Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 47


__ADS_3

Setelah memasuki pintu ruangan, Ryco sudah tersenyum. Tari sudah merasa risau dengan senyuman Ryco.


“Lama-lama aku tidak tahan melihat senyummu Co, cobalah untuk tidak tersenyum di hadapanku.”


“Bibir-bibirku sendiri Ri, mau aku cemberut, mau senyum, mau ketawa lepas, mau ngomel-ngomel. Terserah aku dong Ri!” kata-kata Ryco sedikit ketus tapi tidak ada maksud buruk, hanya sebagai peringatan ekspresi dia telah menang taruhan lagi.


“Bagaimana aku tidak tersenyum, aku menang taruhan lagi!” Ryco tertawa lepas.


“Masih belum jam makan siang Co! Tidak tahu kan jika dia ada meeting dadakan menemani Pak Febrian?”


“Woe Tari, kamu tidak tahu berita ya?”


“Apa memangnya?”


“Buka Pengumuman di komputermu.” Tari segera membuka sesuai perkataan Ryco.


“Jadi Pak Febrian izin?”


“Iya! Mungkin Hira izin juga, maka dari itu dia sampai jam segini belum nongol juga.”


“Mungkin saja setelah jam makan siang dia baru muncul. Dulu juga dia pernah seperti ini kan?”


“Tapi aku yakin kali ini dia izin full!”


“Ada apa denganmu sih co! Yakin sekali, atau kamu sudah ada kontak dengan Hira tanpa sepengetahuanku ya?”


“Sumpah, tidak. Jahat sekali kamu Ri, menilaiku curang.”


“Habisnya kamu selalu tepat menebak ketika kamu buat taruhan.”


“Itu artinya jangan remehkan firasat seorang lelaki, tidak hanya wanita yang memiliki insting. Tapi laki-laki juga ada yang peka dengan keadaan.” Tari hanya geleng-geleng sambil berdecih mendengar kata-kata Ryco yang penuh dengan percaya diri.


“Asyik… ada yang suka rela membuatkan kopi,” Ryco bergunam menepuk-nepuk perutnya, sedikit membuncit karena kebanyakan makan beberapa hari selama di puncak tanpa olah raga.


“Kenapa, kebanyakan mompa kamu sampai perutmu buncit! Kamu pamerkan padaku sampai kau tepuk-tepuk seperti itu.” Kata-kata ketus Tari jengkel seakan telah dikelabuhi oleh Ryco.


“Ih, tidak ada filternya ya omonganmu Ri. Untung saja tidak ada dedekku.”


“Uh, tidak ada orangnya. Masih dedek-dedek, cinta terpendammu kali Co!”


“Ri!” Ryco melemparkan kepalan kertas pada Tari untuk memeperingati mulutnya meluncur tidak ada rem.


"Kalah, kalah saja Ri! Bibirnya tetap direm." gunam Ryco.


“Tidak ada yang dengar, santai saja.”


“Dinding punya telinga Ri, jangan sampai ya rasa tidak jelas ini menghancurkan kedekatanku dengannya.”


“Oh… saking dekatnya kamu dapat membaca fikirannya, merasakan sakit di hatinya. Gitu?”


“Stop Ri!”


“Aku penasaran saja Co, bagaimana dirimu mengontrol perasaanmu. Apakah saat di dekat Erna kamu merasakan dekat dengan Hira?”


“Woe, jangan ngawur Ri!” Tari hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Ryco.


“Maaf, maaf Co aku bercanda.”


“Keterlaluan kamu Ri, ah! ( Ryco menghembuskan nafas kasarnya, merasakan jengkel dengan situasi yang memojokannya ) Jangan bahas hal seperti ini lagi Ri, aku sudah bahagia dengan Erna. Jangan sampai Erna tersakiti. Dia anak yang baik.”


“Iya, iya… baik, baik bisa kamu mengekspresikan kelakianmu.”


“Woe, pakai rem ya Bu!” Tari segera menutup bibirnya dengan telapak tangannya, mencoba menghentikan kata-katanya yang meramaikan ruangan karena hanya ada mereka berdua yang menghuni.


“Eh, Co. Kenapa Pak Febrian tiba-tiba izin juga? Tidak mungkin sakit, kemarin masih baik-baik saja.”


“Tidak tahu Ri ah. Mungkin ada urusan keluarga, bisa jadi kan. Kalau Hira, mungkin saja dia masih asyik bersenang-senang dengan Ferdian.”


“Beruntungnya anak satu itu,” Tari merasa iri.


"Uh, pagi-pagi terasa telah dikuliti saja! Biasanya aku yang usil, sekarang aku yang diusilin." gunam Ryco sendirian.


.

__ADS_1


.


Hira mondar-mandir menunggu chat di handphonenya yang belum muncul-muncul juga.


