.
“Ayo kita bobok Mas, aku tidak mau ya Mas kecapekan dan menunda segala plan.”
“Lebih baik menunda plan sayang, dari pada mengambil resiko. Bagaimana jika kita nginap lagi semalam atau besok malam saja kita baru pulang, dan Senin pagi baru sampai di kota C. Bagaimana?”
“Enak sekali aura Pak Boss ya, tinggal mundar-mundur tidak memikirkan resiko untuk orang lain.”
“Kok malah jadi kemana-mana?”
“Siapa juga yang suka bahas nunda-nunda sesuatu?”
“Iya…iya, tidak ada yang salah darimu. Baiklah Bu Boss, tapi Mas tidak janji jika Mas kecapekan bisa langsung ngebut. Kamu tidak boleh banyak protes.”
“Okey, sebelum dicoba kita tidak akan tahu hasilnya.”
“Iya, sebelum dicoba kita tak akan tahu hasilnya” Mas Ferdian mengulang apa yang aku katakan entah apa yang ada dalam fikirannya.
“Kenapa Mas mengulang perkataanku? Apa ada yang salah dengan perkataanku?”
“Tidak salah tapi butuh dilaksanankan.” Mas Ferdian semakin mendekatkan tubuhnya padaku masih dalam posisi tubuh yang miring menggunakan sikunya sebagai tumpuan penyangga kepalanya, aku memperhatikan wajahnya yang menggoda. Aku hanya diam tak bergerak sedikitpun, mengingat dulu dia pernah mengatakan untuk menguji pertahanannya. Aku akan mencoba mengujinya, “Apa yang akan dilakukannya ketika aku diam mencoba pasrah” batinku menahan jantungku yang sudah tidak bisa aku ikuti detak iramanya.
“Mas akan tidur di sofa,” Kata Mas Ferdian tiba-tiba setelah wajahnya begitu dekat bahkan bibirnya sedikit lagi akan menempel di bibirku, hembusan nafas hangatnya sudah aku rasakan menghembus di kelopak mataku.
“Syukurlah…” batinku mendengar Mas Ferdian akan tidur di sofa.
“Biar aku saja Mas,”
“Nanti kamu capek sayang,”
“Dari pada Mas yang kecapekan, toh sofa ini lebih empuk berlipat-lipat dari pada tempat tidurku yang…. “ Mas Ferdian mengecup bibirku tiba-tiba, menghentikan perkataanku.
Membuatku tersadar bahwa dia tidak menyukai aku membahas hal-hal materi seperti itu apalagi berujung membeda-bedakan. Tanpa aku sadari kecupannya membuatku membuka bibirku, terpelongo terkaget seolah memberikan peluang padanya memperdalam ciumannnya. Aku merapatkan bibirku setelah aku terengah,
“Sudah Mas,”
“Salah siapa?”
Aku menatapnya tajam, mempertanyakan kesalahanku yang mana. Terpelongo sampai memberikan akses padanya hingga membuatnya memperdalam ciumannya atau aku yang membahas ketidak beruntunganku hidup di dunia.
“Sudahlah… hari sudah malam, ayo segera tidur.” Aku memberikan kecupan di pipi dan dahi Mas Ferdian yang menempatkan dirinya di tempat tidur, setelah aku lelah membujuknya. Mas Ferdian melongo aku memberikannya kecupan padanya.
“Good night Mas, mimpi indah. Segera tidur, besok berjuang mengarungi jalan raya.” Mas Ferdian segera memejamkan matanya, aku melangkah menuju sofa ingin segera mendaratkan kepalaku menyambut hari esok.
“Sejujurnya aku tidak ingin memejamkan mataku Mas, aku tidak ingin mengakhiri waktu ketika memiliki moment indah bersamamu. Aku tidak ingin malam ini berlalu menembus pagi, aku tidak ingin terpisah lagi denganmu Mas. Setelah hari esok tiba, jarak akan memisahkan kita lagi.” Batinku. Aku masih nyaman menatap wajahnya dari tempatku tidur, dia sudah terlelap dalam mimpi.
__ADS_1
Aku terlelap sendiri masuk ke alam mimpi setelah nyaman memandang wajah tampan kekasihku.
