
Adzan zubuh telah berkumandang. Sebelum melaksanakan kewajibannya, dia menelephone Hira. Ferdian mencari tahu gadis pujaannya, bisa bangun atau masih dalam alam mimpi.
Calling...
Hira Cantik
Berdering
Calling......
Hira Cantik
Berdering
Calling......
Hira Cantik
“ Assallamuallaikum," suara Hira serak ciri khas bangun tidur.
“ Waallaikumsalam sayang, akhirnya diangkat juga! Baru bangun ya? Buruan mandi, pakai air hangat. Mas mau sholat dulu."
“Hmm, makasih Mas," suara Hira masih lemas karena masih mengantuk.
Tanpa salam lagi, sambungan telephonenya sudah tertutup. Aku segera mandi dan segera salat. Semenjak aku sudah bekerja di perusahaan, Ibu tidak lagi capek-capek tiap pagi sibuk di dapur. Aku sering sarapan ringan roti dan susu. Kadang juga langganan pesan sarapan pada istri Pak Ujang, satpam kantor. Tinggal chat Pak Ujang sebelum berangkat kerja. Bu Ina akan buatkan nasi kotak paket 15rb sudah komplit gizinya, yang akan di antar Pak Ujang di ruanganku. Aku makan sambil mengerjakan pekerjaanku di pagi hari. Menyelam sambil minum air. Dulu Pak Ryan sangat jengkel ketika melihatku sarapan sambil bekerja.
Aku tak pernah melewatkan sarapan, karena ada yang selalu mengabsen. Pagi ini aku masih naik bus, tapi jika nanti lembur aku naik taksi. Aku tak mau ada yang ribut lagi seperti semalam, panjang banget pertanyaannya.
“Semoga nanti tidak ada lembur, aku ada jadwal kuliah. Dulu saat Pak Ryan, walaupun kantor genting. Tapi aku masih bisa kuliah sesuai jadwal. Tanpa ada rasa khawatir. Ya Allah betapa berjasanya Pak Ryan atas kelancaran apa yang aku capai selama ini.” gunamku perlahan.
Sampai di depan pos satpam, aku menghampiri Pak Ujang.
“ Pak, apakah sarapanku sudah jadi?"
“ Sudah Neng, biasanya juga Bapak yang antar Neng?"
“ Tidak apa-apa Pak, ada Boss baru, belum tahu dengan jelas gimana sifatnya, takut entar kena semprot."
“Oh iya Neng. Ini pesanan Si Eneng. Makasih Neng,"
“ Iya Pak sama-sama, permisi."
Aku segera bergegas memasuki kantor. Dah komplit ternyata, Ryco sudah sibuk dengan komputernya. Mbak Tari juga sudah memasukan berkas dalam map, siap acc.
“Pagi semua.” sapaku penuh dengan semangat pada Ryco dan Mbak Tari.
__ADS_1
“Pagi," jawab mereka bersamaan dengan suara yang pelan seakan berbisik.
“Ada apa? Masih pagi kenapa kalian sudah bersikap aneh. Belum sarapan atau sudah dapat semprot pagi?” gak ada yang jawab seolah mereka sedang memusuhiku. Aku mengambil nafas dalam.
Suara telephone kantor yang ada di depan Mbak Tari berbunyi. Membuat Mbak Tari kaget mengelus dada, karena fikirannya entah melayang kemana.
“Ra, di suruh Pak Boss masuk ruangannya."
“Ha! Pak Boss sudah di dalam ruangan? Jam segini sudah stay?” jawabku kaget.
“Ya iya, emang siapa lagi! Apa kita punya boss lain di ruangan ini? Buruan!” Mbak Tari berbicara agak jengkel.
“ Habislah aku, jadi mereka seperti ini gara-gara sudah kerja rodi," batinku.
"Aku! ( aku menunjuk hidungku sendiri ), aku malah baru nyampai kantor. Habislah aku dibuat perkedel. Ya Allah lindungilah aku," gerutuku sambil menuju ruangan Pak Febrian.
Aku masuk ruangan Pak Febrian, dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Ya Pak, Bapak memanggil saya?“
“Saya harap ke depannya kamu bisa berangkat lebih pagi ya? Kamu masih kuliah?”
“Baik Pak, iya saya masih kuliah."
“Sesuaikan jadwal, laporkan dengan saya jadwal kuliahmu. Kita sinkronkan, hari apa kita bisa lembur. Kebelakang akan banyak proyek siapkan staminamu!"
“Terima kasih Pak pengertiannya. Terima kasih."
“Sama-sama, saya tidak mau dicap sebagai penyiksa karyawan. Tapi saya selalu punya kejar target dalam bekerja, dan saya orang yang me nomer satu kan disiplin, nyaman dalam bekerja sama."
