
Ferdian segera melaju ke kota B, tanpa memberitahu Hira terlebih dahulu. Sampai di kota B, Ferdian segera membersihkan diri dan tidur di hotel yang telah di booking Dika. Adzan zubuh berkumandang Ferdian sudah selesai mandi, dan segera melaksanakan kewajibannya. Kemudian dia bergelut dengan laptopnya, untuk persiapan meeting nanti.
Selesai meeting, kantuk mulai menyerangnya, lelahpun baru teras. Ferdian melajukan mobilnya dan segera mampir ke cafe.
Calling.....
Hira cantik
“Assallamuallaikum Mas,” terlihat wajah Ryan yang kepo, dengan jawaban dari pertanyaan yang ada di fikirannya.
“Waallaikumsalam sayang, sudah sampai di kota B? Dah selesai urusannya atau belum?" pertanyaan yang dilontarkan sambil melihat ekspresi Hira di sebrang pandangannya. Karena saat ini, mereka ada di cafe yang sama.
“Belum sih Mas, aku sama Pak Divisi lagi mampir di cafe" Hira berbicara dengan suara yang berbisik sambil menutup mulutnya.
Ferdian memandang gerak-gerik Ryan yang begitu mengamati pergerakan Hira penuh dengan pandangan ingin tahu dan ada rasa sayang di dalamnya. Ferdian bisa melihatnya walaupun dari jarak yang cukup jauh. Tiba-tiba Kepala Personalia Perusahaan Cabang kota B menelphone.
“ Iya Mas tahu. Oya, entar kita sambung lagi ya? Ada telephone penting masuk."
Ferdian segera meninggalkan cafe tanpa menyapa Hira terlebih dahulu. Ferdian terburu-buru, karena ada masalah lain di Perusahaan Cabang. Sambungan telphone tiba-tiba terputus tanpa ada akhiran salam. Hira termangu melihat layar Handphonenya, “Iya, Mas tahu. Apa maksudnya ya??” gunam Hira pelan yang terdengar oleh Ryan.
“Emang ada apa Ra kok kamu terlihat bingung?” tanya Pak Divisi padaku.
“Gak ada apa-apa pak. Ayo Pak, kita segera pergi jamnya sudah ok nih." kataku melihat jam di tanganku.
“ Ayo, lumayan sudah fress.” kata Pak Divisi setelah kopinya habis, dia berdiri sambil menekukkan kepalanya untuk melenturkan ototnya karena lelah habis menempuh perjalanan jauh.
Aku dan Pak Divisi segera melaju lagi dalam jarak yang dekat. Setelah meeting selesai, Pak Divisi mengajakku makan siang yang telah lewat waktunya.
“ Untung saja sudah terisi cake tadi, kalo tidak gimana nasibmu?" aku berjalan, menggerutu dan mengelus-elus perutku. Mobil Pak Divisi tiba-tiba belok ke restoran yang lumayan mewah.
"Kok di sini Pak, di warung makan saja. Entar gak cukup saku DLnya”.
“Gak papa, aku yang bayar. Sekali-kali."
“Ok lah terimakasih, tapi gajiku gak akan dipotong kan? “ candaku sambil menuju meja kosong.
“ Ngak lah Ra," setelah kami duduk dan menunggu pesanan, aku menyadari jika Pak Divisi yang duduk di depanku memandangku.
“ Ra, aku ingin berbicara di luar topik pekerjaan" aku deg-degan teringat obrolan Mbak Tari dan Ryco kemarin.
“Ya, ada apa Pak?"
“Jangan formal Ra, ini sudah tidak jam kerja lagi dan di sini orang asing semua." mulai bingung aku mendengar perkataannya.
“ Aduh gimana ini, ya Allah...tolonglah aku dari situasi ini?” do’aku dalam hati.
“ Sudah nempel di lidah Pak, sudah terbiasa.” jawabku.
“ Ra, sebenarnya aku suka sama kamu..." tiba-tiba terhenti karena handphoneku berbunyi dan tanganku aku masukkan dalam tas, tapi aku menunggu izin dipersilahkan ngangkat telp.
"Angkat dulu aja Ra, sepertinya penting." dengan semangat aku mengangkat telephone yang telah ku intip nama 'Mas Ferdian' tertera di layar.
Mas Ferdian
Calling...
“Assallamuallaikum sayang,”
“ Waallaikumsalam Mas,”
__ADS_1
“Gimana, udah selesai? Sekarang ada di mana?”
