Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 61


__ADS_3

happy reading...


Aku berjalan menyusuri jalan, langkah demi langkah aku meruntuki diriku sendiri.


“Sok tegar! Sok benar! Apa kamu sudah benar menjalani kehidupanmu? Apa kamu sendiri sudah menemukan kebahagiaanmu? Apa kamu sendiri bisa menyelesaikan masalahmu? Apa kamu sendiri bisa menghadapi hatimu? Menghadapi kenyataan hidupmu? Hingga kamu berlagak seperti supermen, satria baja rok, atau kamu seorang ultramen? No ultramen, tapi ributnya yes!”


“Ya Tuhan, Ya Allah, Ya Robb apa yang harus aku lakukan dengan hatiku ini? Aku tidak sanggup tanpa Mas Ferdian, tapi dia sudah menjadi milik orang lain. Ada solusi untuk menutupi aib ini, tapi aku menghindar dan tidak bisa melangkah tetap berdiam. Padahal Mas Fer sudah bersama dengan orang lain. Sesibuk apapun aku dengan pekerjaan dan kuliah tapi rasanya aku sudah tidak bisa menahan rasa ini ya Allah, dosakah aku merindukan suami orang? Dosakah aku masih memiliki perasaan ini pada suami orang? Tapi rasanya baru kemarin dia masih kekasihku! Dia masih memelukku, menciumku, dan berkata manis padaku. Jika dia bukan jodohku hilangkanlah perasaan ini Ya Allah, sungguh… aku ikhlas jika Engkau mengambil semua kenangan tentangnya dihatiku.” Aku menepuk-nepuk kepalaku berharap aku sadar dari kekacauan yang ada di fikiranku.


“Hira, ayo bangun. Kumpulkan tenagamu pandanglah masa depanmu, kuatkan hatimu, terima kenyataan. Semangat! Semangat!”


Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri, masuk membuka pintu halaman rumahku yang sederhana. Aku mengucapkan salam walaupun rumah sepi, terdengar Bapak dan Ibuku masih dalam keadaan berdzikir. Aku segera memasuki kamarku dan segera membersihkan wajahku terdegar seperti nyata bisikan suara Mas Ferdian di telingaku “ Mandilah pakai air hangat, sayang!” aku menutup telingaku yang masih merasakan bisikannya, hembusan nafasnya yang hangat.


“Sadar Ra! sadar!” aku menepuk pipiku.


.


.


.


Hari berlalu begitu saja, setelah aku menyadari rasa rinduku dan harapan yang masih ada di hatiku belum mengiklaskannya membuatku banyak berhalusinasi. Setelah terakhir mempertemukan Bang Ryco dengan Mbak Er, aku menyibukkan diri dengan kuliah dan kebetulan pekerjaan kantor mendukungku untuk membantuku mengalihkan perasaanku walau tidak bisa menghapus luka di hatiku. Tapi aku masih bersyukur dengan hubungan Bang Ryco yang sudah kembali membaik membuat beban dihatiku sedikit ringan walaupun aku belum berdamai dengan Pak Febrian yang masih menunggu jawaban lamarannya, aku sama sekali belum memikirkannya.


“Ra, kita masih harus menyiapkan ini! Tolong print, ada meeting besok pagi. Kirim email ke semua bagian divisi ada perombakan besar-besaran gelombang 1.”


“Ok Boss.” Jawabku pada komando Bang Ryco, hanya ada kami berdua di ruangan ini belum ada karyawan penganti. Mbak Tari sudah pindah bagian.


“Tak kusangka begitu banyak perubahan dalam waktu yang singkat aku harus berubah juga!” aku menyemangati diriku sendiri dalam hati. Terasa sekali pekerjaan yang makin numpuk setelah kebergian Mbak Tari.


“Bang, aku kepo deh! Maksud gelombang satu?”


“Berarti masih ada gelombang berikutnya Ra, moga saja aku cepat dapat promosi.” Jawab Bang Ryco penuh harap yang aku jawab dengan amien.


