
Aku dan Mas Ferdian sudah agak lebih lega walaupun masih ada ganjalan di hatiku. Mas Ferdian masih menutupi perihal tentang nama yang telah aku sebutkan tapi tak pernah muncul di bibirnya ketika di hadapanku. Padahal jika di flashback mantannya saja di ceritakan padaku, tapi mengapa nama wanita itu tak muncul dari bibirnya.
Mas Ferdian mengantarkanku sampai depan rumah, dia tidak mampir dan tidak juga aku persilahkan karena hari sudah tengah malam. Untung saja, tadi Mas Ferdian segera minta izin pada Ibu lewat telephone, sehingga orangtuaku tidak menungguku dengan rasa was-was.
“ Sayang, besok kamu kerjanya setengah hari saja ya? Nanti akan aku izinkan."
“ Hmm.( tiba- tiba jawabku singkat, setelah mendengar akan di izinkan ) masih ada yang ingin aku tanyakan Mas, tapi besok saja saat ketemu" sambungku melembut lagi.
“ Baiklah Dek, see you. ( Mas Ferdian menarik tanganku dan mencium punggung tanganku ) Jangan banyak fikiran, biarkan ini ( dia mengusap kepalaku lembut ) istirahat, ok? Aku sayang kamu Dek” masih terasa berat dia melepaskanku.
“ Met jumpa besok Mas, hati-hati di jalan.” kataku melembut.
Pagi ini aku bangun dalam suasana hati yang lebih cerah, karena kemarin aku memutuskan untuk bersikap egois. Aku ingin memberikan kesempatan pada hatiku untuk bahagia. Bertahan sampai akhir, membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Tanpa aku mengantisipasi apapun. "Ya Allah aku menyerahkan segala sesuatu urusanku padaMu” yang selalu ku ucapkan dalam hatiku.
“Pagi Ra," sapa Mbak Tari yang sudah memulai pekerjaannya.
“ Ada pelangi di bola matamu," sahut Ryco dengan melodi.
“Co, lagumu selalu kena di hati. Habis hujan Co, biarlah kita melihat pelangi.” nada bicara Mbak Tari seperti orang baca puisi.
“Baru latihan untuk kontes baca puisi, Mbak?” aku mengomentari Mbak Tari yang sedang menyindirku.
“Ra, kemarin dah tak save. Aku tengok dikit sih kemarin, coba cek! Ada yang sedikit aku rubah." Ryco menarik kursinya dekat denganku, menghidupkan komputerku dan menunjukkan pekerjaan yang aku tinggal kemarin karena buru-buru.
“ Ok Abangku, terima kasih.( suaraku berbisik karna jarak kami begitu dekat ), Bang entar aku pulang lebih awal. Mau izin, agenda hari ini gimana?"
“Santai, gak akan memberatkan kami kok,( muka bang Ryco terlihat masam tak sesuai kata- katanya ) kami kemarin loss menderita karna kamu mencari kebahagiaanmu sendiri“ lanjutannya, terlihat mukanya yang suram.
“ Maaf, ( suaraku pelan menghadap Bang Ryco ) maaf Mbak Tari, sorry ya kemarin," volumeku kencang condong ke arah Mbak Tari sehingga Bang Ryco menutupi sebelah daun telinganya karna suara cemprengku.
“Masih kurang satu yang harus kamu mintai maaf," aku melonggo menatap kaget hingga mataku bertemu dengan manik mata Bang Ryco.
“Mukamu dikondisikan, ekspresi tak jelas ( bang Ryco menyentil pelan jidatku, membuatku mengaduh ) tu, Pak Febrian" Bang Ryco menunjuk ruangan pak Febrian.
“ Aku harus ngomong gimana ini? Gunamku sendirian bingung dan masih diperhatikan Bang Ryco dan aku menyadarinya.
“Apa? Cepetan pindah. Kerjaanmu kan banyak." kataku berlagak agak manja sambil mendorong kursinya, Mbak Tari tak begitu memperhatikan kami karna dia sibuk sekali.
“ Iya...iya, bawel. ( Bang Ryco sudah berdiri ) kenapa tadi mukamu seperti itu, kayak lagi mode pasangan yang bertengkar, perang diam" Bang Ryco mendekatkan mulutnya di pendengaranku.
Hanya ku jawab dengan pukulan di lengannya.
“Hayo, kalian sibuk ghibahin apa coba, sampai ada adegan pukul segala! “ kata Mbak Tari yang sudah mendekat pada kami, memberikan tumpukan berkas untuk meminta persetujuan Pak Febrian.
