
happy reading...
Setelah kepergian Rinna, Ryco berpindah tempat duduk. Duduk tepat di depan Hira yang sudah meneteskan air matanya tanpa berhenti.
“Ya Tuhan, akankah kita bisa pulang dengan hujan yang begitu deras seperti ini. Aku tidak punya payung lagi!” kata Ryco menyodorkan tisu, menatap wajah Hira yang menunduk.
“Apakah kita perlu berdiam diri di sini sampai hujan reda atau mencari tempat lain untuk berteduh menunggu hujan reda?” Hira melemparkan tisu yang sudah basah untuk mengelap air matanya dan ingusnya.
“Ya Allah anak siapa ini, sudah besar masih jorok seperti ini.” Keluh Ryco memungut tisu yang dilempar oleh Hira nempel pada kemejanya.
“Aku tidak punya baju ganti di mobil ya Ra, najis nih!”
“Habisnya kamu keterlaluan, tahu hatiku sakit! Abang masih saja menikmati membuliku.”
“Siapa juga yang membuli! Aku tadi kan bertanya baik-baik adikku sayang.”
“Tapi nada bicara Abang, tidak salah jika itu bulian.”
“Iya, iya maaf. Sekarang bagaimana?” Hira masih menutup bibirnya tidak menjawab pertanyan Ryco, Hira tegang melihat layar handphone yang tiba-tiba dia ambil dari sakunya bergetar membuatnya risi.
“Ada apa lagi? Mukamu seperti itu!” Hira tidak menjawab tapi langsung menyodorkan layar handphone yang terdapat foto Ryco dengannya.
“Kamu sudah tahu soal ini Bang? Muka abang tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali!” Ryco membuang muka.
“Jika Mbak Rinna mendapatkan foto kita yang ada di kantor, siapa yang telah memfoto kita?”
“Tidak tahu, yang pasti sumbernya Emma.” Jawaban singkat Ryco membuat Hira melongo dan menghapus air matanya kasar.
“Mbak Emma?” tanya Hira menyakinkan dan sedikit berdecih mengeluarkan keluhan hatinya yang merasa lelah.
“Aku tidak habis fikir ya, iya aku tahu Mas Fer memang pria idaman di mataku dan memang laki-laki sempurna di mata wanita. Tapi apa yang di lakukan Mbak Emma benar-benar keterlaluan. Memangnya apa tujuannya? Membuat kisruh hubunganku? Mau buat kami berpisah!” Hira mengeluarkan unek-eneknya, Ryco melongo menatap wajah Hira yang penuh dengan kekesalan, baru kali ini Hira mengeluarkan emosinya.
“Sudah?”
“Sungguh aku lelah! Apa dia sudah tahu kabar jika yang dinikahi Mas Fer justru bukan aku? Tanpa dia berbuat seperti itu, pada akhirnya… “
“Sudah, ayo kita pulang. Sudah malam, akan aku antar kamu pulang okey?” Ryco menghentikan apa yang akan diucapkan Hira.
“Tunggu Bang, sepertinya ada sesuatu deh! ( Hira menatap Ryco dengan serius ) Abang sudah tahu, pasti ada yang tidak beres kan berhubung dengan hal ini! ( Hira terdiam seketika ) iya, Abang akhir-akhir ini menyibukkan diri dan handphone Abang yang biasanya selalu rame akhir-akhir ini sepi. Iya, pasti inikan masalahnya? Abang ribut dengan Mbak Erna kan?”
“Ayo pulang!” Ryco berdiri mencoba menghindari.
“Tidak! Duduk dulu, sepertinya aku harus ikut bertanggung jawab atas ini semua. Karena itu juga gara-gara aku! Aku ingat itu foto waktu kita janjian akan pergi bersama waktu aku ingin curhat kan?” Ryco kembali duduk dan menghembuskan nafas kasar.
“Sudah tidak perlu dibahas, dan kita pulang okey?”
“Please, aku ingin tahu Bang. Ayolah… Abang sudah banyak mengorbankan waktu untukku. Dan aku tidak ingin kebahagiaanmu juga terancam gara-gara aku. Aku akan jadi lebih tidak enak pada Mbak Erna.”
“Saat kita ada di cafe yang tiba-tiba Abang pamit, apa karena ini?” Hira menangkap tatapan Ryco yang terkejut dengan apa yang dikatakan Hira, prediksi Hira terlalu akurat.
“Ternyata benar apa yang sudah aku katakan kan?” Hira menghela nafasnya.
“Iya, memang benar aku mendapat foto yang sama yang kamu tunjukkan padaku sebelum aku pamitan malam itu. Erna yang telah mengirimkannya padaku dan aku ribut dengannya malam itu.”
“apa sudah baikan kembalil?” Ryco menggeleng membuat Hira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Sudah, tidak apa-apa. Nanti juga akan baikan.” Ryco memegang pergelangan tangan Hira.