.
.
“Aku tak akan sanggup jauh darimu, sayang. Apapun yang terjadi suatu saat sebelum ataupun sesudah kita menghalalkan hubungan kita, kita akan tetap selalu bersama. Aku memang belum memastikan keputusan akhir bagaimana dengan Pak Agum, tapi aku sudah jujur pada Rinna di mana hatiku berlabuh, sayang. Aku pastikan aku tidak akan mengorbankanmu hanya untuk kepentingan orang lain. Semoga Allah memudahkan langkah kita. Do’akan Mas, sayang. Agar Allah selalu memudahkan urusan Mas. Mas tahu, pasti aka nada yang terluka, tapi aku tidak akan melukaimu. Kamu segalanya bagi Mas, kamu yang membuat rasa sakit Mas menghilang dan memberikan sinar yang terang dalam gelapnya hatiku.” Kata yang keluar dari bibir Ferdian ketika mengusap kepala Hira yang terlelap dalam tidur tanpa.
Calling
Febrian…. ( 04.00 )
“Iya, gimana Fer?”
“Nanti Hira akan pulang denganku. Kalian berangkat lebih dulu saja. Ryco dan Tari akan aku beri tahu, nanti berangkat dulu saja. Jangan beri pengumuman untuk menghindari sesuatu yang tidak baik.”
“Okey, aku tahu kok. Sebenarnya plannya siang baru balik dari sini, tapi tidak tahu kok tiba-tiba Pak Ryan ingin segera balik.”
“kamu tahu lah apa sebenarnya alasan Ryan seperti itu, tapi jangan dibahas. Terima kasih pengertiannya. Take care ya…”
“Ok. Take care too… “
Setelah menelephone Febrian, Ferdian mengambil handphone Hira. Ferdian membuka chat dan mengetikkan pesan,
Nanti tidak perlu menghampiri kami, kami akan pulang bersama. Tolong sampaikan pada Ryco, Ri. Agar dia tidak ribut pagi-pagi di depan kamar kami. Aku akan membiarkan Hira tidur sedikit lebih lama. Kami begadang sampai larut malam. Jadwal pulang kalian dimajukan nanti jam 06.30, mungkin sebentar lagi kalian akan dapat pengumuman. Terima kasih.
Ferdian mengetikkan namanya di akhir pesannya yang dikirim pada Tari dari handphone Hira. Setelah menerima pesn dari Ferdian, Tari segera mengirim ullang pesan ferdian ke nomer Ryco.
“Hik, ( muka Ryco ketika membaca pesan dari Tari, tidak bisa di kondisikan lagi. Tak berbentuk entah apa yang ada di fikirannya ) Apa ini?”
“Apa sih Ryc, apa ada berita mengejutkan?” tanya Erna heran dengan ekspresi muka Ryco yang melongo tak kunjung merapat, seolah ada berita yang buat orang histeris. Erna merebut handphone Ryco yang masih ditatapnya.
“Em, kita ada jadwal pulang lebih awal? Syukurlah, jadi aku besok bisa ngantor. Nanti bisa istirahat full. Terus apa yang membuatmu histeris gitu? Sampai tegang sekali!”
“Kamu tidak membacanya dengan cermat?” Erna mengambil kembali handphone Ryco yang sudah dikembalikannya tadi.
“Nanti tidak perlu menghampiri kami, kami akan pulang bersama. Tolong sampaikan pada Ryco, Ri. Agar dia tidak ribut pagi-pagi di depan kamar kami. Aku akan membiarkan Hira tidur sedikit lebih lama. Kami begadang sampai larut malam. Jadwal pulang kalian dimajukan nanti jam 06.30, mungkin sebentar lagi kalian akan dapat pengumuman. Terima kasih. Ferdian.” Erna membacanya dengan penuh penekanan dan volume yang sedikit lebih tinggi dari volume yang biasanya dia gunakan dalam berbicara.
“Terus yang mana yang aneh?”
“Itu…. Kami begadang sampai larut malam!”
“Lha terus, kenapa memangnya?”
