
Maaf para reader epd ini sudah aku perbarui lagi siang ini, tadi pagi nulisnya sambil mengantuk. Badannya lagi ngak fit. Sekali lagi maaf...🙏🙏🙏
happy reading....
Di kota D ada seseorang yang seperti cacing kepanasan melihat foto yang tepampang di chatnya membuatnya bergunam tak jelas "Awas kamu ya, kalian pasti tak akan bisa tenang bahagia. Lihat saja Ra! Mas Fer kamu akan tetap jadi miliki. Aku pastikan senyumanmu yang sekang tidak lama lagi akan menghilang."
To : Nadia
Sialan kamu ya Nad, buat aku sakit hati saja! kamu tahu jika aku mengharapkannya untuk kembali kepadaku tapi kamu mengirimiku foto yang gitu-gitu.
From : Nadia
Mungkin saja temanku yang satu ini mau berubah. Merubah fikirannya gitu, untuk menerima kenyataan dan mau move on.
To : Nadia
Aku tak akan menyerah, selama dia tak sebanding denganku saja aku tak akan menyerah. Terima kasih infonya. Kapan kamu pulang?
From : Nadia
Kamu menanyakanku pulang atau kamu ingin tahu kapan mereka berakhir bersama?
To : Nadia
Dua-duanya lah... Kamu kan teman terbaikku,
From : Nadia
Weh... Manis sekali bibirmu jika ada maunya! Ini malam terakhir menginap. Plan sih besok pulang tapi tidak tahu kalau ada perubahan jadwal. Bossnya kan itu, yang pernah aku ceritakan padamu dulu. aku pernah melihatnya bersama seseorang lelaki saat di lift tanpa rasa canggung. Sekarang dia akan jadi bossku.
To : Nadia
Ternyata dia memiliki pasaran okey ya!
From : Nadia
Jaga bibirmu ya Nad, dia itu cantik lho... Kamu saja yang tidak menyadarinya. Padahal kamu sudah bertemu dengannya secara langsung. Hatimu tertutup oleh emosi.
To : Nadia
Iya-iya cantik!
Emma mengakhiri chatnya dengan Nadia begitu saja setelah mendengar temannya menyanjung Hira.
"Jahat kamu ya Nad, kamu malah berada dipihaknya." gunam Emma kesal merasa terhianati.
.
.
"Boss-boss...enak sekali ya kamu meninggalkan ku dengan banyak pekerjaan di sini. Awas saja jika kamu tidak memberikan hal yang setimpal dengan pengorbananku! Nasib-nasib!" Dika menggerutu sendirian malam-malam masih bergelut dengan cahaya terang yang terpancar dalam layar persegi panjang di hadapannya.
Dalam titik jenuh di fikiran Dika, muncullah ide konyol. "Semoga saja dia tidak mengabaikanku!"
Calling...
__ADS_1
Dek Ana cantik
"Iya hallo Kak," jawab Ana setelah panggilan yang ketiga.
"Alhamdulillah ada seberkas cahaya yang bersinar, terima kasih telah menggangkat telephone dariku, cantik!"
"Seperti judul lagu saja Kak,"
"Apakah aku mengganggumu?"
"Kira-kira bagaimana?"
"Sepertinya sih iya, apakah kamu tadi sudah mimpi indah?"
"Sudah bobok sih, tapi belum begitu.... "
"Ada apa Kak malam-malam begini kok telephone, jika tak terasa aneh pasti tidak akan aku angkat Kak!"
"Temani Aku ya, pekerjaanku belum selesai. Besok ada meeting penting. Fikiran Kakak sudah suntuk banget." Ana tidak merasakan ada kebohongan sama sekali. Sistem kerja mereka memang awut-awutan tak tahu waktu.
"Apa manfaatnya untukku?"
"Akan bermanfaat banget untukmu sayang,"
"Hih," respons Ana seolah jijik mendengarkan kata-kata Dika.
"Serius jangan gitu kamu ya sama aku!"
"Aku menderita seperti ini juga karna kelancaran kisah asmara Kakak tampanmu itu!"
"Kakakmu yang kamu puja-puja itu, dia meninggalkanku dengan segudang pekerjaan untuk mengejar cintanya yang lagi happy-happy dengan teman-temannya. Aku mondar-mandir sendirian menghadiri meeting bahkan di waktu yang seharusnya aku bersantai, harus duduk di sini memegang dahiku yang telah merasa suntuk."
"Tapi Kak Fer tidak pernah mengecewakan Kak Dika dalam bonus kan?"
"Aku hanya mengincar satu bonus yang belum bisa Ferdian wujudkan."
