
Happy reading.....
Aku mengikuti langkah Pak Febrian, aku deg-degan karena ini baru yang pertama kalinya aku mengikuti rapat dengan para petinggi. Langkah Pak Febrian melambat sampai membuatku menabrak punggungnya. Aku berjalan dengan merunduk bergulat dengan rasa tak nyaman di hatiku.
“Ra, kamu tak apa kan?”
“ Tidak apa-apa Pak, maaf. Aku tak lihat jalan.”
“ Bisa-bisanya berjalan tak lihat jalan Ra,”
“ Maaf Pak, aku agak nervous aja.”
“Seperti mau akad nikah aja, Ra”
“Bapak pernah mengalami ya? Faham betul!”
“ He..he. Belum pernah Ra, mau mengalaminya sama aku?”
“ Apa Pak?”
“ Gak apa-apa Ra, hati-hati jalannya. Ambil nafas dalam lalu hembuskan. Mungkin bisa mengatasi.” Aku merapalkan ayat suci ketika melangkah masuk ruangan meeting.
Pandanganku masih merunduk, menduduki kursi belakang Pak Febrian. Aku tak berani memutarkan mataku, mengetahui siapa saja yang ada di ruangan ini.
“ Saya berharap, kita bisa maju berkembang tanpa mengurangi hak karyawan. Boleh lembur, tapi standart saja.”
“Suaranya tak asing dan aku kenal banget.” batinku. Aku memberanikan diri untuk menegakkan kepalaku. Suara tadi masih melanjutkan pembicaraannya. Aku menoleh-noleh mengabsen bibir mana yang bergerak.
“Ketemu, ternyata!”batinku melihat Mas Ferdian. Mataku masih mencoba mencari tahu, tulisan yang ada di atas meja.
“Direksi “ itu yang kugunamkan, membacanya dengan benar. Yang berjajar di meja sana adalah pemegang saham semua.
“Berarti, kemungkinan juga dia punya saham di sini dong? Terus selama ini? Apakah dari awal aku diterima itu karena Mas Ferdian?” fikiranku tak mau berhenti berteka-teki. Aku tak fokus sama sekali, tapi aku masih menulis hasil rapat hari ini. Entah benar atau tidak.
Semua orang sudah berdiri, meninggalkan ruangan. Aku masih sibuk dengan fikiranku tanpa menyadari hal itu.
“Hei... ( Pak Febrian yang berdiri dari tempat duduknya menghadapku berusaha menyadarkanku dari sibuknya fikiranku )”
“ Kamu baik-baik aja kan Ra?” tanya Pak Ferdian lagi.
Mas Ferdian yang berdiri dari tempat duduknya mengemasi berkas-berkas miliknya, berjalan menuju arahku. Aku hanya diam, memandangnya dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.
“Tinggalkan kami, Feb” perintahnya pada Pak Febrian. Pak Febrian meninggalkan kami dan menutup pintu ruangan yang sudah tinggal aku dan Mas Ferdian.
“Tatapanmu ke Mas kok gitu Dek?” pertanyaannya seolah tak ada dosa di dalamnya.
“ Permisi Pak, saya masih ada pekerjaan” sakitnya hatiku.
“Sayang,” Mas Ferdian mendudukkanku di kursi yang tadi aku duduki.
“Maaf Pak, sepertinya saya di ruangan ini tak ada artinya tanpa kepala Divisi saya.” Mas Ferdian hanya memandangku yang bermuka kesal.
“Berapa lama, Mas harus menunggu kekesalanmu hilang?” aku membuang nafas kasar, hingga membuatnya merundukkan badannya mengungkungku dari depan, kedua tangannya mengunciku di kursi, mendekatkan wajahnya yang sudah tak berjarak denganku.
__ADS_1
“Apa yang Bapak lakukan? Bagaimana jika karyawan Bapak ada yang melihat?” aku berusaha menolak perlakuan Mas Ferdian.
