
Mas Ferdian menggandeng tanganku keluar ruangan, setelah perkenalan singkat dengan Mbak Tari dan Bang Ryco. Dia mengaitkan tangannya di pinggangku berjalan sampai tempat parkir seolah tak ada orang yang memandang.
“Silahkan masuk, Bidadariku" ala-ala mempersilahkan Tuan putri membuatku melayang. Aku memasuki mobilnya, sudah ada tas belanjaan di kursi belakang yang tak sengaja aku lirik.
“Dek, kita mampir dulu entar di mart depan ya?” katanya setelah melaju jauh.
“Hemm, beli pengganjal perut ya mas," sahutku
“Atau kita ke resto aja?”
“ Entar aja habis sholat dzuhur Mas, bentar lagi juga dah mau adzan”
“ Ya udah, Mas beli minum sama camilan ya? Kamu di dalam mobil saja, bentar.”
Setelah Mas Ferdian kembali, kami melaju cepat. Ternyata Mas Ferdian mengajakku ke pantai yang begitu asri dan nyaman sekali.
“ Lelah perjalanan panjang ini, sepertinya tergantikan Mas. Mas kok tahu ada tempat seindah ini. Aku yang punya kota saja tidak tahu,” kataku membuka sabuk pengaman dan mataku sudah berkeliling mengabsen setiap sudut yang ada di depanku, walaupun lautnya belum terlihat.
“Ayo kita turun, ke masjid dulu ya.” Mas Ferdian belum menjawab pertanyaan yang tersisip dalam ketakjubanku.
Aku turun dan bertemu Mas Ferdian di depan mobil. Mas Ferdian menggandeng tanganku berjalan menuju masjid di area pantai ini, tanpa mencari tahu dimana tempatnya. Mas Ferdian seolah sudah hafal setiap sudut yang ada di sini. Aku hanya diam, tanpa mempertanyakan padanya.
Pertama kali dia menjadi imam dalam sholatku, dalam tiap bacaan yang dilafazkannya membuatku meneteskan air mataku. “Subhanallah...ya Allah, jadikanlah dia imamku sepanjang sisa umurku” batinku mendengar keindahan suaranya membaca bacaan surah-surah. Aku berdo’a dalam diam hingga tertetes air mataku di pandangi olehnya. Dia sudah duduk menghadapku tanpa aku sadari, aku berdo’a dengan mata tertutup. Dia menghapus air mataku dengan jari telunjuknya, membuatku terkaget membuka mataku.
“Do’a apa yang kau panjatkan?” Mas Ferdian masih duduk bersila di depanku. Menatapku dalam, hingga membuatku tenggelam di dalamnya.
“Aku tak ingin tahu yang ingin kamu tutup-tutupi Mas. Tapi hatiku risau dengan hal itu, fikiranku penuh dengan prasangka” batinku yang tenggelam dalam tatapannya. Aku hanya diam menjawab pertanyaannya. Dan dia mengecup keningku di rumah Allah. Mungkin jika orang melihatnya pasti akan berfikir kami pengantin baru. Untung masjidnya sudah sepi.
“ Yuk, kita cari maem, cacing di perut Mas sudah berontak” kata Mas Ferdian memecahkan hawa sedih, aku jawab dengan senyuman dan anggukan. Aku berdiri mengembalikan mukena. Mas Ferdian menungguku di depan masjid. Ketika melihat punggungnya yang tegap dan kekar, dia sedang memandangi jalanan. "Tak mungkin kamu akan menyakitiku Mas. Melihat kesholehanmu, tak mungkin kamu telah membohongiku Mas.” fikiranku bergelut kakiku melangkah menghampirinya. Berisik sepatu hak tinggiku bertemu dengan lantai, membuatnya berbalik. Dia menggandengku menyusuri jalanan dan berbelok di rumah makan, semua menunya aku suka. Dia memesan tanpa bertanya padaku, seolah kami sudah sering keluar bareng.
Kami menyusuri jalanan yang tak jauh dari tepi pantai, membooking tempat duduk yang akan kami duduki hingga sore untuk melihat indahnya matahari tenggelam.
“ Sayang, apa kamu capek? Kenapa gak pakai sepatu pendek saja sih?"
“ Siapa juga yang tahu mau perginya ke pantai, tahu gitu aku bawa double”.
“ Kalau capek, bilang...entar Mas gendong ( Mas Ferdian tersenyum menggoda ) oy, kemarin katanya ada yang mau kamu katakan?”
“ Enakkan mas dong!" aku terfokus pada kata mau digendong.
“ Kok enakkan mas, yang digendong kan kamu?" Hira tak membahasnya lagi.
“ Soal pertanyaan yang mau aku tanyakan, Mas jawab yang jujur ya?” kataku menyambung yang tadi.