"Apakah ada hal yang tidak bisa kak Fer wujudkan? Aku tidak percaya!"
"Ada, aku sudah lama sekali memintanya tapi entahlah. Kadang aku berfikir untuk menyerah tapi aku tidak merelakannya untuk aku lewatkan begitu saja."
"Dalam sekali, seperti bukan sesuatu yang berbau materi."
"Coba apa, apa kamu bisa menebak?"
"Tidak tahu, fikiranku tidak bisa mencerna kata-katamu Kak. Memangnya apa?"
"Kamu!"
"Apa Kak, emangnya ada apa dengan ku?"
"Jawabanmu seperti judul lagunya Peterpan."
"Lama-lama aku rasa kita banyak nglanturnya dari pada mode normalnya ya?"
"Kamu sudah ngantuk ya, An?"
__ADS_1
"Sepertinya sih sudah tidak ngantuk, mode terang banget. Tapi mungkin fikiranku saja yang kurang connect."
"Nanti Kakak connectkan deh,"
" Maksudnya?"
"Tidak apa-apa. Kakak sudah merasa Fress kembali. Kamu kembali tidur saja. Kakak akan kembali kerja. Nanti kita nikmati hasilnya bersama."
"Terserah Kakak bilang apa deh! Pusing aku mengartikannya" Ana mencoba pura-pura tidak mengerti apa maksud kata-kata Dika.
"Terima kasih An, kamu sudah menemaniku. Hari Senin akan Kakak traktir makan deh! Kamu yang tentukan tempatnya, okey? Dan satu lagi bonus untukmu, Kakak ajak kamu ngemall pilih baju yang kamu suka. Jamnya jam istirahat kantor ya? Sepertinya Kakak tidak ada jadwal di waktu itu. Katanya sih Ferdian benar-benar sudah balik."
"Memangnya Kakak perginya dari hari apa? Sepertinya Kak Dika terbebani sekali!"
"Berangkatnya sih hari Jum'at siang setelah meeting langsung saja kabur. Dia sama sekali tidak memberi tahumu?"
"Sama sekali tidak call. Oya, nanti jangan sampai mengeluh jika kantong Kak Dika terkuras."
"Kemarin waktu aku ke rumah ambil pakaian Ferdian memang di rumah tidak ada siapapun, Bibi tidak memberi tahumu? Soal belanja tidak masalah tapi jika kamu over aku pastikan aku akan menuntut gaji lebih tinggi pada Kakakmu."
"Bukannya Kak Dika yang menawariku sendiri? Mengapa jadi menuntut Kak Fer, tidak ikhlas mentraktirku dong! Bibi tidak bicara apapun mungkin lupa tidak menyampaikan."
"Aku hanya menuntut kompensasi padanya atas pekerjaan yang tidak seharusnya menjadi tanggung jawabku full. Sah kan? Apalagi gajiku untuk menafkahi adiknya." Ana menutup bibirnya mendengar kata-kata Dika, tersenyum seolah mendapat pujian. Ana dari dulu mengagumi kerja keras Dika mendampingi Kakaknya. Sampai memiliki rasa cemburu adanya kesetiaan seorang kawan di antara mereka yang tidak pernah dimiliki oleh Ana selama ini.
"Iya iya, aku percaya kalau Kak Dika selalu mengerjakan bahkan sampai bertanggung jawab penuh atas pekerjaan Kak Fer. Aku ucapkan terima kasih sekali."
"Idih, baiknya calon istriku. Jika dilanjut benar-benar nanti kamu tidak akan tidur. Sudah ya, aku akan lanjutkan kerjaanku. Selamat tidur cantik, mimpi indah ya..."
"Selamat berjuang, semangat! Aku akan menunggu hari Senin, siapkan isi kantong Kakak. Jangan sampai lupa bawa ATM Kak Dika yang unlimited. Terus.... "
"Apa?"
"Jangan menyesal nanti!"
"Apakah ini suatu peringatan atau lebih menjadi suatu ancaman?"
"Kita tunggu saja! Bye...sampai jumpa hari Senin ya."
"Ok. Selamat malam."
"Malam juga." jawab Ana. Segera Ana membenahi posisi tidurnya ingin segera kembali meluncur ke alam mimpinya. Dan tidak sabar menunggu hari Senin tiba. Sudah lama dia tidak menghabiskan waktu bersama Dika karena kesibukan Dika yang seakan tidak pernah ada jadwal hari libur.
.
.
To : Kak Fer
Jangan lupa oleh-oleh! Pergi tidak pamitan.
bersambung...
ikuti kisahnya terus ya...😘
terima kasih atas kunjungannya...🙏🙏🙏
__ADS_1