“Apakah kamu belum sampai Mas, Ya Allah selalu lindungilah calon imamku. Selalu berilah dia Kesehatan.” Hati Hira risau penuh dengan banyak prasangka.


“Oya, aku belum buat janji dengan Pak Ryan.” Hira tiba-tiba menepuk dahinya ketika melihat jam di dinding.


To : Pak Ryan


Bisakah kita bertemu sore ini? Sepulang Bapak dari kantor?


From : Pak Ryan


Bisa, aku tunggu di cafe Merdeka. Jam 16.00


To : Pak Ryan


OK


.


.


Aku memasuki Cafe, mataku berkeliling mencari seseorang yang telah aku ajak bertemu. Aku melihat punggung seseorang yang telah lama aku kenal dan selalu memberikan kelonggaran pada pekerjaan bahkan kepentingan pribadiku. Aku melangkah mendekatinya. Aku duduk di hadapannya, dia tersenyum ramah walaupun pesan terakhir yang aku baca darinya begitu pahit aku rasakan.


“Pak, selamat sore.”


“Di luar jam kantor Ra! Dan kita bertemu dengan tujuan urusan pribadi bukan urusan kantor. Jadi, untuk lebih leluasa kita bisa untuk tidak formal kan?” aku hanya mengangguk, berfikir sebutan apa yang akan aku keluarkan dari bibirku untuk memanggilnya.


“Mas, maaf atas pesanmu kemarin yang tidak aku jawab. Mas Ferdian langsung melihat pesanmu.”


“Jadi kamu tidak memberikan muka padaku di hadapan pacarmu?”


“Dia tiba-tiba merebutnya setelah aku membaca pesanmu. Dan aku ke sini atas izinnya. Maaf.”


Aku terasa tak bisa berbicara lagi, bingung apa yang harus aku katakan. Aku merasa salah mengambil start dalam berbicara.


Mecintaimu di saat terpurukmu


Menemanimu di saat kau jatuh


‘kan ku lakukan untukmu


Ku sadari ku jauh dari sempurna tapi dengarkanlah


Cinta datang dan tumbuh pada dirimu


Yang kurasa setulus hatiku


Memahami, menerima semua tentangmu


Janjiku tak akan berhenti mencintaimu oh-ow-wo-oh


Apapun adanya dirimu


Ku takkan pernah tinggalkanmu


Lagu Anneth yang di putar di cafe membuat hatiku terganggu, liriknya membuat Pak Ryan sadar jika aku sedang meresapi lagu ini.


“Kenapa Ra, inilah yang aku rasakan dulu. Dan sampai sekarang masih ada, janjiku tak akan berhenti mencintaimu. Apapun adanya dirimu. Setelah aku tahu kamu telah memiliki tambatan hati, tapi sebelum janur kuning melegkung. Walaupun di jarimu telah melingkar cincin seindah dan sebesar, seberat apapun aku akan tetap menunggumu.”


“Tapi aku tidak ingin membuatmu sakit, itulah yang aku harapkan selama ini. Aku merasa berhutang budi padamu Mas, atas semua perhatian dan toleransi yang kamu lakukan selama ini. Aku tidak akan bisa mencapai hingga saat ini tanpa perhatianmu dan bimbinganmu.”


“Aku tidak mengharapkan ucapan terima kasihmu Ra, aku bahagia kamu mendapat kebahagiaan tapi aku tidak memungkiri jika aku juga merasakan sakit karena kamu bahagia bersama dengan orang lain.”


“Aku berharap kita akan tetap biasa saja Mas, ketika berjumpa di kantor. Seperti dulu masih kompak, maaf aku egois dan aku masih mengharapkan bimbinganmu.”


“Tidak kamu memintapun akan tetap aku lakukan Ra, maaf karena kau kemarin terbawa emosi.”


“Tidak apa-apa aku mengerti. Sekali lagi maaf. Tapi aku akan tetap berdo’a agar kamu bisa menemukan seseorang yang lebih baik dariku Mas.”


“Terima kasih, tapi tidak tahu hatiku bisa kapan terbuka untuk orang lain Ra, karena sudah lama hanya ada satu nama yang menghuninya."

__ADS_1


“Suatu saat tetap akan terbuka, aku yakin Mas. Asalkan kamu mau mengikhlaskanku, pasti hatimu bisa terbuka untuk orang lain. Dan aku yakin banyak cewek-cewek yang menunggu kode darimu.”


“Kamu bisa saja Ra,”


“Kita damai kan?” aku mengulurkan tanganku agar terasa plong kami membuka lembaran baru agar dia melepaskan perasaannya padaku. Mas Ryan yang dulunya aku panggil dengan Pak Divisi dan berubah lagi menjadi Pak Ryan sekarang menjabat tanganku. Tatapan matanya tergenang oleh air mata. Membuatku sedikit sendu, masih terlihat berat. Tapi aku yakin berjalan seiring waktu walaupun sulit pasti akan terbiasa. Walaupun akan canggung ketika bertemu tapi aku yakin pasti akan terbiasa.


