Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 67


__ADS_3

happy reading ya...


Kata-kata Rinna yang membuat Ferdian meneteskan air mata selain perpisahan dalam hubungannya dengan Hira. Perkataan Rinna merupakan kata yang terakhir yang ia dengar empat bulan yang lalu.


Setelah meninggalnya Rinna Ferdian menyibukkan diri dengan urusan kantor, pertunangan Dika dan Letiana yang di gelar besar-besaran saja setelah dua bulan kematian Rinna tidak ia hadiri dengan dalih sibuk. Memang perusahaan yang ia pimpin sekarang ini secara sah sudah berubah menjadi atas namanya, tanpa ada keluarga lain dari Rinna yang mengusik.


Rinna meninggalkan dunia ini dengan tertata rapi, sakit yang di derita tanpa terketahui oleh siapapun terkecuali Bi Siti ARTnya dan Mas Mulyono, sopir pribadinya yang biasa ia ajak kemanapun ia berobat bahkan menunggui dan membuat janji dengan dokter pribadinya. Berkas kemilikan perusahaan dan aset lainnya yang sudah komplit atas nama Ferdian. Sudah terurus tanpa jejak kapan semua itu ditangani.


Letiana selalu mondar-mandir mengirim makanan ataupun mengajak kakaknya untuk makan siang, mengalihkan fikiran kakaknya yang terpampang jelas ada rasa bersalah dengan kematian Rinna. Hingga pada akhirnya Letiana berinisiatif untuk menghubungi Hira, yang benar-benar sudah lama sekali tidak ada komunikasi dengan Hira semenjak hari dimana tiba-tiba ada pernikahan dadakan Kakaknya dengan Rinna.


“Hallo,” Hira menjawab panggilan yang masih tertera nama Letiana di layar ponselnya. Yang menelephone masih terdiam merasa hatinya beku rindu dengan suara di balik telephone yang telah ia idam-idamkan jadi kakak iparnya.


“Hallo, An?” kata Hira kembali.


“Are you okey?” tanyanya lagi masih menunggu Letiana berbicara.


“Maaf Kak, aku… “


“Kenapa minta maaf, yang perlu kamu katakan ketika baru memulai pembicaraan dengan seseorang setidaknya ucapkanlah salam/ hallo/ aku baik-baik saja. bukan kata maaf.”


“Memang hanya kata maaf yang pantas aku katakan padamu Kak,”


“No, tidak ada kesalahan apapun untuk masa lalu. Kita tatap kedepan okey? Gimana kabarmu, apakah kamu sudah nikah? Terakhir dulu pedekate dengan Mas Dika.” Terdengar senyuman nyengir dari Letiana.


Awal pembicaraan yang bahagia, tak lama Letiana terbata ingin mengucap suatu kata.


“Kenapa An, apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan pada Mbak?”

__ADS_1


“Apakah Kak Hira tidak tanya, bagaimana kabar Kak Fer?”


“Seharusnya Masmu sudah punya jagoan atau putri yang immut, lucu dan mengemaskan bukan? aku selalu mendo'akannya agar dia bahagia.” terdengar nafas berat yang dihembuskan oleh Letiana.


“Kenapa lagi sih An? Terdengar tidak enak sekali nafasmu? Apa Mas Fer sudah tidak memberikanmu nol-nol hingga kamu penuh sesal dengan kebahagiaan kakakmu? Mboten pareng ya...!” Hira berkata sambil sedikit tertawa, mencairkan suasana.


“Kak itu dulu sekarang aku sudah berubah kok, Kak Fer sekarang sibuk!”


“Dari dulu memang Mas Fer selalu sibuk kan An, sudah tidak kaget lagi.”


“Maksudku, kesibukan yang Kak Fer lakukan sekarang ini tidak semestinya Kak Hira. Dia memang menengelamkan dirinya dalam pekerjaan semenjak… “ Letiana berat melanjutkan katanya.


“Semenjak apa? Rumah tangga mereka baik-baik saja kan? ( pertanyaan Hira spontan ) maaf, bukan bermaksud melebihi batasanku.”


“Mbak Rinna sudah lama ninggal Kak,”


“Tidak apa Kak, bukan salahmu. Aku berharap kak Hira bisa menasehati Kak Fer, setidaknya dia bisa lebih memperhatikan dirinya.” Hira terdiam tanpa respons, fikirannya berkelana.


“Em, maaf ya kak jika aku egois. Tanpa tahu terlebih dahulu bagaimana sekarang keadaan kakak, status kakak, aku langsung saja berbicara mengeluhkan masalahku.


“Tidak apa-apa An, aku senang. Itu artinya kamu maasih menganggapku kakakmu.”


“Hehehe… jika bisa dan boleh aku masih masih berharap jika kak Hira tetap bisa jadi kakak iparku. Betapa egoisnya diriku, tidak tahu malu! Kakakku yang menyalahi hubungan kalian tapi dengan muka tembok aku masih berkata dengan percaya diri. apakah Kak Hira sudah menikah?”


“Belum.”


“Punya kekasih?” Hira hanya menjawab dengan cengiran, yang diartikan belum oleh Letiana.

__ADS_1


“Semoga kalian berjodoh. Aku senang jika kakak menjadi kakak iparku. Aku ingin sekali bertemu dengan kak Hira, wanita yang sangat dikagumi oleh kakakku yang keras kepala dan berhati batu itu.”


“Kak Hira tahu ngak, selama pernikahan mereka itu seperti orang yang hanya tinggal di satu atap saja tanpa ada rasa. Mungkin yang membuat Kak Fer seperti itu hingga sekarang mungkin dia merasa bersalah atas sikapnya pada Mbak Rinna.


“Maksudnya?”


“Setelah meninggalnya Pak Agum, aku pernah main sekali ke rumah mereka tinggal di kamar yang berbeda.”


“Benarkah?” Hira mulai berfikir jika mungkin mereka memang tidak pernah melakukan hubungan badan sama sekali.


“Hemm, mungkin itu sesal Kak Fer. Tidak memberikan kebahagian pada istrinya. Kak Fer yang sekarang tidak seperti dulu Kak, sudah tidak pernah lagi tersenyum. Bicara pada kami saja tidak pernah, setelah ketemu dengan Mama tanpa bicara terus balik lagi.” Terdengar letiana menghembuskan nafasnya.


“Jika ada waktu nanti, Mbak akan mengunjunginya.”


“Serius?”


“Heemm,”


“Jika sampai sini, harus ketemu dengan aku ya?”


“Baiklah… “


.


.


Lanjut episode berikutnya,

__ADS_1


__ADS_2