
Aku dan Mas Ferdian benar-benar menikmati pemandangan pantai sore ini. Sampai tak terlihat orang di sekitar kami. Benar kata pepatah ketika sedang merasakan jatuh cinta, dunia milik kita berdua yang lain kontrak. Hari berlalu begitu cepat, waktu salat asharpun hampir terlewat. “Setiap waktu salatku, kamulah imamku” itulah yang aku harapkan.
Setelah menikmati matahari terbenam dan banyak foto yang telah memenuhi galeri kami. Kami salat magrib dulu sebelum Mas Ferdian melajukan mobilnya. Sampai di tempat parkir, tepat di sebelah mobil Mas Ferdian aku melihat mobil Bang Ryco.
“Sepertinya ini mobil Bang Ryco deh Mas?”
“Ya biarin, lagian ini malam Minggu. Mungkin dia lagi kencan."
“ Jika dia lihat kita tadi, habislah mukaku ini Mas” kataku penuh dengan penyesalan dan ekspresi wajahku yang malu mengingat Mas Ferdian yang asal srobot aja.
“ Cuek aja Dek, emangnya kita anak dibawah umur?”
“ Mas, tu ya!” gerutuku sambil masuk ke dalam mobil.
“ Habis aku Mas, habis beneran“ gerutuku pelan yang masih terdengar oleh Mas Ferdian.
"Sudah gak usah difikirin gitu, seperti Mas ini selingkuhanmu dan ketahuan oleh pacarmu saja!"
" Bukan gitu, Bang Ryco kalau membuliku tidak tanggung-tanggung. Membuat orang menyerah dan malu. Apalagi Mas asal sruduk aja, kalau dia lihat gimana?" kata-kataku meluncur tanpa bisa aku tahan.
" Ya dibiarin gak usah ditanggapi. Sruduk-sruduk, gak ada bahasa lain? Di mana-mana orang pacaran wajar seperti itu."
" Tapi Mas, ini yang di sruduk pakai kerudung lho!"
" Masih tahu batasan kok sayang. Jangan fikirin fikirannya orang! Kalau tidak mau di depan orang, ( mas Ferdian bersuara dengan suara berbisik ) nanti kita di tempat yang sepi aja. Gimana?" perkataannya membuatku merinding.
“ Mas balik kapan?”
“ Kenapa Dek, mengharap Mas cepetan balik nih? Gak ditahan gitu?
“Kalau bisa ada yang menahan Mas di sini, tanpa aku harus meruntuhkan harga diriku untuk menahan Mas. Aku sangat berharap hal itu.”
“ Emangnya menahan Mas bisa meruntuhkan harga dirimu gitu?”
“ Ya iya lah Mas, seolah terdengar aku wanita yang tidak.”
“ Tak ada kata seperti itu dalam suatu hubungan sayang, justru Mas akan merasa kalau Mas sangat bahagia, Mas akan tahu betapa berartinya Mas untukmu, Mas bisa tahu ada yang begitu menyayangi Mas hingga tak mau berjauhan. Dulu Mas pernah bilangkan, Mas pengen denger kamu bermanja-manja sama Mas”.
“ Emangnya ada yang bisa menahan Mas?”
“ Sekali aja Mas pengen denger rengekanmu." goda Ferdian, padahal memang ada hal urusan di Perusahaan yang mengharuskan dia tinggal tapi Ferdian tidak memberitahu Hira.
“ Ogah ah, malu!" tiba-tiba ada suara dering handphone.
Di kota sebrang di mana rumah Ferdian berdiri, ada tamu yang berniat menginap. Ada Letiana yang menyambut kedatangannya karna rumah itu selalu sepi. Hanya ditinggali Ferdian yang sedang ke luar kota, dan Letiana bersama 2 pembantu yang sedang berdiam di tempat.
“ Di mana Mas Ferdian Let, kok mobilnya di garansi gak ada?”
“ Saat Mbak Em kesini memangnya Kak Fer selalu ada gitu? Kenapa baru kali ini tanya?”
“ Auranya terasa jelas jika ketidak adaanya kali ini bukan karena menghindari kedatanganku”
“ Mbak Em seperti paranormal saja! Sok tahu, udah gitu suka GR lagi!” jawab Letiana sadis.
__ADS_1
“ Aku masih punya firasat yang kuat sama Mas Fer Let, emangnya kenapa? Atau berita yang aku dengar benar?”
“ Berita apa memangnya, ada yang bahas kakak ipar-kakak ipar gitu!" kata Emma bau sindiran.
“ Emangnya kenapa? Mbak itu sudah menyakiti kakak, kalian putus sudah lama, pantas dong jika kakakku bahagia dan mendapatkan pasangan yang baik dan cantik? Mbak saja yang cewek sudah punya hubungan masih saja menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Apa itu namanya, bagaimana tu etikanya?”
“ Tak akan aku biarkan Mas Ferdian menjadi milik orang lain. Tak akan pernah, dia akan jadi milikku kembali” gunam Emma yang masih terdengar oleh Letiana. Emma pergi begitu saja tanpa pamit dan raut muka yang tak tahu malu.
Setelah kembali ke rumah tantenya, Erma chat Rinna. Rinna dan Emma sudah lama saling kenal dan berteman. Dulu Emma sering datang menemui Ferdian di kantor, di sanalah Emma mengenal Rina.