“Kamu itu aneh tahu Ryc! Wajar kan? Seperti kita misalnya, keasyikan gibah jadi kemalaman bicara. Atau ada sesuatu yang perlu di bahas hal serius jadi buat tidak bisa tidur. Kan bisa? Memangnya apa dan kenapa? Wajar kan? Emangnya apa yang ada di fikiranmu?” tanya Erna jengkel dan terheran denga napa yang di fikirkan kekasihnya itu.
“iya juga sih…” jawab Ryco masih terlihat terbebani dengan pemikirannya.
__ADS_1
“Iya, jika itu benar Er, jika begadangnya itu-itu? Astafirullah, Ryco jangan berfikir negative tentang your sister. Okey?” Ryco mendamaikan hatinya.
“Sudah, jangan berfikir yang aneh-aneh! Raut wajahmu seperti mengetahui pacarmu bercumbu dengan pria lain saja! Bantu aku berkemas, Ryc!”
“Sebentar lagi, baru juga jam 05.00, masih satu setegah jam lagi!”
“Jangan menyepelekan, waktu berjalan dengan cepat.” Erna mengeluh karna melihat Ryco yang masih sibuk dengan pemikirannya.
“Iya iya, baiklah sayangku.” Ryco memeluk Erna dari belakang dan mencium leher Erna, yang sedang sibuk merunduk memasukkan pakaian dalam koper.”
“Ih, apa sih Ryc. Geli, nanti tidak akan selesai-selesai. Atau kamu mandi saja dulu. Dan cepat belikan aku sarapan. Mungkin saja kita tidak akan ada sarapan sebelum perjalanan pulang.”
“Kok gitu, memangnya tidak lapar?”
“Kamu tidak tanggap sekali sih? Kamu amnesia apa!” Ryco mengangkat bahunya tidak tahu apa yang di maksud dengan Erna.
“Ya Tuhan, Bapak Ryco Maulana Malik Ibrahim. Anda tidak curiga dengan plan pulang yang tiba-tiba dimajukan tidak sesuai jadwal?” Ryco masih mengangkat bahunya merespon arah pembicaraan Erna.
“Ya Tuhan, Pak Boss lagi mode haredang-haredang. Kepanasan dibakar api cemburu, sayang!” Erna mengungkapkan pendapatnya pada Ryco yang masih bergelayut manja menempelkan dagunya di bahu Erna mendaratkan tangannya di perut rata Erna yang langsing sempurna. Ryco melongo menolehkan kepalanya yang masih menempel di bahu Erna membuat hidungnya yang mancung hamper menabrak pipi Erna.
“Aku tidak kefikiran sampai situ Er,”
“Emangnya apa yang kamu fikirin? Jangan macam-macam ya?”
“Maksudnya dengan macam-macam, macam-macam apa?” Ryco mengusapkan ujung hidung Ryco di leher Erna.
“Jangan seperti ini Ryc, geli.” Erna sudah merinding dibuatnya.
“Nanti ini ( Erna menghentakkan pakaian yang dipegangnya ) tidak selesai-selesai. Kita ketinggalan Bus! Tidak mungkin kan jika kamu meminta Bossmu menunggu? Tidak lucu!” Erna tertawa kecil, membayangkan wajah Bossnya Ryco yang hitam merah padam melihat Hira dan Ferdian bermesrahan.
“Kok ketawa, liar kemana fikiranmu Ryc?” Erna hanya menggelengkan kepalanya. Ryco semakin mengendus-endus leher Erna.
“Please hentikan Ryc, salah siapa parfummu menggodaku.”
“Oh, jadi hanya parfumku yang menggoda?”
“Er jangan mancing ya, kamu tahu aku tidak bermaksud seperti yang kamu ucapkan.” Ryco semakin megeratkan pelukan tangannya di perut Erna, menelusupkan wajahnya di leher Erna.
“Iya…iya ampun!” Erna memohon Ryco menghentikan apa yang dilakukannya.
“Okey,” Ryco mengakhiri dengan mencium pipi Erna yang putih mulus. Ryco membantu mengemas barang-barang bawaan mereka.
Bersambung,
terima kasih atas kunjungannya, 🙏🙏🙏
mohon dukungannya, sehat selalu..😘
__ADS_1