Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 55


__ADS_3

Happy reading,


Pagi buta Hira sudah pergi ke kantor tanpa pamit dengan ibunya, dari semalam dia susah untuk memejamkan matanya. Ketika bisa menutup matanya, mimpi buruk selalu menyeretnya. Membuat hatinya tak berbentuk rasa, hanya kata sesak yang bisa dia ucapkan ketika ada orang yang mungkin bertanya. Ada apa dengan dirinya.


“Ra, pagi sekali!”


“Iya, Mbak. Nglanjutin kerjaanku yang kemarin.”


“Kamu tidak pakai riasan Ra?”


“Pakai kok! Kenapa? Apakah blepotan?” Hira meraba-raba wajahnya.


“Kamu sakit ya Ra?”


“Tidak kok Mbak aku sehat-sehat saja.”


“Co, lihat tu wajah adikmu. Pucat kan? Atau mataku saja yang belum netral?” tanya Tari ketika Ryco memasuki ruangan. Ryco langsung menghampiri Hira tanpa berkata.


“Kemarin aku bilang apa? Istirahat, tidur yang cukup! Jaga Kesehatan!” Ryco memegang dagu Hira melihatnya kekanan kekiri.


“Iya Mbak memang pucat kok,” kata Ryco menambah volumenya masih menatap Hira.


“Ada apa? Apa ada kabar terbaru?”Hira menggeleng.


“Aku tidak kuat Bang,” Hira menekan dadanya. Ryco memegang tangan kiri Hira, mengelusnya dengan lembut. Ryco seolah tidak memiliki masalah sendiri.


“Ayo kita lupakan sejenak masalah pribadi kita, kita kerja. Okey? Minum air yang banyak.”


“Kembung.” Jawab Hira menepuk perutnya, ketika Ryco menyodorkan botol air minum yang selalu tersedia di bawah meja masing-masing.


“Sudah sarapan?” Hira hanya menggeleng, Ryco menghembuskan nafas mengeluarkan rasa jengkelnya.


“Ayo keluar makan dulu, akan aku temani. Urusan Boss, belakangan dulu.” Hira masih menggeleng dan tak sabar Ryco langsung menariknya.


“Jika ada yang tanya kami, kami sarapan dulu Ri. Ni anak mau cari sakit soalnya.”


“Ya, baiklah… “ jawab Tari dengan bibir yang sedikit manyun.


Ryco menunggu Hira makan, memperhatikan Hira yang makan tanpa rasa memiliki selera. Ryco menyangga dagunya tanpa mengalihkan pandangannya.


“Bang, jangan melihatku seperti itu. Rasanya tidak nyaman, seolah dipaksa minum obat.” Ryco hanya menanggapi dengan tersenyum sampai Hira menghabiskan makanannya.


“Sudah selesai? ( Hira mengangguk ) apakah harus seperti ini mulai hari ini? Aku harus jadi pengawasmu ketika jam makan?” Hira hanya tertawa cekikikkan entah kemana fikirannya traveling menanggapi perkataan yang di ucapkan Ryco.


“Hehehe… apakah ada yang lucu Nona Bahira Chantika?” kata Ryco sinis.


“Iya Ri?” jawab Ryco menerima telephone dari Tari.


“Di cari Pak Ryan.” kata Tari dibalik telephone.


“Penggemarmu mencari, huh… ayo habiskan juicemu kita balik.” Hira mengangguk


“Iya Pak?” Ryco memasuki ruangan Pak Ryan, setelah berpisah di lift dengan Hira.


__ADS_1


“Nanti langsung saja dengan Pak Febrian saja ya, aku sibuk sekali. Mungkin sore ini sudah tiba, katanya langsung ngantor.” Ryco hanya mengangguk, dan undur diri pamit.


“Cepat sekali balik Bang!”


“Em, Pak Febrian nanti sore balik. Nanti kita meeting sama Pak Ryan batal.”


“Em… “ jawab Hira singkat, dengan tatapan kosong. Ryco sudah faham kemana fikiran Hira berlabuh.


“Sudah, yang penting sekarang focus sama kerjaan dan gimana kuliahmu?”


