
“Dik, apa sudah kamu jadwalkan rapatnya?”
“Sudah, dua jam lagi setelah makan siang selesai di ruang meeting lantai dasar. Sebaiknya kamu temui dulu Mbak Rinna, sekalian menjenguk Pak Agum. Ada apapun di antara kalian setidaknya kamu masih memiliki toleransi. Aku rasa ini waktu yang tepat, rapat bisa kamu gunakan sebagai alasan agar tidak berlama-lama.”
“Rasanya ada sesuatu yang tidak enak di dadaku ketika membicarakan ini.”
“Seperti cewek saja!”
“Aku serius Dik, entah ada apa nanti. Dari kemarin perasaanku tidak enak, tidak nyaman sekali. Do’akan aku agar aku selamat dalam keadaan yang menghimpitku.”
“Aku selalu mendo’akanmu Fer, kebahagiaanmu akan banyak membawa keuntungan untukku. Kamu saja yang tidak peka denganku Fer.” Muka Dika menunjukkan rasa kecewanya.
“Baiklah, aku akan menjenguk Pak Agum dulu. Setengah jam sebelum rapat, tolong selamatkan aku. Telephone aku, agar aku bisa segera kabur.”
“Ok. Memang tugasku mengingatkan jadwalmu kan? Tapi jangan salahkan aku juga jika aku lupa, aku jam makan siang keluar dengan Ana." Ferdian hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Ferdian berdiri dan melangkah keluar ruangannya.
“Tapi aku tetap berharap kamu menelephoneku, antisipasi jika nanti aku benar-benar tidak bisa keluar dari keadaan.”
“Baiklah-baiklah! Meskipun ini tugasku tapi kamu tidak pernah toleransi denganku, sudah tahu aku akan menciptakan senyuman di wajah adikmupun, kamu masih tidak berpengertian.”
“Sorry, siapkan ATMmu. Jangan sampai aku menerima telephone darimu karena saldo tidak mencukupi. Hehehe.”
“Sialan! Kamu memperingatiku untuk kebaikanku atau kamu sengaja mengejekku? Dasar teman tidak punya balas baik kamu ya?”
“Maaf, hati-hati saja. Mungkin saja Ana baru mengujimu, kamu tidak tahu juga kan?” Dika melongo mendengar perkataan Ferdian yang mungkin ada benarnya juga.
“Benar juga sih, kemarin Ana memang secara langsung telah memperingatiku. Tapi apakah dia akan serius menguras ATMku?” gunam Dika pelan.
“Ah, entahlah… aku serahkan nasibku padamu Ya Allah. Fer, siap-siap saja ya… jika ATMku tidak mumpuni aku berharap kamu bersedia menyelamatkan mukaku. Masih kamu simpan nomer rekeningku kan?” wajah Dika memelas, membuat Ferdian sedikit tenang walaupun perasaannya campur aduk memikirkan kejutan yang akan terjadi ketika menghadapi Rinna nanti.
“Cepat-cepat kamu pergi, kita malah keasyikan ngobrol. Walaupun dekat tapi kamu butuh waktu untuk menata perasaanmu kan?” Ferdian mengangguk dan segera meninggalkan Dika yang sedang sibuk membereskan berkas penting, mengunci ruangannya dan ruangan Ferdian.
.
.
“Bagaimana keadaan Pak Agum? Maaf semalam aku sibuk, tidak tahu jika kamu menelephone. Saat aku tahu sudah malam. Aku takut jika menganggumu.” Ferdian beralasan dengan raut wajah yang tenang.
“Tidak apa-apa Mas, Papa masih seperti ini. Baru pagi ini aku di perbolehkan masuk.”
“Kamu sendirian di sini? Atau semalam pulang?”
“Aku semalaman di sini, jika aku pulang mungkin fikiranku juga tidak tenang. Kak Febrian menemaniku kok,” Rinna berkata sedikit manja mencari perhatian Ferdian.
“Syukurlah jika ada yang menemanimu. Terus Febrian sekarang ada di mana?” Ferdian seolah tidak mengetaui jika ada Febrian di sisi Rinna.
__ADS_1
“Kak Febrian pulang untuk mandi sebentar dan sekalian mengambilkan pakaian ganti untukku.”
“Oh, mungkin kembali dari sana dia langsung ke sini. Syukurlah… jika memang seperti itu. Dari sikap Rinna mungkin Febrian tidak cerita apapun. Syukurlah… aku tidak ingin menyakiti Hira.” Batin Ferdian.
"Aku tidak bisa lama-lama di sini, nanti ada rapat penting."