“ Belum selesai? Hemm?” Mas Ferdian menempelkan dahinya pada dahiku. Hembusan nafasnya terasa di mukaku, teratur tanpa ada rasa jengkel.
“Jangan kamu lukai hatimu dengan pemikiranmu yang tidak pasti, please. Demi Allah, aku sayang kamu Dek.” Aku mendongak menatap matanya yang teduh tanpa kebohongan.
“Ok, Mas minta maaf. Mas tidak memberitahumu kalau Mas ada di perusahaan ini. Mas tidak memberitahumu kalau Mas ada andil di sini. Tanyalah sesuatu sayang, biar Mas bisa menjawab.”
“Kapan Mas mulai andil di Perusahaan ini?” aku menatap matanya yang masih tepat memandangku tanpa jarak.
“Baru tahun-tahun ini. Mas hanya memiliki saham di sini. Mas tidak memiliki posisi stay di Perusahaan ini."
“Tahun ini atau tahun sebelum aku masuk?”
“Awal tahun ini. Mas hanya berfikir, Mas punya alasan untuk bisa berkunjung lebih lama di kota ini."
“ Serius? Apakah alasan demi aku tidak cukup?" sedikit aku mencairkan rasa sakit di hatiku sendiri.
“Akhirnya terasa masih punya harga diri aku, mendengar jawabanmu Mas.” batinku.
"Kamu alasanku nomer satu, tidak ada yang tahu Mas tanam modal di sini. Jadi kamu harus bisa jaga ini.... " Mas Ferdian menunjuk bibirku dengan jari telunjuknya.
“Itu yang membuat resah di hatimu?” aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Sayang, janganlah kamu suka bersedih terlebih dulu sebelum memastikan kebenarannya. Lagi pula apa yang kamu sedihkan? Mas andil di sini dah lama atau baru gak akan merugikan siapapun kan?”
“Setidaknya aku masih punya harga diri Mas.”
“Kamu itu mikirin apa sih Dek? Apa hubungannya? Mas kurang connect.”
“Kamu terlalu banyak berfikir. Latihan untuk percaya diri cantik. Kamu itu perfect di mata Mas. Soal kinerja seseorang, asal rajin dan disiplin gelar gak ada artinya. Tiket orang sukses itu ketika kita memiliki kesempatan. Sepandai apapun, sebanyak apapun gelar yang dipunya tapi Allah tidak memberikan kesempatan wadah atau waktu. Sia - sia, tak ada artinya.” Mas Ferdian mengecup pucuk kepalaku.
“Jadi kamu adalah orang yang beruntung, orang yang dikasihi Allah. Biarkan saja orang berprasangka apa, yang penting kamu masih di jalan Allah. Okey?”
“ Hemm" aku mengangguk-angguk.Aku berdiri dan Mas Ferdian memelukku.
“Mulailah belajar untuk tidak menyimpulkan sendiri apa yang kamu fikirkan, percayalah sepenuhnya pada Mas kalau Mas akan mengutamakan kebahagiaanmu.”
Aku hanya mengangguk-angguk dalam pelukannya. Mencium aroma yang ku suka di dadanya. Mas Ferdian melepaskan pelukan dan menangkup wajahku menatapku tak berjarak.
“Kenapa hemm, mana coba ( Mas Ferdian memeriksa mataku dalam ) untung ngak sampai jatuh! Kalau ini sampai jatuh, betapa merasa berdosanya Mas padamu.” Aku hanya menyimak, mengamati tiap gerakan bibirnya.
“Kenapa diam sayang?” aku hanya menggelengkan kepalaku. Tak lama Mas Ferdian memegang tekukku dan mencium dalam bibirku, hingga terasa agak sakit.
“Maaf," permintaan maaf dari OB yang tiba-tiba masuk dan kembali keluar setelah melihat Mas Ferdian mencium bibirku. Membuatku kaget dan malu.
“Mas." panggilku manja karena rasa malu, telah melebihi batasan.
Di Ruang kantor Hira bertempat, Tari dan Ryco sibuk berghibah karena Febrian kembali sendirian dengan muka yang tak bisa diterjemahkan.
