
happy reading...
Febrian menatap Hira yang mengemasi barang-barangnya sebelum pulang, kebetulan hari ini tidak ada lembur. Walaupun ada pekerjaan numpuk, mungkin saja Febrian mengatur semua ini untuk membuat Hira tidak merasa canggung. Setelah kedatangan Febrian di hari yang sama dengan kedatangan Tari dan Ryco menjenguk Hira, sekarang Hira dan Febrian menjadi sedikit canggung. Febrian hanya melihat gerak-gerik Hira dari dalam ruangannya saja.
“Ra, apakah dia sudah sampai? (Hira mengangkat kedua bahunya ) Apa Pak Febrian mengetahui tentang hal ini?”
“Aku rasa tidak, jika iya mungkin saja Pak Febrian sudah menghampiriku.”
“Iya juga ya, atau dia tahu tapi canggung jika dia terlibat?”
“Mana aku tahu? Aku tidak tahu!”
“Ra, atau kita ke cafe sebelah saja?” Hira menggelengkan kepalanya, air matanya tiba-tiba tergenang dan Ryco menyadari hal itu.
“Kenapa lagi adikku sayang? Huh… “ Ryco mengelus kepala Hira,
“Co, aku duluan. Jangan malam-malam mengantar pulang pacar dan anak gadis orang!” peringatan Tari yang menyenil hati Ryco.
“Aman!” jawab Ryco seolah tidak nyambung terdengar di telinga orang, Hira hanya menautkan alisnya tanpa menanggapi apa maksud di balik itu.
“Cari cafe lain yang tidak sulit untuk ditemukan pendatang baru kota ini, dekat dengan arah kita pulang. Tapi jangan cafe sebelah. Aku tidak ingin tempat itu menjadi sanksi awal dan mungkin akhir kisahku. Biarlah aku memasuki cafe itu dengan aura kenangan yang indah dalam hidupku, Bang.” Ryco manggut-manggut mengangkat alisnya.
“Okey, em… kita ke resto ‘YO WES’ saja! Jangan bilang nanti kamu tidak akan bisa balik makan di sini lagi setelah pertemuanmu nanti.” Hira terssenyum mendengar kata-kata antisipasi Ryco.
“Bang, kamu aman kan sama Mbak Er. Beberapa hari ini aku benar-benar merasa ada yang aneh denganmu lho. Biasanya lancar tu, pegang handphone. Tapi… “
“Apa benar-benar sempat kamu memperhatikan setiap gerakanku? Kamu sendiri saja sibuk dengan hatimu. Kamu jangan ngarang. Ayo cepat jalan!” Ryco menarik tangan Hira. Mereka melihat Febrian yang masih sibuk dengan komputernya ketika melewati ruangan Febrian. Ryco mengetuk dinding kaca, mengisyaratkan pamitan.
“Ra, ada yang aneh dengan Pak Febrian. Kamu merasakan sesuatu ngak?” Kata Ryco setelah memasuki mobil.
“Masak sih?” elak Hira.
“Lupa aku, hatimu kan sibuk sendiri!” Ryco menatap wajah Hira dengan pandangan yang tidak bisa dicerna.
“Ra, ikut sekalian parkir atau kamu turun di sini dulu?” tanya Ryco setelah sampai depan Resto.
“Barengan saja, tidak enak harus bengong sendiri kayak orang hilang.”
“Takut bengong kayak orang hilang atau takut bayar sendiri?” Hira memalingkan wajah dengan muka cemberut.
“Hih, gitu saja ngambek. Aku tahu kamu mampu bayar!” kata Ryco mengingat kata Tari saldo yang sampai nol-nolnya tidak muat. Hira melongo memandang raut wajah Ryco kembali pandangannya sibuk berkeliling mencari tempat parkir yang kosong.
“Ternyata di sini favorit banget ya, susah cari tempat parkir. Bukan favoritmu dengannya juga kan Ra?” tanya Ryco yang masih tidak sadar diperhatikan Hira.
“Ra,” panggil Ryco menoleh pada Hira karena tidak ada respons sama sekali.
“Ada apalagi Ra? Cara pandangmu menakutkan, apa ada kata yang salah aku ucapkan? Maaf. Ayo turun. Takut jika tidak ada kursi juga aku kan juga butuh booking meja juga ketika Rinna datang. Tidak mungkin kan aku nimbrung dengan kalian?”
