Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 13


__ADS_3

Mbak Tari dan Ryco seolah tak ada poin-poinnya untuk hubunganku dengan Mas Ferdian. Atau mungkin aku yang memang tidak normal. Tidak masuk akal karena menjalin hubungan yang seolah tak pasti. Padahal tinggal sedikit lagi, setidaknya aku akan sedikit lebih pantas jika bersanding dengan Mas Ferdian. Saat mereka sibuk dengan topik Pak Ryan, aku berdiri untuk menyerahkan laporan yang diminta Pak Febrian.


 


“Ra, tunggu bentar." kata Pak Febrian membolak-balikkan berkas yang aku berikan.


“Apa kamu sedang sakit?" aku menggelengkan kepalaku.


"Apa kamu punya masalah di rumah?" aku diam, Pak Febrian masih menunduk sambil meneliti tulisan di berkas yang aku berikan.


“Apa aku harus tanda tangan disini? aku mendekat di sampingnya, dia mendongakkan ke atas melihat wajahku. Tatapannya penuh tanda tanya, dan ada aura emosi di matanya.


“Lihatlah baik-baik Ra!" dia masih mengajakku berteka-teki.


"Haruskah aku tanda tangan? Depan sudah ok, laporan keseluruhan ok. Satu hal kesalahan yang kecil tapi ini penting sekali. Kamu masih belum sadar Ra?" sungguh memojokkanku, ingin tumpah sudah air mataku, bukan karena kesalahanku, bukan karena kata- kata Pak Febrian tapi karena lelah di hatiku.


“Ra, kenapa kamu kok malah nangis, bagaimana nanti fikiran temanmu, jika kamu nangisnya di ruanganku? Cepat perbaiki bagian namaku saja, aku tak akan tanya penjelasanmu. Akan segera aku tanda tangani. Segera kirim berkas. Setelah itu, bilang pada teman-temanmu kita berkemas pulang."


 


“Iya Pak. Terima kasih. Permisi." ternyata aku tadi mengetikkan nama penanggung jawabnya dengan nama  Mas Ferdian. Aku menepuk jidatku, merutuki kecerobohanku sambil berjalan menuju mejaku.


 


“Kenapa Ra?” tanya Ryco bingung.


“Salah teknis“ jawabku asal.


 


“Fokus Ra, fokus! Fikirin yang ada-ada saja!”


 


Aku hanya tersenyum menanggapi kata-kata Ryco. Selesai aku balik ke ruangan Pak Febri. Aku segera berkemas pulang, saat masuk lift tak sengaja ada Pak Ryan di situ.


“Sore Ra,"


“Iya, selamat sore juga Pak." aku agak menundukkan kepalaku, karena ada karyawan lain di situ termasuk Mbak Tari dan Ryco. Pak Febri masih lembur sendirian.


 


“Hmm...hmmm ( deheman Ryco membuat keadaan jadi canggung ) Oya Ra, aku lupa gak pesenin taksi untukmu tadi. Aku juga gak bisa antar kamu Ra. Ada urusan soalnya, kamu bareng sama Tari saja!"


"Aku gak baw....." belum selesai Mbak Tari ngomong aku mengambil Hpku yang berbunyi nada chat masuk, aku berharap Mas Ferdian.


 


“Gak apa, aku bisa nunggu...." tiba- tiba ada chat masuk yang kulihat sambil menjawab Ryco.


From : Pak Divisiku ( aku belum mengubah namanya di menu kontakku )


 Bareng aku aja, aku tunggu di parkir.


"Nu...nuggu taksi.” lanjutku terbata melanjutkan jawabanku pada Ryco. Dan chat masuk lagi,


From : Pak Divisiku


 Jangan nolak, aku tunggu sampai kamu muncul.


 


Pusing aku jadi jawab apa, sedangkan Ryco sudah lirak-lirik padaku yang masih hanya memandangi layar ponselku.


“Sudah, iya aja!" bisik Ryco di dekat telingaku.

__ADS_1


“ Hilang satu muncul seribu, iya kan Ri?" gunyamnya pada Mbak Tari yang bisa aku dengar.


 


Mbak Tari dan Ryco langsung keluar pamitan denganku dan mengedipkan sebelah matanya.


“ Awas ya, kalian sengaja menjebakku!" gerutuku karena terjebak situasi sambil. Kutarik kemeja belakang Ryco. Yang membuat Ryco sampai mengaduh karena kemejanya begitu ketat membentuk tubuhnya. Tarikanku sampai tembus di kulit punggungnya.


