
Sebulan setelah kepulangan Mas Ferdian, hari-hariku yang indah kini terasa mulai merisaukan.
Selalu kupandang foto yang ada di galeri handphoneku. Betapa semakin aku merindukannya. Walau kami sudah sering melakukan vidio call, tapi itu tak bisa mengobati rasa sakit di hatiku karena merindukannya. Ketakutanku yang selalu muncul bagai firasat tak baik yang akan terjadi. Ketakutan kehilangannya, walau dia meyakinkanku tapi selama ini keadaan selalu tak berpihak pada kami. Itulah yang aku takutkan. Jika dia tak akan mungkin mendustai janjinya, tak mendustai pertahanannya yang selama ini kuat bertahan hingga kami bertemu. Rasa di antara kami tak hilang tapi tak mungkin tak ada orang lain yang akan mengusik.
Di tengah lamunanku, yang melayang pagi-pagi di atas meja kantor. Mbak Tari mengagetkanku dengan bolpoin yang diketuk-ketukkan di atas mejaku hingga berisik aku baru menyadari.
“Astagfirullah,( tiba- tiba aku tersadar dari fikiranku yang sudah bergulat dengan keburukan) iya...Mbak, ada apa?”
“Kenapa lagi to Bu Boss.( Mbak Tari dah tahu kisahku, karena ketika aku mengambil tas di rumahnya, dia melihat Mas Ferdian di dalam mobil yang terbuka kacanya. Dia membrondongku dengan pertanyaan yang harus aku jawab seketika. Hingga Mas Ferdian lama menungguku di mobil. Tak puas dia bertanya. Paginya masih diserbu lagi, hingga habis sampai akhir kisahku di kantonginya) Apa belum muncul lagi setelah malam itu?”
“ Belum Mbak, aku belum bertemu lagi” jawabku lemas.
“Tapi masih lancarkan komunikasinya?” tanyanya kepo.
“ Masih.”
“Syukurlah. Terus kenapa, jangan sedih-sedih gitu. Entar jadi cepat keriputan. Ditinggal baru tahu rasa!"
“ Jangan bilang gitu dong Mbak, kata adalah doa. Jadi takut aku!"
“Hem...heemm, pagi-pagi dah ghibah aja ya! (selonong Mas Ryco teman sedivisiku, yang duduk di belakangku) dipanggil Pak Ryan, habis lah kau! Mukanya lesu, salah apa kau Ra?”
“Aku!" aku kaget, sambil menunjuk mukaku dengan jariku sendiri. "Memang ada apa denganku? Kemarin sudah beres, sudah disetujui 'kan? Apalagi memangnya?" gerutuku.
"Bentar ya Mbak" aku berdiri pamitan pada Mbak Tari.
"Awas kamu ya, Co jika bohong!" ancamku pada Ryco sambil menatap tajam matanya.
“Uh...takut aku Ra, tajam amat tatapanmu!” Ryco bergedik ngeri.
Kuketuk pintu transparan ruangan Pak Ryan, karena terbuat dari kaca semua. Aku masuk setelah mendengar instruksinya.
“Iya Pak, ada apa ya?”
“Besok ikut aku, ke Kota B. Penyelesaian akhir yang aku acc kemarin”
“Kok tidak sama Ryco, Pak??” protesku. Yang tidak dimasukkan dalam daftar tindakan protes, beginilah cara kami bekerja sama di dalam kantor. Bebas mengeluarkan pendapat dan menjaga kekompakan. Tapi di luar kantor kami tetap menjaga image atasan dan bawahan.
“Kemarin yang mengerjakan kamu 'kan? Biar lebih jelas gitu! Kita berangkat pagi ya? Buat anggaran dinas, kirim ke Bagian Keuangan. Siang ini kita harus sudah mengantongi. Besok aku jemput di rumah."
“Ok Pak." aku sudah tak punya alasan lagi untuk melempar perintah ini ke orang lain.
Aku berjalan lemas setelah keluar dari ruangan Pak Divisi. Aku mendudukkan pantatku dengan kasar, karena ada rasa malas DL.
“Ada apa Ra, mukamu makin gak jelas saja??” tanya Mbak Tari prihatin denganku.