“Hmm.” Jawab Hira singkat, Ryco tidak memperpanjang lagi segera turun dan membukakan pintu untuk Hira yang masih berdiam tanpa pergerakan.
“Imute sekali kamu Ra, akan aku buat ngambek terus Ra jika kamu pacarku. Tapi jangan tanya konsekuensinya. Huh… habis Ra, bibir manismu. Atau jangan-jangan itu juga yang di lakukan Ferdian padamu?” Ryco bergunam sendiri di dalam hati menunggu Hira yang menurunkan kakinya dengan pergerakan lambat.
“Butuh bantuan untuk turun Tuan Putri?” Hira masih mengantung belum menapakkan kakinya di bumi pertiwi.
“Apakah kita pulang saja? Aku akan menutup pintunya kembali.” Hira masih temangu.
“Okey aku minta maaf jika ada kata-kataku yang menyinggungmu, bibir ini memang tidak bisa menjaga apa yang akan di keluarkan.” Ryco menepuk-nepuk bibirnya sendiri. Hira hanya tersenyum sinis.
__ADS_1
“Sekarang ayo turun, aku jadi lapar! Atau aku gendong beneran lho!” ancam Ryco.
“Jangan macam-macam ya! Aku igin mengumpulkan kekuatan dulu!” Ryco tertawa.
“Emangnya kamu apa mau mengumpulkan kekuatan? Kamu lucu! Tepatnya, akum au ambil nafas dulu Bang, menyiapkan hatiku agar aku tidak sanping di sana.”
“Jangan berkata begitu, aku pingsan beneran kamu binggung lho Bang!”
“Okey… okey berapa lama aku harus berdiri di sini? Tahu gitu tadi aku tidak keluar!” gunam Ryco.
“Bentar lagi, tapi aku masih memperhitungkan apa yang kamu katakan tadi Bang!”
Hira berdiam diri di tempat parkir yang masih setia ditemani oleh Ryco yang mondar-mandir di sekitar mobil selama lima belas menit tanpa ada perbincangan sedikitpun. Ryco benar-benar membiarkan Hira menata hatinya yang jelas-jelas terlihat nervous di wajahnya dan tangannya yang terlihat jelas sedikit gemetar.
“Aku lapar, kamu mau pesan apa? Atau Rinna sudah sampai? Jika iya aku akan pindah dari sini.”
“Masih belum ada kabar Bang.” Hira membuka layar handphonenya.
“Kamu chat aja dulu, biar aku bisa kira-kira dan bilang jika sudah kamu tunggu, share lok saja.”
“Baiklah.” Hira segera melakukan apa yang di katakan Ryco.
“Bang katanya 20 menitan lagi.” Kata Hira setelah mendapat balasan.
“Untung saja aku menemanimu, kalau tidak bagaimana raut wajahmu bengong menunggu orang yang… “
“Stop jangan di lanjutkan, pasti menyakitkan walaupun sungguhan.” Seyum terpaksa Hira, ia terbitkan.
Hira dan Ryco makan dengan serunya tanpa ada rasa malu jaga attitude. Ryco tersenyum bersyukur kata-kata yang pedas yang sengaja ia lontarkan pada Hira membuat Hira semangat untuk mengisi perutnya yang mungkin sekarang tidak terjadwal lagi.
“Huh, jangan lupa kamu yang bayar!”
“Okey lah, hah… selalu aku kalah darimu Ra! Baiklah aku akan bayar, sekalian pesan kopi. Biar seger!” Ryco berdiri dari tempat duduknya dan seorang pelayan datang membersihkan mejanya.
Tak lama Ryco berdiri di bagian pembayaran, telephone Hira berdering dan tertera nomer yang belum tertulis namanya.
“Iya hallo… “
“Ini aku Mbak Hira, Rinna. Aku berada di pintu masuk, Mbak Hira duduk di sebelah mana ya?”
“Aku akan berdiri, aku pakai kerudung hijau thoska.” Hira berkata sambil berdiri dari tempat duduknya, memandang pintu masuk resto yang lumayan padat dengan lautan orang makan, suasana begitu bising tapi masih jelas terdengar suara music yang bernuansa galau terdengar menyayat hatiku.
“Mbak Rinna jalan saja lurus, lihat arah tangan kanan Mbak.” Hira melambaikan tangan dari kejahuan setelah tatapan mata mereka bertemu. Ryco yang melihat Hira bertelephonan dan menyapa seseorang segera memboking tempat duduk dimana masih bisa menatap Hira bahkan mungkin masih bisa mendengar apa yang akan di perbincangkan.