“ Jika kamu meragukan kejujuran Mas, kenapa tadi tidak tanya pas di dalam rumahnya Allah saja?” nadanya halus tapi hatiku terasa sakit mendengarnya.
“Kenapa Mas tidak pernah membahas tentang Mbak Rina?” aku mengenggam tangannya untuk menghangatkan hatinya.
“Yang terpenting adalah waktu kita bersama, memanfaatkan waktu sebaik mungkin ketika kita lagi bersama” Mas Ferdian mempererat pegangan tanganku, menyatukan jari-jarinya disela jari- jariku dan mengecup punggung tanganku singkat.
__ADS_1
“Tak masalah 'kan Mas, jika aku tahu orang yang ada di sekitar Mas dan....”
“Untuk apa sayang? Yang penting kamu tahu Mas, saudara Mas, dan kehidupan sehari-hari Mas, cukup kan? Yang lain tidaklah penting!” sela Mas Ferdian
“Dia ada dalam keseharianmu juga Mas," ucapku memelas.
“Senjata makan tuan ( gunam mas Ferdian, segaja agar aku mendengar ) Mas harus hati-hati banget ya sayang jika berbicara denganmu.”
“Yang penting dia tidak ada dalam hati Mas” Mas Ferdian menggigit jari tanganku yang masih dalam genggamannya, melampiaskan gregetan dalam hatinya.
“Ih...iii...( mengaduhku dengan manja ) Apaan sih? Sakit tahu! Mas menakutkan!"
“ Kamu tuh gak mau kalah ya? Trus...trus...siapa yang sekarang Abang-abang sama Ryco? Hemmm?”
“ Apresiasi Mas, dia dah melindungi aku, bahkan dia memberikanku kenyamanan, banyak menasehatiku. Cuma sebutan abang aja kok, tak mahal dan tak mengurangi apapun dari yang aku punya." aku meliriknya melihat ekspresi wajahnya.
“ Jangan lama-lama ngobrol sama Febrian, aku denger Ryco bilang kamu buatin kopi untuk dia juga!”
“ Ya Allah Mas, cuma buatin kopi kok dan aku keruangannya hanya minta persetujuan berkas saja, tak ada yang lain." aku tak bercerita tentang peraaaan Mbak Rina yang begitu dalam pada Mas Ferdian seperti yang diceritakan Pak Febrian.
“ Ryco aja protes belum pernah merasakan kopi buatanmu, sekantor lama lagi! Tak salah kan jika Mas protes juga? Sebagai pacarmu......”
“ Sutttt, ( Aku menutup bibir Mas Ferdian dengan jari telunjukku ) gak selesai jika Mas bahas itu. Entar sampai rumah aku buatin ( Mas Ferdian yang telah berpindah tempat di sampingku, mencium singkat pipi kiriku ) Mas..." suaraku terdengar mantul karena jengkel.
“ Maaf, kamu ngemesin kalau jengkel. Lama-lama aku bisa menggadaikan imanku Dek jika bertemu kamu terus. Tabungan akhirat Mas, bisa 0. Malaikatnya sampai memberi laporan, saldo anda nol."
“ Makanya jangan macam-macam, jaga ini...." tak sopannya jariku yang memegang bibirnya, cerah karna tak pernah menyentuh batang rokok. Aku terkaget tiba-tiba Mas Ferdian melahap jariku yang menempel di bibirnya .
“ Mas...( panggilku manja dan menarik jariku dari bibirnya ) Mas, Mas kok hafal tempat ini? Apa ada pengalaman pribadi gitu? ( aku melihat sorot matanya ) Tak mungkin kan pengalaman bisnis?" aku mendahuluinya agar tidak dibohongi.
“Lihat sikonnya”
“ Dulu Mas pernah kesini, tidak sering sih ketika ada moment tertentu saja. Siap-siap ( Mas Ferdianmenatapku dan memegang tanganku seolah mencegahku lari, membuatku deg-degan apa yang akan aku dengar ) Kamu ingat saat Mas cerita tentang mantan Mas?”
“ Hmm, Mbak Emma kan?”
“Ingatan Adik yang shipp atau karna ada hati yang gak beres ( tatapan Mas Ferdian yang bangga karna membau aura kecemburuan di hatiku ) Tu...kan baru sampai sini, kamu sudah gak jelas wajahnya...Mas yakin Mas akan dapat ciuman + sayang “
“ Maksud + sayang apa tuh? Emange Mas ngira selama ini aku tidak sayang gitu ama Mas?”
Mas Ferdian mencium pipiku lama sekali, sampai aku memukul-mukul pahanya, agar melepaskan ciumannya.
“Maksud + sayangnya ya itu, seperti itu dicium pakai lama, pakai perasaan sayang. Jika kamu merasa sesak berarti rasa sayang Mas padamu begitu besar. Jangan kamu banding-bandingkan dengan masa lalu, jangan kau banding-bandingkan dengan sekitar kita. Cukup aku dan kamu. Ngerti kan sekarang?”