 


Aku melihat Pak Ryan yang melewatiku seperti bukan dia yang kirim chat padaku. Aku berjalan pelan seolah menghindari karyawan lainnya. Aku memutuskan untuk berjalan menuju parkir yang biasanya ditempati mobil Pak Ryan, dit...dit...aku mendengar suara klakson. Aku segera mempercepat langkahku. Pak Ryan membukakan pintu dari dalam tempatnya dia sudah duduk manis menungguku.


“Kok lama Ra, ngumpet dulu ya?” katanya ketika aku memasuki mobil.


“Nunggu sepi Pak, takut gosip tak sedap“


“Gak usah sewaspada itu Ra, jika pun ada gosip gak masalah 'kan? Kita sama-sama berstatus single. Sah dong, jika kita punya hubungan. Lagian tak ada peraturan perusahaan yang mengharuskan dilarang pacaran" Pak Ryan mengatakannya sambil tersenyum manis menatapku. Ketika aku juga sedang melihatnya.


“ He...he...” aku nyengir gak jelas harus ngomong apa. Tidak mungkin jika tiba- tiba bilang sudah punya pacar.


 


Kata Ryco manfaatkan yang ada di depan kita. Maksudnya jangan sia-siakan. Perjalanan menuju rumahku begitu canggung. Dan terasa lama tak sampai-sampai tempat tujuan. Aku berpamitan dan tak mempersilahkan dia masuk, takut jika benang akan semakin kusut.


 


“Sampai jumpa besok pagi “ kata Pak Ryan membuatku hanya menunduk mengucapkan terimakasih.


 


Sampai malam pun masih tidak ada tanda-tanda kabar, email kosong, chat masih tertumpuk dengan yang lain, daftar pangilan pun terakhir masih tertera tadi pagi waktu telephonan. Nama yang selalu muncul di setiap detik waktuku di layar handphoneku, seharian ini bagaikan telah terhapus di dalam daftar kontak. Fikiranku mengembara “Seandainya dia tak ada lagi dalam hari-hariku? Bagaimana aku harus menghadapi waktuku? Aku tak akan bisa membayangkan Mas, bagaimana jalan fikiranku akan melangkah untuk fress kembali?” aku tertidur dalam tangisku.


 


From : Mas Ferdian


 


Ku tatap layarku bagaikan aku melihat, betapa bahagianya dia mengetikkan tulisan itu! Tanpa ada rasa beban rasa bersalah padaku telah menelantarkan aku kemarin. Kunantikan chatnya, tapi ketika aku melihatnya yang ada hanya rasa sakit yang tiba-tiba membuat pipiku basah. Tak ada keinginan untuk segera membalas chatnya. Rasa sakitku bertambah ketika mengingat suara Letiana yang bergetar menandakan ada sesuatu yang ditutupinya.


 


Aku berangkat kantor dengan mata yang agak sembab. Tak ada pergerakan dari Mas Ferdian untuk menelphoneku setelah chatnya tidak aku balas. Bertambah sakit lagi rasanya hatiku. Sepanjang jalan perjalananku menuju kantor, air mataku bagaikan hujan di musimnya. Malu rasanya aku masuk ke dalam pintu masuk perusahaan. Aku meruntuki diriku sendiri “Oh...mataku, kenapa kau tak mau berbaik hati padaku untuk tak membanjiri pipiku?” aku mengambil nafas panjang untuk mengatur sesak yang ada dalam hatiku. “Hai air mataku jangan lagi kau mengalir, ini bukan anak sungai!” aku bergunam sendiri seolah telah kehilangan akal sehatku. Aku mengelapnya dengan tisu yang ada di tanganku berusaha menghentikannya. Sebelum sampai ruanganku, aku mampir di toilet dan menyapu wajahku dengan air. Habis sudah, pucat wajahku tanpa tambahan bedak yang aku oleskan tadi pagi sebelum berangkat.


“Hai Ra," Ryco mendongakkan daguku, meneliti wajahku setelah dia melirikku dari samping waktu kami beriringan berjalan, aku keluar dari lorong toilet.


 


“Apaan sih, pegang-pegang!" Nadaku agak jengkel.


 


“Aku hanya mencari jawaban dari rasa curigaku. Apa yang terjadi dengan Adik Imutku satu ini? Ternyata benar 'kan? Tak mungkin jika karena Pak Ryan. Iya kan? Ayo jawab!” sebegitu pedulinya dia padaku seolah benar-benar aku adiknya. Dia memberikanku pertanyaan tanpa ada kesempatan aku untuk menjawabnya.