“Diajak DL Mbak, hiks...hiks...hiks..." mukaku memelas, menirukan suara seolah ingin menangis.
“ Ha...ha...ha... ( ejek Ryco ), kencan diam-diam nih, ceritanya!” goda Ryco yang mengandung keseriusan di dalamnya.
“Kok malah ngajak aku gitu, kan ada kalian yang lebih ok!" aku memelas.
“Cinta terpendam Ra sudah gak kuat tersimpan lagi. Hati-hati ya?” Mbak Tari mengumpani Ryco agar semakin gencar berceloteh.
__ADS_1
“Didepanku tadi tu mukanya sandiwara, ketika ada umpan dilepaskan akan ada ikan tertangkap jaring“ timpal Ryco.
“Manjur amat ya umpannya. Buat ada yang iya...iya aja!” tambah Mbak Tari
“Aku tadi sudah nyodorin namamu Co, tapi katanya karena aku yang ajukan acc, namaku penanggung jawabnya" alihku, aku menepuk jidat.
“Poinnya, emang kamu yang diinginkan, titik selesai.” Ryco tertawa lepas yang agak mengejekku.
“Hati-hati ya Ra, siap-siap pakai jaket anti peluru mungkin saja ketembak peluru cinta.” mereka ketawa riang mengejekku karena hanya aku yang masih berstatus sendiri. Ryco sudah punya cewek, Mbak Tari sudah dapat lamaran sebentar lagi nikah.
Aku sibuk melaksanakan perintah Pak Divisi, clear juga untuk persiapan berkas besok. Aku diizinkan pulang lebih awal. Aku gunakan waktuku untuk telephone mas Ferdian. Dua hari ini aku meliburkan bimbinganku dan izin dari kegiatan kuliah.
“Assallamuallaikum,"
“Waalaikumsalam Mas,”
“Tumben jam segini call Mas, kamu baik-baik saja kan?”
“Iya, aku baik kok Mas, kangen aja. Mumpung aku gak ada kegiatan. Mas sibuk gak? Aku ganggu gak nih?”
“Tak ada kata ganggu buat kamu sayang, kok tumben gak ada kegiatan? Secara, Hira gitu! Kenapa sampai gak ada kegiatan!" Ejek Mas Ferdian karena aku yang memang selalu sibuk
“Emang sengaja pulang lebih awal dan besok gak ke kantor” jawabku pelan.
“Tumben banget, apakah kamu dah memikirkan usulan Mas kemarin?" Mas Ferdian mengusulkan mengurangi kegiatan, pilih salah satu diantara aktif memberikan private yang otomatis aku harus keluar dari perusahaan atau masih kerja di Perusahaan yang otomatis aku berhenti ngajar.
“Ngak, bukan alasan itu Mas." ada rasa nada takut aku dalam berucap.
“Iya Mas, aku tahu Mas bermaksud baik”
“Udah, seperti itu saja? Lalu bagaimana endingnya?” terdengar suaranya yang agak jengkel.
“Setelah pulang dari DL besok aku akan memikirkannya baik- baik. “ Mas Ferdian kaget mendengar jawabanku.
“DL ke mana? Sama siapa? Cewek apa cowok? Berangkat jam berapa? Pu.... "belum selesai dia ngomong langsung aku potong.
“Ke Kota B sayang, sama Pak Divisi. Berangkat pagi, makanya aku pulang awal.”
“ Hanya berdua? Kepala Divisimu umurnya berapa?”
“32-an mungkin, belum nikah itu kan yang ingin Mas tahu?”
“Kenapa mau?”
“ Tugas Mas,”
“ Aku dah mengajukan Si Ryco, tapi Pak Divisi minta aku yang ikut beliau. Terus gimana dong. Ya aku harus ikut. Dia sudah baik banget sama aku. Dia sudah banyak mengajariku selama ini dan banyak memberi kelonggaran padaku”.
Dalam fikiran Ferdian sudah melayang mengingat dulu ketika Hira minta izin ada urusan mendadak, langsung aja diizinkan. Pakai panggilan nomer pribadi lagi, tidak menghubungi nomer kantor. Ferdian tak sengaja melihat nama Pak Divisi di layar handphone Hira waktu itu. Mendengar jawaban Hira, Ferdian menggerutu dengan lantangnya sengaja agar Hira mendengar perkataannya.