“Mas, sebeginikah kamu selalu menghindariku? Terasa kamu hanya menghindariku, setelah kejadian itu kamu baru kali ini menemuiku dan kamu tergesa-gesa untuk segera hilang dari hadapanku. Betapa specialnya dia hingga kamu selalu mendamba tidak ingin jauh darinya.” Kata Rinna lirih tanpa memandang Ferdian yang hanya menatap Pak Agum yang terbaring di bad rumah sakit. Ferdian hanya diam tak menjawab sedikitpun dari kata-kata yang di keluhkan Rinna di hadapannya.
“Mas, kamu ingat kan jika kamu masih memiliki hutang jawaban pada Papa. Ketika kamu meninggalkan kami dulu, kamu belum memberikan jawaban yang pasti pada Papa. Kemarin sempat terlintas di fikiranku, ketika Papa tiba-tiba membahas ingin tenang di usianya yang sudah tua. Mungkin beliau menunggu jawabanmu Mas,”
“Bukankah aku sudah bilang padamu, sudah ada yang menempati.”
“Tapi Mas, aku tidak sanggup berbohong pada Papa untuk menutupi perasaanmu yang tidak memiliki sedikitpun perasaan padaku dan aku benar-benar tidak bisa tanpamu. Aku sudah menunggumu lama, sejak Papa mengenalkan kita dan kamu selalu di sampingku aku sudah menyimpan rasa padamu. Karna aku tahu kamu sudah memiliki Mbak Emma dan aku menahan diriku Mas, bukan hanya baru kemarin Mas aku jatuh hati padamu. Dan juga bukan hanya karena dorongan Papa Mas, aku menginginkanmu jadi imamku. Tapi memang benar-benar dari hatiku aku mengharapkanmu. Jika memang kamu tidak sanggup untuk tidak meninggalkannya tidak apa-apa. Demi Papa Mas, demi sisa hidup Papa Mas… aku mohon, aku memohon dengan sangat ( Rinna menghadap Ferdian menatap wajah Ferdian dengan penuh belas, Ferdian masih menatap ke arah lain tanpa menghiraukan Rinna yang menatapnya ) Mas, menikahlah denganku.”
“Aku benar-benar tidak bisa membagi hatiku lagi, dan aku sudah mengucapkan ini ketika kamu menanyakannya. Tidak mungkin kan jika aku melabeli dahiku dengan kata ‘aku sudah punya calon istri, jangan dekati aku’ dan terima kasih kamu sudah memiliki perasaan padaku hingga seperti ini. Tapi aku tak sanggup menyakitinya seandainyapun dia mau untuk aku duakan.” Ferdian beralih menatap Rinna yang sudah berlinang air mata, tanpa suara isakan air matanya mengalir tanpa henti.
“Aku bukanlah laki-laki yang pantas dihargai hingga wanita mau aku duakan Rin,” Ferdian memberikan sapu tangan pada Rinna, tanpa memiliki keinginan membantu Rinna menghapus air mata yang mengalir di wajah Rinna.
Di balik pintu masuk sudah ada Febrian yang berdiri, tidak jadi membuka handle pintu ketika mendengar keluhan Rinna yang memohon penuh harap.
“Aku ingin membantumu adikku cantik, tapi aku juga tak mau orang yang aku sayangi juga terluka ketika aku membantumu. Seandainyapun kamu mendapatkan Ferdian walaupun kamu tahu Ferdian orang yang setia dengan pasangannya, kamu tidak akan bahagia. Jika Ferdian bisa istiqomah denganmu, aku bisa masuk dalam kehidupan Hira. Itu akan jadi jalanku bersama Hira, tapi ini akan menyakiti perasaan kalian semua. Semua orang akan terluka. Tidak bisakah kamu merelakannya, tidak bisakah kamu dengan yang lain saja. Kamu bisa bilang pada Paman jika kamu jatuh cinta dengan yang lain. Kamu bisa meminta bantuanku untuk meyakinkan Paman. Tapi kamu sampai sekarang tak pernah cerita padaku apapun itu. Kamu hanya kokoh dengan perasaanmu pada Ferdian. Iya aku tahu di matamu Ferdian adalah laki-laki yang sempurna dan aku juga mengakui itu. Tapi jika seperti ini kamu bisa menyakiti dirimu sendiri dan orang lain.” Batin Febrian yang masih terdiam mendengarkan pembicaraan mereka yang ada di dalam ruangan.
“Tapi bagiku ini lah jalan keluarnya. Mungkin aku lah yang memang pantas menjadi yang kedua di hatimu Mas, sesakit apapun akan aku jalani. Aku janji aku tidak akan menyakitinya, aku tahu jika kamu tanam saham di perusahaan tempatnya bekerja Mas. Dan itu, bisa kamu jadikan alasan untuk berkunjung ke sana untuk menutupi dari semua pemikiran orang di kota ini. Bagaimana?”