“Boss kita masih kamu gantung ya Ra?” bisik Bang Ryco ditengah-tengah sibuknya pekerjaan, membuatku melongo heran.


“Masih sempat bahas hal pribadi nih!” setelah kejadian terakir aku mempertemukan Bang Ryco dan Mbak Er, paginya aku dibrondong dengan begitu banyak pertanyaan oleh bang Ryco.


Flash back


“Ra, serius Ra! Cerita sama aku, mumpung masih sepi.”


“Maksudnya?”


“Ya cerita tentangmu, aku sudah tidak bisa menahan kepoku.”


“Apaan sih Bang! Yang harusnya cerita itu Abang bukan aku! Yang habis shooting semalam kan Abang!”


“Mulutmu! Aku serius Ra, aku sudah curiga sejak kemarin-kemarin. Sebenarnya setelah aku pulang Pak Feb datang kerumahmu kan? Jenguk kamu?” aku hanya melonggo mendengarkan pernyataan yang tepat sesuai kenyataan.

__ADS_1


“Trus?”


“Ya trus apa yang terjadi setelah itu kalian aneh! Misterinya terasa tidak nyaman.” Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala penuh keheranan.


“Abang itu peramal ya?” aku menaik turunkan alisku.


“Dapat lamaran Ra?”


“Belum aku jawab!”


“Oh… “ Bang Ryco geleng-geleng.


“Kenapa ekspresinya seperti itu?”


“Heran saja! Masalah satu belum kelar timbul masalah lain, nasibmu Ra… Ra… heran lagi masalahmu itu dalam satu putaran, kok tidak? Yang gak beres jadi ipar yang nglamar kamu, dan nantinya si dia akan jadi saudara iparmu walau bisa dihindari untuk tidak bertemu suatu saat tetap akan bertemu dalam suatu moment.“ Aku tak bisa berkata apapun hanya meresapi kata-kata Bang Ryco yang memang benar adanya.


Flash back off


“Menyelam minum air! Habisnya kita tidak ada waktu untuk nongkrong lagi!”


“Ada waktupun aku juga takut jika ada yang salah faham lagi Boss!”


“Kamu bisa-bisa saja Ra! Aku yakin sudah tidak!”


“Aku masih trauma, Bang! Hehehe!” aku cekikikan berusaha menggoda Bang Ryco.


“Iya, apalagi kayaknya besok ada meeting juga untuk para petinggi kita. Ada kabar burung yang tidak sengaja hinggap di telingaku. Siap-siap Ra. Mungkin saja!” Bang Ryco memperingatkanku, dan aku tahu apa yang dimaksudkan oleh Bang Ryco.


.


.


“Ra, atur ini di meja meeting lantai bawah.” Pak Febrian memberikan perintah padaku.


“Ok, Pak.” Aku berusaha menanggapi dengan santai.


“Ra,” Pak Febrian memanggilku dengan ragu membuatku menghentikan langkahku.


“Iya, ada apa lagi?”


“Tidak,” Aku melanjutkan langkahku kembali, meninggalkan ruangannya. Mungkin dia mengkhawatirkan sesuatu yang sama, seperti apa yang diperingatkan Bang Ryco kemarin.


“Ya Allah, kuatkanlah aku Ya Allah. Tetap buatlah aku kuat menegakkan kepalaku, menerbitkan senyuman dibibirku dan memancarkan sinar mata tanpa derita.” Batinku menyusuri jalan, menuju ruang rapat. Melewati ruangan yang tertutup rapat, ruangan yang biasa dihuni penghuni hatiku ketika dia di sini.


Aku melangkah tanpa memalingkan pandanganku, di lorong yang sepi. Jadwal meeting masih dua jam lagi baru dimulai. Aku menata berkas dan menyediakan air minum pada setiap tempat duduk, tanpa aku sadari ada seseorang masuk ke dalam ruangan dan ku lihat pintu sudah tertutup rapat. Aku hanya memandangi orang yang melangkah mendekatiku.


