
happy reading ya...
“Kamu menerima Dika, An?”
“Hehehe… Mama tahu saja. Maaf lagi pula baru berapa hari ya… itupun Ana takut Ma, lihat kisah cinta kakak saja membuatku takut. Kakak seorang laki-laki Ma, seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku ada diposisi kakak. Entah apa yang akan aku lakukan untuk menghadapi semua itu. Ma, aku mohon jangan pernah terima lagi Mbak Emma di rumah. Dia itu pembawa masalah Ma, aku yakin semua ini juga ada ikut campur dari bibirnya yang tidak tahu dosa.”
“Sutt, kamu itu ya, ditanya apa jawabnya kemana-mana.”
“Masih nyambung Ma,” kata Ana lembut penuh dengan nada manja. Bu Yeti mencubit ujung hidung Ana.
“Mama setuju jika kamu sama Nak Dika, kita semua kenal dengan Dika sudah lama. Mama yakin kamu pasti Bahagia.”
“Amien.”
“Lampu hijau, sudah dapat retu saja. Syukur, semoga jalanku lancar-lancar saja.” batin Ana.
“Ra, emangnya apa yang kalian bicarakan? Bisa-bisanya kamu sampai seperti ini.”
“Apa yang aku duga benar Bang, ya seperti itulah. Kepalaku pusing sekali.” Hira memegang kepalanya memijit kedua pelipisnya. Membuat Ryco tidak bertanya lagi.
“Jika kamu besok mau berangkat, hubungi aku saja. Nanti akan aku jemput.” Hira hanya menunjukkan jarinya yang artinya ok.
“Walaupun semua ini adalah masalahmu sendiri tapi aku berharap kamu tidak akan memikul beban ini sendiri Ra, ingat apa yang aku katakan. Kapanpun kamu ingin curhat, cari tempat call aku!” Hira hanya menganggukkan kepalanya dan membuka lebih lebar pintu mobil, turun, melambaikan tangannya. Tanpa memberi Ryco kesempatan untuk turun dan mengantarkannya sampai depan pintu rumah.
.
.
.
Setelah perbincangan dengan Febrian sampai Hira kembali ke mejanya dan kehilangan kesadarannya secara tiba-tiba melayang hingga menyentuh lantai. Dua hari sudah dia tidak menginjakkan kakinya di kantor setelah itu.
“Co, dari kemarin kamu belum cerita apapun tentang Hira. Sebenarnya ada apa sih?” Ryco masih enggan membuka mulutnya yang biasanya ember, semenjak ada kejadian Hira pingsan Ryco lebih menjaga bibirnya. Lebih banyak diamnya.
“Apa hubungan apa dengan Pak Ferdian? Dia pingsan setelah kalian meeting, dan setelah ngobrol dengan Pak Febrian lho…”
“Pada terlibat cinta segi banyak ya? Biasanya kamu juga selalu calling-caling dengan Erna tapi aku rasa-rasakan beberapa hari ini handphonemu diam seiring mulutmu deh! Hira juga lebih sering melamun. Apakah rasa yang kamu pendam sudah ketahuan ya?”
“Fikiranmu terlalu tamasya Ri, jangan nambah-nambahi berita acara ya!”
“Tapi seriuan deh, kalian pada aneh. Ruangan ini seperti tidak ada penghuninya.”
“Diam saja dulu okey, kepalakku pusing.”
“Terus Hira sekarang gimana kabarnya. Serius sekali sudah 2 hari lho, gimana jika nanti mampir?”
“Semalam sudah aku chat sih, katanya baik. Bilangnya dia masih butuh istirahat.”
“Tapi aku pengen ketemu, kagen… sebentar saja okey? Aku akan izin Fernad.”
“Iya, iya baik lah. Tapi kamu jangan tanya aneh-aneh ya? Aku takut, kita sabar saja dulu sampai dia cerita.” Peringatan Ryco pada Tari, seolah dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Hira.
Dalam perjalanan menuju rumah Hira, Tari mengajak Ryco mampir ke toko buah terlebih dahulu. Tapi tidak disangka bertemu dengan Pak Febrian yang menunggu pesanan parselnya jadi.
“Lho Pak Feb, mau kemana?”
“Mau ke rumah saudara.” Tari dan Ryco manggut-manggut.
“Lalu kalian?” tanya Febrian basa-basi.
“Mau njenguk Hira Pak,” kata Tari, Febrian hanya manggut-manggut.