“Sudah selesai sih, masih di kota B. Cuma, sekarang lagi maem di restoran."
“Restoran mana emangnya?"
“Restoran Blok M, dekat plaza K."
“Tunggu Mas, bentar lagi aku jemput. Sekalian bilang sama atasanmu kalau besok izin “
“Tapi Mas,” belum selesai aku ngomong sudah ditutup telephonenya.
Setelah sambungan telephone terputus, aku menghampiri Pak Divisi lagi. Aku fikir, aku akan menunggu Mas Ferdian di dalam plaza saja sekalian untuk menghindari kemungkinan keributan mata yang mungkin saja terjadi. Mengingat gerutuan Mas Ferdian kemarin. Dan juga menghindari lanjutan kata-kata Pak Divisi, sesuai dengan dugaan Ryco dan Mbak Tari kemarin. Aku gak mau kedepannya terjadi kecanggungan. Aku segera mengetik chat pada Mas Ferdian.
“Oya Pak, maaf saya ada kepentingan. Ada yang sudah menunggu saya dan mohon izinnya untuk besok. Izin resminya besok saya akan kirim. Maaf dan sekali lagi terima kasih. Maaf saya tinggal dulu.” aku berkata seolah aku tergesa-gesa. Untuk menghindari banyaknya pertanyaan yang akan dilontarkan.
“ Baiklah, hati-hati. Tapi, apa tidak bisa kamu menungguku menyelesaikan perbincangan kita tadi?”
“Maaf, tapi aku tergesa-gesa Pak." Tanpa curiga Pak Divisi melanjutkan makannya dan segera menuju mobilnya. Aku mengintipnya, sambil menunggu Mas Ferdian datang. Agak lama aku menunggunya. Mungkin dia terjebak macet.
Saat kubuka handphoneku, kulihat chatku baru diread olehnya. Tak kusangka, tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang.
“ Maaf, nunggu Mas lama ya?" bibirnya dekat dengan telingaku, membuatku bergedik geli.
“Mas, kaget aku," sambil memegang kasar tangannya yang tiba-tiba melingkar di perutku, membuatku kaget.
"Kenapa gak balas chatku dulu. Main peluk-peluk saja, kesempatan deh! Entar Mas jadi kebiasaan!" bibirku tiba-tiba manyun tanpa aba-aba, malah membuat Mas Ferdian mengecup dahiku yang tepat sejajar dengan bibirnya.
“ Tu kan...kesempatan! Ini tempat umum Pak, belum sah!“ protesku, takut kebablasan.
“ Oya Dek, Mas sudah booking kamar untukmu, di sebelah kamar Mas. Kita nginap di sini semalam, besok sore akan Mas antar pulang. Mas ada urusan dikit di Perusahaan Cabang di Kota C.”
“ Hira nurut Mas saja, lagian tak boleh ditolak 'kan?” Jawab Hira begitu pasrah.
“Kenapa tadi kok gak nunggu Mas di dalam resto, kok malah di pojokkan? Seperti anak yang tersesat kehilangan Ibunya aja!"
“Em," tiba-tiba bibirku terhenti karena bingung mau jawab apa.
“Em...em...apa hayo? Kamu mau ngomong apa? Kok malah melamun atau tadi terjadi sesuatu?” Ferdian merasa ada sesuatu yang tadi terjadi.
“ Tadi... “ langkahku mendadak terhenti, karena tiba-tiba Mas Ferdian yang tadinya menggandengku sejajar denganku berdiri di depanku menangkup wajahku dan menatap mataku. Tanpa menghiraukan ini tempat umum. Banyak orang berlalu lalang.
“Ada sesuatu, iya kan?“ Mas Ferdian menarikku ke cafe yang ada dalam plaza. Mas Ferdian begitu serius menatapku.
“Em... " spontan aku mencium punggung tangannya dan mengecupnya, yang dari tadi tak lepas menggenggam tanganku.
"Tadi Pak Divisi mengatakan kalau dia suka aku." aku mengucapkannya dengan sangat perlahan sambil menatap mata teduh Mas Ferdian.
“Terus...?" sorot matanya penasaran menunggu aku berbicara.
“Terus, ya terus...terputus mendengar handphoneku yang bunyi tak henti-henti brontak ingin cepat diangkat." Mas Ferdian masih menungguku melanjutkan aku berbicara, tapi aku terdiam.