“Scripsi sudah nyicil sudah siap, magang sudah dapat jaminan dari Pak Ryan sudah lama. Tinggal nunggu waktu saja sih hanya formalitas. Pelan-pelan lah… rasanya sudah tidak ada target di fikiranku Bang, semenjak kemarin. Tapi masih lancar-lancar saja kok, aman. Aku masih ingat Bapak-Ibuku. Hehehe.” Hira memaksakan senyuman.


“Syukurlah jika masih ada motivasi seandainya…. ( Ryco tidak melanjutkan kata-katanya ) aku tidak perlu khawatir kamu akan bertindak ekstrim.”


“Jahat kamu Bang! Tega-teganya, aku tahu kalimat yang kamu skip ya!”


“Sorry. Memang itu kan kemungkinannya.”


Perbincangan Hira dan Ryco yang tak jelas didengar oleh Tari tidak mengusik hati Tari sama sekali, Tari benar-benar di kejar target.


.


.


Sore ini Pak Febrian benar-benar datang, aku melihat dia memakai atasan santai dan jacket kulit berwarna coklat memasuki ruangan duduk di kursinya, terlihat jelas tatapan matanya menatapku. Bang Ryco menarikku segera ke ruangan Pak Febrian, membuatku mengalihkan pandanganku dari tatapan mata yang sedih ketika manik mata kami bertemu.


“Iya, iya. Aku akan membereskan ini. Berjalanlah lebih dulu, aku tahu jalannya Bang.”


“Mungkin saja kamu butuh kekuatan di sampingmu untuk menuju ruangannya.”


“Huh, sakit hatiku mendengar perkataanmu Bang!” Bang Ryco segera berjalan lebih dulu, menghindari hantaman yang akan aku layangkan.


~~


“Jika memang tidak, jangan pernah menatapku dengan tatapan yang menyedihkan. Seolah aku orang yang menyedihkan.”


“Bukan seperti itu Ra, aku berharap kamu lebih menggunakan energimu untuk bekerja dan segera selesaikan kuliahmu.”


“Aku mengerti Pak! Sepertinya selama ini, itu juga yang selalu aku lakukan.” Aku berkata dengan gemetar menahan rasa sakit di hatiku.


“Sepertinya ini akhir dari kisahku, walaupun kamu tidak mengatakannya secara langsung apa yang terjadi di sana, tapi aku mengerti dari kata-katamu ini. Ini pertanda jika kisahku sudah berakhir. Dan tatapanmu itu membuatku terluka. Betapa menyedihkannya aku.” batinku masih menatap mata yang seolah menyampaikan pesan terlarang.


“Terima kasih atas nasehatnya, Permisi.” Aku keluar dengan langkah yang aku usahakan bahwa aku tidak terluka. Langkahku lemas ketika mendekati mejaku.


Bruk…


“Ra… Ra… bangun Ra, bagun!” terdengar suara ribut Pak Febrian, Mbak Tari dan Bang Ryco.


Mbak Tari ada di sebelahku mengelap air mataku yang menetes tanpa izin. Membuka peniti yang ada di leherku. Membuat leherku sedikit terbuka, walaupun seperti itu masih terasa tercekik. Pak Febrian memegang teh hangat di tangannya. Ku lihat sekeliling, bahwa ini bukan ruangan kami.


“Co, Ri, tinggalkan kami.” Bang Ryco dan Mbak Tari saling menatap.


“Baik Pak.” ucap Bang Ryco dan Mbak Tari bersamaan.


“Ra, maaf.” kata Pak Febrian setelah hanya kami berdua di ruangannya.

__ADS_1


“Bapak kan tidak salah apa-apa kenapa harus minta maaf. Yang banyak bicara tadi kan aku.”


“Mungkin aku ada andil salah hingga membuatmu seperti ini.” katanya. Aku mencoba untuk duduk, terasa kepalaku tidak kuat aku gunakan untuk duduk saja. Aku membenahi kerudungku.


“Jika Bapak berkata seperti ini, maka sekarang aku bertanya. Memang terjadi sesuatu di sana yang mungkin sakit untuk aku ketahui?” Pak Febrian mengalihkan mukanya mengabil nafas dalam.


