
happy reading....
Sepasang mata Febrian menemukan tempat yang tepat yang ingin diketahuinya, memandang arah memiliki rasa ingin tahu di hatinya.
" Ya Tuhan alihkanlah pandanganku dari wanita itu, dia memiliki label yang tidak boleh aku menghilangkan jarak darinya." Febrian mencoba melawan netranya untuk tidak memandang seseorang di sebrang sana.
Tanpa Febrian sadari arah pandangnya kembali pada seseorang yang sama, yang dari tadi membuat netranya tak mau beralih yang selama ini telah mengusik hatinya.
" Tuhan kenapa Engkau menempatkan hatiku pada situasi seperti ini ketika Engkau membuatku jatuh cinta pada seseorang" selama ini Febrian belum pernah jatuh cinta.
Akhirnya manik mata Febrian bertemu dengan seseorang " Kenapa tiba-tiba kamu bersedih setelah begitu mesranya membuatku sakit, maaf karena aku merasa sakit melihatmu bahagia dengan orang di sampingmu. Tapi jujur aku juga ingin selalu melihat senyumanmu. Tersenyumlah kembali."
"Aku selalu terdiam ketika orang di depanku kepanasan membicarakanmu, tapi asalkan kamu tahu betapa sakitnya hatiku menahan emosi dalam hatiku." Febrian masih memandang manik mata yang ada di sebrang sana.
"Pak Febrian, kopi di sini ternyata nikmat ya?"
"Iya Pak Ryan, pahitnya membuat nikmat."Jawab Febrian teralihkan dari pandangannya memandang penuh makna pada orang di depannya.
"Di kantor okey kan?"
"Okey Pak, tak mungkin kita semua di sini jika tidak okey!" Febrian mengalihkan penuh penekanan arah pembicaraan Ryan yang sebenarnya dia tahu apa yang ingin di tanyakannya.
"Dia begitu mengagumimu." Febrian tidak ingin membahas seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta pada laki-laki yang telah mengaguminya.
.
.
.
Aku memberanikan diri meminta izin berharap dia mau mengizinkanku. Aku beharap aku bisa bersikap bijaksana untuk menghadapi sesuatu ke depannya.
Aku tidak tahu apa yang difikirkan Mas Ferdian selain rasa cemburu yang aku tangkap pasti dari raut wajahnya. Kecemburuannya aku maklumi, tapi di balik itu aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan "Menghilangkan rasa takut di hatinya" yang ada di fikiranku hanya....
__ADS_1
Dari pertama awal kami bertemu tanpa aku sadari, dia banyak menimbulkan sesuatu hal yang selama ini belum pernah aku lakukan tapi dengannya aku meruntuhkan harga diriku. Awal ketemu saja, merasakan rasa sudah lama tak bertemu. Aku tiba-tiba memeluknya seperti memiliki rasa rindu lama tak jumpa, ketika bertemu lupa jaga jarak ada batasan dalam agama yang harus aku ingat, untuk meluluhkan hatinya aku berani ambil start tindakan menambah tulisan hitam di catatan sisi burukku.
" Harus bagaimanakah aku meyakinkanmu Mas?" lolos sudah dari bibirku yang tidak bisa menahan kegundahan di hatiku.
"Kamu tahu tidak sayang, kamu seperti orang yang putus asa dalam berusaha dan menyesali sesuatu yang telah berlalu. Kata 'Kah'mu di akhir kata bagaimana memberikan suatu penekanan." tanya Mas Ferdian membuatku bingung takut menambah kesalahanku.
"Iya kah? Maaf" kataku dengan raut manja memandangnya, mencoba menutupi kemungkinan kesalahanku.
"Hmmm" Mas Ferdian manggut-manggut penuh dengan senyuman mendengarkan kataku yang terkesan manja.
"Kemana coba arah kita, come back yang tadi.... "
"Gimana, izinkan ya? Biarlah aku bertindak anggun dan bijaksana dalam menghadapi masalah ini Mas," aku memotong kata-kata Mas Ferdian.
" Atau Biarkanlah Mas yang jahat, kamu masih bekerja di situ. Mungkin dia atasanmu langsung lagi suatu saat. Untuk menghindari itu, biarkanlah Mas saja yang bicara padanya. Kamu hanya menerima bersih dan Mas sebagai tokoh antagonisnya dalam hal ini. Dan itu, tidak mempengaruhi kerjaan Mas!"
"Dia yang bertanya padaku Mas? Jika Mas yang maju kesannya aku sebagai pengadu kalau gitu!"
"Kamu ingin jadi wanita yang 'baik' dalam hal ini? Apakah tidak akan menambah rasa inginnya untuk lebih mengejarmu?" aku menenteng ujung kerudungku padanya.
" Ya Allah, ini.... " aku menenteng kerudungku dengan kedua tanganku, Mas Ferdian melonggo entah apa yang difikirkannya hingga dia tidak connect"
"Mas tahu itu kerudung!"
