
happy reading...
Setelah akad nikah Ferdian meninggalkan Rinna yang sudah sah menjadi istrinya secara agama dan hukum walaupun hanya disanksikan oleh orang yang terbatas. Ferdian kembali menatap layarnya di atas meja, menghadapi tumpukan map.
“Fer, kamu tidak lupa kan kamu atau aku yang berangkat terserah kamu!”
“Ke?”
“Meeting di kota D, Boss.”
“Aku saja, nanti kirim makan siang dan makan untuk Rinna dan kamu sampaikan bahwa meetingnya tidak bisa diwakili.”
“Baik, ( ‘aku tahu kamu hanya menghindari istrimu’ batin Ryco ) akan aku atur perjalananmu dan menyiapkan keperluanmu. Aku akan hubungi Pak Darto untuk jadi sopirmu.” Ferdian hanya mendengarkan tanpa komentar sedikitpun.
“Pesankan kamar hotel dekat tempat meeting, biar Pak Darto bisa istirahat selama aku meeting.”
“Baiklah. 1 kamar atau 2?”
“Maksudnya? ( tanya Dika, membuat Ferdian melotot kurang faham apa di balik pertanyaan Dika ) Mungkin saja kamu mau nginap di sana juga, tidak tergesa-gesa pulang gitu.” Dika berbicara dengan volume pelan.
“Tidak lah, aku akan balik ke sini saja. Tapi tidak perlu bilang sama Rinna soal hal ini, Ember!” Dika hanya menjawab dengan gerakan yang artinya siap.
.
.
“Mbak Rinna ini makan siangnya.” Dika memasuki ruang ICU di mana Pak Agum berbaring, sesuai permintaan Ferdian.
“Tidak perlu repot-repot, saya bisa suruh Bi Siti ke sini.”
“Ini tadi permintaan Pak Ferdian.” Dika masih bersikap formal di hadapan Rinna.
“Mas Ferdian sibuk ya? Kantor aman kan?”
“Aman Mbak, Mas Ferdian sekarang sedang keluar kota. ( Rinna menajamkan matanya menatap Dika) Pak Ferdian meeting ke kota D.” lanjut Dika meredakan tatapan yang penuh tanya di mata Rinna.
“Berapa hari?”
“Jika tidak ada kendala Pak Ferdian akan segera pulang menurut saya, tidak ada pemesanan kamar.” Rinna hanya mengangguk.
“Terima kasih makanannya.”
“Apa ada perkembangan dengan kesehatan Bapak, Mbak?”
“Em, setelah bapak meminta pulang tadi aku sempat konsultasi dengan dokternya. Tiga hari akan dilakukan pemantauan, jika memang fine dua hari setelahnya akan diizinkan untuk pulang.”
“Syukurlah, semoga Mbak Rinna bisa kembali ngantor lagi. Kasihan Pak Ferdian sibuk sendiri.”
“Iya, terima kasih. Selama aku tidak ada di kantor mohon kerja samanya dengan Naina ya Dik?”
“Beres Mbak,”
“Tanpa kamu peringatkan asistenmu itu sudah nempel terus denganku kali, Mbak!” batin Dika.
“Nanti tidak perlu kirim makanan lagi, biar aku minta Bi Siti mengantar makanan.” Dika hanya mengangguk menyetujui.
.
.
Ferdian menghempaskan tubuhnya di sofa kantor, jam satu malam Ferdian sampai di kota A. meeting hari ini berjalan lancar. Dika yang sengaja tidak pulang, menunggu Ferdian kembali. Setelah menerima pemberitahuan dari Pak Darto, Dika segera mengintip pintu ruangan Ferdian. Mau masuk tapi tidak tega melihat muka Ferdian yang lelah.
“Fer, aku tahu kamu seperti ini bukan karena kamu yang sibuk seperti rasa sibukmu yang dulu, tapi sibukmu yang sekarang hanya untuk menghindari situasi kamu belum bisa menerima keadaanmu. Aku faham itu.” batin Dika.