“Kok sendirian Pak?”
“Iya”
__ADS_1
“Ada apa Ri, kok padat amat. Buat aku merinding! Emangnya apa yang terjadi tadi?” bisik Ryco setelah kepergian Febrian.
“ Mana aku tahu, aku kan sama sepertimu masih duduk di ruangan ini. Kok ditanya?" Ryco hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hira kemana sih? Kok malah gak balik-balik! Tahu ngak sih, jika kita butuh untuk action plan?”
“Telephone aja Ryc,” saran Tari.
“Hanya berdering Ri, seperti kecantol laki aja!” gunam Ryco kesal.
“ Tunggu 10 menit lagi, jika dia belum kembali cari!” Tari ikut emosi.
Kecanggungan di ruang meeting. Kemanjaanku kulai tersadarkan oleh handphoneku yang berdering. Kulihat layar ponselku. Tertera nama bang Ryco disitu.
“Mas, aku balik ya? Bang Ryco sudah mulai menginstruksi nih!"
“Tunggu bentar,” Mas Ferdian masih menahan pinggangku. Dia memelukku, menyandarkan dagunya di bahuku, membuatnya membungkuk.
“Setelah dari sini Mas ada meeting di Kantor Cabang Mandala Group, Mas akan sibuk. Setelah urusan selesai, Mas usahakan akan segera menjemputmu.”
“Hmmm.” Mas Ferdian mengakhiri perpisahan kami dengan mengecup keningku. Aku segera menuju ruanganku.
“Dari mana saja sih Ra...Ra, ditungguin juga! Ditelephone gak diangkat! Hari ini buat aku jengkel ya?” ocehan Bang Ryan tak henti-henti.
“Habis bernostalgia sama Pak Divisi lama apa? Lupa dengan Pak Divisi baru, sampai buat mukanya ditekuk ngak jelas?” sindir Mbak Tari.
“Mbak Tari aneh-aneh saja jangan mengisahkan prahara Rumah Kerjaku ya?” sahutku meramaikan suasana.
“Maaf..maaf Bang, maaf sudah menyusahkan. Tadi kesangkut.”
“Yang buat tanda tanyanya di situ itu, nyangkut apa Ra? Nyangkut di mana?"
“ Kalau yang ganteng-ganteng aku juga mau Ra, kesangkut lama-lama.” Tambah Mbak Tari.
“Tak bilangin sama oppa-oppa yang di sana lho!” gertak Bang Ryco membuat Mbak Tari terdiam.
“Ra, setelah tindak lanjut nanti antar action reviewnya ya? Aku mau izin keluar.”
“Mau kemana sih Bang? Tak biasanya izin.” Tanyaku.
“Aku nanti bagaimana ya, ketemu Pak Febrian. Kenapa juga Bang Ryco harus izin!” gerutuku.
“Erna minta ditemani jemput.... ” kata- kata Ryco terhenti membuatku faham apa yang akan dikatakannya.
“Dia akan ada disini, bagaimana aku harus menghadapi? Apakah dia akan menemuiku? Tahukah dia tentang Riwayat kehidupanku? Walaupun Mas Ferdian sudah memberikan ikatan, tapi rasanya aku masih takut menghadapi kenyataan yang di sana sebenarnya seperti apa. Haruskah aku hanya berserah diri dengan alur yang Mas Ferdian mainkan ketika jauh dariku? Dia memintaku untuk percaya sepenuhnya padanya. Tapi apa yang akan aku lakukan jika Mbak Emma membawa kepahitan? Haruskah aku menelannya saja? Atau menutup mulutku dengan keterbatasanku mengetahui hidup Mas Ferdian yang sesungguhnya?” Keresahan di hatiku muncul.
“Ra...Ra!” Bang Ryco mengagetkanku.
Lanjut di episode berikutnya ya...
Mohon dukungannya, 😘
Terimakasih....🙏🙏🙏
__ADS_1