“Ok.” Mas Ryan manggut-mangut mengeratkan genggaman tangannya. Kami kembali duduk, menikmati capucino hangat yang telah dipesannya.


“Hari ini masih tidak masuk saja Ra, apakah yang kemarin masih kurang? Atau kamu ada kepentingan dengan Febrian? Kalian kok kompak sama-sama izin.” Mas Ryan bertanya dan aku tanggapi dengan bengong saja.


“Kenapa mukamu kok heran seperti itu!”


“Aku sama sekali tidak tahu jika Pak Febrian izin, memangnya Pak Febrian izin kenapa?”


“Alasannya sih, ada urusan pribadi.” Aku hanya mangut-mangut.


“Sepertinya hari ini mendung, alam saja peka Ra! Kenapa dulu kamu sama sekali tidak peka dengan perasaanku Ra?”


“Flash back lagi nih?”


“Mumpung masih dalam mode ini, biar plong sekalian Ra.”


“Karena Mas Ferdian dari dulu sudah mengisi hari-hariku Mas.”


“Maksudmu, kamu sudah pacaran dari awal masuk perusahaan?”


“Hehehe, dulu hanya sebatas bayangan saja. Tak lama kami baru bertemu jadi terasa baru anget-angetnya padahal sudah lama kami menjalin kasih.” Mas Ryan hanya mangut-mangut.


“Kamu memang paket unik Ra!”


“Bukan kah biasanya kalau paket berpasangan dengan komplit ya Mas?” Mas Ryan tertawa terbahak menaggapi candaanku.


Aku melihat keluar jendela, hujan semakin lebat niatku tidak berlama-lama menemui Mas Ryan pokok peermasalahan selesai segera pulang. Perasaanku tidak enak memikirkan Mas Ferdian yang tak kunjung membari kabar.


“Kenapa Ra, kok malah melamun. Sudah ingin pulang ya?”


“Sepertinya hujannya akan bertahan lama Mas.”


“Beruntung diriku yang bisa lebih lama bersamamu Ra,” Aku hanya tersenyum, fikiranku sudah traveling.


“Seandainya saat ini, kita bersama Mas. Menikmati kopi hangat dan ketela goreng sambil menikmati hujan dan membicarakan kekonyolan kita yang menjalin kasih, kemarin malam belum terasa puas aku berbincang denganmu, lagi-lagi waktu selalu memberikan kartu kuning kepada kita.” Batinku, semakin terdengar jelas rintikan hujan menggema di telingaku. Mas Ryan memegang pergelangan tanganku yang aku gunakan untuk tumpuhan kepalaku memandang rintikan hujan yang semakin tertutup oleh kaca yang telah mengembun, membuatku terkaget.


“Dari tadi, aku ngomong tidak kamu dengarkan ya Ra!” kata Mas Ryan membuatku gelagapan.


“Maaf Mas, hujannya deras sekali dan musiknya juga membuatku jadi melamun. Memangnya Mas Ryan tadi ngomong apa?” Mas Ryan malah tersenyum seolah terlihat ada kedamaian dalam tatapannya. Entah apa yang difikirkannya dengan tatapan seperti itu.


“Aku akan mengantarkanmu pulang. Tidak akan ada yang menunggumu kan? Atau kamu menunggu jemputan?”


“Tidak, Dia sudah kembali” Mas Ryan tidak bertanya lebih lagi.


“Bolehkan aku antar pulang?” Mas Ryan bertanya dengan Lembut. Aku hanya mengangguk, tidak enak hati jika menolaknya. Apalagi hujan tak kunjung reda.


“Terima kasih Ra, kita masih bisa berkomunikasi dengan baik.” Kata Mas Ryan dengan sendu, membuatku menatap matanya.


“Sama-sama Mas, aku tak akan lupa dengan kulitku. Jika tidak kare…. “


“Jangan diulang lagi. Kamu sudah mengatakannya berulang kali.”


“Terima kasih sudah diantar,”


“Sama-sama.” Aku membawa payung lipat transparan yang diberikannya padaku.


Aku menyusuri jalan setapak demi setapak menuju rumahku, aku meminta diturunkan di lorong, masih jalan raya. Untung saja tadi tidak memakai sendal hak tinggi.


“Terima kasih Ya Allah,” ucap rasa syukurku melihat kakiku yang menapaki jalan.


“Kenapa kamu belum ada kabar juga Mas, ada apa denganmu? Kamu sudah janji untuk memberiku kabar tapi kenapa sampai saat ini kamu belum ada kabarnya juga?” keluhku melihat belum ada notif di layar pipihku.


“Nak Hira, baru pulang?”


“Iya, Bu dhe.” Rumah sebelahku rame mengobrol di teras rumahnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2