“Oh, Ya Allah inikah kejutan yang Engkau berikan padaku. Engkau menempatkanku pada pilihan yang sulit. Aku tidak terbuai dengan harta yang mereka suguhkan, tapi orang yang terbaring di hadapanku. Rasa bakti seorang putri yang mengemis padaku, yang sebenarnya dia adalah wanita yang bergelimpang harta tidak kurang sedikitpun bahkan hampir sempurna hanya tidak bisa mengurusi urusan perut saja, memohon penuh dengan harap di hadapanku seperti ini membuat hatiku sakit. Padahal tidak ada hal yang merugikanku dari setiap perkataan yang diucapkan padaku”
“Iya hallo, Dik."
“Boss sudah waktunya meeting, kamu tidak terbuai oleh kenyamanan kan? Sepertinya tidak ada pergerakan darimu sendiri untuk segera pergi dari situ!”
“Iya, iya aku akan segera ke sana."
“Sialan kamu Fer!”
“Baik lah, aku segera jalan.”
.
.
“Dika sudah memperingatiku, sebentar lagi rapat akan dimulai. Aku akan pamit sekarang.” Pamit Ferdian pada Rinna seolah tidak ingin membahas permintaan Rinna.
“Mas, aku berharap ketika Papa sadar kamu bisa memberikan jawaban. Pertimbangkanlah apa yang aku katakan, aku benar-benar memohon padamu Mas.”
“Jangan seperti ini, kamu terlalu berharga untuk bersikap seperti ini. Jika ada yang mendengarkannya seolah aku orang yang sangat sempurna dan angkuh Rin, sampai membuatmu memohon padaku.”
__ADS_1
“Memang kamu orang yang sangat sempurna di mataku Mas, keberuntungan yang besar sekali jika bisa ada di sisimu Mas."
“Aku pamit, jaga kesehatanmu juga. Jangan sampai kamu tumbang. Perusahaan membutuhkanmu, karna kamulah pemiliknya. Kamu harus memikirkan ribuan karyawan yang bergantung di sana.”
“Justru aku memohon padamu karena alasan itu juga Mas, aku dan perusahaan yang memiliki ribuan kaaryawan bergantung padamu.”
“Aku benar-benar harus segera pergi Rin, maaf.” Ferdian melangkah menuju pintu,
“Eh, Fer… sudah mau pergi? Sudah lama ya?” Febrian basa-basi pura-pura baru sampai di rumah sakit, Febrian segera memegang handle membuka pintu ketika mendengar langkah Ferdian yang meninggalkan Rinna.
“Iya, sudah dari tadi. Aku mau meeting. Terima kasih ya,” kata Ferdian sambil menepuk lengan Febrian.
“Iya, tidak apa-apa. Memang seharusnya, nanti ngopi bareng mumpung aku di sini.” Kata Febrian.
“Okey, kabari saja.”
“Kamu yang harus mengabariku terlebih dahulu, Boss. Kamu kan yang sibuk.” Sahut Febrian yang dibalas dengan tepukan di bahu Febrian.
“Ok,” Ferdian meninggalkan ruang kamar Pak Agum, hanya aroma parfumnya yang tertinggal.
.
.
“Ih… sepertinya ada yang habis menangis nih?” ejekan Febrian memandang wajah Rinna dari dekat meneliti, seolah tidak tahu pembahasan antara Ferdian dan Rinna.
“Apa, sih Kak!”
“Coba menghindar terus saja! Tidak perlu kamu hiraukan keberadaanku yang selalu membuka waktu dan hati untuk keluh kesahmu.”
“Tidak ngaruh!” Rinna memanyunkan bibirnya menghadap wajah Febrian.
“Aku tahu tidak bisa langsung menyelesaikan permasalahan yang kamu hadapi, tapi setidaknya kamu tidak menampungnya sendiri. Bisa membantu hatimu sedikit lebih lega.” Febrian menjitak dahi Rinna yang masih manyun di depan Febrian, membuat Rinna mengelus dahinya.
“Aku mau mandi Kak, mungkin ini akan lebih membantuku. Kakakku yang tampan ini hanya menambah sakitku saja.” Rinna masih mengelus dahinya, meninggalkan Febrian yang menasehatinya.
“Huh… Paman putri kecilmu sudah sok dewasa, sok tangguh menghadapi semua ini. Padahal bendungannya sudah tidak kuat menampung air mata yang disembunyikannya. Maaf ya Paman aku kurang bijaksana bersikap, mementingkan kepentinganku sendiri sampai tidak memperdulikan kalian.” Gunaman Febrian di samping bad tempat Pak Agum terbaring.
.
.
Bersambung,
ikuti terus ceritanya ya...
__ADS_1
terima kasih sekali untuk dukungan kalian, 😍😍