“Maaf sudah lama menunggu ya?” sapa Rinna yang tiba-tiba mengaitkan telapak tanggannya dengan Hira, seolah telah akrab.
“Haduh Ra, rukun sekali istri nomer satu dan madunya… huh! Jika orang lain menilai kalian pasti sahabat yang lama tidak pernah bertemu.” Gunam Ryco pelan mengamati tangan mereka yang saling bertautan seperti sahabat lama.
“Lumayan, aku sudah makan tadi. Kelaparan, tadi siang hanya makan sedikit. Maaf ya Mbak, Mbak Rinna mau pesan apa?" Kebiasaan Hira yang selalu ramah dengan siapapun, Hira langsung memanggil waitress tak menunggu persetujuan Rinna.
“Silahkan Mbak menunya, mungkin tidak sama dengan menu di kota Mbak Rinna. Mungkin ada yang Mbak suka, bisa di coba menu di sini saya pastikan rasanya enak.”
“Baiklah,” Rinna memilih menu, setelah waitress melangkah pergi Rinna mengambil nafas dan melepaskan. Hira mulai bersiap juga sepertinya Rinna ingin memulai apa yang ingin di sampaikannya.
“Mbak Hira, sebelumnya saya mau memperkenalkan diri secara resmi terlebih dahulu, Rinna.” Rinna mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Hira,”
__ADS_1
“Mbak Hira, saya ke sini ingin memohon maaf sekali sama Mbak Hira. Mungkin Mas sudah bilang sama Mbak tentang saya. Saya sungguh memohon maaf atas apa yang terjadi belakangan ini.”
“Jujur saja Mbak Rinna, aku dan Mas Ferdian kami masih belum ada komunikasi setelah terakhir kami bertemu. Dan saya tidak mengetahui apapun tentang Mbak. Mas Ferdian sama sekali tidak mau menceritakan apapun tentang Mbak, Mas hanya bilang ‘aku menganggapnya sebagai adik titik’ seperti itu. Jadi aku tidak mau melebihi batasanku walaupun hatiku merasa kecil dan maaf sebagai wanita aku juga merasakan ketidak nyamanan, apalagi dengan seperti inilah aku.” Hira mengangkat kedua bahunya menunjukkan apa adanya dirinya.
“Saya benar-benar minta maaf Mbak, jika Mas sampai belum ada komunikasi padamu, saya yakin Mas hanya merasa bersalah dengan keadaannya yang sekarang, kami sudah menikah hampir sebulan. ( Rinna memandang Hira masih tegar tanpa mengedipkan matanya ) Tepatnya mungkin dua hari atau tiga hari setelah dia kembali dari sini. Saya benar-benar minta maaf Mbak. Sebelumnya saya… “
“Permisi… “ Waitress datang menata menu yang Rinna pesan, dan avocado juice yang di pesan Hira.
“Terima kasih Mbak,” kata Hira setelah waitress menyodorkan juicenya di hadapan Hira.
“Silahkan dinikmati dulu Mbak, mungkin Mbak lapar setelah perjalanan jauh.” Hira mencoba menetralkan hatinya, menikmati juice yang manis untuk menguatkan hatinya yang terasa sakit.
“Saya ingin melanjutkan obrolan kita dulu.”
“Okey silahkan,” Hira masih terlihat tegar.
“Sebelumnya saya telah lancing memohon pada Mas Ferdian agar dia mau menikahiku Mbak, aku tidak akan menuntut apapun dari pernikahan kami, karena dia sudah mengatakan kalau dia tidak mencintaiku. Dan hatinya sudah ada pemiliknya. (Hira mengedipkan matanya menahan air mata yang akan terjatuh ) Seperti apa yang telah di katakannya pada Mbak Hira, dia hanya mengganggapku sebagai adik. Dan aku sudah memohon padanya jika tidak apa-apa kalau Mas Fer masih memiliki hubungan dengan pacarnya. Tapi dia masih menolak, katanya dia tidak sanggup untuk membaginya lagi.”Hira teringat dengan kata-kata yang terucap saat di mobil ketika Rinna menelephone. Hira hanya mendengarkan dan menatap Rinna.
“Mbak, jujur sampai sekarang Mas Ferdian masih belum menyentuhku. Dia belum memberikan nafkah batin kepadaku.” Hira merunduk mendengarkan hal itu,
“Mendengar kamu menikah saja dengan kekasihnya hatinya sudah merasa sakit. Lalu apa maksudmu memberi tahunya tentang hal itu padaku. Apakah kamu ingin dia mengemiskan perang ranjang pada suamimu untuk menghangatkan tubuhmu?” gunam Ryco tidak sadar apa yang dikatakannya terdengar oleh meja sebrang.