“ Apa ini Mbak? Naikkan! Segera ya, ditunggu Bagian Keuangan soalnya, dari tadi Mbak ditelephone terus “
“ Aduh, ( aku menepuk jidatku, kebingungan ketemu Pak Febrian ) Bang, tolong ya kamu yang masuk ke sana, entar aku yang antarkan ke Bagian Keuangan ya...ya..." rengekku pada Bang Ryco yang belum geser dari tempatnya.
“Hadapilah apa yang harus kamu hadapi, apapun itu, selama apapun, kamu menunda pasti waktu itu akan datang juga" kata-katanya penuh penekanan.
“ Mulai...mulai...” Aku berdiri meninggalkan Bang Ryco yang tausyiah.
“ Semangat adikku yang imut, hehehe.” kata Bang Ryco, aku melangkah meninggalkan Bang Ryco dengan perasaan yang bercampur aduk, mengingat aku telah mengelak dari pertanyaannya kemarin.
Aku mengetuk pintu ruangan Pak Febrian, menunggu perintah masuk darinya. Aku melafazkan do’a agar diberikan kemudahan dalam berbicara. Aku melangkah masuk setelah mendengar perintahnya.
__ADS_1
“ Pagi, Pak.”
“ Duduk Ra," katanya singkat tapi masih dalam kesopanan, aku tak menunggu lama untuk langsung duduk. Karna berkasnya sangat banyak. Aku berfikir pasti lama ngeceknya.
“ Maaf Pak, untuk kejadian yang tak terduga kemarin.” kataku lirih, penuh penyesalan karna kejadian kemarin tak ada sopan-sopannya.
“Karena kamu sudah memulai topiknya, kita ke mode urusan pribadi “ Pak Febrian masih menunduk melihat berkas, dan perkataannya beraura dingin membuatku agak merinding.
Aku hanya mengangguk tanpa dilihatnya. Membuat Pak Febrian mengalihkan pandangannya dari tumpukkan berkas.
“ Kamu pacar Ferdian?” Pak Febrian masih menatapku yang mengangguk kurang percaya diri.
“ Sudah berapa lama?” Tanyanya monoton seperti ayah mengintrogasi anak perawannya yang ketahuan hamil.
“ Sejak SMA kelas 2 ta....” belum selesai aku ngomong sudah disela.
“ Selama itu? Kemarin kamu diam aja saat aku cerita tentang sepupuku! Mengapa? Kamu mengejek ya?”
“ Sama sekali, sedikitpun aku tidak memiliki pemikiran seperti itu Pak, aku hanya memikirkan apakah aku pantas ada dalam kehidupannya? Benar- benar hanya itu yang aku fikirkan, tak ada hal seperti yang Pak Febrian katakan “ jawabku penuh dengan rendah diri.
“ Apa emangnya Ra yang kurang darimu? Cantik sudah, wanita karier, pendidikan dah mau sarjana, soal kaya dan miskin hanya suatu keberuntungan “ jawab Pak Febrian dengan entengnya.
“ Maaf Ra, “
“Iya, maaf apa Pak? “ jawabku seperti tak ada beban di hatiku.
“ Maaf untuk kemarin ceritaku yang mungkin menyakitimu."
“ Ternyata Pak Febrian berhati lembut” batinku tiba-tiiba tanpa aku sadari telah berani memberi penilaian pada laki-laki lain. Tanpa aku sadari aku menggeleng kepalaku di depan Pak Febrian tanpa aku sadari.
“ Gak apa-apa Pak." aku sedikit tersenyum untuk mencairkan suasana.
“ Ra, pagi-pagi buta Ferdian sudah menelephoneku. Dia meminta padaku untuk mengizinkanmu setengah hari. Oy Ra, kuliah masih ok 'kan?”
“ Aman terkendali Pak, terima kasih atas izinnya."
“ Sebenarnya tak aku izinkan, kemarin kamu sudah menghilang dan hari ini mau out lagi, dia memaksaku karna hutangku selama ini” aku terbengong mendengarnya. Dengan nominal gaji Pak Febrian, masih ada hutang.
“ Hutang salah faham yang buat kacau Ra, bukan hutang uang “ jawab Pak Febrian seolah dia bisa membaca fikiranku.
“ Ini sudah semua berkasnya, segera naikkan.“ aku beranjak dari tempat duduk depan Pak Febrian.
“Oya Ra, habis proyek ini selesai kita muncak bareng-bareng. Boleh bawa pasangan” kata Pak Febrian membuatku terhenti memegang handle pintu.