Ferdian lebih sering menginap di kantor dan kadang kala mampir ke rumah sakit. Keadaan seperti ini berlanjut sampai Pak Agum dizinkan pulang oleh dokter, setelah kepulangan Pak Agum yang menggunakan perawatan pribadi, Rinna meminta satu suster yang ikut tinggal di rumah untuk merawat dan memantau keadaan Pak Agum yang akan di laporkan pada dokter Beni.
Ferdian pindah ke rumah Rinna, tinggal dalam satu kamar, tidur seranjang tapi Ferdian masih belum memberikan nafkah batin pada Rinna walaupun sekali. Rinna hanya berdiam, memakai piyama yang membuat bentuk ditubuhnya terlihatpun, sekali sajapun Ferdian tidak pernah meliriknya. Ferdian malah sering menghabiskan malamnya untuk duduk di meja kerja yang ada di kamar mereka, membuat hati Rinna menyerah.
“Sebesar apapun usahaku membuat kamu menyentuhku sepertinya tidak akan pernah berhasil Mas, mungkin yang ada di hatimu hanya rasa bersalah pada kekasihmu dan rasa jijik padaku. Ya Tuhan, harus bagaimanakah aku meluluhkan hati suamiku? Melihat senyumannya lagi? Saat bersama Dika pun dia tidak pernah banyak bercanda lagi seperti dulu.” Batin Rinna dibalik selimut yang membungkus tubuhnya dalam kegelapan saat melihat wajah suaminya yang disinari lampu kerja di mejanya.
“Mas, aku akan pergi keluar kota siang ini. Aku tidak tahu nanti akan pulang jam berapa.”
“Ke mana memangnya? Sepertinya tidak ada meeting apapun di luar kota.”
“Ada, di kota B. Aku sempat menundanya sebelum Papa sakit. Dan kami sudah menjadwal ulang.”
__ADS_1
“Sudah lama dong, apa mungkin belum kelar? Seinggatku yang dulu sudah kelar.”
“Aku tergesa-gesa, aku pergi.” Ferdian tidak curiga sedikitpun, karna pergaulan bisnis Rinna cukup luas. Dan Rinna juga memiliki saudara yang ada di kota B. Ferdian tidak bertanya lagi, Rinna sudah berlalu dengan cepat.
.
.
“Hallo assalamuallaikum, dengan siapa ya?”
“Iya waallaikumsalam, apa ini dengan Mbak Hira?”
“Iya benar, ini siapa ya?”
“Saya Rinna, Mbak. Dari kota A.” Rinna berusaha berhati-hati memberi embel-embel namanya, takut menambah luka di hati Hira.
“Oh… iya ada perlu apa ya Mbak?” Hira berusaha menahan rasa sakit di hatinya. Hampir dua minggu ini Hira berjuang untuk berdamai dengan hatinya.
“Saya ingin bertemu denganmu, apakah bisa?” Kata Rinna lembut, penuh harap.
“Maaf tapi saya sedang berkerja dan maaf saya tidak bisa izin.”
“Tidak kok, tidak sampai izin, saya masih dalam perjalanan. Apakah mungkin jika saya sudah sampai saya bisa menghubungimu lagi?”
“Silahkan Mbak, saya akan menunggu.” Walau berat di hati tapi masih terasa ringan terdengar di telinga pendengarnya.
“Sama-sama, tidak apa-apa.” Sambungan telephone langsung tertutup.
Hira tertegun, menahan nafas dan melepaskan perlahan. Terasa tak percaya, apa tadi yang barusan telah diobrolkan. Hira masih melongo dengan pandangan kosong.
“Hai, Ra. Kenapa?” Ryco memegang pundak Hira yang masih berfikir dengan pandangan kosong ketika sampai di meja Hira. Ryco telah memperhatikan Hira dari ujung pintu masuk, terlihat Hira yang mengangguk-angguk sopan ketika menerima telephone, bermuka sedih.
“Telephone Bang,” Hira menunjukkan layar handphonenya yang sudah meredup pada Ryco.
“Iya aku tahu kamu tadi habis telephonan. Lalu ada apa dengan kamu, bengong seperti itu.” Hira memberikan handphonenya pada Ryco”
“Nomer baru, siapa Ra memangnya?”
“Mbak Rinna.” Ryco kembali menatap nomer handphone yang ada di layar handphone Hira.
