Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 20


__ADS_3

Fikiranku dan hatiku penuh dengan kata yang tak ada jawabannya. Mas Ferdian menawariku untuk menanyakan sesuatu yang ada di dalam fikiranku. Tapi sebelum aku membuka mulutku untuk bertanya, dia sudah memberikanku spam agar aku tak mengungkapkannya.


 


Sampai di hotel Ferdian langsung call Rina,


Calling...


Rinna


“ Hallo," jawab Rina cepat, seolah telah menunggu telephone dari Ferdian.


 


“ Hallo, Rin. Aku langsung saja, kemarin kita sudah membahas ini. Kenapa kamu tiba-tiba menelphoneku. Saat kamu menelphone aku dalam posisi di luar jam kantor, bebas dong aku mau ngapain. Aku bukan tunanganmu ataupun suamimu. Tidak perlu kan ke mana-mana izin padamu. Aku tahu setinggi apapun aku berkuasa di Perusahaan Papamu, tetap aku bawahanmu. Tapi bukan berarti kamu harus tahu segalanya tentang kehidupan pribadiku!”


 


“Segera akan terjadi. ( Ferdian menghembuskan nafas kasar yang terdengar oleh Rina ) kenapa Mas diam saja ketika Mas dimintai jawaban Papa untuk segera menikahiku, saat di depanku?” Rina mengingatkan kejadian beberapa hari yang lalu di kota B.


 


“ Aku hanya menghormati kamu di depan papamu, aku ingin kamu menjelaskan keadaanku pada Papamu. Atau kamu memikirkan hal lain lagi sebagai alasannya tanpa aku melukai harga dirimu.”


 


“ Aku hanya ingin selalu ada di sisimu. Kita sama-sama mengelola Perusahaan. Seperti harapan Papa, Papa sudah tua sudah ingin beristirahat. Dan hanya kamu Mas yang Papa percaya. Aku harus bagaimana? Aku memang sanggup memimpin perusahaan, tapi aku juga seorang wanita. Aku ingin dilindungi dan butuh diayomi. Dan selama ini aku sudah bergantung padamu karna kamu yang selalu ada di sampingku“


 


“ Dan itu mengharuskan aku untuk bertanggung jawab?“ kata Ferdian terbawa emosi.


 


Ferdian bersikap baik, lembut karna itu permintaan Pak Agum, Papa Rinna. Karna Rinna anak tunggal yang akan mewarisi Mandala Group. Pak Agum mengharapkan Rinna nyaman ketika tinggal di Perusahaan. Dan terdidik menjadi pemimpin yang hangat, bijaksana, berwibawa dalam bimbingan dan dampingan Ferdian. Tapi bukan karena itu juga Ferdian mendapat posisi yang tinggi dalam perusahaan Mandala group. Ferdian berpendidikan yang sesuai dengan posisi, berpotensial dalam kepemimpinan. Perusahaan sangat berkembang pesat jauh dalam kepemimpinannya.


 


“ Iya. Kamu membuatku salah faham dengan perasaanmu. Kamu memperlakukanku dengan lembut, kamu menuruti segala apa yang aku inginkan, bahkan kamu lebih tahu apa yang aku inginkan dari pada diriku sendiri. Wanita mana yang tak akan salah faham dengan sikapmu?” kata Rinna.


 


“ Ternyata bersikap baik pada seseorang bisa membuat salah faham. Jangan kamu bertanya padaku jika aku merubah sikapku!“


 


“ Setelah kamu putus dengan Mbak Em, kamu juga tak bersikap lembut padanya. Tak salah kan jika aku berfikir Mas memperlakukan wanita dengan berbeda. Dan Mas bisa bersikap dingin pada orang yang tidak Mas inginkan. Aku sudah membolak-balikkan fikiranku. Ketika aku sudah memupuskan perasaanku. Selalu muncul kata, tidak mungkin dia tidak ada rasa denganku sikapnya, tatapannya” sahut Rinna ketika Ferdian akan menutup telephone.


 


“Sepertinya masalah ini tidak sesederhana yang aku fikirkan. Yang pasti kamu salah faham. Tanyakan saja pada adikku. Tanya padanya jika sudah lama aku menjalin hubungan dengan orang lain. Kamu bisa crosscek  pada asistenku. Tanyakan schedule perjalananku atau pengeluaranku sekalian. Garis bawahi, tidak ada tindakan pengeluaran uang perusahaan untuk keperluan pribadiku. Aku akan keluar secara terhormat jika diperlukan” sambungan telephone diakhiri dengan penuh emosi.


 


Calling...


Adikku cantik


 


“Assalamuallaikum,”


 


“Waalaikumsalam, Dek.”


 


“Tumben bersenang-senang masih ingat dengan Adikmu, Kak?“ Kata Letiana seolah dia tidak tahu maksud dari Ferdian menghubunginya.


" Pasti ada sesuatu terjadi, mungkinkah Nenek Sihir sudah bertindak." Batin Letiana.