“Apakah dia mengomentari tentang pembicaraan kita?” Kata Rinna menoleh kearah Ryco yang menatap secangkir kopi yang ada di hadapannya.
“Mbak salah dengar, jangan dihiraukan.”
“Menyambung yang tadi, soal hal itu Mbak Rinna yang sabar dulu ya. Lalu tentang izin Mbak Rinna yang mengarah pada poin Mas boleh mendua. Aku rasa, sebagai wanita aku tidak menyetujuinya. Dengan alasan apapun pernikahan Mbak dan Mas Ferdian berlangsung aku ucapkan selamat berbahagia. Tapi aku tidak ingin jika terjadi poligami.”
“Tapi Mbak aku mempertimbangkan hal ini karena aku merasa aku sanggup. Aku tahu Mas Fer memiliki saham di perusahaan Mbak Hira bekerja ( Hira sedikit menajamkan matanya, teringat apa yang di katakan Ferdian kalau tidak ada yang tahu tentang hal itu ) jadi aku mempertimbangkan Mas Fer yang akan datang ke sini berbagi waktu dengan Mbak Hira tidak akan pernah di ketahui public. Apabila di ketahui oleh public sekalipun orang tidak akan heran dengan status sosial kami.”
“Tidak Mbak, terima kasih. Aku yang akan mundur. Kantor di sini juga luas, aku bisa menghindari kedatangan Mas Fer.” Kata Hira sedikit menahan emosi.
“Silahkan Mbak nikmati dulu makanannya aku rasa sudah dingin.” Hira berusaha melebur emosi yang ada di hatinya.
“Saya mohon Mbak Hira jangan katakan pada Mas Fer jika aku menemui Mbak Hira, Mas Fer tahunya saya ke kota B.” Rinna menikmati makanannya dengan sikap yang elite.
“Inilah bedanya aku dan dia, apapun makanan yang dia santap, dia masih elegan sedangkan aku, wong ndeso pasukan Bang Ryco yang brangasan reti panganan.” Batin Hira merasa terpuruk.
“Mbak Hira tidak perlu khawatir, jika Mas Fer menghubungi Mbak. Angkatlah jangan menghindarinya, saya ingin melihat Mas Fer bisa ceria seperti dulu lagi. Jika Mbak Hira tidak keberatan, Mbak Hira bisa menghubunginya terlebih dahulu. Mungkin itu yang akan bisa merobohkan rasa cemas Mas Fer, dan restu Mbak Hira akan mengurangi sedikit rasa bersalahnya.”
“InsyaAllah.” Hanya kata itu yang terucap dari bibir Hira entah yang mana yang di jawabnya dengan jawaban itu.
“Saya benar-benar mohon maaf Mbak, saya berharap kita bisa akur dan benar-benar bisa berteman baik. Syukur-syukur bisa menjadi keluarga.” Hira hanya menerbitkan senyuman yang dipaksakan menanggapi kata-kata Rinna.
“Saya pamit Mbak, saya akan segera balik. Papa masih butuh perhatian lebih. Maaf ya mbak sekali lagi.” Rina berbalik. Sengaja melihat orang yang masih dengan santai duduk tanpa teman.
Dalam perjalanan pulang Rinna teringat dengan kata-kata yang di katakan orang yang ada di belakangnya saat duduk di resto tadi.
“O, aku ingat sekarang dia mirip dengan orang yang pernah aku lihat di foto. Tapi siapa ya?” Rinna mencoba membuka-buka galeri fotonya.
“O… benar kan apa yang aku ingat! Tidak terasa asing dia. Dia orang yang bergandengan dengan Mbak Hira. Kenapa Mbak Hira tidak bilang tentang laki-laki tadi ya? Dia juga tenang sekali dengan kata-katanya. Apa mungkin dia sudah menjalin kasih lagi? Tapi tidak mungkin, wanita yang membuat Mas Fer bisa mabuk kepayang tidak mungkin wanita yang sembarangan. Lebih baik aku tanyakan saja. Toh foto ini Mbak Emma yang mengirim.” Rinna berbicara sendiri dalam perjalanannya pulang.
.
.
lanjut episode berikutnya ya, 😘
__ADS_1