Aku hanya mengacungkan jempol karna merasa cocok banget setelah kerja rodi akhir-akhir ini. Aku menuju Bagian Keuangan, aku berpapasan dengan Mas Ferdian yang mau kearah ruanganku. Aku hanya bilang,
“ Tunggu bentar, kok sudah ke sini? Belum waktunya makan siang.” aku melepaskan genggaman tangannya karna dia menghampiriku sebelum aku masuk ruang keuangan.
“ Aku mau ketemu Febrian bentar “ kata Mas Ferdian singkat.
“ Mau bernostalgia atau pasang pagar betis untukku?” tanyaku dalam hati, meninggalkannya.
“ Feb,” sapa Ferdian asal masuk keruangan Febrian.
__ADS_1
“ Mengagetkanku saja kau Fer! Kebiasaanya Pak Boss tak pernah ketuk pintu." Nada Febrian pedas karna tak menyadari ada orang yang membuka pintu ruangannya.
“Ternyata hatimu dari dulu kecantol sama anak ABG.“ Febrian nyengir ada rahasia di baliknya.
“Feb, kamu tak ingin menambah dosamu padaku 'kan?”
“Kenapa serius sekali, Boss?” kata Febrian tanpa dosa.
“Aku serius Feb, buang fotomu itu jika kamu masih punya Prikehatian pada Hira itu yang pertama,"
“ Banyak banget kayaknya tebusan dosaku” sela Febrian
“ Yang kedua, jangan lama-lama berbincang dengannya. Aku tak ingin hatimu ternoda karena diam-diam mengagumi kekasih orang lain”
Febrian menggeleng-geleng kepalanya karena keyakinan Ferdian“ dari awal aku melihat resume bawahanku, aku juga sudah tertarik dengan kepribadiannya“ batin Febrian yang ditutupi dengan gelengan kepala di depan Ferdian.
“ Jangan kecanduan memintanya membuatkan kopi untukmu, dia bukan OB!”
“ InsyaAllah “ jawab Febrian singkat yang buat Ferdian jengkel melemparkan permen yang dia ambil dari atas meja depannya.
Dilihatnya Hira yang sudah kembali ke ruangan, dari balik transparannya penyekat ruangan Febrian.
“ Aku pamit, aku bawa Hira sekarang! Kata Ferdian yang beranjak dari tempat duduk.
“Kayak Boss di sini aja kamu Fer! Seenakmu bawa-bawa karyawan orang!” ketus Febrian yang memang tak tahu. Secara pribadi tanpa embel-embel Mandala Group, Ferdian mengucurkan dana di perusahaan yang ia tempati, menjadi salah satu pemegang saham yang dirahasiakan data Profilnya. Selama berapa tahun terakhir setelah menjalin hubungan dengan Hira.
“Enaknya aura boss, sudah mau absen lagi.” sindir Ryco ketika melihat Hira yang tergesa berkemas.
" Tadi katanya gak mau, menghindari masuk ruangan Pak Febrian. Tak tahunya sudah sampai sana, tak keluar-keluar!" ucap Ryco mengimbuhi.
“Suutttt, syirik!” sahut Hira yang masih menyibukkan tangannya.
“Au...” aku memegang dadaku. ( Hira terkaget karna tiba- tiba ada tangan yang memegang pinngangnya dari belakang )
" Pantas saja Bang Ryco langsung terdiam, ternyata ada Mas Ferdian" batinku.
“ Gitu aja kaget, udah selesai berkemasnya?” tanya Mas Ferdian lembut setelah aku menatap wajahnya.
“ Hm..hm..hm...” deheman Mbak Tari buatku malu, dan tersenyum
“ Secara resmi, gak dikenalin nih...?” tambah Mbak Tari yang masih merunduk sibuk, seolah asal bicara saja
“ Ryco, Fer. Abangnya Hira” Ryco dengan cepat berdiri menghampiri Ferdian lebih dulu dan menjabat tangannya.
“ Aku Tari, Fer. Panggil aja Tari tanpa embel-embel Mbak“ Mbak Tari melambaikan tangannya tanpa berdiri.
“ Mohon bantuannya menjaga Hira" Mas Ferdian menundukkan kepala memohon bantuan. Dan aku mencubit perutnya karna berlebihan.
.
.
.
.
Mau dibawa kemana Hira sampai izin segala...
Kita ikuti di episode selanjutnya,
Mohon dukungannya...😘
Terimakasih....🙏🙏🙏
__ADS_1