__ADS_1
“Ya...iya*l*ah baik, memang ada maunya! Siapa saja juga akan baik sama kamu. Kamunya aja bisa menggoyahkan pertapaan hati seseorang” gerutu Mas Ferdian yang sengaja didengarkan di telingaku.
“Awas ya, jangan sampai lupa dengan Mas!” katanya memperingatkanku.
“Nggih, Mas,"
Sambungan kami terputus setelah terdengar suara Mas Dika yang terdengar genting. Aku segera menyiapkan kebutuhanku besok. Aku memasukkan barang-barangku dalam tas gendongku sambil tersenyum memikirkan tiap kata Mas Ferdian yang mengandung kecemburuan. Dan di sebrang sana ada orang yang meeting dadakan.
“Dik, aku ambil aja sendiri. Besok aku yang pergi ke cabang kota B. Siapkan berkasnya."
“Tumben biasanya juga aku yang pergi!" jawab Dika heran, karena muka Ferdian tak seperti biasanya.
“ Booking hotel segera! 2 kamar berdampingan ya, aku akan cuti 2 hari. Entar jika sudah beres kirim ke emailku. Aku akan pergi nanti malam. Antar berkas ke rumah, aku mau segera pulang." kata Ferdian dengan nada terburu-buru dan berbau ada sesuatu yang tak beres.
“Heran aku sama Si Ferdian, ada apa ya? Apa mungkin janjian sama Hira ya? Kok 2 kamar? Iya kali ya? Udah ah biarin aja! Tapi aku nih yang kena imbas. Dia langsung cuti 2 hari tak terhitung dengan hari DL, 3 hari dong tidak masuk kantornya ( Dika menepuk jidatnya). Dia enak-enak aku rodi sendirian di sini!" Dika mengomel sendirian dalam ruangan Ferdian, setelah Ferdian melangkah keluar.
Bergegas ke rumah Ferdian yang agak jauh dari Perusahaan. Dika mulai menggerutu “nasib-nasib! dah magrib gini masih di jalan, kapan aku mau punya pacar kalau tiap hari tak pernah jauh dari manusia langka satu itu. Dia beruntung, semunya nemu yang aduhai sempurna luar dalam."
Sampai di rumah Ferdian, adik Ferdian yang membukakan pintu. Tanpa sopan Dika menggodanya,
”Hallo, Dek Ana.”
“Hallo juga pacar Kak Fer.” goda Letiana balik.
“Emangnya Kakakmu mau gitu sama aku?” Dika mengedip-kedipkan sebelah matanya.
“Kali aja, udah tua-tua pada belum punya gandengan. Sudah gitu kalian selalu bersama-sama, nempel seperti perangko dengan amplopnya”
“Gak dapat nol-nol di saldo, kapok loe!" Letiana segera membungkam mulutnya sendiri, ketakutan kakaknya mendengar.
“ Hahaha...jangan macam-macam loe! kakakmu sudah tidak jomblo lagi kali! Makanya jadi adik tu yang perhatian pada kakaknya, jangan hanya kantongmu saja yang kamu fikirin!” Dika mencenol pipi Letiana yang langsung mengaduh kesakitan.
“ O...o...rupanya ada yang iri, jadi jomblo sendirian nih?" Letiana mengejek Dika yang masih menunggu Ferdian yang belum juga turun.
“Kenapa emangnya, Dek Ana mau mengubah status Mas?”
“Hih?” Letiana langsung beranjak pergi, meninggalkan Dika setelah melihat kakaknya sudah menuruni tangga.
“Fer, nih berkasnya. Aku juga sudah kirim beberapa file ke emailmu. Udah beres kan?" pertanyaan Dika setelah Ferdian memegang berkas yang diberikan Dika dan mengecek ulang.
" Aku mau pulang. Met bersenang-senang. Aku mau siapkan mental untuk besok." Dika melangkah keluar rumah setelah menepuk bahu Ferdian.
“Ok, thanks."
ikuti kisah terus ya....makin seru lho....
jangan lupa dukungannya...😘
__ADS_1