“Ayo pulang,”
“Sampai sekarang Abang belum juga baikan dengan Mbak Erna tapi masih bisa bilang tidak apa-apa. Aku bukan anak kecil Bang! Jangan berputar-putar seperti main petak umpat. Aku sudah lelah dengan masalahku.”
“Karena kamu sudah lelah jadi aku tidak akan melibatkanmu dalam permasalahanku. Cukup aku saja yang akan menyelesaikannya.”
“Mau menyelesaikan bagaimana? Seperti Mas Ferdian? Yang hanya menggantungku seperti ini? Dan tiba-tiba kabar datang begitu saja dari orang lain jika dia sudah bersanding dengan orang lain? Dan orang lain lagi datang merisaukan keadaannya yang dalam mode tidak nyaman dengan kehidupan yang dijalaninya? Mau jadi seperti itu?” Hira berkata tanpa berhenti sekecappun, tanpa spasi.
“Ya tidak juga seperti itu Ra, sekarang sudah malam. Kita pulang, okey? Aku takut ibu mengkhawatirkanmu. Aku janji besok aku cerita.”
“Baiklah, ayo pulang! Aku akan menagih Abang besok!”
“Okey.”
.
.
To : Mbak Rinna
Dia teman satu ruangan denganku Mbak, Mas Fer juga mengenalnya dengan baik kok. Jika memang Mbak Rinna ingin memberi tahu Mas Fer tentang hal itu ya silahkan saja. Aku tidak keberatan. Selamat malam, take care.
From : Mbak Rinna
Saya sama sekali tidak memberitahu hal ini pada Mas Fer kok, saya tidak memiliki pemikiran yang jahat seperti itu. Saya tadi sudah bilang kan, jika aku mengizinkan Mas Fer untuk menjalin hubungan denganmu walau kami sudah nikah. Bahkan permintaanku itu sebelum kami nikah dan saya tadi juga mempersilahkan bahkan memintamu secara langsung. Hal itu bukti bahwa saya tidak akan melakukan hal-hal seperti itu. Saya berharap kita akan berteman baik. Bisa kan?
To : Mbak Rinna
Terima kasih, insyaAllah bisa. Maaf jika kata-kataku membuat Mbak Rinna tersinggung.
From : Mbak Rinna
__ADS_1
Tidak, tidak apa-apa. Mungkin kamu terkejut melihat foto itu.
To : Mbak Rinna
Iya, sedikit. Aku mengkhawatirkan hubungan temanku dengan pacarnya. Terima kasih sekali lagi dan take care ya…
From : Mbak Rinna
Ok.
Setelah Hira dan Rinna selesai chatan, Hira segera masuk dalam alam mimpinya. Rinna masih duduk manis di dalam kenyamanan mobilnya, belum sampai di Kota A. Hira membalas chat Rinna setelah sampai di rumah, dengan hati yang lebih tenang.
“Fer, kamu tidak pulang lagi?”
“Tidak Dik, malas.”
“Istri sudah cantik gitu masih malas!” Ferdian melempar bolpoin pada Dika.
“Memang benar kan istrimu cantik, sudah terjamah belum nih? ( Ferdian menggelengkan kepalanya ) apa dia tidak protes dengan haknya?”
“Tidak!”
“Wah parah! Apa kamu sudah menghubungi Mbak Hira?” Ferdian hanya menggeleng, Dika menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Aku tahu aku keterlaluan, tapi hatiku masih belum siap Dik. Jika aku membahas tentang hal ini, aku takut dia akan mengatakan hal perpisahan.”
“Itu memang hal jelas yang harus kamu hadapi Fer! Kamu harus menerima keadaanmu yang sekarang. Dan jika memang Mbak Hira tidak keberatan untuk… ( Dika menaik turunkan alisnya ) ya jalani saja untuk bagi waktu istri sana dan sini. Lebih baik diomongkan kan Fer, memangnya kamu mau nunggu berlarut-larut sampai kapan, seperti ini terus?”
“Rasanya berat sekali Dik, tadi ada email minggu depan meeting di Perusahaannya lagi! Aku harus bagaimana Dik?”
“Ferdian yang sekarang hanyalah Ferdian yang penuh dengan penyesalan penuh dengan dosa, berhasrat ingin tetap menggenggam pasir di tengah badai yang begitu lebat, Dik.”
“Mungkin ataupun tidak, ayolah… kamu coba dulu!”
“Berbicara memang mudah Dik, tapi bagaimana dengan aku! ( Volume Ferdian naik ) jika aku coba apa aku akan bisa mengembalikan situasi sebelumnya?”
“Hai… tenang bro! ya hadapi kenyataannya! Kamu sudah ambil keputusan ini jadi buntutnya kamu harus hadapi! Tidak perlu ngegas!” Dika ikut emosi, bermaksud menasehati malah jadi saran luapan emosi.