"Biarkanlah aku tetap menjaga di balik kerudung ini masih ada sikap sopan santun. Mas sudah menodai imageku dengan asal sruduk dan aku juga sudah lupa batasan ini!" aku memegang ujung kerudungku lagi. Malu rasanya jika ingat aku yang lupa batasanku mengikuti memanfaatkan waktu meluapkan rasa rindu ketika sudah bertemu.
"Ternyata dengan jelas Mas jadi tersangka nih, kena dua pasal atas tindakan Mas dan responmu?"
"Hemm..." aku sedikit tersenyum dan mengaitkan tanganku di lengannya, menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Menjauhlah, imagemu akan ternoda nanti!" aku mendongakkan kepalaku menatapny masih berglayut manja di lengannya.
"Jangan seperti ini, ada orang yang melihatmu. Jaga imagemu!" aku mengedip-ngedipkan mata menatapnya yang tidak begitu menghiraukanku, tidak melihatku. Masam sampai terasa asam.
__ADS_1
"Mas.... " panggilku manja masih mendongaknya bergelayut manja di lengan kirinya, tangan kiriku menggapai pipi kanannya mengalihkan pandangannya agar menatapku.
"Mas, Mas.... " aku masih berusaha meruntuhkan masamnya jadi rasa manis.
.
.
"Akhirnya.... " aku menghembuskan nafas lega pertahanannya runtuh, dia mengecup bibirku singkat.
"Aku tidak kuat.... " Dia menatapku, belum menyelesaikan kata-kata yang ingin diungkapkannya. Aku mengerutkan keningku, mencerna kata-katanya mengarah kemana.
" Mas tidak kuat menahan ingin mencium bibirmu yang terlihat begitu manis ini," Mas Ferdian mengelus lembut bibirku dengan ibu jari tangan kanannya, kurasakan telapak tangannya yang hangat dan lebar. Aku masih menatapnya berglayut manja di lengan kirinya.
"Mas sudah pernah bilang padamu, nikmatilah perjalanan hidupmu. Lakukanlah hal-hal yang memang seharusnya kamu nikmati pada fase-fasenya. Tidak perlu memikirkan apa yang difikirkan orang lain. Kamu hanya perlu ke depannya, kamu harus bahagia!" Mas Ferdian mengelus kepalaku yang bersandar di bahunya. Aku hanya mengangguk pelan menyetujui kata-katanya.
" Mas akan mengizinkanmu sayang, aku berharap kamu bijaksana dalam bertindak. Mas tidak ingin kamu menganggap Mas telah membatasimu. Nyamankanlah hatimu bersanding denganku. Mas tidak ingin kamu terbebani dengan apapun. Dan Mas menginginkan sesuatu darimu, Mas ingin.... " aku terburu-buru mendongakkan kepalaku untuk menatapnya mencari tahu apa yang diinginkannya, Mas Ferdian merundukkan pandangannya melihatku yang sudah menunggu apa yang ingin dikatakannya hingga membuat kata-katanya terputus.
"Apa yang kamu fikirkan?" Mas Fedian mencenul hidungku menariknya kebawah dengan jari telunjuknya yang di lengkungkan. Aku hanya menyengir malu, seolah telah ketahuan apa yang ada di fikiranku.
"Memanganya Mas ingin apa?" tanyaku lirih dengan malu.
" Mas hanya ingin kamu percaya dengan Mas, setialah selalu apapun yang akan terjadi. Okey?" Mas Ferdian menatapku penuh dengan arti, menatapku seolah tak ingin kehilangan.
"He'em," aku memanggut-manggutkan kepalaku tanpa berfikir panjang, yang aku fikirkan hanya tak akan lama lagi kami pasti mengganti status kami dengan ikatan pernikahan.
" Ayo kita ke sana, sepertinya dari tadi cafe itu ramai. Mas sudah lapar, ternyata rasa di hati Mas tidak hanya membuat jiwa Mas yang kelaparan tapi juga perut Mas ikut laper." Kami berdiri, aku membenahi pakaianku yang sudah terlihat agak lecek di bagian belakang karna terlalu lama duduk. Mas Ferdian tiba-tiba memegang tanganku dan agak menarikku, hingga membuatku memperhatikannya. Aku mengagkat alisku pertanda menanyakan ada apa.
"Sebelum kita mengisi perut menghilangakan rasa lapar, Mas ingin adek menghilangkan rasa lapar di jiwa Mas dengan.... " Mas Ferdian mengeratkan pegangan tangannya menarikku hingga menabrak tubuhnya yang tinggi perfect membuatku menyelami tatapannya yang sekarang masuk dalam manik mataku mendongak menatapnya dalam. Mas Ferdian mulai mendekatkan wajahnya, kurasakan hembusan nafasnya menderu menyapu wajahku, membuat hatiku tergelenyir. Menutup mataku pasrah....
"Ya Allah ampuni aku. Aku hanya ingin bahagia, jangan sampai ini menjadi catatan dosaku." rintihku di dalam hati merasakan hangatnya bibir Mas Ferdian.
bersambung,
__ADS_1
ikuti kisah selanjutnya di episode berikutnya....😘
terima kasih atas kunjungannya...🙏🙏🙏