
Setelah mandi dan salat berjama'ah, Mas Ferdian mempertemukan punggungnnya dengan tempat tidur, tak lama setelah ku lirik dia sedikit bengong menatap langit-langit kamar entah apa yang di fikirkannya “Dek, sini…. “ Mas Ferdian menepuk lengannya memintaku tiduran di sampingnya menggunakan lengannya sebagai bantalan. Aku hanya memandangnya, belum bergerak.
“Hanya tiduran, tidak lebih.” Katanya menatap pandanganku seolah dia tahu apa yang aku resahkan. Aku mendekat, meletakkan kepalaku di legannya. Kepalaku terasa bertumpu pada otot yang kekar. Kami sama-sama menatap langit-langit kamar berbincang tanpa saling pandang.
“Dek, besok kita pulang bareng ya? Semobil dengan Mas, nanti Mas yang akan memberitahu Febrian.” Setelah mendengar apa yang dikatakan Mas Ferdian, aku baru memikirkannya.
Sedikitpun tidak terfikirkan olehku bagaimana aku pulang. Aku hanya melongo menatapnya dari samping. Melihat mancung hidungnya, menatap wajahnya walau dari samping membuatku merasa damai.
“Kok diam?” Mas Ferdian menoleh ke arahku, memandangku yang melihat setiap lekuk di wajahnya. Kami terbawa dalam tatapan mata kami.
“Apakah tidak terkesan buruk?” jawabku setelah menelusup dalam pandangannya.
“Aku rasa tidak, Ryan pun pasti akan diam saja. Tak tahu jika hatinya yang berisik bergunam kemana-mana”
“Baiklah imamku, aku akan patuh apapun yang imamku sarankan.”
“Serius?” Mas Ferdian mulai mendekatkan wajahnya pada wajahku. Aku memundurkan tubuhku yang sudah dekat dengan tubuhnya tanpa jarak sedikitpun.
“Hehehe,” aku tertawa kecil dengan kecepatan gerakanku membuatnya megerutkan kedua alisnya.
“Sigap sekali” responnya.
“Sampai kapan kita akan seperti ini? ( Aku melirik tangan Mas Ferdian yang masih aku gunakan untuk bantalan tidur ) Apakah Mas nanti tidak capek, tidur kemalaman dan besok harus nyetir jarak jauh.”
“Mas, apakah Mas Dika tidak mengeluh dengan Mas yang selalu melimpahkan pekerjaan padanya, tapi Mas malah asyik-asyik berduaan sama aku?”
“Soal mengeluh pastinya iya, dia itu cerewetnya melebihi Emak-emak.”
“Tapi Mas selalu setia padanya, Ana saja seperti cemburu ketika menceritakan tentang kebersamaan Mas dan Mas Dika yang seperti perangko sama amplopnya.”
“Hanya dengannya aku bisa berbagi Dek, tapi sekarang ada kamu. Meskipun dia selalu mengeluh tentang pekerjaan yang tiba-tiba harus dia handle ketika aku sedang berjuang mengejar cintaku, tapi dia bahagia. Dialah orang pertama yang tahu bagaimana resahnya hatiku ketika kita baru kenal pertama kalinya, dan dia yang selalu memotivasiku untuk segera menemuimu.”
“Aku tidak pernah menyangka Mas, kita bisa bersama seperti ini. Aku juga tidak pernah membayangkan kita bisa berbaring di tempat yang sama dan melukis hari-hari bahagia.” Mas Ferdian memiringkan tubuhnya menghadapku mengelus kepalaku dengan tangan kanannya.
“Aku juga tidak menyangka Dek, aku bisa menemukan bidadari secantik ini. Dulu Mas pernah berfikir ‘mungkin setelah kisahku dan Emma usai, aku akan sendiri tidak akan pernah menjalin kasih lagi’ maaf aku menyebut namanya di hadapanmu.” Aku hanya menggelengkan kepalaku seakan menjawab “Tidak apa-apa" Mas Ferdian mengelus pipiku dengan lembut.
