
happy reading...
“Eh…eh…heh…”
Terdengar suara keluhan nafas berat seolah memanggil-mangil orang sekitar. Febrian yang baru kembali menemui dokter setelah bertelephonan dengan Ryco, memasuki ruangan ICU tempat Pak Agum dirawat melihat pergerakan pamannya. Dilihatnya tidak ada seorangpun di sekeliling ruangan.
Tok…tok..tok…
“Rin, kamu di dalam?” Febrian mengetuk kamar mandi.
“Paman siuman, cepat keluar aku akan panggil dokter.” Tak lama Rinna segera keluar.
“Bagaimana keadaan paman, Dok?”
“Masih belum stabil, tapi syukur Bapak sudah bisa siuman. Kami akan memantaunya, sebaiknya jangan membebani fikirannya. Hindari dulu pemikiran yang berat-berat.” Febrian hanya mengangguk-anguk,
“Saya akan kembali, saya akan tetap berjaga malam ini untuk memantau keadaan Beliau. Bapak jangan terlalu banyak pemikiran, okey?” dokter Beni menepuk bahu Febrian.
“Hallo Paman, cepat sehat. Aku ingin main golf lagi denganmu.” Kata Febrian ketika mendekat ke tempat tidur dimana Pak Agum berbaring setelah masuk kembali ke ruangan.
Pak Agum hanya merespons dengan kedipan mata, tangannya yang gemetar terulur, mengharapkan Febrian lebih dekat dengannya.
“Apa yang ingin Paman katakan? Tapi tidak boleh banyak-banyak. Masih belum diizinkan.”
“Pa… pa… panggilkan Ferdian.”
“Ada aku Paman, kenapa harus Ferdian. Aku bisa melakukan apapun.” Jawab Febrian merasa deg-degan mau ada apa ini. Pak Agum hanya menggelengkan kepalanya. Terlihat tutup oksigen yang menutupi mulut Pak agum mengebul, nafasnya tersenggal-senggal.
“Pa, Papa harus sehat dulu. Nanti bisa ketemu dengan Mas Ferdian selama apapun yang Papa inginkan. Mungkin saja Mas Ferdian masih sibuk lembur, pekerjaan banyak sekali Pa. Apalagi Rinna kan di sini beberapa hari.” Jelas Rinna ingin menetralkan suasana.
“Fer…dian.” Katanya terbata lirih. Ryco mengeluarkan handphonenya menunjukkan pada Pak Agum dan Pak Agum menggangguk, mengerti bahwa Febrian akan menghubungi Ferdian.
“Hallo, kamu dimana Fer?” tanya Febrian setelah melangkah keluar ruangan.
“Aku masih di kantor.”
“Segera ke sini Fer, darurat!”
“Kenapa?”
“Paman sadar, dia ingin kamu segera ke sini. Aku harap kamu tidak lari dari situasi ini Fer. Dokter tadi memintaku untuk menjaga agar tidak ada beban fikiran. Aku sudah mengalihkan Paman, tapi Beliau tetap ingin kamu ke sini. Maaf, kamu tidak bisa menghindari ini lagi. Hadapilah! Terimalah! Entah situasi apa yang ada di hadapanmu nanti.
“Baiklah aku akan ke sana, aku mengerti maksudmu. Terima kasih.” Ferdian segera bergegas.
“Mas… “ sapa Rinna ketika melihat Ferdian memasuki ruangan, laki-laki yang dirindukan suaranya, yang dirindukan tatapan lembutnya kini ada di depan mata.
“Bagaimana?” tanya Ferdian menatap Rinna, Rinna hanya geleng-geleng.
“Paman ingin bertemu denganmu.”
“Fer… mendekatlah… “ Pak Agum berkata lirih, nafasnya tersenggal-senggal, membuka oksigen yang berada di mulutnya.
“Iya Pak, saya ada di sini.” Ferdian mendekat, bahkan telinganya dekat dengan bibir Pak Agum.
“Nikahi… Rinna… aku mohon,” katanya lirih, spontan Ferdian menatap Rinna dengan bola mata yang telah tergenang air. Runtuh segala kekuatan yang ada di tubuhnya. Rasanya Ferdian sudah tidak memiliki tulang untuk membuat tubuhnya tetap berdiri.
“Besok… la… ku… kan… lah, di sini.” Menetes sudah air mata Ferdian ketika dia harus menganggukkan kepalanya untuk menyetujui. Pak Agum menggenggam tangan Ferdian tanpa kekuatan.
“Saya akan menyiapkannya, saya mohon pamit dulu.” Ferdian mengusap wajahnya yang masih menunduk dekat dengan telinga Pak Agum dengan lengannya. Ferdian menegakkan tubuhnya dan mengelus lembut lengan Pak Agum ketika Pak Agum mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Ferdian keluar ruangan diikuti oleh Rinna. Ferdian membuang nafas berat dengan kasar, mengibaskan kepalanya membuka-buka matanya seolah matanya saja tidak kuat untuk ia buka.
“Maaf Mas,”
“Tidak perlu ada kata maaf,”
“Apakah kamu sudah bilang dengan… “ Ferdian tanpa menunggu lama langsung menggelengkan kepalanya.
“Biar itu jadi urusanku… Siapkan saja pakaianmu besok, kita lakukan pernikahan sederhana. Tidak mungkin jika hanya nikah secara agama saja. Pasti bukan itu yang diinginkan Papamu, jadi aku akan menikahimu secara resmi.” Ferdian mengatakannya dengan muka yang tidak bersemangat sama sekali.
“Aku tahu Mas, kamu terpaksa melakukan ini. Kamu pasti merasa berdosa sekali dengannya. Maafkan aku.” Kata Rinna lirih.