“Huh,” Ryco menghela nafas jengkel, karena merasa badai datang lagi menggoyangkan pohon yang kembali rindang setelah musim gugur. Ryco hanya mengelus pundak Hira.
“Cantik, lihat Abang. ( Ryco berjongkok di depan Hira, setelah meletakkan handphone Hira di meja. Memegang tangan Hira yang terasa tidak bertulang, lemas ) Adik, dengarkan Abangmu ini. Apa yang dia bicarakan?” Hira hanya menunduk. Ryco sedikit menghentakkan genggamannya menuntut Hira menjawab, cukup lama terdiam dengan tangan yang terasa tambah dingin.
“Ri, tolong ambilkan teh hangat atau apalah yang penting hangat.” Teriak Ryco pada Tari yang sibuk, tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Wajah Hira sudah pucat sekali.
__ADS_1
“Dia ingin bertemu denganku nanti saat dia tiba di sini.” Jawabnya lemas Ryco semakin mengeratkan genggaman.
“Kamu yakin? Apakah kamu benar-benar sudah siap?” Ryco mengamati wajah Hira.
“Apakah kamu kuat dengan apa yang akan kamu dengar nanti?”
“Jika boleh memilih, aku ingin sekali beranggapan tidak ada apa-apa Mas Ferdian sedang sibuk dan dia tidak ada waktu untuk menghubungiku. Dan aku ingin berkata pada diriku, ‘sabar Ra… dulu kamu pernah menjalani bertahun-tahun tanpa bertemu dengannya. Kamu bisa dan kamu sanggup dan semuanya baik-baik saja. Kamu hanya perlu bersemangat untuk berjuang agar kamu menjadi orang yang pantas di sisinya’ aku ingin beranggapan seperti itu Bang!”
“Tapi sadar Ra! Mau sampai kapan? Kamu butuh kepastian, kamu butuh move dari semuanya. Jika kamu seperti yang kamu katakan, namanya kamu membohongi dirimu sendiri. Tidak mau melihat kenyataan.”
“Mau sampai kapan?” tanya Ryco lagi. Hira hanya terdiam dengan air mata yang mengalir seperti anak sungai.
“Rasanya aku takut tapi aku juga ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya?” Hira sesegukan, dengan isak tangisnya.
“Mau aku temani nanti? Akan aku tunggu dari kejahuan. Okey?” Hira hanya mengangguk, karena dia yakin jika menolakpun Ryco tidak akan membiarkan Hira datang sendiri, walaupun dengan menyelinap pasti Ryco akan membuntutinya.
“Okey sekarang tenangkan dirimu,” terdengar Tari menarik handle pintu kaca utama ruangan.
“Maaf lama, di pantry nunggu ganti gallon. Huh… ada-ada saja!” keluh Tari.
“Kenapa Ra, kamu merasa tidak enak badan lagi?” Hira hanya memaksakan senyuman menanggapi pertanyaan Tari yang terasa tidak nyambung difikirannya.
“Dingin sekali Ra tanganmu. Apa kamu tidak nyaman dengan Acnya ?” Tari mengenggam tangan Hira memberikan secangkir teh.
“Apa kamu membesarkan volume Ac, Co?” tuduh Tari pada Ryco, Hira masih terdiam.
“Tidak Ri, mungkin Hira memang masih kurang sehat saja.” Ryco mencoba mengalihkan pemikiran Tari.
“Atau kita izinkan saja pada Pak Febrian, antarkan Hira pulang?” Hira segera menggeleng, mendingak pada tari yang berdiri di hadapannya.
“Aku takut kamu kenapa-napa Ra!”
“Tidak Mbak, aku akan segera baikkan. Terima kasih tehnya.” Hira mengangkat gelasnya pada Tari, hanya dijawab dengan anggukan.
“Kamu beneran tidak akan pulang?”
“Tidak Mbak, terima kasih.”
“Baiklah, nanti pulang bareng sama Ryco saja. Jadi lebih aman.”
“Aman kan Co?” Tari mengedipkan sebelah matanya pada Ryco.
.
.
*Lanjut episode berikutnya*,😘
*mohon dukungannya, terima kasih*...🙏🙏🙏
__ADS_1