“Mas, aku rasa setiap wanita memang tidak menginginkan pasangannya menyebut bahkan mengingat-ingat mantannya. Tapi sungguh aku tidak apa-apa, aku rasa mungkin rasa sakitku tidak seberapa dengan rasa sakitmu ketika kamu menyebut namanya. Ikhlaskanlah Mas, do’a kan dia agar segera mendapat kebahagian tapi tidak denganmu.”
“Aku menekankan kata ‘tapi tidak denganmu’ karena aku tahu Mas, dia masih mengharapkanmu. Aku takut ketika do’amu di ijabah Allah, dan kebahagiaannya adalah bersamamu. Aku takut jika aku yang akan kehilangan kebahagianku.” Batinku masih lekat menatapnya, membuat air mataku tergenang. Mas Ferdian mengusap ujung mataku yang akan menjatuhkan air mata.
“Jangan pernah menahan rasa sakitmu, aku hanya ingin melihat senyumanmu yang selalu terbit di wajahmu bagaikan matahari yang selalu memberikan sinar pada dunia ini.” kata-kata Mas Ferdian membuatku memanyunkan bibirku.
“Apa ini?” Mas Ferdian mejahil bibirku yang manyun dengan jari telunjuknya menekannya membuatku merapatkan bibirku kedalam.
__ADS_1
“Mas serius, sayang. Mas hanya ingin melewati hari-hari Mas bersamamu dengan bahagia.”
“Apakah ada yang mengganggumu selama ini atau apapun dari orang-orang sekitar Mas?”
“Aku jadi ingat, memangnya Mas tahu, siapa yang mengirimi Mas Fotoku dengan…. Sampai membuat Mas segera bergegas kemari?”
“Mas tidak tahu, tidak perlu dibahas.”
“Tapi, jika difikir-fikir lagi tetap ada motif tersendiri dan di balik tindakan itu ada niat yang tidak sederhana Mas.”
“Memang iya, tapi biar itu menjadi urusan Mas, kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkan hal ini.” Aku hanya mengangguk-angguk. Tapi fikiranku sudah berkelana kemana-mana.
“Aku tak akan pusing-pusing Mas, jika hanya aku yang selalu kena semburan apinya Mbak Emma, tapi kamu juga dapat terror. Bagaimana aku bisa tidak memikirkan apapun? Entah siapa itu, pasti dia ingin kita berpisah dengan menghancurkan rasa percaya di antara kita. Bukankah suatu hubungan berlandaskan dengan kepercayaan apalagi di antara kita, yang berjarak tempat dan kesibukan. Jika tiang dari suatu bagunan dirobohkan bagaimana dengan bagunannya?” hatiku berkelu kesah. Mas Ferdian masih memperhatikan wajahku dan mengusap air mataku yang meluncur tanpa aku komando.
“Tu kan… katakan saja, jangan kamu simpan sendiri. Ni… ( Ibu jari Mas Ferdian masih stay di ujung sudut mataku ) jangan sampai bendungan ini tak kuat untuk menahan. Okey?” Mas Ferdian menunggu jawabanku, seakan jawabanku adalah janjiku padanya.
“Hmm?” Mas Ferdian masih menungguku.
“Bagaimana aku harus mengeluarkan semua unek-unek yang ada di fikiranku atau hatiku, Mas? Yang mengganggu hatiku adalah orang di sekelilingmu, haruskah aku membuatmu bertarung dengan masa lalumu lagi? Atau orang yang mengiginkanmu di masa depan?” aku bergelut dengan fikiranku di saat Mas Ferdian menunggu jawabanku, pada akhirnya aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Ampuni aku Ya Allah jika jawabanku ini janji menurutnya, tapi jawabanku bukanlah janjiku padanya. Aku hanya ingin membuat hatinya tenang.” Batinku ketika aku menganggukkan kepalaku.
Aku yang tak akan melepaskan
“Mas Ferdian tiba-tiba bernyanyi, baru lirik pertama aku sudah merinding dibuatnya” aku masih terdiam mendengarkannya.
