
Di kediaman Nadia,
“Sial Nad, dia tak banyak bicara seperti yang kamu omongkan. Dia hanya bicara ala kadarnya saja. Aku tak bisa mencari tahu seberapa jauh hubungannya dengan Mas Fer"
“Dia banyak omong kok, tak seperti yang kau katakan. Aku selalu memergokinya, banyak cakap bahkan dengan seorang laki-laki. Dia berbicara nyaman, tanpa ada kecanggungan sama sekali.”
“Mungkin kamu lihat dia ngobrol dengan teman seruangannya. Pantes kan jika memang tak ada kecanggungan.”
“Aku bertemu di lift dan mereka berpisah itu artinya mereka tidak seruangan.”
“Lalu, kenapa tadi dia tak banyak omong denganku? Sama sekali tidak terjebak dengan kata-kataku.”
“Mungkin dia memang tipe pemilih untuk banyak berbicara dengan seseorang. Bisa jadi, dia bersikap seperti itu untuk berhati- hati denganmu. Maklumlah...Statusmu saja mantan pacar, pacarnya. Wajarlah jika dia seperti itu. Kenapa sih kamu harus susah-susah? Kamu cantik, kerjaan ok, cari aja lagi! Jauh-jauhlah dari mantan!”
“Aku ingin bersamanya, sekarang dia tambah tampan dan mapan. Seperti kata pepatah, terasa berharga ketika sudah jauh dari kita.”
“ Heleh, Em...Em...! Lebih berharga lagi, jika kamu mau move on darinya. Dan dapatkan yang lebih dari Ferdian. Menjaga harga dirimu lebih bermanfaat. Dari pada kamu seperti ini, kamu akan lebih menambah dia jauh dari kamu!"
" Kamu sudah tidak mendukungku lagi, Nad?"
"Bukan begitu, aku hanya memberimu solusi yang terbaik untukmu Em,"
.
.
.
Di Cafe dekat lorong Hira, masih betah saja Ryco dan Hira mengobrol.
“Ra, kamu tidak menyembunyikan sesuatu hal yang lain lagi kan?” aku hanya mengangkat kedua bahuku.
Pesan dari Mas Ferdian yang bisa aku lihat isinya dari notif, aku biarkan tak ku jawab. Bang Ryco terus menatapku tajam menunggu kejujuranku.
“Aku terkadang bingung dengan hatiku Bang, aku percaya sama dia. Selama ini apa yang dikatakannya ada buktinya. Dan hatiku juga tak rela jika memikirkan suatu saat hubunganku akan berakhir. Aku ingin bertahan walaupun sepertinya banyak orang yang melempar batu sandungan untukku.”
“ Apa yang telah dikatakan Emma padamu?”
“Intinya aku harus mundur, itulah yang aku tangkap.”
“Lalu?”
“Ya dengan alasan dia tidak ingin aku kecewa pada akhirnya. Katanya Mas Ferdian sudah dijodohkan dengan anak bossnya. Status sosial, ujung topik permasalahannya.”
“Terus?”
“Ya tidak aku pastikan jawabanku. Aku dan Mas Fer dalam keadaan baik-baik. Dan aku juga berharap selamanya baik-baik.”
“Kamu sendiri, gimana menanggapi hal ini. Di luar harapan Emma.”
“Aku sudah membahasnya berulang-ulang dengan Mas Ferdian. Sebelum kami meresmikan hubungan kami menjadi pacaran, aku sudah mengulang membahasnya. Bahkan baru saja kemarin, juga aku bahas lagi. Tapi Mas Ferdian tidak peduli dengan status sosial.”
__ADS_1
“ Susah deh, jika sudah sekonyong-konyong koder kayak gini. Aku hanya bisa mendo’akanmu yang terbaik Ra, dan menyediakan waktu untukmu ketika kamu butuh tempat mencurahkan keluh kesahmu. Aku harap, kamu tak akan sungkan. Aku rasa hanya itu yang bisa aku lakukan."
“Terima kasih, Bang. You are the best.”
“ Seperti hari ini Ra, tetaplah terbuka padaku. Kapan pun itu, cari tempat yang pas. Aku akan datang. Ingat baik-baik pesanku ini, jangan sungkan.”
“Nanti jika Erna salah faham gimana? Dikira perusak dong aku!”
“Aku yakin, seandainya dia tahu. Aku menampung keluh kesahmu. Aku yakin dia tak akan menganggapmu pelakor. Karena kamu sudah memiliki kekasih yang sempurna di mata Erna. Paling aku yang disebut laki-laki brengsek.” Kata Bang Ryco.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar sebutan Bang Ryco untuk dirinya sendiri. Tak terasa jam sudah menunjukkan malam.