~~


“Co, sepertinya ada masalah serius ya? Apa aku ketinggalan banyak berita?” tanya Tari mengamati dari tempat duduknya, terlihat jelas dari dinding kaca Febrian yang tidak tertutup tirai.


“Hmm, kita tunggu saja Hira siap menceritakan semuanya pada kita.” Jawab Ryco. Ryco masih mengamati raut wajah Hira dan Febrian.


~~


“Ra, aku tidak bisa cerita apapun karena ini bukan hakku.”


“Kalau begitu aku ucapkan selamat untuk saudari Bapak, ( aku menghembuskan nafas yang mungkin saja akan membuatku lebih lega, tapi masih terasa sesak di dadaku. Pak Febrian menajamkan tatapannya terkejut dengan kata-kataku ) Sekarang kita kembali kerja.” Aku menurunkan kakiku dari sofa panjang di ruangan Pak Febrian.


“Apa maksudmu Ra? Apakah kamu sudah tahu? Kemarin Ferdian bilang padaku jangan memberitahumu sebelum dia yang bicara padamu? Apakah dia menelephonemu?” Pertanyaan Pak Febrian yang bertubi-tubi membuatku sakit, tapi ada satu pernyataan dari pertanyaan itu yang membuatku merasakan lebih sakit.


“Mas Ferdian melarang Pak Febrian memberitahuku?” kata itu lolos dari bibirku. Aku menekan dadaku yang terasa tidak kuat lagi, nafasku terasa sesak.


“Sedangkan dia, dia berniat menelephoneku saja tidak. Seandainya menyakitkan sekalipun Mas, kenapa kamu tidak memberitahuku saja? Ini lebih menyakitkan.” Batinku.


“Jadi bukan Ferdian yang memberitahumu? ( Febrian menatap lagit-langit ruangannya, berfikir dengan apa yang difikirkan Hira) Kamu hanya memancingku Ra!” Pak Febrian bertanya padaku, dan aku hanya menatap atas dan mengedip-kedipkan mataku menahan air mata yang seolah akan meluncur.


“Aku hanya menebaknya,”


“Aku tidak bisa berkata lebih lagi Ra, sebaiknya kamu bicarakan saja dengan Ferdian. Aku tidak ingin dicap sebagai memperkeruh masalah. Dan aku benar-benar minta maaf dengan tulus atas semua rangkaian peristiwa yang terjadi sampai kamu ikut menanggungnya. Dan aku berharap apa yang terjadi tidak ada hubungannya dengan kelancaran komunikasi kita. Walaupun terdengar sedikit berbelit-belit, intinya maaf jika aku egois. Tapi kita masih butuh kerja sama selama aku masih dalam posisi atasanmu.”


“Aku mengerti, saya minta maaf Pak apabila saya terlalu mencari tahu.” aku menganti sebutan lebih bersikap formal. Pak Febrian hanya geleng-geleng tanpa berkata apapun lagi padaku. Sungguh aku merasa seperti orang yang sangat menyedihkan di sini. Betapa bahagianya baru kemarin rasanya, aku bergandengan tebar kemesrahan tidak tahu tempat dan tiba-tiba tertampar oleh kenyataan.


“Tidak memungkinkan jika kamu sekarang melanjutkan kerja, sebaiknya kamu pulang saja. Toh sekarang sudah sore juga. Mau aku antar atau Ryco atau Tari?”


“Mbak Tari mungkin tidak bawa mobil, biar Bang Ryco saja yang mengantar.”


“Ok silahkan, akan aku telephone Ryco.”


“Hallo Co,”


“Iya Pak bagaimana?”


“Kamu antar pulang Hira, tolong kemasi barangnya. Dan sekalian kamu bisa pulang.”


“Siap Pak.”


“Girang sekali Ryco,” kata Pak Febrian setelah menutup telephone.


“Jika besok masih tidak enakkan, sebaiknya tidak masuk saja. Kamu bisa chat aku.” Pak Febrian seperti berhati-hati dalam berbicara membuatku merasa tidak enak hati. Aku hanya mengangguk.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut episode berikutnya ya,😘


terima kasih atas kunjungannya, mohon dukungan...🙏🙏🙏


__ADS_2