__ADS_1
“Duluan ya,” pamit Febrian, Ryco melihat kemana arah Febrian melajukan mobilnya. Ryco melihat mobil Febrian yang di parkirkan di Cafe yang biasa digunakan nongkrong dengan Hira.
“Oh, ternyata tujuan kita sama tapi kamu lebih menutup diri. Aku sudah merasa ada sesuatu sejak kamu ada care dengan Hira. Walaupun saudarimu membuatnya jadi seperti ini tapi ini peluang bagus untukmu. Kamu mungkin saja akan menggunakan kesempatan ini?” prasangka Ryco.
Mobil Ryco memasuki lorong rumah Hira, Ryco melirik mobil yang terparkir di tepi jalan. Tari sama sekali tidak menyadari hal itu.
“Assalamuallaikum Ibuk? Bagaimana kabar?”
“Apik-apik wae Nak,” jawab Ibu Hira.
“Ngopo to kok repot-repot. Tak panggilkan Hira yo… “
“Eh… Mbak Tari, kok malah jadi merepotkan kalian. Aku hanya butuh istirahat, besok juga ku akan masuk lagi kok. Aku kan butuh uang!”
“Bisa saja kamu Ra, di saldomu pasti masih banyak nol-nol. (Kata-kata Tari membuat raut wajah Hira yang sudah berusaha tersenyum menjadi kembali muram, Ryco hanya memperhatikan karena tidak tahu kenapa kata-kata Tari membuat Hira dengan jelas merubah ekspresinya ) Jangan memaksakan diri. Istirahat saja.” Tari berusaha beralih kata setelah resflek menutup bibirnya yang membuat Ryco semakin curiga.
“Kami tidak akan lama-lama Ra, kamu istirahat. Kamu tidak menyusahkan lambungmu kan?”
“Cie… Kakak perhatian sekali.” Sorak Tari yang melihat begitu khawatirnya wajah Ryco.
“Ayo kita pulang, aku ada janji dengan Mama, belum juga mengantarmu yang jauh sekali!”
“Iya, iya bawel! Dengar Ra, kakakmu ini pilih kasih. Hanya denganmu saja dia tidak perhitungan, tapi denganku… Ya Tuhan, jalan saja diukur!” keluh Tari membuat senyuman Hira terbit.
“Kami pulang,” Ryco mengusap kepala Hira yang tertutup kerudung sebelum ke masuk ke dalam mencari Ibu Hira, Ryco sudah terbiasa karena ini bukan yang kesatu atau kedua kalinya.
“Kok kesusu to Nak, maaf selalu merepotkanmu. Matur nuwun Hira selalu mbok damping.”
“Tidak apa-apa Buk, Hira sudah aku anggap adikku. Dia sudah cerita semuanya dengan Ibu?” Bisik Ryco, Tari masih belum selesai berpamitan. Masih menyambung obrolan.
“Winggi bali ko kerjo to, pas agak awal. Rupane pucet, Ibu nyawang wae ora tega to Le. Ibu masih diam saja, malam badanya panas sampai Ibu kompres. Ibu ajak periksa tidak mau, air matanya tidak mau mandek Le… Ibu bingung ‘bocah iki keno opo, winggi bar seneng-seneng meskipun yo rodo nglamun-nglamun ngono’ suwe-suwe Ibu ra betah.”
Flash back on
“Kenopo to nduk? Ono opo sak benere?” tanya ibu Hira. Hanya di jawab dengan tangis yang sesegukan. Ibunya Hira tak berkata lagi menunggu putrinya sampai tenang.
“Buk, buk… “ Hira masih sesegukan tidak bisa menahan rasa sesak di dadanya.
“Buk, ( Hira tersipuh di kaki Ibunya membuat Ibunya terkejut, tak bisa mencerna apa yang ada di fikirannya sendiri ) Buk, nyuwun pangapuntene Buk, Hira nyuwun pangapuro.”
“Ono opo to nduk? Cerito o, opo krungu tangismu iso Ibu reti opo masalahmu?”
“Mas… Buk, ( menyebut namanya saja terasa berat, sakit ) Mas Ferdian mpun nikah kalean putri Bosse.”
“Ibu mbiyen wes ngomong to, diati-ati wae… nek sak upomo jodhomu yo bejomu. Ibu moh ngomong okeh-okeh. Ora opo-opo, ditanggung wae bareng-bareng opo mengarepe.” Hira hanya manggut-manggut, Ibu mengelus lembut punggung Hira yang masih bersipuh di pangkuan ibunya. Hira menyadari jika Ibunya menghapus air mata.
“Nyuwun pangapuro mpun ngawe wirang.”