“Mau aku antar sampai depan rumah Ra?”
“ Tidak usah Bang, lagian ini dekat.”
“Serius? Nanti jadi komplit lagi, kebrengsekanku. Membiarkan seorang wanita berjalan di gang sepi sendirian.”
“Tidak, terima kasih. Cukup terhormat membayarkan pesanan seorang wanita. Terima kasih untuk malam ini.”
“Sama-sama, Adik imut Abang.” Bang Ryco mengusap pucuk kepalaku.
“Ada tulisannya nih 'milik Ferdian’ hehehe” kataku menunjukkan jari telunjukku di kepalaku bekas usapan tangan Bang Ryco.
“Iya...iya, tahu! Aku balik duluan beneran lho Ra,”
“Ok, Bang. Bye,”
Calling...
Mas Ferdian
“Assalamuallaikum Dek,” jawabannya tanpa aku menunggu lama.
“ Waallaikum salam Mas, gimana Mas sudah sampai hotel?”
“Sudah kok Dek, malah Mas nunggu kamu call Mas.”
“Kok nunggu?”
“ Tadi kan, kamu sendiri yang bilang Mas disuruh nunggu.” Pernyataan Mas Ferdian membuatku tertawa, tapi aku juga menyesal. Aku menyadari kalau aku malah asyik curhat sama Bang Ryco. Padahal jika Mas Ferdian tahu pasti dia marah.
“Dek, besok siang Mas akan balik ke kota A. Gimana kalau sebelum Mas balik, kita habiskan waktu untuk bersama?”
“ Besok kerjaanku banyak Mas.” Aku mendengar helaan nafasnya karna rasa kecewa.
“Ra, lagi muleh?" ( Ra, baru pulang? ) Ibuk menyapaku ketika aku memasuki rumah, dan aku meletakkan telunjukku di bibirku kode agar Ibu tak berbicara.
“Kamu baru pulang Dek?” Mas Ferdian mendengar sapaan Ibu.
“Hehe... Iya, maaf.” Tak terdengar suara apapun dari balik layar pipihku. Aku melihat layarku, masih tersambung.
__ADS_1
“Aduh...pertanda ini,” aku menepuk jidatku.
“ Mas... Mas....” panggilku lirih, tapi masih tak ada jawaban. Aku matikan sepihak. Aku meninggalkan benda pipihku dan aku menikmati guyuran air hangat yang melewati setiap lekuk tubuhku.
.
.
.
Setelah sarapan aku melangkahkan kakiku keluar pintu, kulihat sudah ada mobil Mas Ferdian terparkir tampan. Dia membukakan pintu dari tempatnya duduk tanpa turun dari mobil.
“ Sabar Hira, kamu harus siap lahir batin.” Aku menyemangati diriku sendiri.
“ Pagi Mas,”
“ Heemmm”
“ Sabar Ra, sabar...hari ini dia balik, berikan kenangan yang terindah” batinku.
“ Sa.... ”
“Urusan apa sampai malam, kan tidak lembur kerja!”
“ Belum selesai ngomong, sudah kena semprot. Sabar Ra, kamu yang salah” aku menenangkan hatiku.
“Maaf Mas, aku....”
“ Ra, aku tidak butuh kata maafmu!”
“ Dia memanggil namaku. Pertanda tidak baik.” Aku menghela nafas.
Aku menghadapnya yang sedang fokus menyetir, pagi hari jalan sering macet karena aktivitas pagi.
“ Sayang, “ panggilku merayu, aku memegang ujung lengan kemejanya yang terlipat ke atas yang membentuk ¾, dan dia melirikku.
“ Maaf,” ulangku meminta maaf padanya.
“ Haruskah aku merobek mukaku, membuang rasa maluku?” tanyaku dalam hati, karna memikirkan trik meluluhkannya dengan ciuman.
Mobil Mas Ferdian tiba-tiba berhenti, dia menepikan mobilnya. Membuatku menabrak bahunya, posisiku masih menghadapnya, memandang setiap centi wajahnya. Aku merunduk memegang dahiku, yang terbentur bahunya.
Mas Ferdian tiba-tiba mendekatkan tubuhnya padaku, memegang tekukku menarikku, menyapu habis warna bibirku.
“ Ya Allah, ampuni aku.” batinku memelas minta ampunan. Tapi hanya dengan orang yang ada di depanku yang aku harapkan jadi imamku, aku melakukan ini.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,