“ An, nanti kalau Mbak Rinna telphone kamu atau sampai rumah. Cerita apa adanya saja tentang hubungan Kakak dan Mbak Hira. Bilang juga kalau kami dah lama pacaran, emang benar seperti itu. Cuma kamu yang baru tahu. Kamu kalau takut jika Kakak bohong. Kamu tanya aja pada calon suamimu. Sekalian bilang juga, jika Kakak emang selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Mbak Hira, oke An? Kamu dengerin Kakak bicara kan?”


“ Aku dengerin kok Kakakku ganteng, tapi jangan lupa untuk....”


 


“ Entar Kakak transfer, bangkrut tuh entar Si Dika pelihara kamu ya?Suatu saat jangan salahkan Dika jika dia sampai tak pulang, lembur kejar setoran karna ulahmu"


 


“ Kakak jangan ngomong yang aneh-aneh ya, lagian siapa juga yang akan nikah dengannya?”


 


“ Jangan gitu, dia sabar dan penurut banget lho! Cocok sama kamu yang bawel dan banyak maunya” Ferdian tertawa mengejek.


 


“ Kak Hira, aman 'kan?”

__ADS_1


 


“ Do’ain aja ya Dek, makasih sudah peduli sama Kakak."


 


“ Oya Kak, tadi Mbak Emma ke rumah. Aku gak tahan lihat mukanya. Pedes-pedes lah aku ngomong sama dia. Biar gak nginap. Terakhir dia main ke rumah, dia pegang-pegang handphoneku deh Kak.


Sepertinya terakhir aku chatan sama Kak Hira. Tahukan Kak, arah pemikiranku ke mana, Kakak tahu sendiri kan gimana itu watak mantan pacar Kakak. Aku takut kak dia menyakiti hati Kak Hira. Dia juga menggerutu tak jelas yang menakutkan.”


 


“ Oh, mungkin ini yang membuat tiba-tiba Rina berani mendesakku seperti itu. Biasanya dia lemah lembut sekali. Dan tidak berani banyak tingkah” batin Ferdian mendengarkan cerita adiknya.


 


“Iya, Kakak tahu. Makasih Adikku cantik. Kakak sudah cerita tentang masa lalu Kakak. Tapi ada hal lain yang belum aku bicarakan padanya dan Kakak tidak mau dia terluka jika mengetahui hal yang kakak tutupi.”


 


“Apapun itu Kakak harus jujur pada Kak Hira, antisipasi Kak agar tak ada orang lain yang mendului Kakak cerita. Rasanya pasti akan sakit jika tahu dari orang lain. Apalagi kalian lama menjalin hubungan tanpa adanya pertemuan. Banyak hal yang bisa dicakapkan tapi Kakak masih menutupi sesuatu, hal itu akan buat Kak Hira lebih terpukul.”


 


“ Dewasanya pemikiran Adikku, ternyata kamu sudah besar ya? Bisa Kakak ajak curhat. Sudah pantas nikah dong! Kan sudah ada calon suaminya. Entar keburu Dika tua!”


 


“Kakak!” Letiana agak membentak jengkel.


 


Mereka mengakhiri obrolan dan segera menyelusup dalam alam mimpi. Karna hari sudah begitu larut.


Ferdian membuka tirai kamar hotelnya, memandang ke sekitar menghirup udara pagi yang segar. Bersemangat mau menghampiri Hira, menyemprotkan aroma khas ke tubuhnya. Dengan langkah yang ceria hingga terdengar siulan dari mulutnya berjalan keluar parkiran.


 


“Sayang," tanpa mengucapkan salam Ferdian segera berucap mengawali sambungan telephonenya.


 


“ Iya Mas,”


 


“ Kok iya doang kamu tidak lupa kan, kita sudah janjian mau keluar.”


 


“ Mas sudah di jalan lho Dek, kamu sudah siap kan? Entar Mas biar gak lama nunggunya.”


 


“ Iya..iya. Sudah siap, tinggal melucur saja.”


 


“ Assalamuallaikum.” tiba-tiba terdengar salam di depan pintu Hira.


 


“ Waalaikumsalam, Mas. Belum diakhiri percakapan di telephone sudah di pintu tidak bilang-bilang.”


“ Ibuk ada?”


“ Kenapa tanya Ibu’? Ada di belakang sih, Buk... Buk...ada Mas Ferdian.” Teriakku memanggil Ibuk ke belakang.


“ Buk, mau minta izin Dek Hira nya aku kembalikan malam." kata Mas Ferdian kepada Ibuku.


 


“ Iya Nak, tak apa-apa yang penting selamet tekan omah ( selamat  sampai rumah )” pesan Ibuku.


 


“ Terimakasih Bu, permisi assalamuallaikum.” Ferdian bersalaman sampai membungkukkan badannya yang tegap.