“Ora Nduk, ora. Wes, ayo ndang lungguh kene jejer Ibu.”
__ADS_1
“Bapak piye Buk?”
“Ora po-po mengko tak ngomong karo Bapakmu.”
“Mulai sak iki to, Hira mulai noto mengarepe. Soal ati biarkan sampai semuanya membaik, tetap jaga silaturokhim jika itu memungkinkan. Sak benere yo ra perlu. Tapi awakmu reti dewe kepiye to… lha kuwi, yo kari awakmu Nduk. Wes sak iki pasrah wae karo gusti Allah.” Hira hanya mengangguk, isakannya mulai mereda.
Flash back off
“Hanya perlu pemulihan waktu walaupun entah berapa lama Bu, tapi Ibu sama Bapak yang sabar. Apapun kata orang jangan di hiraukan dan jangan salahkan Ferdian juga, aku tahu bagaimana perjuangan Ferdian hanya untuk ingin menghabiskan waktu bersama. Dan aku lihat keseriusannya. Tapi entah apa kejutan Allah yang akan diberikan. Tapi kita semua harus menguatkannya Bu.”
“Iyo, iyo Nak. Matur suwun lho Nak.” Ryco mengiringi Ibu untuk keluar mendengar Tari yang sudah memberi kode.
“Ayo Co, kamu minta apa sama Ibuk. Kok lama sekali, jangan-jangan kamu ambil start meminta aji-aji sebelum nikah ya?” kata Tari setelah Ryco dan Ibu Hira muncul di ruang tamu.
“Sutt, rahasia ya Bu. Special hanya untuk aku.” Tari memanyunkan bibirnya, melihat kekompakan mereka.
“Tak ndongakno mugo langgeng, lancar, ojo lali Ibu diparing undangan sing special.” Ibu Hira menepuk punggung Tari lembut, mengiringinya keluar menuju halaman.
“Matur suwun Bu. Tari Pamit Bu, da Hira… “ Tari melambaikan tangannya. Melangkah menuju mobil yang terparkir lumayan membut sedikit jalan kaki.
“Co, lama sekali tadi pamitnya sama Ibu. Ngode cepat-cepat pulang tapi kamu malah ghibah sama Ibu.”
“Tadi kamu tidak ngomong macam-macem lagi kan sama Hira. Kamu tidak merasakan perubahan wajah Hira ketika kamu ngomong soal saldo nol-nol.”
“Tidak hanya ngomong kerjaan kok.”
“O… jadi topiknya soal Ferdian to?” Tari baru sadar dengan kata Ryco yang membahas perubahan wajah Hira ketika menyebut saldo nol-nol.
“Apa hubungannya saldo dengan Ferdian sampai kamu menebak jika Hira seperti itu karena Ferdian?”
“Maaf ya Ra, aku cerita dengan Ryco, kamu jangan marah. Aku hanya ingin tahu ada apa denganmu. ( kata Tari sambil memejamkan matanya, meminta izin tanpa ada orangnya ) Aku cerita nih, tapi jangan sampai kamu keceplosan jika kamu tahu hal ini. Sebenarnya Hira dari dulu selalu dapat kiriman uang dari Ferdian dengan nominal yang wau, tapi dia tidak menggunakannya. Dan masih utuh hanya sedikit saja yang digunakan itu saja jika ada pemaksaan dari Ferdian ngecek sudah ini belum... itu belum, aku kirim lagi. Gitu!”
“Mungkin ini juga yang membuat Hira down parah. Angan-angan yang sudah tingkat tinggi dalam sekejap terhempaskan. Dan pantas saja Ibu Hira tadi ada kata-kata seperti itu, syukurlah setidaknya Orang tuanya tahu, tapi pasti sakit sekali untuk orang tuanya.” Batin Ryco.
“Kamu tidak heran Co?”
“Em… tidak sih, karena Ferdian orang yang wau… kamu tidak merasa betapa royalnya dia saat muncak?”
“Iya sih, benar juga. Bagi orang kaya seperti itu ya Co,”
“Gayamu! Kayak kamu orang yang kekurangan saja, Fernad juga dari orang kaya raya. Tidak perlu ditutup-tutupi!”
“Lha kalau kaya masak aku woro-woro ’hoe pacarku orang kaya’ masak seperti itu!” Ryco hanya cekikikan mendengar Tari yang ikut-ikutan logat ibunya Hira dengan volume yang lumayan berdenging di telinga.
.
.
*Lanjut episode berikutnya ya*,😘
__ADS_1
mohon dukungannya, terima kasih 🙏🙏🙏