" Emangnya siapa yang menelephonemu?"
" Ya Mas lah...."
" Syukurlah, berarti aku tepat pada waktunya.." Mas Ferdian tersenyum puas.
“ Adek, mau minum apa. Tadi jadi makan gak?" aku menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Mas pesenin maeman ya?" aku mengangguk. Pelayan datang dan mencatat pesenan kami. Tak lama kemudian makanan disajikan, kami menikmati makanan.
“Sayang, selanjutnya? kamu kasih alasan apa ke dia?" Mas Ferdian masih melanjutkan pertanyaannya setelah kami makan.
“ Aku kabur, bilang ada yang nunggu dan ada urusan mendesak. Aku cepet-cepet keluar dan sembunyi di pojokkan tadi, di tempat Mas menemukanku."
Tanpa ada pertanyaan lagi Mas Ferdian langsung menarik tanganku dan mencium punggung tanganku sambil berkata “Terima kasih sayang."
Kami melanjutkan berkeliling dan Mas Ferdian membelikanku pakaian, karena dia mengajak menginap di kota ini.
.
.
.
Sore hari kami kembali ke kota C. Dalam perjalanan Mas Ferdian bercerita kalau batik kemarin adalah batik buatan pabriknya sendiri, yang dikelola oleh Ibu dan Kakak perempuannya. Kali ini Mas Ferdian, mampir dan membawakan kain batik lagi dengan corak yang berbeda yang sudah tersimpan di bagasi mobilnya. Orang tuaku menyambutnya dengan ramah. Setelah itu Mas Ferdian berpamitan untuk menyelesaikan urusannya dan langsung kembali ke Kota A.
Sampai di rumah, Ferdian langsung menelephone Hira. Untuk memberi kabar.
“ Assallamuallaikum Mas, sudah sampai rumah kan??”
“ Waallaikumsalam sayang, Mas sudah sampai rumah. Tapi masih ada yang ketinggalan."
“ Apa Mas, apa ada barang Mas yang belum dibawa?”
“Belum bawa istriku aja!" nada suaranya begitu kegirangan.
“Aku kira serius, memang ada yang tertinggal! Mas bercandanya jangan kelewatan ya,”
“ Mas, gak bercanda kok sayang." tiba-tiba Letiana menyelonong dan duduk di samping kakaknya yang sedang tiduran di tempat tidur, karena kelelahan menyetir seharian
“ Cie..cie...sayang...sayang... mau punya kakak ipar nih, aku! ” selonong Letiana menggoda sambil mencubit kecil pinggang kakaknya.
“ Kakak ipar, kenalan dong!” Letiana mendekatkan telinganya ke handphone yang menempel di telinga kakaknya.
“ Mas, siapa itu? Adik Mas ya?” tanyaku, mendengar suara agak risuh.
“Iya, tudak tahu tuh! tiba-tiba nyelonong aja kayak anak SD. Nempel-nempel pengen nguping."
“Kak, entar chatan ama aku ya?" teriaknya di mikrofon handphone Ferdian.
"Kak Fer, bagi nomernya kakak ipar dong! aku pengen kenal sama orang yang buat kakakku jadi tayang-tayang” rengekan Letiana pada Mas Ferdian yang dapat aku dengar dengan jelas.
“ Izin dulu sama Mbak Hira, entar baru tak kasih nomernya." kata Mas Ferdian pada adiknya agak berbisik.
Tanpa permisi Letiana merebut HP yang masih nempel di telinga kakaknya.
“Kak Hira, tolong izinin ya? Aku bisa jadi netramu di sini kok, janji!” Letiana berjanji dengan sungguh-sungguh.
“ Iya boleh, tapi untuk kamu aja ya?” mendadak Ferdian mencenul hidung Letiana karena merasa dihianati, mendengar perjanjian antara adik dan pacarnya.
“ Ok beres, terima kasih." jawabnya padaku. “Kak, entar kirimi nomer Kak Hira” tak sabar Letiana segera laporan pada kakaknya.
Kami mengobrol lagi setelah Letiana meninggalkan kamar Mas Ferdian setelah diusir. Tiba-tiba suasananya sunyi, tak lama kemudian Hira mendengar suara Mas Ferdian yang mendengkur. Hira menutup telephone dan segera menyusul untuk tidur juga.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya....😘
Terimakasih...🙏🙏🙏