 


Mas Ferdian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Aku tak tahu mau dibawa ke mana karna kemarin dia tak bilang apapun mau membawaku ke mana. Aku menikmati saja perjalanan ini, pandanganku melihat ke luar jendela mobil. Dan mendengarkan lagu siaran live yang diputar Mas Ferdian, tiba-tiba hatiku terbawa oleh dalamnya suara penyanyinya dan lirik lagunya membuatku semakin tenggelam,


 


Kala ku seorang diri


Hanya berteman sepi dan angin malam


Ku coba merenungi


Tentang jalan hidupku

__ADS_1


Kulangkahkan kakiku


Dan menyimak sebuah arti kehidupan


Hati selalu bertanya


Adakah janji suci dalam cinta


 


Hatiku terbawa, teringat apa yang dikatakan Mas Ferdian. “Akankah aku benar-benar akan bisa selalu di sisinya, selalu ada dalam kehidupannya apapun yang terjadi. Aku tempat ternyaman untuknya. Apakah kata-kata itu akan benar adanya? Ketika dia tak di sampingku akankah hal tetap benar, seperti lagu ini adakah janji suci dalam cinta?” hatiku dan fikiranku bergelut terbawa suasana membuatku tetap diam menatap luar jendela.


 


Kasih kuberjanji


Selalu menemani


Saat kau bersedih


Saat kau menangis


A... 'kan kujaga


A... segenap cinta yang ada untukmu


Selama napasku masih berdesah


Dan jantungku terus memanggil indah namamu


Takkan pernah hati ini mendua


Sampai akhir hidup ini


“Ya Allah aku benar-benar mengharapkan Mas Ferdian bisa seperti lirik lagu ini.” batinku mendengar dalamnya suara penyanyinya masuk dalam lirik lagu itu.


Mas Ferdian tiba-tiba menggenggam erat tanganku, ketika lagu ini mengalun syahdu di telinga. Membuatku merasakan mendapatkan setetes air ketika aku dahaga yang tersesat dalam panasnya padang gurun.


“Kita akan kemana sih Mas kok gak sampai-sampai. Temani Mas ke pasar burung, Mas sudah lama gak nonton lomba kicau burung."


“ Jauh- jauh gini? Pantas saja tadi gak ngomong mau ke mana dulu. Mas takut ya jika aku gak mau ikut?”


“Entar kamu pasti suka asyik kok, tak jauh dari situ entar kita mampir di taman anggrek. Indah banget.”


Lama dalam perjalanan membuatku bosan, aku mengambil handphoneku dari tas. Dan kulihat ada notif chat dari nomer baru. Ku buka chatnya,


From : +62827....


Boleh kita kenalan? Aku Emma.


Ku lirik wajah Mas Ferdian.


To : +62827....


Emma siapa ya? Kenapa tiba-tiba ingin kenalan?


Aku pura-pura tak tahu, tapi aku punya firasat ini memang mantan Mas Ferdian. Seperti yang telah di peringatkan Ana kalau Si Emma ini orangnya tidak punya muka.


From : +62827....


Mantan Mas Ferdian. Kamu pacar barunya ya?


Kubaca chat Emma lagi, membuatku merasakan dia memang mau menangkap ikan di laut pakai bahan peledak.


“ Kok sibuk sendiri sih Dek, kamu marah ya? Capek? Bosan?” kata Mas Ferdian membuatku kaget yang terlalu fokus dengan chatnya Mbak Emma.


 


“Maaf, lagi bosan saja. Jauh banget, benar ya kata Mas Dika. Dia pernah bilang, aku disuruh nguras kantong Mas. 'Dari pada untuk yang tak berfaedah mending kamu kuras lebih bermanfaat' katanya gitu Mas. Aku merasa bener aja. Ini buktinya mau menempuh perjalanan panjang ini aja, sudah buat orang takut. Belum nanti berapa uang di kantong yang akan terkuras. Membuat aku tak bisa membayangkan.”


“ Jika Adik mau katakan, aku malah lebih senang. Tidak apa-apa, jika kamu yang nguras kanton Mas. Mas rasa mas tidak perlu khawatir karna Mas tahu, Adik tidak tipe orang seperti itu. Jika memang benar adanya, sewaktu Dika bilang seperti itu bisa saja kamu langsung banyak permintaan pada Mas. Tapi nyatanya sampai sekarang belum pernah.”


.


.


Tak terasa sudah sampai tujuan. Mas Ferdian segera turun mengitari mobil dan membukakan pintu menyambut Hira turun.


“ Apakah perlu Mas gendong?" aku langsung memukul bahunya. Mas Ferdian menggandeng tanganku mengajakku berkeliling.


Bermacam-macam burung dan kicauan yang melengking-lengking saling bersahutan menarik perhatianku. Mas Ferdian melihatku dan tersenyum karena aku telah beradaptasi dengan hobinya.


“ Tidak boleh beli-beli, lebih baik uangnya transfer ke aku saja sesuai dengan harga burung yang Mas suka” bisikanku di telinganya menarik bahunya agar lebih turun menyetarakan daun telinganya ke bibirku. Mas Ferdian mengecup bibirku kilat karna gemas mendengar apa yang aku katakan. Aku segera mencubit perutnya dan membuatnya mengaduh.


“ Baiklah sayangku." katanya dengan berbisik di telingaku penuh godaan.


 


Kita ikuti kemesraan Ferdian dan Hira dalam Episode berikutnya,


Jangan lupa dukungannya,😘

__ADS_1


Terimakasih....🙏🙏🙏


__ADS_2