To : Rinna Si Malang
“Akan kubuat kau kebakaran jenggot, wanita sok lugu” gunam Emma, ketika mengetik chat yang dikirim ke Rina.
From : Rina Si Malang
Kantor memang sibuk, ada banyak proyek yang ditangani Mas Ferdian. Sepertinya tidak ada jadwal DL untuk seminggu ini. Emangnya kenapa masih ingin tahu urusan Mas Fer?
“Aku tahu kamu menunggu Mas Fer, Rin. Jangan sok kamu menyembunyikan perasaanmu itu pada priaku. Akan kubuat penantianmu sia-sia” gunam Emma sambil setelah membaca chat dari Rina.
To : Rina Si Malang
Sepertinya ada yang mencuri hati Mas Fer deh, emangnya kamu gak merasakan ada yang aneh dengan sikap Mas Fer apa?
Emma memberi umpan agar Rinna bertindak, dan hal itu akan membuat Emma lebih ringan dalam melangkah.
Tanpa membalas pesan Emma, Rinna langsung menelephone Ferdian.
Rinna
Calling...
Rinna
Calling...
Rinna
Calling...
Sampai panggilan yang ketiga pun belum terangkat, Ferdian dalam keadaan menyetir pulang dari pantai bersama Hira.
“Mas, ternyata handphonemu yang berbunyi” kataku setelah melihat handphoneku.
“Coba kamu lihat Dek," Mas Ferdian mengambil handphonenya dari saku celana sebelah kanan tanpa melihat layar handphonenya, dia memberikan ponselnya padaku.
“ Mbak Rinna Mas, “ kataku lirih setelah melihat layar handphonenya.
“ Jam segini, walaupun hari Sabtu tapi ini sudah jam bebas kerja. Lalu ada apa?” batinku memberontak.
“ Angkat saja Mas, mungkin saja penting” kataku sok tegar seolah tak terganggu, tak terusik hatiku.
“ Nanti aja akan aku telephone balik” jawab Mas Ferdian dengan agak panik, seperti ada yang disembunyikan.
__ADS_1
“ Mas bawa headset kan? Pakai aja, mungkin saja penting! panggilannya sudah berkali-kali berarti penting”
"Sabar Ra," itulah yang aku gunamkan di dalam hati.
“ Ada, itu ada di situ," aku mengambilnya dan memasangkan di telinganya. Ku tekan tombol hijau, setelah headsetnya connect bluetooth. Ku lihat wallpaper di layarnya ada foto burung jalak bali, seperti yang pernah aku lihat videonya saat Pak Ryan nonton dan katanya harganya 10 sampai 25 jutaan. “Fantastis banget, dasar orang kaya!” gunamku setelah layarnya mati.
“Ada di luar kota, kenapa?” kata Mas Ferdian, terlihat wajahnya yang tegang.
“Aku kan sudah bilang jika sudah ada yang menempati," mungkin posisi jabatan kali ya, fikirku.
“Aku tak sanggup membaginya. Tidak ada ruang lagi” aku sudah tak bisa berfikir apa lagi yang ditanyakan Mbak Rinna.
“Kamu jawab sendiri atau aku harus berkata jujur, keputusan ada di tanganmu”
“Aku tak akan takut lagi, jika memang di out. Aku sendiri yang akan mundur. Kita lanjut setelah aku kembali!”
Sambungan telephonenya diakhiri tanpa salam. Muka Mas Ferdian penuh dengan emosi, hingga membuatku takut untuk berucap. Aku menerima headset yang dilepaskan dari telinganya dan aku masukkan ke tempatnya kembali.
“ Dek,” panggilnya setelah berdiam dalam waktu yang lama.
“Hmm.” aku menoleh menghadapnya, dan melihatnya dari arah samping. Hidungnya yang mancung menambah kesempurnaan ketampanannya.
“Wanita mana yang tak akan terkiprit-kiprit Mas baru melihat wajahmu, belum tahu kesholehanmu, belum juga kelembutanmu, keromantisanmu” batinku.
“ Kok hmm aja, gak ada kata yang ingin kamu katakan pada Mas?”
“ Contohnya?” aku sedikit memancingnya
“ Hmm. Ada apa gitu? Atau apalah sesuai yang kamu fikirkan”
“ Justru aku takut jika aku bertanya Mas” batinku.
“Jangan berfikir yang aneh-aneh ya Dek, cukup kamu percaya sama Mas, ingat-ingat apa yang Mas katakan” dia menggenggam tanganku masih sambil menyetir.
“ Apa yang harus aku tanyakan Mas, jika akhirnya itulah yang akan kamu katakan” batinku, mulutku rapat tak bergerak sedikitpun.
Jarum jam sudah menunjukkan jam sembilan malam, aku turun dari mobil Mas Ferdian. Aku hanya mengucap salam untuk berpamitan, dia sama sekali tak ada pergerakan untuk turun mengantarkanku ke depan pintu atau menyapa orang tuaku. Sebelum aku turun membuka pintu mobilnya, dia menarik lengan tanganku. Mencium keningku, menyalimi tanganku dan mengecupkan tangannya ke bibirku.
Mas Ferdian melajukan mobilnya seolah tergesa, ku lihat hingga menghilang tak terlihat.
Aku memasuki rumah dengan pemikiran yang bergelut dengan prasangka.
.
.
.
.
.
Ikuti episode selanjutnya,
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya...😘
Terimakasih...🙏🙏🙏