“Sorry! Atur perjalananku minggu depan, jum’at siang saja aku berangkatnya. Sepertinya kosong kan scheduleku?”
“Iya, beres. Ingat, apapun nanti itulah yang harus kamu hadapi. Bersikap sedikit egois tidak apa-apa tapi jangan memaksakan sesuatu. Okey?” Ferdian hanya mengangguk.
Setelah pembicaraan panjang yang menguras emosi, Dika pulang ke rumah dan Ferdian menghuni kantornya merebahkan tubuhnya di sofa yang lebar sebagai tempatnya memejamkan mata.
.
.
Mentari menyambut dengan hangat, membuatku bersemangat ingin mengurai masalah yang ada. Seandainya permasalahanku tidak ada ujungnya, aku tidak ingin orang lain juga mengalami hal yang sama denganku. Aku tidak ingin Bang Ryco ikut menanggung akibat dari permasalahanku. Karena intinya sasaran yang sebenarnya adalah ingin menghancurkan hubunganku dengan Mas Ferdian.
“Good morning,” sapaku pada Mbak Tari yang tak berujung sibuknya,
__ADS_1
“Good morning Abangku yang ganteng? Tadi pura-pura tidak mendengar atau memang benar-benar tak mendengar? Jangan lupa janjimu.” Aku sedikit berbisik merunduk di dekat Bang Ryco.
“Good morning juga! Semangat sekali, moodmu hari ini sudah membaik? Apakah terjadi sesuatu di luar dugaanku?”
“Aku semangat ingin membuatmu kembali bersemangat. Tidak ada hubungannya dengan permasalahanku yang tidak jelas!”
“Sorry… sorry jangan cemberut gitu dong!” Bang Ryco mendongak memperhatikan raut wajahku yang sepertinya dengan jelas berubah.
“Kerja dulu!”
“Pulang nanti, ke cafe biasa. Hehe biar aku tidak jauh pulangnya. Sekalian mengantarkanku pulang!”
“Huh, masih saja cari untung sendiri!”
“Terima kasih Abang,” aku mengacuhkan kata-kata Bang Ryco yang terakhir, aku hanya memerlukan kepastian agar dia meluangkan waktu.
Setelah aku memastikan Bang Ryco mau meluangkan waktunya, aku mencoba mencari kontak Mbak Erna yang pernah aku simpan. Karena selama ini hampir tidak pernah kami chatan. Aku sedikit menjaga jarak karena dia adik mantan pacar kekasihku, walaupun aku sudah tahu jika dia berbeda dengan kakaknya tapi aku merasa agak tidak nyaman.
To : Mbak Er
Mbak, please aku pengen ketemu di cafe jalan raya dekat gang rumahku. Setelah magrib.
Aku berharap Mbak Erna mau datang, aku mengatur waktu setelah magrib. Aku bisa berbincang dulu dengan Bang Ryco empat puluh lima menitan terlebih dahulu, di perjalanan aku bisa nyicil dahulu.
From : Mbak Er
Okey.
Aku bersyukur, tidak lama Mbak Er membalas chatku. Aku berharap semuanya bisa kembali seperti dahulu. Walaupun tidak sama lagi, tapi setidaknya semuanya bisa diperbaiki untuk ke depannya. Meskipun tidak seperti hubunganku dengan Mas Fer, tapi aku yakin Allah telah menyiapkan sesuatu untukku. Terdengar suara pintu terbuka membuatku menoleh kearah suara pintu yang terbuka. Aku melihat Pak Ferdian yang sekarang tidak banyak bicara kembali seperti dulu lagi ketika dia pertama kali datang ke sini, dia memasuki ruangannya dan pintu tertutup kembali aku menangkap tatapannya yang menghadap kearahku.
Flash back on
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumah setelah tidak lama Bang Ryco dan Mbak Tari pulang, tanpa mengucap salam hanya ketukan pintu. Aku dengar Langkah Ibu dari ruang tengah menuju ke ruang tamu.
“Sopo nggih.” Kata ibu setelah membuka pintu.
“Saya ingin menjenguk Hira Bu, teman kantornya.” Terdengar suara Pak Febrian.
“Kenapa Pak Febrian sampai sini? Apa yang harus aku bicarakan lagi nanti!” aku merasa bingung, rasanya tidak ingin menyapanya sama sekali.
“Oya, monggo… monggo masuk Nak. Siapa nama anak ini nggih?”
“Febrian Bu, apa bapak juga ada di rumah Bu?” Ibu terdengar gelagapan mendengar apa yang di tanyakan Pak Febrian, mungkin ibuku berfikir ini baru yang pertama kali ke sini tapi kok malah sampai bertanya tentang bapak.
“Nyuwun sewu nggih Nak, ada perlu apa?”
*Lanjut episode berikutnya ya*,
__ADS_1
*Mohon dukungannya, terima kasih*….