Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 15


__ADS_3

Apa yang sedang terjadi pada Ferdian ketika Hira sibuk dengan hatinya? Mari kita intip yuk...


 


Orang di kota sebrang bergunam tak jelas “Pagi dichat hanya diread, agak siang ditelephone sibuk! Bisa-bisanya sekarang panggil Ryco Abang-Abang, sudah gitu sempat buatin kopi buat bossnya, pakai lama di ruangan lagi! Emangnya ngapain sampai ada yang protes, terus apa juga hak Ryco protes-protes! Hah!" Ferdian menghempaskan nafasnya dengan kasar karena rasa kesalnya.


 


Tiba-tiba Letiana masuk kamar tanpa ketuk pintu.


“Tak sopan amat Adik-nya Kakak satu ini ya? Asal slonong saja!" Ferdian mencubit pipi adiknya dengan gemas.


 


“Emangnya Adiknya Kakak ada berapa? “


 


“ Ya kamu doang, emangnya Mama sudah nikah lagi?”


 


“ Kakak jangan asal ngomong ya. Mama dengar, telinga Kakak hilang lho,"


 


“ Emangnya masih pantas Kakak dijewer sama mama gitu?”


 


“Pantas-pantas saja, lebih pantas lagi jika Kak Hira yang jewer Kakak, sampai hilang nih...." Letiana memegang gemas telinga kakaknya.


 


“ Gak sopan ya! emangnya ngapain, kok jadi bawa-bawa Mbak Hira?”


 


“ Ngapain kakak pergi sama Mbak Rina, hayo!” Letiana segera menatap kakaknya dengan pandangan kejam.


 


“ Kok kamu tahu Dek?”


 


“ Ya iya lah, Kakak ngumpet-ngumpet ya? Dirahasiakan dong itu namanya! Jika rahasia berarti ada apa-apanya dong! Ayo ngaku! Awas ya,


jika Kak Hira sampai berpindah hati!” Ferdian hanya menyimak setiap spasi kata-kata yang diucapkan adiknya.


 


“ Kamu tahunya dari siapa dulu?”


 


“ Waktu Kak Hira tanya kabar Kakak yang ‘sibuk’ ( nadanya penuh dengan sindiran ) aku telephone Kak Dika, aku tanya Kakak lagi di mana. Tak tahunya, lagi sibuk sama Tuan Putri! Heh" muka jutek Letiana keluar.


 


“Kerja! Anak manja, emangnya kamu fikir, Kakak ngapain?"


 


“Kali aja, terperangkap dalam kandang macam. Di makan habis tak tersisa."


 


“ Suttt! Ngomong apaan sih?”


 


“Kak, kalian bertengkar ya? Sebagai sesama cewek, reaksi Kak Hira saat tadi aku ngobrol gak berasa seolah Kak Hira tidak peduli gitu sama Kakak, cuek habis! Seharusnya Kak Hira bersikap kepo, soal...." belum selesai Letiana ngomong sudah disela Ferdian.


 


“ Kapan kamu telephonan?”


 


“ Barusan, Kak Hira pamit aku terus ke sini. Kenapa emangnya?”


 


“ Gak papa. Cepetan keluar, Kakak mau tidur!”


 

__ADS_1


Setelah Letiana keluar, “Aku telephone gak diangkat, malah ngobrol sama Si Kepo. Apakah karena itu kamu cuekin aku, sayang?“ Ferdian langsung menghubungi Dika.


 


“Hallo Boss? Ini sudah jam setengah sepuluh malam, aku ngantuk!"


 


“Heh, kenapa kemarin kamu gak cerita kalau Ana telephone kamu?” kata Ferdian marah.


 


“Aku lupa, kerjaanku banyak. Kamu tahu sendiri itu, kamu yang kasih tugas!”


 


“Sudah hilang keinginanmu jadi adik iparku ya?"


 


“ Diterima masuk dalam daftar adik ipar nih?” jawab Dika begitu semangat hilang rasa kantuknya.


 


“Kamu cari tahu, Kepala Divisinya Hira siapa? Aku tunggu, kirim ke email. Booking kamar  hotel di kota C. Besok jam 9 aku berangkat, pagi ada meeting 'kan? Jadwal ulang,  lebih pagi! Siapkan oleh-oleh seperti biasa. Besok taruh di Bagasi mobilku”.


 


“ Apa lagi calon Kakak iparku??”


 


“ Sepertinya sudah, segera cari info tadi. Lengkap, jangan kurang sedikitpun!”


 


“Siap laksanakan “


 


Ferdian menunggu email Dika, sambil dia mengemas pakaiannya ke dalam koper kecil. “Sayang...sayang, tunggu aku besok, akan aku culik kamu!” geram Ferdian.


Email masuk, “O...o...ternyata kamu Si Jomblo, sepupu Rina ya...? Apa maksudmu kau menahan bidadariku di ruanganmu? Apa kau ingin mengikat hatinya? Tak akan bisa dan tak ku biarkan!" geram Ferdian melihat foto Febrian di layar laptopnya.