“Ra,” Sapaannya terasa menyakitkan di hatiku. Bulu mataku terkedip ketika dia sampai di depanku, menatapku tak berjarak. Tanpa aku sadari aku sudah selangkah mundur.

__ADS_1


“Sayang,” sapanya lagi menyadari aku mulai menghindarinya, hatiku terasa tidak nyaman bercampur aduk harus bagaimana aku bersikap.


“Mas ingin bicara padamu,”


“Maaf, tapi saya sedang bekerja.”


“Meeting masih lama, duduklah Mas ingin bicara padamu sayang.” Aku menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya dengan pilihan sapaannya padaku, tanpa menuruti permintaannya. Dia menyebut namaku hatiku terasa sakit, dia memanggilku sayang aku juga mempertanyakan dimana rasa sayangnya padaku.


“Tapi pekerjaan saya masih banyak.”


“Mas tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi Mas takut kamu tidak mau menemui Mas.”


“Apakah sudah anda tanyakan?”


“Tu kan, kamu saja sudah merubah bahasamu, apakah Mas salah jika Mas berfikir seperti itu?”


“Saya hanya ingin menempatkan diri, maaf.”


“Sayang, ( aku menatapnya kembali hingga benik mataku bertemu dengan benik matanya, ada kesedihan yang mendalam di dalam matanya ) Mas mohon padamu, apakah perlu Mas berlutut?”


“Tidak akan merubah kenyataan yang ada.” Jawabanku ketus menambah kesedihan terpancar di matanya, membuat mataku tergenang.


“Mas mohon, ( Mas Ferdian berlutut di depanku yang masih berdiri memalingkan wajah dari pandangannya ) beri kesempatan Mas untuk berbicara padamu.” Hatiku terasa terobek-robek mendengar kata-katanya yang penuh dengan derita, mengingat Mbak Rinna yang sama sekali belum di sentuhnya. Air mataku lolos tidak bisa berhenti.


“Mas, jangan seperti ini. Berdirilah… “ aku mengulurkan tanganku, melupakan dia sudah menjadi suami wanita lain.


“Janjilah jika kamu mau mau berbicara denganku. Aku tidak akan berdiri jika kamu tidak mau berbicara padaku.”


“Jangan konyol, sadar kah Mas jika tindakanmu ini bukanlah sesuai dengan usiamu?”


“Mas tahu, Mas tidak peduli. Mas tahu jika Mas Egois. Mas akan tetap seperti ini jika kamu belum berjanji pada Mas, sampai semua datang meeting di mulaipun Mas akan tetap seperti ini.”


“Konyol!” aku melangkah mencoba meninggalkannya yang masih berlutut. Dia sama sekali tak ada pergerakan sama sekali.


“Apakah kamu akan serius seperti apa yang kamu katakan Mas?” batinku.


Aku menunggunya di luar ruangan, mengintipnya mungkin saja dia akan segera berdiri setelah kepergianku, aku menunggunya diluar ruangan sampai seperempat jam. Tapi dia belum juga berdiri, membuatku membuka handle pintu yang terdengar cukup keras tidak mengalihkan pandangannya yang masih menatap lantai.


“Mas, berdirilah.” Dia mendongak menatapku, terpaku belum berniat berdiri.


Matanya terlihat merah dan masih ada jejak air mata yang telah menetes di pipinya. Aku berlutut mejajarkan tubuhku dihadapannya, memandang tatapannya.


“Mas, ayo kita berdiri. Kakimu pasti sudah kesemutan.” Aku memegang pahanya dan mengusap pipinya yang telah terlintasi air mata. Dia memegang tanganku yang masih mengelus pipinya, mengenggam tanganku dan mengecupnya.


“Aku sayang kamu, Dek.” Air matanya mengalir tanpa perintah. Aku hanya menganggukkan kepalaku, yakin dengan apa yang di ucapkannya.


Lanjut episode berikutnya ya,

__ADS_1


__ADS_2