“ Gak jelas Mas itu ah! Kita dikelilingi banyak orang ya? Mas gak ada malunya gitu? Pengen kusembunyikan mukaku” kataku jengkel karna malu.
“ Tadi apa coba lanjutannya? Apa hubungannya dengan Mbak Emma?”
“ Rumah neneknya ada di sekitar sini, sekarang mungkin adiknya juga ada di kota ini. Terakhir, dulu Mas tahu adiknya menemani neneknya, dan kuliah di sini. Sekarang mungkin juga sudah kerja. Mas sudah pernah bilang kan, jika Mas sudah gak mau tahu tentang dia dan Mas selalu menghindari dia, walaupun dia sering datang ke rumah”
Aku hanya diam teringat peringatan Letiana.
“ Soal Mbak Rina, gimana??”
__ADS_1
“ Ya ngak gimana-gimana, emangnya gimana? Mas hanya menganggapnya sebagai sahabat, lebih-lebihnya hanya sebagai adik”.
“Foto di ruangan Pak Febrian?”
“ Hanya karya asal cepret Febrian saja, kamu bisa menanyakannya langsung pada orangnya. Dan dia salah faham dengan perasaan Mas”. Aku hanya terdiam mendengar jawaban Mas Ferdian.
“ Mas pernah bilang kan, ingat baik-baik Dek kata-kataku. Dalam keadaan apapun, terjadi apapun suatu saat nanti kamu tetap di hati Mas, satu-satunya di hati Mas, tempat ternyaman buat Mas. Dan hal itu terlepas dari kecantikan ataupun status sosial, sebelum aku melihat kecantikan wajahmu aku sudah mencintai hatimu. Dan aku pastikan kamu akan selalu ada di sepanjang kehidupanku”
Mas Ferdian mengecup keningku dalam, mengungkapkan dalamnya perasaannya padaku.
Asyiknya Ferdian dan Hira memadu kasih, sibuk dengan apa yang menjadi topik permasalahan di hati mereka. Hingga tak melihat sekeliling mereka.
Tak mereka sadari kalau ada sepasang kekasih yang memperhatikan mereka.
“ Sepertinya itu kak Ferdian deh, Ryc?”
“ Ferdian siapa? Mana?” Ryco tak terfikirkan Ferdiannya Hira,
“ Mantan kakak yang pernah aku ceritakan, tu arah sana...lihat arah pandang mataku" Erna mengarahkan pandangan Ryco pada arah pandangannya.
“Oh... "
" Ternyata dunia ini benar-benar sempit, orang yang sama" batin Ryco. Ryco hanya menanggapi dengan oh saja, tak bercerita kalau cewek di samping Ferdian adalah teman akrabnya yang sudah dia anggap sebagai adik.
"Biarkan saja, kita nikmati saja sore ini dalam damai...ok?” pandangan Erna belum juga beralih dari Ferdian dan Hira . Ryco mengalihkan pemikiran Erna, karna Ryco ingat betul dengan kebencian Erna pada kakaknya ketika mengetahui kakaknya menyia-nyiakan Ferdian.
Dulu Emma tergiur dengan anak pemilik perusahaan, yang seharusnya sudah dekat dengan Erna. Sebelum Erna menjalin kasih dengan Ryco.
“Maaf aku tak akan bercerita panjang lebar padamu. Aku berharap tak ada pelangi, artinya tak akan ada hujan. Cukup sudah deritanya, aku ingin melihat kebahagiaan Hira. Aku berharap Hira akan tahu apapun itu hanya dari mulut Ferdian bukan dari orang lain” batin Ryco penuh dengan harap.
“ Jangan difikirin lagi ya Er, itu masalah kakakmu.”
“ Jujur, aku kasihan sama kak Ferdian. Dia laki- laki yang baik Ryc, dia sangat baik pada keluargaku. Aku merasa berutang budi padanya. Mbak Em saja yang terlalu tak tahu malu. Dia tak akan membiarkan Kak Fer bersama orang lain, jika dia tahu ini pasti....” Ryco menghentikan pembicaraan Erna dengan kecupan singkat di bibir.
“ Jika seperti itu, yang harus kamu lakukan adalah diam. Jangan sampai kakakmu tahu” permintaan Ryco
“ Jika aku diam, tak ada hal lain yang tak mungkin kan...? Mbak Em selalu cepat dalam mendapatkan info...”
“ Kita do’ain saja”
Setelah menikmati indahnya matahari tenggelam, Ryco segera mengajak Erna pulang tanpa menyapa pemilik hubungan yang lagi hangat dengan kemesraan, masih bertahan di tepian pantai.
.
.
.
.
.
Tunggu episode berikutnya ya...
Jangan lupa, dukungannya...😘
Makasih....🙏🙏🙏
__ADS_1