 


 


To: Hira Cantik   ( 08.00 )


 


Izin kerja hari ini,


 


“Tak ada jawaban, hanya diread saja. Tak adakah rasa penasaranmu dengan apa maksud Mas, Sayang?” gunam Ferdian jengkel. Membuat meeting pagi ini segera ingin ditinggalkan. “Ini perusahaan Mas sendiri sudah aku tinggal dek," hati Ferdian berkata.


 


Dalam perjalanan, Ferdian mencoba menelphone Hira, tapi masih juga gak ada jawaban.


 


“ An, coba kamu telephone Mbak Hira, tanya lagi ngapain. Kerja ngak? Kalau sudah cepat call Mas”


 


“ Emang kenapa Kak?”


 


“Sudah cepetan, Kakak nyetir nih!”


 


“ Baiklah, bye."


 


Sesegera mungkin Letiana menelphone Hira dan Letiana sudah faham dengan situasi mereka. Dia tak banyak bertanya lagi pada kakaknya.


 


Letiana


Calling...

__ADS_1


 


“Iya, Dek. Gimana?” jawab Ferdian dengan seriusnya.


 


“ Mbak Hira ngantor. Lagi sibuk katanya, jangan lupa transfer uang jajanku” jawab Letiana


 


“ Iya...iya. Banyak maunya! Makasih Adikku, love you”


 


“ Hmm."


 


Ferdian melajukan mobilnya lebih cepat. Dia berharap hati Hira segera menghangat kembali. Ferdian sudah merasa kedinginan, tempat berteduhnya bagaikan di kutub. Dia tak ingin salah faham ini berlanjut terlalu lama.  Sampai di kantor Hira, Ferdian langsung masuk dan buat janji untuk bertemu Febrian Kepala Divisi Personalia Perusahaan A. Ferdian diantar satpam untuk memasuki kantor Personalia. Tanpa menyapa Hira yang sudah melongo dari tempat duduknya, melihat siapa yang masuk.


 


“ Ra, kamu lihat kan siapa yang masuk?" Tanya Mbak Tari pada Hira, membuat ruangan agak ricuh. Hira berfikir, "Apa ini maksud dari chatnya tadi pagi?"


 


“Hemm “ jawab Hira acuh


 


“Siapa...siapa?” Ryco menyelonong penasaran.


 


“Buka matamu lebar-lebar Abang Ryco, entar kalau ada orang keluar dari ruangan Pak Febrian. Kamu amati benar-benar dari ujung kaki sampai ujung rambut. Orang itu, yang membuat adik kesayanganmu menangis." kata-kata Mbak Tari penuh penekanan.


 


“Emmm...” Ryco hanya mengangguk-angguk dan menunggu pintu ruangan Pak Febrian terbuka.


 


Sedangkan yang ada di ruangan Febrian sedang berbincang penuh dengan suasana kecanggungan karna lama tak pernah bertemu dan ini merupakan pertemuan yang mendadak.


 


“ Hai Feb, apa kabar?" Febrian antusias berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Ferdian.


 


“ Baik- baik. Ada urusan apa, orang sibuk jauh- jauh sampai sini? “


 


“ Ada urusan peting dan genting!"


 


“Tak ada urusan pekerjaanmu di Perusahaan ini pastinya, Boss!!" Febrian menepuk lengan kekar Ferdian.


 


“ Boss...boss! Boss apa? Sepupumu yang boss, aku hanya bawahan di sana. Jika ada yang dengar bisa salah faham!"


 


 “ Tak ada orang di sini. Aman! Ada apakah hingga membawamu sampai sini?" Mata Ferdian beralih pada bingkai foto dan dilihat di dalamnya ada wajahnya di situ dan wajah Rina yang saling pandang. Tanpa dia tahu ada potret seperti itu. Karna dia tidak pernah merasa berpost seperti itu.


 


“ Kenapa? Maaf soal itu, waktu itu aku tak meminta izinmu. Aku asal membidik saja. Momentnya pas banget. Aku suka pemandangan itu. Aku berharap kalian bisa bersama "Ferdian memegang pelipisnya dengan raut wajah yang agak bingung, tak segera berucap lupa tujuan awal ia ketemu Febrian.


"Kenapa Fer, apa kamu marah? Ada masalah dengan itu? Benar 'kan kata-kataku? Paman sudah percaya padamu, kamu sudah tahu sifat Rina. Kalian sudah lama dekat dan Rina dari dulu suka padamu lebih dari perasaan sahabat. Kamu merasakan itu 'kan?" Febrian kebingunggan, Ferdian hanya mengeleng-geleng kepalanya ketika dia berbicara mengenai Rina.


"Kenapa kamu tidak tanya dulu Feb, sebelum menyimpulkan?"


"Aku melihat dari perilaku kalian satu sama lain saja, sudah bisa aku simpulkan...." belum selesai Febrian berucap Ferdian sudah beranjak keluar ruangan.


 


Apa tindakan Ferdian selanjutnya...


Kita intip di episode berikutnya...😘


Mohon dukungannya,


Terimakasih.....🙏🙏

__ADS_1


 


__ADS_2