“Seperti apa yang aku katakan kemarin, hal itu masih tetap berlaku. Aku tidak akan menuntut lebih.”
“Temanilah Papamu, suruh siapapun yang tahu seleramu untuk gaunmu besok.” Ferdian hanya menepuk lembut punggung Rinna.
“Aku akan mengurus keperluan besok, aku pergi.”
“Terima kasih Mas, maaf sekali lagi.” Ferdian hanya mengangguk.
.
.
“Kamu habis ketempelan dari mana sih? Pergi tidak pamit, balik-balik sudah heboh sendiri. Mengagetkan orang saja! Besok kita itu ada meeting di Kota D lho, dan kamu juga dapat laporan dari Perusahaan A. Tu… sudah masuk email!"
Mendengar Dika menyebut Perusahaan yang di tempati Hira bekerja, wajah Ferdian sudah tak bisa dilukiskan lagi betapa lusuhnya fikiran Ferdian.
“Aku tahu, pending semua. Jadwalkan setelah acara selesai.”
“Atau aku yang akan mewakilimu.”
“Kamu faham tidak apa yang aku perintahkan padamu tadi.”
“Ya, cari cincin kan? Tinggal pesan setelah aku dan Ana nyoba.” Dika berkata dengan ringan, tanpa merasa ada kejanggalan.
“Besok aku akan nikah dengan Rinna di depan Pak Agum, siapkan untuk akad besok. Kamu dan Febrian yang akan jadi sanksi kami, kamu ajak Ana beri tahu dia. Dan kasih tahu juga Mamaku. Aku tidak akan pulang. Bawakan jas hitam ke sini.”
“Gila! ( kata Dika terheran dan sedikit emosi mengingat Hira ) bagaimana dengan Hira?” Ferdian mengusap wajahnya kasar, mengelap air matanya yang tidak bisa ia tahan lagi.
__ADS_1
“Aku sungguh tidak menyangka akan seperti ini, Hira… Hira… “ Kata Ferdian sambil sesegukan, Dika memeluk Ferdian dan menepuk-nepuk punggung Ferdian.
“Sabar… sabar… Allah pasti menyiapkan rencana di balik ini semua.”
“Aku merasa benar-benar tidak sanggup, kamu tahu bagaimana rasanya kepalaku? Terasa mau pecah!” kata Ferdian lirih masih dalam pelukan Dika.
“Kamu tenangkan diri, nanti aku yang akan handle semuanya. Jangan pegang apapun. Berbaringlah di sofa okey? Akan aku buatkan teh hangat untukmu. Dan aku akan pergi menyiapkan apa yang kamu minta. Besok jam berapa?”
“Jika semua beres pagi lebih baik. Nanti kamu kabari Rinna, kepalaku sudah tidak kuat.”
“Baiklah akan aku atur.”
“Fer, ini tehmu. Aku tinggal ya, tenangkan dirimu.” Kata Dika sebelum melaju meninggalkan Gedung Mandala Group.
“Sayang, kamu lagi ngapain?”
“Telephone tidak salam, ada apa emangnya?”
“Mendesak. Sibuk atau tida? Aku minta kamu segera bersiap aku sudah menuju rumah. Akan aku jemput!"
“Mas, jangan menakutiku ya? Ada apa memangnya? Jangan membuatku takut.”
“Maaf tapi aku tidak bisa cerita sekarang. Nanti saat di jalan akan aku ceritakan. Aku sedang nyetir nih. Segera bersiap tunggu di depan, aku tidak akan turun.”
“Baiklah.”
.
.
“Ada apa?”
“Kakakmu tiba-tiba nyuruh aku untuk menyiapkan pernikahan, aku tadi sudah menelephone penghulu besok bisa jam 8 akadnya.”
“Terus mana Kak Hiranya, aku pengen ketemu dulu.”
“Dek, Ferdian tidak nikah dengan Hira tapi… “ belum selesai Dika berbicara Ana sudah memukul handle pintu mobil.
“Pintunya tidak salah.”
“Ada apa dengan Kak Ferdian sih!”
“Ferdian juga lagi kacau, jika kamu melihatnya aku yakin kamu hanya sesegukkan. Aku saja yang laki-laki tidak sanggup melihat keadaannya. Untung saja masih kuat berdiri. Kamu tahu tidak? Ternyata Kakakmu itu sudah memberi ikatan resmi pada Hira. Dia melamar Hira pada orang tuanya, coba bayangkan betapa kacaunya dia. Jadi kamu jangan menyalahkannya. Tuhan benar-benar mengujinya saat ini. Jadi bantu dia menguatkan hatinya, beri senyuman. Okey?” Ana hanya manggut-manggut.
“Kak Hira… kenapa jadi begini?” Ana meratapi dengan apa yang terjadi.
“Oya, mumpung aku ingat. Kamu jangan memberi tahu Hira soal hal ini. Ferdian sampai saat ini belum menghubunginya semenjak pertemuan terakhirnya. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya. Bertahun-tahun…. “ Dika tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Dan Mama mertua ada atau di rumah Kakak?”
“Kebetulan tadi pulang sih, waktu aku keluar Mama sibuk dengan laptopnya di ruang kerja. Hehehe… tadi aku mengintipnya, tapi tidak pamitan.”
“Bisa-bisanya kamu ya? nanti jika Mama mencarimu bagaimana? Dikira aku menculikmu lagi! Apa Mama sudah tahu hubungan kita?” Ana menggelengkan kepalanya.
“Parah! Fer… Fer, adikmu ini ya!” Dika geleng-geleng. Menghembuskan nafas kesal.
Lanjut episode berikut ya,😘
Salam sehat…
__ADS_1
mohon dukungannya, terima kasih 🙏🙏🙏