Kita tak mungkin terpisahkan
“Aku juga berharap seperti itu Mas, kita akan terus bersama. Kita akan menikah, membesarkan putra kita, memberikan segala sesuatu yang tidak pernah aku rasakan. Jangan sampai sepertiku, berusaha sendiri untuk memenuhi apa yang aku perlukan.” Aku menahan air mataku mendengarkan lirik yang di nyanyikannya. masih mengamati lagu siapa ini.
Biarlah terjadi, apapun yang terjadi….huuu
“Aku akan membiarkan semuanya Mas, tak akan aku hiraukan semua hal yang menganggu hubungan kita” hatiku tak bisa terdiam mendengar lirik lagunya.
Aku yang tak bisa melepaskan
Kamu yang miliki hatiku… ohh
Walau mungkin terlalu cepat
Bagi kita berdua untuk mengatakan…
Selamanya kita akan bersama
__ADS_1
Takkan ada keraguan
Kini dan nanti percayalah….
Aku sudah tidak kuat membendung gemuruh di hatiku, syair lagunya membuatku nyesek ditambah merasakan genggaman tangan Mas Ferdian yang begitu erat menyakinkan syair lagu itu adalah ungkapan dari hatinya.
“Aku percaya padamu Mas,” batinku.
Selalu ada lirik lagu yang tepat yang ada diantara kami, menambah begitu banyak moment romantic dalam kisah cintaku. Mas Ferdian mengusap air mataku yang tak berhenti mengalir dari tadi.
“Sayang, kenapa malah tambah banjir, suara Mas menyedihkan ya?” aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.
“Aku terharu Mas, love you.” Kataku membuat Mas Ferdian mendaratkan bibirnya di keningku. Memelukku penuh dengan kehangatan.
“Mas, sudah.” Aku mencoba memberikan batasan agar tidak lupa dengan posisi yang sudah mendukung sekali.
“Hmm, Mas tahu.”
Dret…dret… suara getar handphone Mas Ferdian, di atas meja dekat dengan tempat tidur yang kami baringi.
“Siapa Mas?” tanyaku penasaran.
“Emm, Adek. Eh..ternyata sudah jam dua belas, Dek. ( Aku melongo mendengar Mas Ferdian menyebutkan jam saat ini ) Aku buka dulu pesan Ana, ada emangnya anak ini malam-malam gini kok chat Mas.” Aku hanya mengangkat bahuku yang masih nyaman tiduran di tempat tidur.
“Tak terasa ya Mas, sudah jam dua belas. Bagaimana dengan besok, Mas kan harus nyetir?”
“Tidak apa-apa sayang. Tidak perlu risau. Padahal tidak banyak yang kita bahas, masih banyak hal yang belum kita omongkan kenapa waktunya begitu cepat ya, Dek?”
“Iya, ( fikiranku beralih penasaran dengan Ana yang malam-malam chat ) apa isi pesan Ana, Mas?’
“Nagih oleh-oleh. Tapi biarkan sajalah, emangnya kita pergi belanja di mall apa minta oleh-oleh. Atau perlu kita bawakan pohon teh?”
“Sutt, Mas ih! Tidak boleh gitu.”
“Nanti aku kasih mentahan saja. Dia paling suka dengan yang mentah-mentah. Pasti Dika yang ngomong. Aku kemarin asal pergi saja, sama sekali tidak pamitan dengannya.”
“Mas kok gitu sih, bukankah hanya dengan Ana Mas tinggal di rumah kok bisa tidak pamit!”
“Mas tergesa-gesa. Dia juga akan cari Mas diwaktu ada butuh saja!”
“Tidak boleh gitu Mas, Dia sayang sama Mas lho…”
“Iya Mas Tahu. Urusan dia gampang, belakangan saja.” Aku hanya terdiam mendengar kata-kata Mas Ferdian yang terlihat jelas bisa menyelesaikan rengekan hati adiknya, tanpa masalah.
__ADS_1
Bersambung,
Mohon dukungannya, terima kasih…😘