“Dapat pencerahan dari kerisauanku Mbak, alhamdulilah.” kataku dengan bahagia.
“Beruntungnya gadis cantik, yang berstatus single, kayaknya Pak Boss jinak sama kamu ya Ra?” kata Mbak Tari dengan nada iri.
“Sutt, jangan bawa-bawa status Mbak, anggap saja aku orang beruntung Mbak, rezeki anak sholeh. Hehehe.”
“ Do’a Ibumu mantap Ra ( Mbak Tari mengacungkan jempolnya ) aku mau belajar padanya, biar anakku kelak sangat amat beruntung “
“Alhamdulillah Mbak, oy Mbak tadi aku dapat bocoran kedepannya kita bakal kerja rodi." Kataku pada Mbak Tari sambil ngeprint jadwalku yang akan aku berikan pada Pak Febrian.
Pak Febrian mulai kerja tanpa memperkenalkan diri dan menyampaikan visi misinya dalam bekerja. Jadi aku bocorin ke teman-teman seperjuangan. Biar kita mempersiapkan diri.
“Kamu ngeprint apa ini Ra?“ tanya Ryco yang melihat kertas yang keluar di mesin sampingnya.
“Pak Febrian minta jadwalku kuliah Co“ jawabku tanpa berfikir panjang.
“Ri, aku kok jadi membau ada yang tidak beres Ri,” Ryco menambah volumenya, yang sudah di condongkan ke arah Mbak Tari. Tanpa merespon jawabanku.
__ADS_1
“Aku kira, kamu sibuk dari tadi dapat amanah untuk di acc cepat Ra, kejar berkas naik! Tak tahunya Ferdian jadi Febrian nih!"
“Maksudnya apa Mbak?”
“Tak ada hubungan kerjaan Ra, untung di kamu aja itu.“ selonong Ryco.
“Bener Ryco tuh, bisa diprediksi nih! Hira jadi tameng kita Co, kedepannya kita bisa tidak perlu khawatir lagi bakal tidur di sini. Selama Hira tersenyum kita aman." jawab Mbak Tari penuh dengan antusias.
“Rapal apa ya Ra Bapak dan Ibumu dalam berproses, dirimu penuh dengan keberuntungan. Di tengah gurun aja bisa terasa adem karena auramu, kita perlu berbondong bawa gula Co, ke rumah Hira buat berguru sama Ibunya” imbuh Mbak Tari yang masih terheran-heran tanpa dihiraukan Ryco yang sedang sibuk.
Mbak Tari begitu heran dengan nasib mujur yang aku dapatkan, walaupun dia tahu cerita bagaimana kehidupanku dari kecil. Tapi dia masih terheran dengan nasib baik yang aku dapatkan setelahnya, mulai dari dapat pacar semu yang royal baget, saldo kayak sepur. Sampai kerja dapat atasan yang toleran secara berturut-turut.
“Assallamuallaikum, iya Mas," sahutku yang tiba-tiba ditelephone Mas Ferdian.
“Hati-hati Fer, di sini banyak jaring, jaga ikan imutmu." selonong Mbak Tari mendekatkan bibirnya ke mikrofon handphoneku.
“Jangan dengerin Mas. Mbak Tari itu lagi ngaco, efek banyak kerjaan."
“Kenapa Dek, sudah ada pertanda nanti mau lembur lagi? Gimana jadwal kuliahmu?”
“Nanti siang kita bahas ya Mas, tidak enak sama teman-teman. Lagi pada sibuk nih, assalamuallaikum”
“Waalaikumsalam sayang, jangan lupa entar telphone Mas ya?"
“ He’em bye, “
“Asyiknya, aku juga akan betah Ra, tak terlihat orangnya tapi nyata sayangnya.” kata Mbak Tari tiba-tiba.
“Aku gak setuju, ya asyikkan bisa dua-duanya! Ada orangnya dan nyata sayangnya, tidak dicium sehari kelabakan kamu Ri! iya ngak?”
“Sutt. Apaan sih malu-maluin. Jangan buka aib disini. Lagian kasihan Hira tuh, entar dia nangis. Mau kamu tanggung jawab!" Mbak Tari dan Ryco mulai bercanda mengejekku.
Aku meninggalkan mereka, memberikan jadwalku yang diminta Pak Febrian tadi. Mereka masih asyik mengobrol sambil menghadapi komputer mereka masing-masing. Seperti itulah keseharian kami. Aku berjalan dengan fikiran blank, masih tak berfikir panjang dengan apa yang jadi tujuan Pak Febrian sebenarnya seperti apa yang dikatakan Mbak Tari dan Ryco, kalau ada udang di dalam bakwan.
tunggu lanjutan ceritanya ya....
mohon dukungannya,
terimakasih...🙏🙏
__ADS_1