“Maaf Ra, jika aku terlalu ikut campur. Tapi aku hanya ingin kau benar-benar bahagia. Aku tahu kamu sudah bahagia dengan pujaanmu itu. Dan dalam hubungan memang ada rintangannya, ada ujiannya. Tapi sesakit apapun ujian yang akan kita hadapi, lebih baiknya jika kita menjalani hubungan dalam kenyataan. Bukan nyata yang banyak bayangannya saja! Seperti yang kamu jalani itu. Jika aku lebih dulu mengenalmu dari pada kekasihku. Mungkin aku akan jatuh cinta padamu Ra. Setiap orang mudah untuk bisa jatuh cinta denganmu. Jadi please, kamu fikirkan baik-baik jalan mana yang akan kamu lalui, pilih lah! Karena pilihanmu yang akan menentukan keadaanmu. Ok?


Sekarang kita masuk ruangan atau kamu izin saja, akan aku antar kamu pulang. Akan aku izinkan kamu pada Pak Febrian. Gimana?” Aku terdiam, mendengarkan Abang ketemu gedeku bertausyiah. Tak sadar begitu terharunya, aku memeluknya. Aku tenang, seolah menemukan tempat berteduh ketika hujan turun tiba-tiba dalam perjalananku. Tiba-tiba Ryco melepaskan pelukanku, membuatku sadar hal yang aku lakukan.


 


“Kamu akan membuat orang salah paham, Adik Imutku!” peringatannya membuatku kaget. Dan aku baru menyadari jika kami masih ada di sudut luar lorong toilet dekat jalanan menuju ruangan kami, jalan pantura orang berlalu lalang.


 


“Maaf Co, Aku masuk kerja saja. Aku sudah lebih baik. Makasih, kamu seperti bisa membaca apa yang ada dalam fikiranku. Aku bisa lega tanpa aku bercerita panjang lebar padamu, karena kamu sudah mengerti lebih dulu. Disaat kamu seperti ini, kamu tidak seperti orang yang selama ini telah banyak membuliku."

__ADS_1


 


“Orang akan lebih kuat setelah dia terombang-ambing. Jadi jangan kamu anggap bulian tapi anggaplah itu suatu imun kehidupan gratis untukmu, Ra."


“Usap lagi wajahmu, ( Ryco memberikan sapu tangan kainnya padaku), pakailah lipstik biar tak terlihat pucat” aku kembali ke toilet memakai lipstik sesuai saran Ryco.


“Cepat nyusul, aku akan masuk ke dalam lebih dulu. Ok?” Ryco mengusap pujuk kepalaku yang tertutup kerudung. Dan aku menjawab dengan anggukan.


 


Aku menyapukan sedikit warna di bibirku, untuk menghapus kesan pucat di wajahku.


 


“Bang, ( panggilanku terhadap Ryco ku ubah, membuat Mbak Tari melongo heran. Tapi orang yang ku panggil tersenyum sayup, memandangku dengan keteduhan kasih sayang ) berkas pelengkap kemarin di tanyakan pak Febri tuh” kataku habis dari ruangan Pak Febri.


 


“Ok, sudah siap kok. Tinggal ngecek ulang."


 


“Boleh aku bantu?”


 


“Boleh lah, makasih. Aku masih kerjakan ini soalnya. Segera aku naikkan, ditunggu soalnya."


 


“Ih...Ada yang aneh nih pagi ini. Rukun amat! Di luar hujan ya?” Mbak Tari sedikit menyelidik. Tapi aku dan Ryco sama sekali tidak menyambungnya. Pura- pura tak mendengarnya.


 


 


“Eh...Bang, yang ini kan?” tanyaku dan Ryco mendekat berdiri mengungkungiku dari belakang tangannya memegang mouse.


" Ini dia, susun dan taruh map.“ Ryco langsung mencetaknya.


“Cie drama adik kakak saling menyayangi nih ceritanya?" sindir Mbak Tari.


Langsung aku mengantarkan berkas tadi pada Pak Febrian, karena Pak Febrian sudah menunggu. Ku buka pintu setelah mendengar perintah darinya.


 


“Pak, ini berkas yang Anda minta dari Ryco."


 


“Duduk bentar Ra," sambil menunggu acc, mataku berkeliling melihat foto-foto yang terpajang. Sudah bukan milik Pak Ryan lagi. Wajah satu orang dalam foto itu, yang membuat mataku tak mau beralih dari situ. Hingga membuat fikiranku melayang.


 “ Ra, kamu kenapa?”


.


.


.


 


Tunggu lanjutannya dalam episode berikutnya..😘


Mohon dukungannya ya....🙏🙏

__ADS_1


 


__ADS_2